PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA BANI ABBASIYAH

Oleh Fatin Rohmah Nur Wahidah, 1006663972

Jatuhnya negeri Syiria karena kemenangan pasukan Abbul Abbas pada abad ke-7 dalam perang melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah), menandai berakhirnya riwayat Dinasti Bani Umayyah sekaligus kebangkitan kekuasaan Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbass. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun 750-1258 M dengan Baghdad sebagai ibu kotanya dan monarki sebagai sistem pemerintahannya.

Daulah Bani Abbasiyah memiliki ciri-ciri yang menonjol yang tidak terdapat di zaman bani Umayyah. Selain bersifat Arab murni, Dinasti Abbasiyah sedikit banyak telah terpengaruh corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir dan sebagainya. Sedangkan Dinasti Umayyah sangat bersifat Arab Oriented, artinya dalam segala hal para pejabatnya berasal dari keturunan Arab murni, begitu pula corak peradaban yang dihasilkan dinasti ini. Dalam penyelenggaraan negara, ada jabatan Wazir yang membawahi kepala-kepala departemen. Dalam pembagian wilayah (propinsi), pemerintahan Bani Abbasiyah menamakannya dengan Imaraat, gubernurnya bergelar Amir/ Hakim. Kepada wilayah/imaraat ini diberi hak-hak otonomi terbatas, sedangkan desa/ al-Qura dengan kepala desanya as-Syaikh al-Qoryah diberi otonomi penuh.

Ketentaraan profesional yang kuat di bawah panglima sehingga kholifah tidak turun langsung dalam menangani tentara.
Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, luas wilayah kekuasaan Islam semakin bertambah, meliputi Hijaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Irak, Iran (Persia), Yordania, Palestina, Lebanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afganistan dan Pakistan, dan meluas sampai ke Turki, Cina dan juga India. Adapun bentuk-bentuk peradaban Islam pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut :

a. Kota-Kota Pusat Peradaban
Di antara kota pusat peradaban pada masa dinasti Abbasiyah adalah Baghdad dan Samarra. Kota Baghdad menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan yang banyak didatangi ahli ilmu pengetahuan untuk belajar. Di kota Samarra terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.
b. Bidang Pemerintahan
Pada masa Abbasiyah I (750-847 M), kekuasaan kholifah sebagai kepala negara sangat terasa sekali dan benar seorang kholifah adalah penguasa tertinggi dan mengatur segala urusan negara. Sedang masa Abbasiyah II 847-946 M) kekuasaan kholifah sedikit menurun, sebab Wazir (perdana mentri) telah mulai memiliki andil dalam urusan negara. Dan pada masa Abbasiyah III (946-1055 M) dan IV (1055-1258 M), kholifah menjadi boneka saja, karena para gubernur di daerah-daerah telah menempatkan diri mereka sebagai penguasa kecil yang berkuasa penuh. Dengan demikian pemerintah pusat tidak ada apa-apanya lagi.
c. Bangunan Tempat Pendidikan dan Peribadatan
Di antara bentuk bangunan yang dijadikan lembaga pendidikan adalah madrasah. Terdapat juga Kuttab, sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah. Majlis Muhadhoroh sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan, serta Darul Hikmah sebagai perpustakaan. Ada juga bangunan berupa tempat-tempat peribadatan, seperti masjid. Masjid saat itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah sholat, tetapi juga sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takhassus. Di antaranya adalah masjid Cordova, Ibnu Toulun, Al-Azhar dan lain sebagainya.

Masa pemerintahan Abul Abbas As-Saffah sampai Kholifah Al-Watsiq Billah agama Islam mencapai zaman keemasan (132 – 232 H / 749 – 879 M). Namun, pada masa kholifah Al-Mutawakkil sampai Al-Mu’tashim, Islam mengalami kemunduran dan keruntuhan. Kehancuran Dinasti Abbasiyah melalui proses panjang yang diawali oleh berbagai pemberontakan dari kelompok yang tidak senang terhadap kepemimpinan kholifah Abbasiyah. Selain kelemahan Khalifah, beberapa alasan lainnya adalah:
a. Faktor Internal
1. Persaingan antar Bangsa. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal Khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, para Khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan sehingga stabilitas politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tidak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Daulah Abbasiyyah sebenarnya sudah berakhir.
2. Kemerosotan Ekonomi. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
3. Konflik Keagamaan. Konflik yang melatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim dan Zindik atau Ahlussunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antaraliran dalam Islam.
4. Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan. Kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, yang kemudian ditiru oleh para haratawan dan anak-anak pejabat sehingga menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.

b. Faktor Eksternal
1. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.
2. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/islam-masa-abbasiyyah.pdf (25 Februari 2011)
http://forums.muslimhackers.net/viewtopic.php?f=11&t=333 (25 Februari 2011)
http://cossack117.multiply.com/journal/…/Daulah_Bani_Abbasiyah (25 Februari 2011)
http://one.indoskripsi.com/node/9484 (26 Februari 2011)