Decision Making

decision making adalah salah satu kegiatan yang sering kita lakukan. mengambil keputusan sekecil apapun  bahkan cenderung selalu kita lakukan setiap hari. mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. coba kita ingat kembali apa saja yang sudah kita lakukan selama sehari tadi. misalnya memakai baju apa hari ini, mandi dulu atau makan dulu, naik kendaraan apa ke kampus pagi ini, makan apa siang ini, dan sebagainya. berapa banyak keputusan (dari hal yang bersifat ringan hingga yang dirasa sulit) yang telah kita ambil? sudahkah keputusan itu baik dan benar serta tidak menyesalkan?

mengambil keputusan melibatkan proses panjang, kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa melakukannya. antara memutuskan memakai baju apa hari ini dengan masuk perguruan tinggi atau tidak setelah SMA, akan lebih sulit memutuskan keputusan yang kedua. karena masuk perguruan tinggi bagi siswa baru lulus SMA baru pertama kali dilakukan daripada memutuskan memakai baju yang hampir setiap pagi kita lakukan.  standar baik dan benar dalam mengambil keputusan pun berbeda pada masing-masing orang. namun ada beberapa langkah yang sebaiknya kita lalui agar pengambilan keputusan itu lebih bijak dan terkontrol, yaitu

1.Mengenali tantangan/masalah
2.Mencari pilihan-pilihan
3.Mengevaluasi pilihan-pilihan
4.Membuat komitmen
5.Menguji hasil keputusan
Dalam mengenali masalah, kita sebaiknya mengetahui masalah yang sedang kita hadapi. apa itu baik saya lakukan?kenapa saya lakukan itu? bagaimana jika saya tidak melakukan itu?
kemudian, kita cari pilihan-pilihan yang memungkinkan dengan menggali dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai masalah/ tantangan yang kita hadapi. terbukalah dengan informasi dan jangan membatasi diri. lalu tanyakan, apakah saya sudah mempertimbangkan semua pilihan saya?
langkah ketiga adalah mengevaluasi pilihan-pilihan. hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan risiko, keuntungan, dan sebagainya. lalu tanyakan, apakah ini pilihan yang terbaik bagi saya? kenapa terbaik?
selanjutnya, buatlah komitmen akan pilihan yang kamu pilih. pilihlah pilihan yang sedikit risikonya daripada banyak manfaatnya. karena banyak manfaat belum tentu sedikit risikonya. apapun yang terjadi, tetaplah berkomitmen dengan pilihan kita dan tunjukkan performa terbaik atas pilihan kita. jawab keraguan dengan kinerja! (dapat dimaknai: ketika kita ragu dengan pilihan kita, jawab keraguan itu dengan usaha sungguh-sungguh kita). jika gagal, bangkitlah! karena orang berhasil, tidak selalu yang mencapai prestasi namun ia-lah yang bangkit setelah jatuh.
terakhir, menguji keputusan. menguji hasil keputusan ini bisa berdasarkan risiko, hasil, dan kualitasnya. apa saja risiko yang akan kita dapatkan, bagaimana hasil atas keputusan yang telah kita buat, dan bagaimana kualitasnya, baik tidak, merugi tidak,dsb. jika ternyata gagal atau kurang sesuai dengan yang kita inginkan, bersikaplah sewajarnya,. jangan berlebihan dalam stress ataupun menyalahkan diri sendiri berlebihan. terimalah dan bertekadlah memperbaikinya pada kesempatan selanjutnya.  terbukalah atas feedback atau kritikan yang kita dapatkan. jadikan itu sebagai motivasi untuk perbaikan kemudian. jangan lupa mohon petunjuk-Nya selalu…
semangat!! 😉 Allah Ma’ana…
Iklan

Amuk Massa di Indonesia : dalam Wacana Ekonomi, Sosial, dan Budaya

 

Sebuah wacana menarik mengenai amuk masa di Indonesia, dikaitkan dengan kondisi ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia. Istilah amuk massa terdiri dari dua kata, yakni amuk dan massa. Istilah menurut kamus bahasa Indonesia artinya kerusuhan yang melibatkan banyak orang (seperti perang saudara). Istilah amuk yang diserap bahasa Inggris (amok) juga digunakan untuk menjelaskan seekor gajah yang menjadi gila, terpisah dari kawanannya, berlarian secara liar dan menimbulkan kerusakan di India semasa dijajah oleh Inggris (Abqary, 2010). Sedangkan massa menurut kamus bahasa Indonesia adalah kelompok manusia yang bersatu karena dasar atau pegangan tertentu. Dapat dikatakan bahwa amuk massa adalah bentuk kerusuhan yang dilakukan banyak orang dengan kepentingan tertentu.

Abqary (2010) dalam artikelnya “Fait Accompli Massa Aksi atau Budaya Amuk” menyebutkan bahwa amuk massa penting dilakukan karena ia merupakan fait accompli yang lebih historis, kongkret, cepat, dan nyata yang dapat dilakukan oleh rakyat daripada massa aksi yang harus berhenti di sore hari. Amuk massa merupakan pilihan terakhir yang dapat diambil oleh sebagian besar rakyat ketika kesabaran atas kezaliman pemimpin habis. Namun, tidak jarang tokoh keagamaan meredam amuk tanpa menekan penguasa formal untuk bekerja kemudian secara nyata dan kongkret demi peningkatan kesejahteraan sebagian besar rakyat.

Amuk massa seperti terjadi di depan gedung DPRD Mojokerto, Jawa Timur, tanggal 21 Mei 2010 mengakibatkan sedikitnya 20 kendaraan kebanyakan plat merah rusak dibakar. Begitu juga tanggal 29 April 2010 yang terjadi di Tuban, Jawa Timur. Kedua kasus amuk massa tersebut terjadi karena permasalahan mengenai pilkada. Ditambah lagi amuk massa yang dilakukan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya kasus Begu Ganjang di dusun Buntu Raja Desa Sitanggor, Kec. Muara, Kab. Tapanuli Utara pada 15 April 2010 yang mengakibatkan tiga orang tewas dibakar massa dan seorang lagi mengalami luka kritis. Gencarnya media yang menayangkan amuk massa dikhawatirkan akan membuat amuk massa menjadi sesuatu yang wajar dilakukan.

Terjadinya krisis tahun 1998 menimbulkan dampak luas pada bangsa dan rakyat Indonesia. Mulai dari melonjaknya harga kebutuhan sembako, utang luar negeri, perusahaan-perusahaan gulung tikar, PHK, nilai tukar rupiah turun drastis, dan sebagainya. Keadaan tersebut berpotensi meningkatkan adrenalin masyarakat, yang sebelumnya tenang menjadi beringas. Kemarahan rakyat atas ketidakberdayaan pemerintah mengendalikan krisis di tengah harga-harga yang terus melonjak dan gelombang PHK, segera berubah menjadi aksi protes, kerusuhan dan bentrokan berdarah di Ibu Kota dan berbagai wilayah lain (www.seasite.niu.edu/Indonesian/Reformasi/Krisis_ekonomi.htm).

Dampak dari krisis ekonomi tersebut masih dirasakan hingga saat ini. Harga sembako tidak lagi murah, diikuti meningkatnya harga transportasi serta kebutuhan hidup lain. Sulitnya mencari pekerjaan dan penghasilan, menjadikan pendapatan per kapita penduduk Indonesia rendah hingga masih disebut negara berkembang. Kemiskinan menjadi masalah yang tak kunjung usai, padahal pengentasan kemiskinan terus menjadi prioritas pemerintah hingga sekarang.

Meskipun data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan menyebutkan jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia) pada Bulan Maret 2009 sebesar 32,53 juta (14,15 persen). Penduduk miskin pada Bulan Maret 2008 berjumlah 34,96 juta (15,42 persen), yang berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,43 juta. Namun, periode Maret 2008-Maret 2009, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan menunjukkan kecenderungan menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2,77 pada keadaan Maret 2008 menjadi 2,50 pada keadaan Maret 2009. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,76 menjadi 0,68 pada periode yang sama. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. (www.tnp2k.wapresri.go.id/19 November, 2010)

Sedangkan kondisi sosial bangsa Indonesia telah bergeser dari agraris “komunalisme” ke “individualisme”, pusat institusi tradisional ke institusi modern, dan lingkungan kultural desa ke pusat-pusat. Didukung globalisasi yang menjadikan negara-negara di dunia layaknya berada dalam satu wilayah tanpa dibatasi ruang dan waktu. Ada dua kecenderungan masyarakat mengadopsi format-format praktek sosial baru itu, yaitu: Pertama, pemisahan kelas menengah dengan kelas bawah. Kelas menengah menjadi kelas yang banyak diuntungkan oleh penguasa di satu sisi dan menjadi klompok yang “takut” akan kehilangan posisi/status yang menguntungkan di lain sisi. Kedua, orientasi pada nilai simbolik yang otoritas individunya semakin besar. Memicu tindakan kekerasan masyarakat sebagai akumulasi dari ketidakpuasan terhadap pemerintah dalam menegakkan keadilan. Kehakiman diambil alih masyarakat dengan cara menghukum sendiri pelaku suatu tindakan kekerasan. Tradisi yang hidup selama ini, lambat laun mulai kehilangan pegangan dalam menata tindakan individu. Kepentingan umum menjadi masa lampau yang tidak lagi dijadikan dasar pertimbangan suatu tindakan. Disintegrasi dalam hal ini merupakan konsekuensi logis dari kecenderungan perubahan masyarakat itu sendiri. (Abdullah, 2009)

Amuk massa yang terjadi kini layaknya anarkisme, tidak lagi sesuai dengan budaya bangsa Indoensia yang ramah, gotong royong, dan saling menghargai. Budaya menurut kamus bahasa Indonesia memiliki arti: pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Sehingga, budaya dapat diartikan sebagai pikiran yang sudah menjadi kebiasaan dan berkembang serta sukar diubah masyarakat. Mengenai kondisi budaya masyarakat Indonesia kini, dirasa sangat memprihatinkan. Budaya saling menghargai dan saling percaya sudah sangat jarang ditemukan. Amuk massa di beberapa daerah  yang dicontohkan di atas, misalnya kasus pilkada dan dukun, karena masyarakat mencurigai KPU berbuat tidak adil dan mencurigai warganya sebagai dukun, tanpa mencari kebenarannya dahulu.  Sikap reaktif dan gampang terpicu isu yang belum benar, hingga bersikap brutal adalah sikap yang tidak bijak. Jangan sampai hal ini menjadi kebiasaan bahkan berkembang menjadi budaya Indonesia nantinya.

Demikian wacana kemiskinan, pengadopsian nilai sosial tentang otoritas individu, dan budaya saling percaya serta berpikir positif pada sesama yang sudah semakin terkikis zaman, dinilai sebagai penyebab amuk massa di Indonesia.

 

Data Publikasi :

Kompas dan Republika tanggal 2 Mei 2010

http://hminews.com/news/fait-accompli-massa-aksi-atau-budaya-amuk/ 18 nov 2010

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Reformasi/Krisis_ekonomi.htm/18 nov 2010

http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/1952313-indonesia-abad-xxi-kondisi-sosial/19 Nov 2010

http://www.tnp2k.wapresri.go.id/data.html/Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2009/19 Nov 2010

http://melayuonline.com/ind/news/read/5135/Budaya Indonesia Terkikis Budaya Barat/ 19 Nov 2010

Beberapa Kaidah dari Ushul Fiqih, Bimbingan untuk Dai

KAIDAH KE-1 (Memberi Keteladanan Sebelum Berdakwah)

Keteladanan Manusiawi. Para dai ibarat pelita di kegelapan malam. Mereka adalah imam yang membawa petunjuk bagi umat yang dipimpinnya. Perilaku dan amal ibadah adalah cerminan dari dakwahnya. Mereka adalah teladan dalam pembicaraan dan amal. Oleh karena itu, mereka harus mau mempelajari sifat-sifat rasulullah. Mereka wajib mempelajari perjalanan hidup rasulullah karena perjalanan hidup beliau menceritakan kepribadian yang mulia sehingga dapat menjadi teladan yang baik bagi manusia.

Keteladanan untuk diikuti. Islam menampilkan keteladanan yang baik bagi umat manusia agar bisa diikuti dan diaplikasikan dalam diri mereka sesuai kemampuan masing-masing individu. Karena keteladanan menjadi sarana dakwah dan pendidikan yang paling efektif.

Keteladanan; itu yang pertama. Masyarakat harus memperoleh teladan dari pemimpinnya agar mereka dapat melihat langsung prinsip-prinsip kebaikan tersebut lalu merealisasikannya dalam diri mereka. Dakwah melalui keteladanan akan lebih bermakna ketimbang melalui teori atau lisan saja.

Mulailah dari diri sendiri. Sebelum mengajak orang lain, seorang mukmin harus memulainya dulu. Ketika menjadi dai, ulama, atau aktivis dakwah yang ikhlas, maka dia harus menjadi teladan yang baik terhadap apa yang didakwahkannya. Jika tidak demikian, tidak akan ada yang mau mendengar kata-katanya serta tidak bermanfaat ilmunya dan orang tersebut tidak melihatnya dengan hormat kecuali sikapnya sesuai dengan apa yang digariskan Allah.

Antara tukang bicara dan pekerja. Suatu manhaj Allah tidak akan terealisasi jika tidak ada orang yang berkomitmen untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, Nabi tampil sebagai  teladan bagi manusia baik ucapan maupun perbuatan. Imam Hasan Al-Banna berkata, “Sesungguhnya tukang bicara itu berbeda dari ahli amal dan ahli beramal berbeda dengan ahli jihad, dan ahli jihad berbeda pula dari ahlli jihad yang produktif dan bijaksana. Dia memperoleh keuntungan yang gemilang dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya.” Hendaknya para dai menjadi teladan dimana pun berada sehingga nampak risalah yang dibawanya untuk manusia. Dengan demikian, masyarakat sekitar akan merasakan keterlibatannya dalam gerakan dakwah ini.

Peringatan untuk para dai. Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, menafsirkan QS Al-Baqarah: 44, sesungguhnya bahaya para tokoh agama (Rijal Ad-Din) adalah ketika agama telah berubah menjadi profesi. Saat itu agama bukan sebagai akidah yang memotivasi. Mereka berbicara yang tidak sesuai dengan hati, mereka memerintah namun tidak melakukannya sendiri. Mereka melarang namun mereka mengabaikan. Mereka mengubah kalam demi hawa nafsunya. Mereka memberi fatwa sesuai nash namun berbeda dengan hakikat agama. Oleh karena itu, dai harus jujur dan bersungguh-sungguh introspeksi diri agar selalu istiqamah taat di jalan Allah.

Awas murka Allah! Tanda orang munafik adalah jika berjanji mengingkari, jika berbicara dusta, dan jika dipercaya berkhianat. Amal yang paling dicintai Allah adalah beriman kepada Nya dengan tidak ada keraguan sedikit pun, kemudian berjihad (memerangi) orang-orang bermaksiat pada-Nya (orang yang tidak beriman dan menentang-Nya).

Sejak bersama jiwa. Sifat terpenting yang dimiliki seorang dai adalah jujur dan istiqamah sehingga apa yang tampak pada lahir sama dengan batin. Tanggung jawab seorang dai kepada masyarakat semestinya tidak mengabaikan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kesibukan memperbaiki manusia, semestinya tidak melupakannya untuk memperbaiki diri sendiri. Karena kewajiban mereka adalah memenuhi tanggung jawab terhadap diri mereka, baru kemudian terhadap masyarakat.

Pelajaran untuk pembinaan. Arahan seorang dai bisa diingat, juga bisa terlupakan namun jika pribadi dai itu bisa menjadi teladan yang baik, maka dia akan lekat diingat. Keteladanan yang baik merupakan  dakwah amaliyah bukan hanya lisan, yang berarti dakwah dengan perilaku sebelum dakwah dengan perkataan. Dan hendaknya pemikiran, tulisan, dan perkataan dai dapat dijelmakan menjadi gerakan sekaligus mengubah kehidupan.

Takut kepada Allah. Seorang dai harus sama antara lahir dan batinnya. Ia selalu muhasabah dalam segala urusan dan gerak langkah, bahkan dalam diamnya bermuhasabah melihat kekurangan dan kesalahannya. Ia memelihara dirinya dan membersihkan hatinya serta bermuhasabah terhadap seluruh anggota badannya. Senantiasa menjaga perasaannya dan takut jika dia larut dalam angan-angan. Seorang dai yang sukses adalah dai yang mengajak kepada kebenaran dengan perilakunya meski hanya sedikit bicara. Karena pribadinya menjadi contoh yang hidup dan bergerak, menggerakan prinsip yang diyakininya.

Kemenangan palsu. Orang-orang yang kalah dalam peperangan, bisa jadi menerimanya, namun belum tentu mereka akan mengikuti kita dengan ikhlas dalam perasaan maupun pemikiran. Karena itu, yakinlah bahwa keteladanan satu-satunya jalan untuk memudahkan tersebarnya dakwah di segala sektor kehidupan. Para dai yang berhasil membuka kemenangan adalah orang-orang yang akidahnya mantap dan keluhan perilakunya menakjubkan. Mereka adalah teladan yang baik dalam kemuliaan dan keadilan.

Tugas mulia. Para dai mengemban tugas para Nabi. Mereka tidak boleh mengharap selain ridho Allah. Mereka yang paling berhak diikuti pola hidup dan petunjuknya serta dijadikan teladan baik ketika hidup atau sesudah matinya. Idealnya, seorang dai adalah orang yang cerdas akalnya, bersih hatinya, baik dalam muamalah maupun sesama, menepati janji, istiqamah, dan kebajikannya telah dikenal sejak muda sebelum dakwahnya. Sesungguhnya yang ditampilkan oleh Nabi adalah kepemimpinan yang bijaksana dan benar. Semua berjalan dengan petunjuk dan bimbingan langsung dari Allah.

Al-Qiyadah wal-Jundiyah

buku: Fiqih Dakwah Mushthafa Masyur

Islam tidak menghendaki kekalahan dan kelemahan umat dalam menghadapi musuh serta kenyataan. Karena itu, Islam mewajibkan umatnya bangkit dari kejatuhan, bergerak dan berjuang serta berkorban untuk mengembalikan eksistensi yang hakiki.

A. Kewajiban Beramal Jama’i

Islam sama sekali tidak menghendaki kelemahan umatnya dan ketakutan pada musuh, maka ia mewajibkan umatnya bangkit dari kejatuhan. Setiap muslim wajib berusaha mewujudkan dan menegakkan kembali Daulah Islamiyah ‘Alamiyyah, suatu negara Islam yang bersifat internasional. Oleh karena itu perjuangan melalui amal jama’i harus rapi dan kokoh. Amal jama’i telah dicontohkan rasullulah sejak dulu sebagai salah satu prinsip gerakan islam.

Dalam pergerakannya, satu jamaah tidak mungkin bergerak tanpa pemimpin yang mengatur seluruh gerakannya, menentukkan tujuan dan sasaran serta saran, mengawasi dan mengontrol pelaksanaan programnya serta menghapus perselisihan yang timbul. Oleh karena itu anggota jama’ah harus taat dan mengikuti arahannya.

Pemimpin ibarat kepala bagi tubuh. Ia merupakan lambang kekuatan, persatuan, keutuhan, dan disiplin shaff. Rasulullah juga mengingatkan agar tidak memberikan jabatan tertentu kepada orang yang memintanya dengan ambisius. Sebab jabatan dalam dakwah bukan seperti jabatan dalam urusan keduniaan, pemerintahan atau oragnisasi lain yang hanya mengejar jabatan, kekuasaan, pengaruh, harta dan sebagainya. Pimpinan dalam jamaah adalah amanah dan tanggung jawab yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT di hari kiamat.

Hasan Al-Banna mengatakan, “Kedudukan pimpinan dalam dakwah Ikhwanul Muslimin adalah sebagai ayah dalam kaitan hati, sebagai guru dalam kaitan mengajarkan ilmu yang bermanfaat, sebagai syaikh dalam kaitan pendidikan ruhani dan sebagai pimpinan dalam mengendalikan policy umum dakwah. Dakwah kita memadukan semua pengertian tersebut.”

Pimpinan dan anggota memiliki hubungan timbal balik. Seberapun kuat pemimpinnya namun anggotanya lemah, ia tetap tidak bisa menjalankan programnya secara optimal. Sebaliknya, sekuat apapun anggotanya namun pemimpinnya lemah, memungkinkan penggantian pimpinan dan pemilihan baru dari kalangan mereka sendiri.

Rasulullah mendidik generasi muslim pertama dengan Al Quran di madrasahnya. Mereka menjadi tiang dan fondasi kuat bagi tegaknya Daulah Islamiyah. Imam Hasan Al-banna pun menerapkan manhaj dan uslub ini dengan tujuan mempersiapkan anggota jamaah yang berangsur-angsur melalui tahap pengenalan, pembentukan, dan pelaksanaan. Ia menetapkan ciri muslim yang mesti dipersiapkan yaitu muslim yang lurus aqidahnya, benar ibadahnya, berakhlak mulia, mampu bergerak dan berjuang, disiplin dalam segala hal, menjaga waktunya, bermujahadatunnafs, dan memiliki faktor asasi sebagai pejuang muslim.

B. Amanah dan Tanggung Jawab Pemimpin

Dalam satu jamaah, pemimpin mempunyai amanah dan beban yang sangat berat. Tanggung jawab pemimpin menjadi besar dan berat karena semakin banyaknya jumlah anggota jamaah, semakin banyak pula anggota yang harus diprogramkan menerima dakwah. Selain itu, disebabkan semakin kompleksnya persoalan dunia Islam dan saling berkait serta perlu ditangani dengan cepat. Setiap persoalan perlu usaha pemecahan yang serius, jihad, dan pengorbanan. Dan juga, karena hebatnya tantangan harakah islamiyyah yang masih terus menerus difitnah, diburu, ditekan, dan ditindas oleh musuh-musuh Islam. Ditambah ancaman yang silih berganti serta karakter tahap dakwah yang sedang dilalui.

Sedangkan amanah pimpinan sangat berat karena ia bertanggung jawab memberi arahan kepada setiap anggota dalam menjalankan langkah-langkah gerakan dan mencapai hasil di bidang dakwah. Produktivitas yang dihasilkan atas usaha jamaah juga besar, yaitu mewujudkan kebaikan sebab tegaknya Dinullah di bumi. Selain itu, panjangnya jalan dakwah dan banyaknya rintangan, onak duri dan lika-likunya. Semua butuh kebijakan pemimpin dalam menghadapi, melindungi barisan, dan menebar kesabaran serta ketahanan. Diharapkan, dengan menyadari amanah dan beban pimpinan tersebut kita semua bisa mempersiapkan diri secara matang untuk menerima amanah tersebut.

C. Hal-Hal yang Membantu Terlaksananya Tugas Pimpinan

Yang perlu diperhatikan pimpinan dalam melaksanakan tugasnya, antara lain :

1.       Ikhlas karena Allah semata, selalu benar dan jujur kepada-Nya.

2.       Peka terhadap pengawasan dan penjagaan Allah.

3.       Memohon pertolongan dan perlindungan Allah dalam seluruh keadaan dan aktivitasnya.

4.       Pimpinan harus memiliki rasa tanggung jawab besar yang mendorognya selalu menjaga diri dalam memegang amanah.

5.       Memberikan perhatian yang cukup kepada masalah tarbiyah, persiapan kader, dan calon pengganti.

6.       Terjalinnya kasih sayang dan ukhuwah yang tulus di kalangan anggota jamaah, khususnya antara anggota dan pimpinan.

7.       Pimpinan harus benar-benar merencanakan program yang tepat, menentukan tujuan, tahapan, cara, sarana, persiapan-persiapan sesuai kemampuan dan pandai membagi tugas penting kepada anggota jamaah yang mampu memikulnya. Serta memberi petunjuk agar tugasnya berjalan rapi dan terlaksana dengan baik.

8.       Pimpinan di tingkat cabang atau daerah dan setiap anggota harus merasakan beratnya amanah dan tanggung jawab pimpinan pusat dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

9.       Pimpinan harus membangkitkan harapan, bersungguh-sungguh menyalakan tekad dan mengukuhkan cita-cita jamaah. Kekuatan kita adalah dakwah Allah, tujuan kita murni, terbebas dari keuntungan pribadi, dan ketergantungan kita hanya pada pertolongan Allah.

 

D. Keanggotaan dan Tuntutannya

a. Persyaratan Pokok Seorang Aktivis, antara lain :

1.       Memahami benar arti komitmennya terhadap Islam.

2.       Mengenali tahapan dakwah yang sedang dijalaninya dengan segala tuntutannya.

3.       Meyakini bahwa kembali pada Kitabullah dan Assunah secara benar dan serius akan menyelamatkan umat Islam dari krisis sekarang ini.

4.       Yakin akan kewajibannya membangkitkan iman dalam jiwa manusia.

5.       Mengetahui sejelas-jelasnya bahwa amal usaha menegakkan Daullah Islamiyyah adalah kewajiban seorang muslim dan muslimah.

6.       Mengetahui bahwa dasar Islam adalah kesatuan kata dan shaff.

7.       Dalam memilih jamaah adalah karena kesadaran sendiri, bukan paksaan, berpura-pura tenggang rasa atau karena kepentingan lain.

8.       Mengetahui bahwa amal jamai memiliki syarat dan keiltizaman yang harus dimengerti.

9.       Dasar beramal dalam gelanggang ini hanya karena Allah.

10.   Menyadari pengawasan Allah dan mempersiapkan segalanya untuk akhirat.

 

b. Beberapa Keharusan dan Perilaku Anggota yang Harus Ditegakkan, antara lain :

1.       Meyakini amal jamai dengan segala tuntutannya dan berusaha menjadi seorang muslim yang teguh.

2.       Mengetahui segala ketentuan jamaah secara mendalam.

3.       Melengkapi diri dengan kemampuan dan kelayakan agar menjadi tenaga yang efektif, kuat, dan baik.

4.       Menyerahkan hidupnya untuk berjuang ikhlas karena Allah.

5.       Harus beriltizam dengan pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh, serta dengan gerakan dan seluruh langkahnya yang telah ditentukan jamaah untuk mewujudkan tujuannya yang agung.

6.       Berani menempatkan diri di barisan jihad.

7.       Berkewajiban melatih diri agar mudah berkorban di jalan Allah.

8.       Menyadari bahwa dia berkedudukan strategis. Sehingga ia tidak meninggalkan dakwah sekehendaknya.

9.       Membiasakan diri melaksanakan setiap perintah pimpinan jamaah. Karena percaya penuh pada pimpinannya.

10.   Setiap muslim dalam jamaah dituntut mempergiat mekanisme saling mewasiati dan menasihati dalam kebenaran.

11.   Harus bersungguh-sungguh memperbaiki komunikasi dan hubungan sesama aktivis amal Islam.

12.    Wajib menjaga waktunya dengan serius, berdisiplin, seluruh urusannya rapi, berguna bagi sesama, mujahid bagi dirinya, waspada terhadap godaan harta, istri, dan perhiasan dunia lainnya.

13.   Tidak boleh pesimis dan putus asa ketika menderita kekalahan di medan jihad menentang musuh.

14.   Harus menghiasi dirinya dengan akhlak Islam dan menjauhi segala macam budi pekerti buruk dan sifat-sifat lain yang dilarang Islam.

 

E. Aturan dan Adab Pergaulan Pimpinan dan Anggota

a.       Saling menghormati dan menghargai.

b.      Memelihara adab dalam pergaulan dan pembicaraan.

c.       Saling mempercayai dan berbaik sangka.

d.      Saling menasihati.

e.      Saling mencintai dan bersaudara.

f.        Mempererat hubungan antara pemimpin dan anggota.

g.       Tunduk di bawah hukum Allah.

h.      Mengkaji berbagai harakah dan mengembangkan pengalaman.

 

F. Sistem dan Peraturan

Sistem dan peraturan amal jamai perlu dijelaskan terutama yang berkaitan dengan pandangan, panduan, dan pengertian yang harus diperhatikan pimpinan dan anggota, antara lain:

1.       Menyusun peraturan dan mekanisme kerja yang berada dalam kerangka dasar Islam.

2.       Seluruh sistem dan peraturan harus dipandang sebagai sarana dan alat untuk mengatur  gerakan dan kerja.

3.       Tujuan dibentuk aturan dan sistem kerja ini adalah terbentuknya bidang gerakan, kelengkapan, dan lembaga-lembaga efektif yang diperlukan.

4.       Peraturan harus mencakup cara perbaikan bagi setiap kelalaian dan kesalahan.

5.       Hitungkan kemampuan, kelaikan, serta kejujuran.

6.       Dalam penyusunan sistem dan peraturan perlu diperhitungkan keluwesan untuk memudahkan jamaah bergerak dan meraih keberhasilannya.

 

G. Pengendalian Pertemuan-Pertemuan

Masalah pertemuan perlu ada panduan agar membawa kebaikan dan produktivitas pertemuan. Antara lain :

1.       Amal usaha dakwah adalah ibadah.

2.       Awal pertemuan sebaiknya diawali dengan dzikir, tenang, dan meminta perlindungan Allah.

3.       Mempersiapkan sebelum pertemuan segala sesuatu yang dibutuhkan.

4.       Setiap anggota bersungguh-sungguh menghadiri tepat waktu.

5.       Perlu ditentukan agenda pertemuan dan pimpinan harus bijak menjaga waktu agar agenda terlaksana sesuai waktunya.

6.       Tidak memotong pembicaraan orang lain, dengan mengangkat tangan lalu berbicara setelah dipersilakan.

7.       Pertemuan tidak terlalu lama hingga meletihkan otak.

8.       Keputusan yang diambil dengan suara terbanyak.

9.       Sebelum ditutup, hendaknya hasil sidang dibacakan ulang dan ditetapkan waktu serta pertemuan yang akan datang.

 

Negative Effect Watching Television on Children

Development of technology  so far is so rapidly. Almost all of kind of technology have significant increases, whatever in models, shapes, speed, aplications, and so on. Such as computer, internet, handphone, fan, television, and the other items. Each of them has advantages and disadvantages exactly, included television. I choose this article because i think it will be interesting to read. Television is similar thing for us, and now, it also like a friend for children as long as their day. Most of their time a day is spent for watching TV, because TV is their favourite’s thing.

The Purpose in writing this article is to tell the reader some ways which can be done by parents to shift or to reduce frequency of watching TV on children.

Television has more negative impact than the positive one. So, parents have to create positive activities for their children, such as: gardening, reading book, swimming, etc. Moreover, they also need to control their children through some ways. For example, make a schedule to watch television. It is important to limit the time for watching and train dicipline for children. Then, accompany children watching TV. Because they need guidance which is good or not, which may be watched or not by children. The last but not least, do the other interesting activities to replace watching TV’s time.

Television as a favourite thing for children must be used wisely, because of the negative effects. Parents have to give more attention for their children. It can be done by make a schedule to watch TV. They also can accompany them and do something else as replacement activites for children. Give attention on children in their growth is important. Children must be cared and controled from everything which has the negative influences.

by: Itha

pesan kajian kemuslimahan

satu hal lagi yang saya pahami…
sore ini, ada kajian di fakultas mipa lantai paling atas di salah satu gedungnya. karena ada sebab tertentu, saya terlambat masuk kelas kajian selama setengah jam. untungnya mba-mba panitia baikk…jadi syaa masih diperbolehkan masuk (jazakillah ukhti… 😉 ..)
agak sedih memang karena saya terlambat materi yang mungkin agak jauh dari teman-teman lainnya. namun tetap saja masalah kemuslimahan yang dibahas pembicara menarik bagi saya.
ada beberapa hal yang saya dapatkan dari kajian tadi sore, antara lain :
1. kewajiban menutup aurat. menutup aurat adalah harga mati dan tidak ada ruhsah baginya. tidak seperti puasa yang bisa meng-qodho, atau solat yang bisa sambil duduk atau sebagainya, tidak juga ibadah lain yang masih memiliki keringanan.
2. masalah interaksi dengan lawan jenis. antara lain yang perlu diperhatikan seorang akhwat (perempuan) adalah : penjagaan pandangan, tidak bicara dengan suara manja, jadi harus wajar saja ya..bahkan tegas bila perlu..;) lalu tentunya tidak berduaan. hal ini sempat saya tanyakan pada sesi tanya jawab di akhir pemaparan materi. maksud berduaan di sini, baik yang menghadirkan fisik maupun hati. misalnya telepon, sms, apalagi jika terlihat secara nyata duduk berduaan saja. hal tersebut adalah dilarang. terus… ada lagi, yaitu tidak bercampur baur. memang sangat sulit jika di masa kini benar-benar menerapkan hal tersebut. karena kehidupan kita sekarang butuh kerja sama antara laki-laki dan perempuan. untuk masalah seperti pendidikan dan perdagangan masih bisa ditolerir, namun yang perlu diingat bahwa harus ada penjagaan baik fisik maupun rohani dari diri muslimah.
3. akhwat TANGGUH
tangguh –> Tanggap, gaul, teduh
akhwat yang tanggap, adalah konsekuensi sebagai komunikator dakwah. ia juga mesti cerdas dan solutif.
akhwat gaul adalah konsekuensi dari masalah sosial yang ada. jadi bisa lebih care dengan sesama. lebih peka dan tentunya nyambung kalo diajak ngobrol orang lain.
akhwat teduh adalah konsekuensi sebagai sumber spiritual (hubungan seseorang dengan Greater Being). ia bisa menjadi tempat pelarian, pendamping jiwa-jiwa gersang yang haus akan ilmu agama 🙂
4. penjagaan izzah (harga diri) dan iffah (rasa malu) adalah harta seorang akhwat. perempuan diciptakan istimewa hingga ada yang bilang, jika perempuannya hancur maka hancur pula suatu negara. namun jika perempuannya baik maka baik pula negara tersebut. perempuan sebagai harga dari sebuah peradaban memiliki sesuatu yang perlu dipoles secara khusus dan menggunakan perasaan. tidak hanya dengan logika. misalnya memberikan kado jilbab saat ulang tahun, memberi sms tausiyah rutin, me-rujak bersama sebagai rihlah-nya, dan sebagainya.heehhe asiik pastinya.. 😉
mungkin itu poin-poin yang paling saya anggap penting…dan ada pesan yang bagi saya tepat untuk saya, bahwa jangan sampai muslimah lain mencontoh akhlaq atau tingkah kita yang keliru. dikhawatirkan itu akan menjadi pemakluman dan tidak dianggap sebagai kekeliruan. maka cobalah berhati-hati menjaga diri dan tingkahmu. bersikap malu dengan sesuatu yang berlebihan dalam diri kita dan memiliki harga diri yang baik/tinggi adalah harta seorang akhwat.
semoga isi kajian tadi siang, dapat membuat saya sadar dan terus memperbaiki diri. amiin…

“kritis” mesti dibarengi “solutif”

ada sebuah cerita lagi, kali ini tentang kemampuan mahasiswa yang kritis.
malam lusa kemarin, saya dan teman-teman FORKAT 2010 membuka stan untuk pendaftaran (open recruitmen) FORKAT 2010. kami tengah sibuk menyiapkan dekorasi meja stan kecil-kecilan di salah satu sisi kantin asrama.
tak lama kemudian, Ka Dodi (ketua Divisi Nusantara Forkat 2009) mendatangi kami dan langsung diburu pertanyaan, “siapa yang membuat lambang forkat? mengapa lambangnya berwarna lima saja?mengapa tidak ada warna putih atau ungu atau yang lainnya?” dan lain pertanyaan lainnya..
kak Dodi sudah menjawab dan menjelaskan beberapa hal, namun mungkin karena teman-teman saya yang lain kurang puas, mereka bertanya lagi. setelah dijawab, dan ditanya lagi, Ka Dosi balik bertanya, namun menurut Ka Dodi teman-teman kurang bisa menjawab dengan tepat pertanyaannya. Hingga Ka Dodi pun berkata, “Mahasiswa Sekarang emang kritis, tapi ga solutif”.
hemm bener juga ya…kadang saya pun merasa kalau suatu masalah kenap terjadi begini begitu, kenapa tidak seperti ini seperti itu, namun ketika saya menanyakan jawabannya pada diri sendiri, saya juga bingung menjawabnya. ;P… apakah ini juga dipengaruhi riwayat pendidikan yang kita tempuh? dimana sistemnya kini menuntut siswa untuk menjadi kritis,sayangnya belum sampai untuk dituntut hingga tahapan solutif. semoga menteri pendidikan Indonesia memperhatikan materi ini. 😉

Tergesa-gesa Mendefinisi itu Tidak Baik

Kemarin sore, saya masih berada di asrama mahasiswa UI, Depok sebelum pergi menghadiri kegiatan PDKM (pelatihan dasar kepemimpinan mahasiswa) Fakultas Psikologi. rencananya, sore ini, saya dan teman saya, Wize (ketua FORKAT putra 2010) serta Ka Faiq (ketua FORKAT putra 2009) akan menemui pak Yitno (Kepala Administrasi TU) untuk sharing pengalaman dan permasalahan asrama.
kami ‘janjian’ bertemu di sofa depan TU, namun ternyata hingga pukul 4 (waktu yang dijanjikan) Wize dan Ka faiq belum juga datang. kebetulan handphone saya mati sejak siang, sehingga tidak ada koordinasi lanjutan sejak siang tadi. saya menunggu mereka di sofa. cukup lama hingga tak sabar. 😉 akhirnya saya mulai mencari-cari ke dalam ruangan. mungkin karena tingkah saya yang aneh, ibu-ibu di dalam TU yang tiba-tiba muncul, bertanya, “Ada apa mba? mau cari siapa?”.. “Saya mencari teman, Bu..saya kira sudah di dalam. mau menemui pak Yitno, Bu” jawab saya agak gugup. ibu tersebut yang kebetulan mau pulang, ikut keluar bersama saya dari dalam kantor TU.
waktu itu, saya memegang sebuah kertas bergambar sprei-sprei titipan teman yang memang berjualan sprei. Ibu tersebut, yang sampai sekarang belum saya ketahui namanya, bertanya kembali, “memang mau apa ketemu Pak Yitno?” saya mencoba menjawab dengan jawaban eksposisi dan basa basi,namun seketika ibu itu mengatakan, “oh..mau jualan sprei?mau nawarin sprei gitu ya mba??” katanya dengan wajah yang terlihat puas menerka maksud saya. mungkin karena ibu melihat kertas yang saya pegang, beliau mengatakan demikian. padahal yaaa bukan begitu ibuuu… koq cepat sekali mendifinisikan? jadi ingat, pelajaran psikologi umum I tentang 4 idols oleh Francis Bacon. slah satunya idols of marketplace dimana terkadang kita melakukan kesalahan karena salah mendefinisikan. semoga penyakit cepat mendefinisikan, men-generalisasikan, memandang sesuatu hanya dari satu pandangan, dan terlalu patuh pada otoritas pemimpin, sebagaimana Francis Bancon sebutkan dalam idols-nya, tidak merambah pemuda, remaja, maupun generasi penerus bangsa lainnya. pamuda harus bisa kritis (tidak cepat menerima sesuatu secara keseluruhan. harus dipertimbangkan dulu kebenarannya). kritis dan solutif…diharapkan menjadi tabiat, watak. karakter, pemuda Indonesia demi kemajuan bangsa.

Mengabdi Hingga Akhir Hayat

Tanggal 26 Oktober 2010 sore lalu, Gunung Merapi yang berada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta meletus. Data Kompas hingga 27 Oktober 2010, menyebutkan sudah enam belas orang tewas menjadi korban, termasuk Mbah Maridjan.
Sejak pengangkatannya sebagai juru kunci Gunung Merapi tahun 1982, beliau bersikukuh tidak akan mengungsi bagaimanapun keadaan Gunung Merapi hingga akhir hayat. Hal itu dilakukan semata-mata sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta.
Pengabdian Mbah Maridjan sangat saya hargai. Namun, saya kurang setuju atas sikap pengabdian yang beliau tunjukkan. Penolakan Mbah Maridjan untuk segera mengungsi meninggalkan Gunung Merapi yang sudah berstatus “awas”, hanya didasarkan karena beliau belum mendapat “isyarat” akan terjadi hal-hal membahayakan Merapi.
Menurut Mbah Maridjan, yang diungkapkan kepada Kompas, lingkungan dan sekitarnya memiliki hubungan saling menjaga dan melindungi. Termasuk ketika gunung akan melakukan sesuatu, ia akan memberi isyarat kepada sekitarnya tak terkecuali Mbah Maridjan.
Beliau hanya menggunakan naluri untuk memahami alam. Dan karena belum mendapat firasat atau isyarat bahwa Merapi akan melakukan sesuatu yang membahayakan, maka beliau menolak diajak mengungsi.
Akan lebih baik menurut saya, jika Mbah Maridjan lebih percaya dengan data berdasarkan teknologi modern yang ada, dan mencoba berfikir lebih jauh mengenai kebermanfaatannya sebagai juru kunci. Bukankah “menjaga” tidak selalu berarti berada di sampingnya? Yang terpenting justru menyelamatkan warga sekitar yang sudah mempercayakan keselamatan hidupnya kepada Mbah Maridjan atas kondisi Gunung Merapi.
Jadi beliau tidak harus tetap di rumahnya yang hanya berjarak 4 km dari puncak Merapi, padahal sudah dinyatakan “awas Merapi”. Bila beliau ingin bertahan hidup dan mengabdi lebih lama, beliau bisa mengungsi hingga keadaan cukup aman untuk menjaga keselamatannya. Jika Mbah Maridjan telah bersedia mengungsi, saya yakin ada lebih banyak warga yang ikut mengungsi juga sehingga korban tewas pun dapat diminimalisir. Beliau juga bisa selamat dan melanjutkan pengabdiannya lebih lama.
Kini Mbah Maridjan telah tiada. Apapun yang dilakukan semasa hidupnya semoga menjadi amal kebaikan dan sebagai bekal kehidupan akhiratnya. Selamat jalan Mbah Maridjan!

Menulis Itu Tidak Sulit

Pengalaman saya tantang menulis didukung sebagian besar teman-teman saya, menyatakan bahwa menulis bukan hal mudah. Pengalaman mendapat tugas menulis PSAF yang lalu serta tugas mata kuliah logika penulisan ilmiah untuk membuat sebuah esai saja terasa amat rumit dan sulit. Jika belum selesai membuat tugas esai, sering terbayang dalam pikiran saya saat pagi, siang, dan malam kalimat “buat tugas logpenil…buat tugas logpenil…buat tugas logpenil”. Tugas membuat sebuah tulisan saja mengapa terasa sangat sulit? Namun, apakah benar bahwa menulis itu sulit? Esai ini saya buat untuk menjawab pertanyaan tersebut yang ditujukan bagi saya serta teman-teman yang mengalami hal serupa.
Tarigan (dalam Agus Suriamiaharja, 1996 : 1), mengembangkan bahwa : “Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang – lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipakai oleh seseorang, sehinga orang lain dapat membaca lambang – lambanga grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut“. (Permana, Maryani. 2009. “MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULIS KARANGAN MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI DI KELAS V SDN CIBULAN II DESA CIBULAN KECAMATAN LEMAH SUGIH KABUPATEN MAJALENGKA.” sumedang.upi.edu/berkas/proposal.pdf- 29 Sept 2010)
Jadi, menulis layaknya memindahkan kata-kata maupun bahasa yang kita pikirkan atau yang ingin kita katakan dalam bentuk tulisan. Tujuannya agar orang lain mengerti dengan apa yang kita maksud. Teorinya mudah bukan? Lalu mengapa sulit?
Menulis itu sulit kalau kita tidak pernah memulainya. Menulis itu sulit bagi mereka yang tidak pernah membaca. Membaca buku, membaca ciptaan Tuhan pemilik bumi dengan hatinya, dan membaca lingkungan sekelilingnya. Baca, baca dan baca itu kuncinya. Lalu banyaklah berlatih menulis. Dengan banyak menulis anda akan jadi terbiasa menulis. (Kusumah, Wijaya.2006.”Mengapa menulis itu sulit”.ureport.vivanews.com/news- 29 Sept 2010)
Ya. Menulis akan jadi sulit jika kita tidak memiliki ide untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Bagaimana cara kita mendapatkan ide? Untuk mendapatkan ide, kita perlu membaca dan peka dengan apa yang kita lihat, rasa, serta dengar. Ada banyak kejadian berbeda di sekitar kita setiap harinya. Ada banyak pengalaman yang telah maupun sedang kita alami. Ada banyak kabar yang tengah kita dengar dari berbagai media. Semua itu bisa dijadikan sumber ide menulis andai kita peka.
Jangan lupa berlatih. Seberapapun besar potensi kita menulis, sepeka apapun kita membaca, dan sebanyak apapun ide yang kita miliki namun tidak pernah mencoba dan berlatih, tidak akan berguna semua itu. Mulailah menulis dari hal-hal kecil dan ringan tentang apa saja. Jangan takut dan jangan terbelenggu dengan berbagai aturan penulisan yang kita kenal selama ini. Biarkan otak kita berkreasi sebebas-bebasnya dalam dunia kata. Tingkatkan terus intensitas dan kualitas isi tulisan kita. Ketika kita sudah terbiasa menulis mulailah belajar aturan penulisan yang baik dan benar. Agar tulisan kita semakin baik, berisi, enak dibaca, dan dapat mewakili ide yang ingin kita sampaikan.
Jadi, menulis itu sebenarnya tidak sulit. Menulis hanyalah menuangkan ide, menuangkan pikiran yang ada dalam otak kita. Kita hanya butuh ide yang bisa diperoleh dari membaca serta kepekaan kita pada lingkungan sekitar.

sumber: Kusumah, Wijaya. 2006. Mengapa menulis itu sulit. ureport.vivanews.com/news. Diunduh pada tanggal 29 September 2010.
Permana, Maryani. 2009. MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULIS KARANGAN MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI DI KELAS V SDN CIBULAN II DESA CIBULAN KECAMATAN LEMAH SUGIH KABUPATEN MAJALENGKA. sumedang.upi.edu/berkas/proposal.pdf. Diunduh pada tanggal 29 September 2010.