“kritis” mesti dibarengi “solutif”

ada sebuah cerita lagi, kali ini tentang kemampuan mahasiswa yang kritis.
malam lusa kemarin, saya dan teman-teman FORKAT 2010 membuka stan untuk pendaftaran (open recruitmen) FORKAT 2010. kami tengah sibuk menyiapkan dekorasi meja stan kecil-kecilan di salah satu sisi kantin asrama.
tak lama kemudian, Ka Dodi (ketua Divisi Nusantara Forkat 2009) mendatangi kami dan langsung diburu pertanyaan, “siapa yang membuat lambang forkat? mengapa lambangnya berwarna lima saja?mengapa tidak ada warna putih atau ungu atau yang lainnya?” dan lain pertanyaan lainnya..
kak Dodi sudah menjawab dan menjelaskan beberapa hal, namun mungkin karena teman-teman saya yang lain kurang puas, mereka bertanya lagi. setelah dijawab, dan ditanya lagi, Ka Dosi balik bertanya, namun menurut Ka Dodi teman-teman kurang bisa menjawab dengan tepat pertanyaannya. Hingga Ka Dodi pun berkata, “Mahasiswa Sekarang emang kritis, tapi ga solutif”.
hemm bener juga ya…kadang saya pun merasa kalau suatu masalah kenap terjadi begini begitu, kenapa tidak seperti ini seperti itu, namun ketika saya menanyakan jawabannya pada diri sendiri, saya juga bingung menjawabnya. ;P… apakah ini juga dipengaruhi riwayat pendidikan yang kita tempuh? dimana sistemnya kini menuntut siswa untuk menjadi kritis,sayangnya belum sampai untuk dituntut hingga tahapan solutif. semoga menteri pendidikan Indonesia memperhatikan materi ini.😉