Mengabdi Hingga Akhir Hayat

Tanggal 26 Oktober 2010 sore lalu, Gunung Merapi yang berada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta meletus. Data Kompas hingga 27 Oktober 2010, menyebutkan sudah enam belas orang tewas menjadi korban, termasuk Mbah Maridjan.
Sejak pengangkatannya sebagai juru kunci Gunung Merapi tahun 1982, beliau bersikukuh tidak akan mengungsi bagaimanapun keadaan Gunung Merapi hingga akhir hayat. Hal itu dilakukan semata-mata sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta.
Pengabdian Mbah Maridjan sangat saya hargai. Namun, saya kurang setuju atas sikap pengabdian yang beliau tunjukkan. Penolakan Mbah Maridjan untuk segera mengungsi meninggalkan Gunung Merapi yang sudah berstatus “awas”, hanya didasarkan karena beliau belum mendapat “isyarat” akan terjadi hal-hal membahayakan Merapi.
Menurut Mbah Maridjan, yang diungkapkan kepada Kompas, lingkungan dan sekitarnya memiliki hubungan saling menjaga dan melindungi. Termasuk ketika gunung akan melakukan sesuatu, ia akan memberi isyarat kepada sekitarnya tak terkecuali Mbah Maridjan.
Beliau hanya menggunakan naluri untuk memahami alam. Dan karena belum mendapat firasat atau isyarat bahwa Merapi akan melakukan sesuatu yang membahayakan, maka beliau menolak diajak mengungsi.
Akan lebih baik menurut saya, jika Mbah Maridjan lebih percaya dengan data berdasarkan teknologi modern yang ada, dan mencoba berfikir lebih jauh mengenai kebermanfaatannya sebagai juru kunci. Bukankah “menjaga” tidak selalu berarti berada di sampingnya? Yang terpenting justru menyelamatkan warga sekitar yang sudah mempercayakan keselamatan hidupnya kepada Mbah Maridjan atas kondisi Gunung Merapi.
Jadi beliau tidak harus tetap di rumahnya yang hanya berjarak 4 km dari puncak Merapi, padahal sudah dinyatakan “awas Merapi”. Bila beliau ingin bertahan hidup dan mengabdi lebih lama, beliau bisa mengungsi hingga keadaan cukup aman untuk menjaga keselamatannya. Jika Mbah Maridjan telah bersedia mengungsi, saya yakin ada lebih banyak warga yang ikut mengungsi juga sehingga korban tewas pun dapat diminimalisir. Beliau juga bisa selamat dan melanjutkan pengabdiannya lebih lama.
Kini Mbah Maridjan telah tiada. Apapun yang dilakukan semasa hidupnya semoga menjadi amal kebaikan dan sebagai bekal kehidupan akhiratnya. Selamat jalan Mbah Maridjan!