Tergesa-gesa Mendefinisi itu Tidak Baik

Kemarin sore, saya masih berada di asrama mahasiswa UI, Depok sebelum pergi menghadiri kegiatan PDKM (pelatihan dasar kepemimpinan mahasiswa) Fakultas Psikologi. rencananya, sore ini, saya dan teman saya, Wize (ketua FORKAT putra 2010) serta Ka Faiq (ketua FORKAT putra 2009) akan menemui pak Yitno (Kepala Administrasi TU) untuk sharing pengalaman dan permasalahan asrama.
kami ‘janjian’ bertemu di sofa depan TU, namun ternyata hingga pukul 4 (waktu yang dijanjikan) Wize dan Ka faiq belum juga datang. kebetulan handphone saya mati sejak siang, sehingga tidak ada koordinasi lanjutan sejak siang tadi. saya menunggu mereka di sofa. cukup lama hingga tak sabar.😉 akhirnya saya mulai mencari-cari ke dalam ruangan. mungkin karena tingkah saya yang aneh, ibu-ibu di dalam TU yang tiba-tiba muncul, bertanya, “Ada apa mba? mau cari siapa?”.. “Saya mencari teman, Bu..saya kira sudah di dalam. mau menemui pak Yitno, Bu” jawab saya agak gugup. ibu tersebut yang kebetulan mau pulang, ikut keluar bersama saya dari dalam kantor TU.
waktu itu, saya memegang sebuah kertas bergambar sprei-sprei titipan teman yang memang berjualan sprei. Ibu tersebut, yang sampai sekarang belum saya ketahui namanya, bertanya kembali, “memang mau apa ketemu Pak Yitno?” saya mencoba menjawab dengan jawaban eksposisi dan basa basi,namun seketika ibu itu mengatakan, “oh..mau jualan sprei?mau nawarin sprei gitu ya mba??” katanya dengan wajah yang terlihat puas menerka maksud saya. mungkin karena ibu melihat kertas yang saya pegang, beliau mengatakan demikian. padahal yaaa bukan begitu ibuuu… koq cepat sekali mendifinisikan? jadi ingat, pelajaran psikologi umum I tentang 4 idols oleh Francis Bacon. slah satunya idols of marketplace dimana terkadang kita melakukan kesalahan karena salah mendefinisikan. semoga penyakit cepat mendefinisikan, men-generalisasikan, memandang sesuatu hanya dari satu pandangan, dan terlalu patuh pada otoritas pemimpin, sebagaimana Francis Bancon sebutkan dalam idols-nya, tidak merambah pemuda, remaja, maupun generasi penerus bangsa lainnya. pamuda harus bisa kritis (tidak cepat menerima sesuatu secara keseluruhan. harus dipertimbangkan dulu kebenarannya). kritis dan solutif…diharapkan menjadi tabiat, watak. karakter, pemuda Indonesia demi kemajuan bangsa.