Beberapa Kaidah dari Ushul Fiqih, Bimbingan untuk Dai

KAIDAH KE-1 (Memberi Keteladanan Sebelum Berdakwah)

Keteladanan Manusiawi. Para dai ibarat pelita di kegelapan malam. Mereka adalah imam yang membawa petunjuk bagi umat yang dipimpinnya. Perilaku dan amal ibadah adalah cerminan dari dakwahnya. Mereka adalah teladan dalam pembicaraan dan amal. Oleh karena itu, mereka harus mau mempelajari sifat-sifat rasulullah. Mereka wajib mempelajari perjalanan hidup rasulullah karena perjalanan hidup beliau menceritakan kepribadian yang mulia sehingga dapat menjadi teladan yang baik bagi manusia.

Keteladanan untuk diikuti. Islam menampilkan keteladanan yang baik bagi umat manusia agar bisa diikuti dan diaplikasikan dalam diri mereka sesuai kemampuan masing-masing individu. Karena keteladanan menjadi sarana dakwah dan pendidikan yang paling efektif.

Keteladanan; itu yang pertama. Masyarakat harus memperoleh teladan dari pemimpinnya agar mereka dapat melihat langsung prinsip-prinsip kebaikan tersebut lalu merealisasikannya dalam diri mereka. Dakwah melalui keteladanan akan lebih bermakna ketimbang melalui teori atau lisan saja.

Mulailah dari diri sendiri. Sebelum mengajak orang lain, seorang mukmin harus memulainya dulu. Ketika menjadi dai, ulama, atau aktivis dakwah yang ikhlas, maka dia harus menjadi teladan yang baik terhadap apa yang didakwahkannya. Jika tidak demikian, tidak akan ada yang mau mendengar kata-katanya serta tidak bermanfaat ilmunya dan orang tersebut tidak melihatnya dengan hormat kecuali sikapnya sesuai dengan apa yang digariskan Allah.

Antara tukang bicara dan pekerja. Suatu manhaj Allah tidak akan terealisasi jika tidak ada orang yang berkomitmen untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, Nabi tampil sebagai  teladan bagi manusia baik ucapan maupun perbuatan. Imam Hasan Al-Banna berkata, “Sesungguhnya tukang bicara itu berbeda dari ahli amal dan ahli beramal berbeda dengan ahli jihad, dan ahli jihad berbeda pula dari ahlli jihad yang produktif dan bijaksana. Dia memperoleh keuntungan yang gemilang dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya.” Hendaknya para dai menjadi teladan dimana pun berada sehingga nampak risalah yang dibawanya untuk manusia. Dengan demikian, masyarakat sekitar akan merasakan keterlibatannya dalam gerakan dakwah ini.

Peringatan untuk para dai. Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, menafsirkan QS Al-Baqarah: 44, sesungguhnya bahaya para tokoh agama (Rijal Ad-Din) adalah ketika agama telah berubah menjadi profesi. Saat itu agama bukan sebagai akidah yang memotivasi. Mereka berbicara yang tidak sesuai dengan hati, mereka memerintah namun tidak melakukannya sendiri. Mereka melarang namun mereka mengabaikan. Mereka mengubah kalam demi hawa nafsunya. Mereka memberi fatwa sesuai nash namun berbeda dengan hakikat agama. Oleh karena itu, dai harus jujur dan bersungguh-sungguh introspeksi diri agar selalu istiqamah taat di jalan Allah.

Awas murka Allah! Tanda orang munafik adalah jika berjanji mengingkari, jika berbicara dusta, dan jika dipercaya berkhianat. Amal yang paling dicintai Allah adalah beriman kepada Nya dengan tidak ada keraguan sedikit pun, kemudian berjihad (memerangi) orang-orang bermaksiat pada-Nya (orang yang tidak beriman dan menentang-Nya).

Sejak bersama jiwa. Sifat terpenting yang dimiliki seorang dai adalah jujur dan istiqamah sehingga apa yang tampak pada lahir sama dengan batin. Tanggung jawab seorang dai kepada masyarakat semestinya tidak mengabaikan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kesibukan memperbaiki manusia, semestinya tidak melupakannya untuk memperbaiki diri sendiri. Karena kewajiban mereka adalah memenuhi tanggung jawab terhadap diri mereka, baru kemudian terhadap masyarakat.

Pelajaran untuk pembinaan. Arahan seorang dai bisa diingat, juga bisa terlupakan namun jika pribadi dai itu bisa menjadi teladan yang baik, maka dia akan lekat diingat. Keteladanan yang baik merupakan  dakwah amaliyah bukan hanya lisan, yang berarti dakwah dengan perilaku sebelum dakwah dengan perkataan. Dan hendaknya pemikiran, tulisan, dan perkataan dai dapat dijelmakan menjadi gerakan sekaligus mengubah kehidupan.

Takut kepada Allah. Seorang dai harus sama antara lahir dan batinnya. Ia selalu muhasabah dalam segala urusan dan gerak langkah, bahkan dalam diamnya bermuhasabah melihat kekurangan dan kesalahannya. Ia memelihara dirinya dan membersihkan hatinya serta bermuhasabah terhadap seluruh anggota badannya. Senantiasa menjaga perasaannya dan takut jika dia larut dalam angan-angan. Seorang dai yang sukses adalah dai yang mengajak kepada kebenaran dengan perilakunya meski hanya sedikit bicara. Karena pribadinya menjadi contoh yang hidup dan bergerak, menggerakan prinsip yang diyakininya.

Kemenangan palsu. Orang-orang yang kalah dalam peperangan, bisa jadi menerimanya, namun belum tentu mereka akan mengikuti kita dengan ikhlas dalam perasaan maupun pemikiran. Karena itu, yakinlah bahwa keteladanan satu-satunya jalan untuk memudahkan tersebarnya dakwah di segala sektor kehidupan. Para dai yang berhasil membuka kemenangan adalah orang-orang yang akidahnya mantap dan keluhan perilakunya menakjubkan. Mereka adalah teladan yang baik dalam kemuliaan dan keadilan.

Tugas mulia. Para dai mengemban tugas para Nabi. Mereka tidak boleh mengharap selain ridho Allah. Mereka yang paling berhak diikuti pola hidup dan petunjuknya serta dijadikan teladan baik ketika hidup atau sesudah matinya. Idealnya, seorang dai adalah orang yang cerdas akalnya, bersih hatinya, baik dalam muamalah maupun sesama, menepati janji, istiqamah, dan kebajikannya telah dikenal sejak muda sebelum dakwahnya. Sesungguhnya yang ditampilkan oleh Nabi adalah kepemimpinan yang bijaksana dan benar. Semua berjalan dengan petunjuk dan bimbingan langsung dari Allah.

Iklan