“jaga temen-temen ya dek..”

“jaga temen-temen ya dek..” kata itu tiba-tiba terlintas. otakku berhasil me-recall memory part itu. entah kenapa, aku merasa ada tanggung jawab lebih untuk benar-benar lebih peduli pada teman-temanku (para perempuan tentunya). padahal, sebenarnya ini bukan kebiasaan atau hobiku untuk memperhatikan teman-teman , namun inilah ujian. aku harus bisa memparafrasekan amanat kakak angkatan yang telah beberapa kali diucapkannya lalu mem-follow up-nya kemudian.

satu kalimat itu, buatku beragam makna, berjuta arti. kenapa disampaikan padaku? mungkinkah hanya aku? seolah-olah hanya aku yang bisa menjaga mereka. seolah-olah hanya aku yang tahu keadaan mereka. seolah-olah hanya aku yang bisa memahami mereka… ya Rabb hanya Engkau sesungguhnya yang bisa lakukan itu semua. dan izinkan aku menjadi perantara bagi mereka..

sebagai seorang mahsiswi yang notabenenya juga masuk dalam usia dewasa muda, kebutuhan akan pertemanan juga penting bagiku. namun seperti yang aku bilang, bahwa memperhatikan teman atau orang lain, sayangnya bukan hobiku. sederhananya, aku merasa punya kekurangan untuk bisa benar2 meluangkan waktu untuk menunjukkan rasa/sikap care pada teman2ku. dan itu adalah salah satu sifat yang jadi masalah juga buatku.

meminjam definisi dari Philip Zimbardo mengenai friendship “a relationship between people characterized by intimacy but not by passion and commitment….”. yaah..padahal hanya kedekatan, keakraban yang dibutuhkan, tanpa pasion ataupun komitmen.  dalam tingkatan segitiga cinta sternberg pun hanya pada tingkat liking. rendah bukan? bisa dibilang, hanya perhatian saja. tapi sulitnya…masya allah…apa karena aku terlalu egois? kurasa tidak. apa aku hanya ingin diperhatikan tanpa memperhatikan? mungkin. ataukah aku yang maish menganggap mereka bukan bagian hidupku? jika jawabnya ya, astagfirullah…aku mohon ampun ya Rabb..

mereka saudari2ku…aku masih berharap bisa berubah walau sedikit demi sedikit agar lebih perhatian dan peduli pada teman-temanku sendiri. karena aku menyayangi mereka…

Islam, agamaku yang hanif, telah lama mengajarkan rasa saling menyayangi dan mengasihi. kepada Allah, kepada sesama, kepada hewan, tumbuhan, dan juga pada diri sendiri. yang kaya, miskin, buta, tuli, sehat, sakit, tua, muda, dan sebagainya…semua harus disayangi.

mungkin kini yang bisa aku lakukan, adalah show up! aku harus mau menunjukkan rasa sayangku pada teman2ku. tanyalah kabar mereka, sapalah mereka, perhatikan keadaanya, panggilah mereka dengan panggilan yang baik dan yang mereka sukai, kirimlah sms pada mereka walau hanya menyampaikan satu kata salam, lebih bagus kalo sms-nya berisi kata mutiara atau semacamnya yang bisa untuk saling mengingatkan, dan terpenting adalah tersenyum. tunjukkan wajah terindah, terseri, termanis, terhangat, dan ter-ter lainnya setiap bertemu mereka. jadi ingat hadist Nabi…yang paling merasa senang ketika bertemu saudara/i nya adalah yang paling  banyak dapat pahala… 😉 cheeesss :)v

Iklan

Shinkansen Indonesia

tepat pukul 3 pagi, tanggal 2 Desember 2010 saya sampai di stasiun kereta api Purwokerto. selama perjalanan dari manggarai ke purwokerto ada banyak hal yang tidak akan lupakan, saya kira.

saya pikir, kereta api memiliki banyak cerita dan keunikan tersendiri. mulai dari stasiunnya, peronnya, petugas kereta apinya, gerbongnya, pintu otomatisnya, tempat duduknya, pegangan gantungnya, bunyi peluitnya, dan segala pemandangan selama perjalanannya. yahh… semua itu bagai fenomena psikologis yang tidak dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian pada setiap elemen, seperti kata Max Wertheimer dalam phi phenomenonnya.

sebagai penumpang kereta api, saya agak miris melihat perkeretaapian di negeri sendiri. kereta api yang menurut saya bisa menjadi transportasi favorit, masih belum bisa dikatakan demikian karena minimnya fasilitas yang disediakan dan kurangnya perawatan, sehingga terasa kurang nyaman. lantai gerbong yang rusak, jendela rusak, kamar kecil tak layak dan bau, udara yang panas, langit-langit yang juga sudah rusak, mesin yang sudah tua, dan tentunya laju kereta yang tidak optimal. jika mau dibandingkan, dengan kereta api jepang, hemm…masih jauh rasanya…

Warga Jepang mengandalkan kereta api  sebagai alat transportasi utama. salah satu jenis kereta api di Jepang adalah Shinkansen (juga sering dipanggil kereta peluru). Shinkansen adalah jalur kereta api cepat Jepang yang dioperasikan oleh empat perusahaan dalam grup Japan Railways. (sebenanrnya nama Shinkansen menurut bahasa Jepang merujuk pada jalur keretanya, namun orang2 Jepang sering merujuknya sebagai nama kereta tersebut). Shinkansen merupakan sarana utama untuk angkutan antar kota di Jepang, selain pesawat terbang. Kecepatan tertingginya bisa mencapai 300 km/jam. sedangkan keamanan dan ketepatan waktunya sudah tidak diragukan lagi.

Meski memiliki kecepatan super, penumpang tidak akan merasa mual dan pusing sebab Sinkanshen dirancang agar penumpang tetap nyaman meski kereta melaju dengan kecepatan tinggi. Bagian dalamnya juga sangat luas dan tempat duduknya hampir seperti kursi duduk di pesawat terbang. Jadi tidak seperti kereta rel listrik atau kereta ekspres yang dikenal di Indonesia pada umumnya. Shinkansen menggunakan sistem komputer untuk mengatur pengoperasian dan sistem lalulintas kereta diatur secara terpusat. Selain itu, sama seperti kereta kebanyakan, Shinkansen harus menjalani perawatan dan pemeriksaan di Depo Shinkansen. Di sini, setiap gerbong Shinkansen dibersihkan dan diperiksa sebelum diberangkatkan setiap harinya. Shinkansen juga terkenal ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi apapun. (http://sains.kompas.com/read/2008/11/01/1737160/Kapan.Indonesia.Punya.Shinkansen.)

bagaimana dengan kereta api di negeriku? sampai kapan akan terus begini? semoga PT INKA benar-benar akan meneruskan niatnya untuk membuat Shinkansen Indonesia pada 2016 mendatang. 😉