sebuah pesan…

SAYID QUTB-UMAR TILMASANI

Kisah kehidupan dan kematian sering berdampingan, namun kematian hanyalah kekuatan kecil dan hal kecil yang semestinya dapat di padamkan oleh energi kehidupan yang lebih besar dan bergemuruh dalam diri. Adakalanya kehidupan berteriak kesakitan yaitu ketika kematian menerkam dan merobek tubuhnya. Tetapi alangkah cepat sembuhnya luka itu dan alangkah cepatnya teriakan kesakitan itu menjadi nyanyian suka cita. Makhluk hidup menyesaki permukaan bumi ini, namun kematian hanya bisa bersembunyi di sebuah sudut sana. Memangsa dan berlalu. Kehidupan merekah, bergemuruh riuh ramai, ada di mana-mana. Sedangkan kematian hanya suatu kekuatan kecil dan letih. Kehidupan merekah dan meluas bersumber dari kekuatan Allah yang Maha Hidup.

Terkadang kehidupan terlihat begitu sempit dan pendek waktunya. Namun ketika kita hidup selain karena diri kita, yaitu demi ide maka akan terlihat kehidupan yang terbentang luasnya. Hidup bukan masalah kuantitas atau hitungan waktu belaka namun karena rasa. Perasaan manusia sendiri yang bisa memaknai tentang kehidupan. Jika manusia berhasil mlipatgandakan perasaannya tentang kehidupan berarti ia pun telah berhasil melipatgandakan kehidupannya.

Memberikan sedikit saja kasih sayang yang jujur pada orang baik ataupun jahat sekalipun atas kealpaan dan kesalahannya. Sedikit perhatian yang tulus bukan basa-basi terhadap suka dukanya. Maka akan kau temukan sumber kebajikan dari lubuk hati mereka. Sedikit kelapangan dada saja sudah menjamin tercapainya kasih sayang yang hakiki dalam perjuangan dan cita-cita. Betapa besar ketenangan, kesenangan, dan kebahagiaan yang kita berikan kepada diri kita ketika kita memberikan kasih sayang, cinta, dan kepercayaan kepada orang lain saat bibit-bibitnya tumbuh subur dalam jiwa kita.

Hanya pedagang yang melakukan segala sesuatu atas dasar hubungan dagang bagi komoditi mereka agar tidak jatuh ke pihak lain. namun bagi pemikir, dan penyandang aqidah, kebahagiaan justru terletak saat banyak orang yang bisa menikmati pikiran dan aqidahnya. Dia juga tidak akan merasa sebagai pemilik ide dan aqiodah tersebut, karena ia hanya akan merasa sebagai penghubungnya.