Surat Terbuka untuk Para Wanita

-SAYID QUTB-UMAR TILMASANI-

PANDANGAN ISLAM TERHADAP KAUM WANITA

Quran surat 33: 35, Allah tidak menurunkannnya hanya untuk kaum laki-laki saja. Ampunan dan pahalanya bukan hanya untuk lelaki saja. Islam tidak pernah membedakan kedudukannya dengan  kaum wanita. Islam terdiri atas dua pilar, yakni pilar pikir dan pilar perasaan. Maka jika seorang muslim kehilangan salah satunya, ia akan kehilangan pula cita rasa keimanannya.

Islam memberikan hak sebesar kewajiban wanita. Pendapatnya dihargai, kelemahannya dilindungi. Wanita bukan hanya untuk seks dan ranjang, bukan hanya sebagai hiburan, bahkan hanya sebagai penghuni harem. Islam telah membimbingnya menciptakan kondisi yang menjamin kebahagiaan keluarga. Sehingga tidak ditemukan dalam diri wanita selain kelembutan, bau-bauan mewangi, dan penglihatan yang menarik hati.

Islam tidak memaksakan wanita untuk kawin dengan orang yang bukan pilihannya. Karena ia punya hak untuk menerima ataupun menolaknya. Dia juga tidak dilarang melihat dan bersepaham dengan tunangannya dalam batas tertentu. Jika laki-laki sebagai pemimin, itu karena ia memiliki tanggung jawab dalam pemberian nafkah, membimbing, melindungi kehormatan istri dan keluarga, dan pemangku jihad. Bukan untuk bertindak sewenang-wenang dan menyakiti hati istrinya. (QS.2:228) Karena seorang suami yang memukul istrinya, mendapat gelar dari rasulullah sebagai orang paling jahat. (At-Talaq:6). Wanita dalam islam terjamin kemuliaannya, hak-haknya, dan kebebasannya. Rasulullah menyamakan pria dan wanita dalam hal pembagian kasih sayang dan perwalian.

Secara syariat, wanita islam tidak harus mengabdikan dirinya bagi suaminya (shahih muslimin, jilid 5 halaman 627 cetakan darus sya’ab). Namun jika melakukaknnya maka itu adalah kebajikan, dan jika tidak, itu bukan keterpaksaan. Wanita muslim selalu berwajah cerah dan riang gembira di depan suaminya. Suka bercanda dengan kelakar sehat, tersenyum, tertawa, memberi rasa senang dan tenang, serta kasih sayang.

Mengenai kerja wanita, ada yang membolehkan, melarang, dan ada juga yang membolehkan bekerja dengan syarat tertentu. Wanita dalam islam bukan penganggur dan tahanan rumah tetapi sebagai ratu dan pengatur rumah tangga serta anak-anaknya. dianjurkan candanya pun produktif dan bermanfaat. Wanita tidak dilihat lebih rendah dari kaum pria dlam masyarakat. Ia bukan hanya pemuas laki. Bahkan dalam menganjurkan orang menikah, islam menganjurkan hal tersebut sebagai upaya melanjutkan keturunan bukan memuaskan hawa nafsu.

Wanita Islam tidak segan-segan berkorban demi agamanya. Wanita-wanita itu tidak hanya punya kepentingan di rumahnya. Agama ini telah membagi tugas hidup anatara laki-laki dan perempuan karena ia memiliki arti penting dalam masyarakat dan karena tugas tersebut tidak mungkin hanya dilakukan sendiri oleh laki-laki tnpa keikutsertaan wanita.

Islam sudah memberikan hak wanita, sudah memelihara kedudukannya, meninggikan martabatnya, menetapkan eksistensinya, dan meninggikan semua permasalahannya hingga mencapai puncak yang tidak pernah dicapai oleh masyarakat m,ana pun agama manapun juga.

Islam membolehkan wanita musafir sendiri tanpa muhrim, kalau itu perjalanan darurat. Suaranya bukan juga aurat. Wanita tidak dilarang belajar. Tidak dilarang berhias dan mempercantik diir, meski ia seorang gadis, asala di depan orang-orang yang dibenarkan melihat ia berhias dan mempercantik diri. Seperti pada awal permulaan Islam, sudah ada salon kecantikan rambut dan wajah dan rasul tidak melarang.

Semua hak-hak itu bisa dilakukan dengan syarat wanita berpegang teguh pada prinsipo sebagai wanita muslimah, memelihara rasa malu dan sungguh-sungguh, bersikap sopan santun dan anggun, sehingga menjadi keanitaannya selalu terlindungi dari jangkauan durjana. Selalu menghias dengan akhlak yang luhur, memegang teguh susila Islam dan tidak keluar dari  perintah Allah Ta’ala.

Sekali lagi, kenalilah ajaran agama Islam tentang wanita, percayalah padanya, timbalah sumber ilmu murninya, Insya Allah kita akan hidup bahagia dunia hingga akhirat kelak.

Iklan