Akhirnya kutemukan!

yah, akhirnya kutemukan potongan puzzleku yang lain😉 ini cerita dari hasil sharing dan ngobrol dng beberapa teman seputar hubungan bernama “persahabatan”.

awalnya, aku benr2 ga ngerti kenapa sampai beberapa waktu lalu blm dapt sahabat. padahal banyak temenku yang udah asik dan berukhuwah lama dengan sahabatnya… aku galau. entah kenapa. ada semacam rasa yang kurang tersalurkan. ya, kurang tersalurkan kepada orang lain yang bisa aku bagi rasa kasih sayang ini. mau curhat selain sama Allah dan ortu, sama siapa? mau berbagi bahagia dan kesedihan ke siapa? mau minta ditemenin ke sini situ sama siapa? yah, aku butuh sesuatu.sesuatu yang nyata. orang lain yang bisa aku “gandeng” bersama. dan aku rasa, sudah saatnya aku butuh sahabat.

seorang teman aku ajak diskusi tentang sahabat. apakah arti sahabat menurutnya? hem, blm sempat dijawab artinya, dia justru sudah skeptis kembali bertanya, “memangnya sahabat itu ada?” sontak aku kaget (menskipun ga sampai terloncat-loncat🙂 ). baru kali ini aku temui orang bertanya begitu,. “menurutku aga ada tuh sahabat, adanya yaa teman akrab, teman baik,.karena kalo sahabat yang kata orang bisa kemana-mana bareng, bisa merasakan senang-sedih bareng, kayaknya ga ada deh orang yang bisa gitu. kan setiap orang punya kepentingan berbeda. ya kan?” ohh ya ya ya…ngerti ngerti,.. Awalnya aku setuju. selain untuk menutupi kegalauan akibat belm memiliki sahabat, alasannya masuk akal juga. oke… jadi ga masalah donk kalo selama ini aku belum punya sahabat? yeah, masih normal, masih normal…🙂

di suatu waktu, aku kembali bertanya pada teman, kali ini berbeda. aku bertanya apa dia punya sahabat? katanya punya. wahhh timbul rasa penasaran lagi, koq ada yang  punya sahabat? kenapa? gimana caranya? pertanyaan itu terus muncul, mengalir. setelah aku bertanya ini itu, aku dapat jawaban bahwa menurutnya sahabat itu ada. sahabat layaknya “pacar” tapi ga punya passion. hanya ada intimacy dan komitmen. hemm… begitu? trus, apakah dia pernah menyatakan komitmen itu? “ya..enggak gitu juga fatin, soalnya itu akan dirasakan dengan sendirinya.” – “oh, jadi masalah perasaan? rasa kepemilikan yang akan datang dg sendirinya, gitu?” – “yah..gitu dehh..gitu lah…soalnya aku yang nganggap dia sbg sahabatku, meskipun ga ada deklarasi atau semacamnya.” ya ya ya… satu poin lagi berbeda.

yah,. sahabat menurutku adalah masalah perasaan. dan aku percaya ada sahabat. aku percaya akan menemukannya. namun, terkadang aku butuh pengakuan, dan bukan hanya perasaan.

terakhir, tadi sore, seorang teman mengobrol lagi seputar hubungan persahabatan. aku agak lupa, gimana awalnya hingga kami nyambung ke arah sana :p yang jelas, aku bilang juga tentang arti sahabat menurutku dan menurut temanku yang lain. ternyata temanku yang satu ini, sejak SMP dia juga sedang mencari shabat. dia pun sdg galau. kataknlah, posisi aku dan dia, sama. galau. butuh sahabat. needs of love kami sedang tinggi (maklum anak muda..:p) . dia merasa perlu mengatakannya, menwarkan dirinya sebagai sahabat orang lain, namun dia malu dan takut “ditolak”. aku sarankan untuk mengatakan saja apa yang mau dia katakan, jangan takut mencoba. katakan saja..

setelah lama berbicara, akhirnya dia bertanya padaku, apa aku sudah punya sahabat? aku jawab belum. “kalau ada yang mau jadi sahabat kamu gmn, fatin?” aku jawab, waahh bersyukur banget! setelah lama ditunggu!🙂 . “Apa ada yang pengen kamu jadiin sahabat?” aku jawab, ada. “siapa?” -qisti- “siapa?” -adis, qisthina adisty- “wuaaa fatin… koq sama?? aku juga pengen… ternyata… makasi yah udah menyambutku… :)” hikz..hikz…

ending : berpelukan…:)

semoga kita diberkahi, ukhti… ana uhibbukifillah😉 saling menjaga dan mengingatkan dalam kebaikan yuk! Allahuakbar!

minggu, 19 desember 2010, 16.20. @ kamar asrama mahasiswa UI, depok. C.2.53