Bukan Status Asal @,@

Purbalingga, 11:12 am

“Hei kawan.. berhentilah membicarakan kekasih, pacar, doi, atau semacamnya yang aku belum mau mengetahuinya. Hidup ini bukan hanya tentang asmara. Psikologi bukan hanya bertemakan cinta”. Begitulah kurang lebih status dalam facebook yang saya tulis belakangan ini. Lalu, kenapa saya ingin membicarakannya kini? Saya sedang tidak asal membuatnya waktu itu. Saya punya maksud dari setiap kalimat yang saya tuliskan. Nah, karena komentar yang saya terima dan orang-orang yang menyukai status tersebut cukup banyak (hehe jadi geer nih…:)) sehingga saya pikir, ini akan menarik untuk dibahas. Terlepas dari ada keterkaitannya atau tidak, izinkan saya berceloteh kawan…^^ Baca lebih lanjut

Iklan

Revolusi Sekolah!^^

Purbalingga, 18:57

Yang saya tuliskan ini adalah bagian dari isi buku terbitan DAR! Mizan, 2006, karya Fahd Djibran berjudul Revolusi Sekolah. Izinkan saya berbagi, kawan^^…

Beberapa orang terkaya di dunia, salah satunya Bill Gates tidak lulus sekolah. Ia memang lebih memilih tidak sekolah dan nekat mengambil jalan kehidupan lain. Tapi, ternyata ia sukses. Kenapa? Karena ia menemukan kehidupannya. Ia pikir, sekolah tidak mendidiknya menjadi seorang boss besar tetapi hanya menjadi pekerja.

Hemm.. coba ingat, ketika guru TK-mu bertanya, mau jadi apa kelak? Kebanyakan mengarahkan kita menjadi dokter, insinyur, pilot, dan sederet profesi pekerja lain terkait kapitalisme. Jarang ada yang dengan senang hati mengarahkan / menyambut minat muridnya sebagai pelukis, padahal pelajaran kita lebih sering menggambar, atau seniman, dan sebagainya. Menurut buku tersebut, sekolah saja tidak cukup untuk menjadikan kita sukses. Lalu apa? Yang lebih menentukan adalah ide, keyakinan, visi masa depan yang kuat, keberanian mengambil risiko, kemauan, dan tekad yang kuat.

Islam juga bukan mengajarkan kita untuk bersekolah, melainkan menuntut ilmu. Seperti hadis Nabi uthlub al-‘ilm walau bishin. Tuntutlah ilmu sampai focus. Islam menuntut kita untuk mendapat ilmu / pendidikan bukan sekolahnya. Pendidikan tidak selalu bernama sekolah, bukan? Berarti ketika sekolah, yang lebih penting adalah pendidikannya. Dapat apa kita dari sekolah? Perubahan apa yang kita dapat setelah bersekolah? Dan sebagainya.

Sekolah harus lebih dimaknai lebih dari sekadar rutinitas belaka. Karena sekali lagi, yang lebih penting adalah ilmunya. Ketika kita sudah menyadari hal itu, maka tidak ada lagi menyontek, membolos, malas mengerjakan PR atau tugas, dan hal-hal tidak menyenangkan lain yang sering terjadi di sekolah.

Harus ada revolusi sekolah. Harus ada perubahan pola pikir agar orientasi / tujuanmu bukan hanya masalah nilai rapot. Kamu harus punya kesadaran untuk apa kamu sekolah. Harus punya tujuan besekolah dengan kesadaran total. Salah satu dari empat model kesadaran menurut Paulo Freire adalah kesadarn naïf. Yaitu ketika kamu ingin sukses tapi tidak tahu bagaimana carany/ tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal kamu semestinya kamu punya kesadan transformatif, sadar apa tujuan akhirmu bersekolah. Ingin seperti apa kamu nanti, apa saja yang bisa kamu lakukan, dan  sudah melakukan apa saja kamu selama ini untuk mencapai tujuanmu. Agar kamu tidak membebek saja mengikuti teman, kemauan orang tua, atau karena paksaan.

Tahukah kamu? Pada awalnya, sekolah hanya kegiatan sampingan untuk mengisi waktu luang. Makanya namanya scholae, yang berasal dari kara Yunani artinya waktu luang / waktu kosong. Aktivitasnya dilakukan oleh orang-orang yang ingin mencari ilmu dan kebijaksanaan kepada para filsuf. Atau sebaliknya, para filsuf yang berkeliling pada waktu luang mengajarkan ilmu dan kebijaksanaan kepada orang-orang. Tempatnya pun di alam bebas atau dimanapun yang mereka inginkan. Makanya waktu itu, sekolah sukses sebagai sarana transfer ilmu karena antara pengajar dan yang diajar sama-sama ikhlas ingin saling belajar.

Selain masyarakat Yunani, hal yang sama juga terjadi pada masa kerajaan Hindhu-Budha, masa Rasulullah, dan para wali di Indonesia. Namun sejak revolusi industry di Inggris, sekolah mulai diinstitusikan dan diformalkan. Penemuan teknologi dan mesin-mesin baru mendorong bangsa Eropa menjelajahi dunia mencari sumber bahan mentah untuk modal. Penjajahan, kolonialisme, dan imperialisme yang dilakukan ternyata juga untuk mendapat pekerja yang siap dibayar rendah. Makanya dibentuk sekolah yang formal, tersekat dinding-dinding, ada guru sebagai pengajar, dan ada bahan ajar. Bahan ajar disiapkan untuk dipelajari murid agar mereka “siap pakai” sesuai kebutuhan industri yang mereka kembangakan. Sekolah diarahkan guna menciptakan pegawai rendahan untuk kepentingan penjajah sehingga sekolah hanya menghasilkan orang-orang pesanan yang nantinya jadi pegawai, nggak punya identitas kemanusiaan.

Itulah yang terjadi sampai sekarang. Buat kamu, yang menjadikan sekolah untuk kehidupan, sekolah untuk memenuhi kehidupan dengan cara bekerja, memang. Kamu akan dan harus terus bekerja untuk kehiupanmu. Tapi yang salah di sekolah selama ini adalah kamu terlalu dibentuk menjadi sesuatu. Kamu ga punya kebebasan memilih pilihanmu sendiri, apalagi dengan adanya penjurusan. Bisa kamu hitung berapa persen antara kemauanmu yang sesungguhnya dengan campur tangan sekolah dalam menentukan kamu menjadi apa dan siapa.

Nah, kalau kamu pengen sukses dan memilih langkah seperti Bill Gates, kamu harus nekat dan percaya bisa sehebat dia. Tapi kalau ga, mending belajar aja yang bener di sekolah^^. Sekali lagi bukan hanya datang ke sekolah, cari gebetan, nongkrong sama temen-temen, atau cuma pingin foya-foya ketemu temen2. Perbaiki niat kamu untuk bisa dapet ilmu. Munculkan kesadaran transformative-mu.  Buku ini akan memberikan gambaran lebih jelas dan semangat yang lebih luar biasa kalau kamu baca sendiri. Hehehe… J dibahas pula bentuk-bentuk kekerasan yang ada di sekolah. Bahkan yang termasuk kekerasan non-fisik (psikologis) yang sangat halus sekalipun terkadang terjadi di sekolah tanpa kita sadari.

Penulis juga memberikan cerita pengalamannya dulu melakukan revolusi sekolah. Karena sistem dalam sekolah yang sulit untuk “diotak-atik” bagi anak-anak ukuran seperti kita, makanya ada beberapa jurus yang disarankan untuk bisa mencapai revolusi sekolah. Melakukan perubahan secara hebat kearah yang lebih hebat dengan segera di sekolah. Antara lain: tentunya dimulai dari jurus merevolusi diri sendiri, selain itu jurus membentuk opini, berani “speak out”, mencari pendukung, membuka ruang dialog, tebar senyum, membuat atribut anti kekerasan, melakukan perlawanan, pemberian penghargaan pura-pura, mengkritisi dengan drama, hingga jurus mencari advokasi.  Seru deh pokoknya! Selamat membaca. Semoga bermanfaat!^^…

21 Kelemahan Gerakan Dakwah Masa Kini (Part.4)

Kelemahan Ke 11 : Hilangnya Dialog

Senin, 20/12/2010 11:44 WIB

Saya melihat gerakan dakwah itu gagal membangun dialog dalam tiga level. Internal (terhadap anggota ditanamkan sam’an wa tho’atan/dengar dan taati, tidak ada peluang untuk dialog, apalagi debat terbuka), dengan sesama jamaah Islam lain dan dengan kelompok-kelompok yang bukan Islam apakah yang berlandaskan agama ataupun sekularisme. Akibat dari kegagalan tersebut lahir pemahaman-pemahaman borjuis (sektarian) di kalangan anggotanya.

Sedangkan efek negatifnya sangat jelas, yaitu teori-teori keislaman senantiasa jauh dari lapangan eksperimental dan realitas kehidupan nyata (seperti ukhuwah, wala’ [loyalitas], baro’ [disloyalitas] dan sebagainya). Akibat lain dari hilangnya dialog tersebut ialah kejumudunan berfikir dan ketidakmampuan memperkaya pemikiran yang diperlukan untuk mematangkan gerakan dakwah itu sendiri.

Salah paham di antara jamaah/gerakan dakwahpun tak terhindarkan yang mengakibatkan hilangnya tsiqah (kepercayaan) dan pada waktu yang sama muncul permusuhan, padahal mereka hidup dalam satu masyarakat.

Di samping itu, gerakan dakwah juga gagal membangun dialog dengan para penguasa setempat yang masih mengaku Islam, kendati terkadang sangat memusuhi dan tidak toleran terhadap Islam. Akhirnya, yang diperlihatkan gerakan dakwah selama ini hanya dua bentuk interaksi saja : perlawanan berdarah-darah seperti yang banyak terjadi di negeri-negeri Arab atau menjilat dan menjual gerakan dakwah itu kepada penguasa, seperti yang terjadi di Indonesia dan sebagainya.

Saatnya dirumuskan bentuk lain yang memungkinkan terjadinya dialog antara gerakan dakwah dengan penguasa/pemerintah yang masih belum menerima Islam sebagai The Way of Life. Potensi itu sangat besar jika saja gerakan dakwah maupun penguasa/pemerintah sama-sama ingin selamat dunia dan akhirat.

Poin lain yang harus dinyatakan dan diperlihatkan serta dibuktikan gerakan dakwah ialah bahwa mereka sama sekali tidak menginginkan kekuasaan apalagi haus kekuasaan. Yang mereka inginkan hanya keselamatan mereka, umat mereka dan negeri mereka di dunia mauapun di akhirat kelak.

Kelemahan Ke 12 : Mengabaikan Media Massa

Kamis, 23/12/2010 09:19 WIB

Sungguh gerakan dakwah telah mengabaikan media komunikasi dengan dunia yang ada di sekitarnya (sehingga terbagun sebuah komunitas yang ekslusif). Sejak awal, gerakan dakwah tidak menggalakkan anggotanya untuk menutupi kelemahan ini sehingga menyebabkan pengaruh gerakan tersebut dalam masyarakat jauh dari apa yang seharusnya.

Dengan demikian, gerakan dakwah membiarkan competitor/pesaingnya (gerakan-gerakan sekularisme, liberalisme dan sebagainya) menguasai media massa sehingga dengan mudah melukiskan gambaran yang rusak dan buruk tentang gerakan dakwah itu. Gerakan dakwah tidak diberi peluang dan kesempatan secara adil untuk membela diri dengan efektif.

Sesungguhnya gerakan dakwah harus mencetak kader-kadernya dengan jumlah yang cukup dalam dunia media massa sehingga mereka menjadi insan media profesional. Di negara-negara yang gerakan dakwah terlibat pemilihan umum sangat diingatkan untuk hal tersebut, apalagi gerakan politiknya belum sampai ke tingkat yang diharapkan. (Malah sebaliknya, jutaan dolar dihabiskan untuk biaya pemilu yang tidak memberikan pendidikan politik yang baik (islami), melainkan belajar politik Micaville).

Adapun dunia penerbitan internal kebanyakannya belum menarik dan bahkan tak jarang pula yang menyebabkan masyarakat lari. Tidak ada yang sabar menelaah produk-produknya kecuali anggota-angota yang punya semangat luar biasa. Adapun pembaca yang bukan kader gerakan dakwah, mereka menjauh dan tidak mau membaca terbitan-terbitannya. Terbatasnya penyebaran terbitan gerakan dakwah tersebut mengisayaratkan hakikat yang sesungguhnya.

(Sangat disayangkan, baik media cetak, maupun elektronik yang berbau Islam, lahir bukan dari tangan-tangan kreatif kader gerakan dakwah, termasuk juga lembaga Islam lainnya seperti ekonomi syari’ah, asuransi syari’ah dan sebagainya. Melainkan lahir dari kalangan Muslim yang tidak terlibat gerakan dakwah. Kader-kader gerakan dakwah baru sampai sebatas tataran teori kendati sudah terlibat gerakan dakwah puluhan tahun dan bahkan umur gerakan dakwah sudah hampir 80 tahun).

Gerakan dakwah juga melupakan pengarahan terhadap sebagian tamatan SLTA nya untuk menekuni berbagai lapangan yang banyak dibutuhkan seperti ilmu sosial, media, informasi dan komunikasi, public services, kepolisian dan hukum. Kehilangan strategi dan perencanaan terhadap berbagai lapangan ini telah melahirkan akibat yang fatal terhadap gerakan dakwah. Gerakan dakwahpun telah membayarnya dengan harga yang mahal.

Kelemahan Ke 13 : Memiliki Sikap Standar Ganda

Kamis, 30/12/2010 09:37 WIB

Standar umum yang berlaku dalam gerakan dakwah – sampai saat ini masih berlaku – ialah bahwa anggota dihisab/dinilai di hadapan qiyadah/pepimpin. Kondisi ini mengharuskan mereka TAAT MUTLAK dalam keadaan suka maupun terpaksa.

Namun, kebutuhan untuk menilai/mengevaluasi para pemimpin gerakan dakwah masih hal yang tabu untuk didiskusikan dan dibahas. Demikian pula halnya terhadap organisasi dan prakteknya, kendati sudah sangat dibutuhkan.

Pada umumnya para pemimpin itu saat memaparkan laporan kerja mereka dan kerja organisasi melakukannya secara umum dan dengan bahasa yng umum pula seperti, “segala sesatu berjalan dengan baik”, “dakwah mengalami kemajuan”, “sesungguhnya masa depan Islam cerah”, “kemenangan sudah dekat”, “mereka melihatnya jauh, namun kami melihatnya dekat”, “kalian (para anggota) harus memperkuat keimanan dan memberikan pengorbanan yang lebih banyak lagi”, dan banyak lagi ungkapan-ungkapan umum lainnya.

(Nah, pertanyaan berikutya adalah : Jika dalam berharokah ada pemimpin yang mau membuat dan memberikan laporan dan pertanggung jawaban terhadap kinerjanya dan kondisi organisasinya secara umum masih dianggap belum cukup dan masih dianggap pemimpin tersebut bermasalah.

Maka bagaimana dengan pemimpin yang sudah memimpin puluhan tahun dan bahkan menginginkannya sampai mati. Namun tidak pernah membuat laporan pertanggung jawaban kinerjanya dan organisasi? Inilah tragedy dan ironi gerakan dakwah masa kini yang paling mengerikan.)

Gerakan dakwah kehilangan dasar-dasar ilmiyah yang dijadikan sandaran untuk mengevalusasi dan menilai para anggotanya… Belum ada statistik atau fakta-fakta yang berdasarkan angka-angka.

Tidak ada pula analisa objektif baik kuantitatif maupun kualitatif, khususnya terkait penjelasan tentang keanggotaan, masalah keuangan, laporan/ survey untuk mengetahui opini umum (yang berkembang dalam internal organisasi), taqwim jama’i (evaluasi jamaah), maupun kualitas kerja organisasi.

Yang terjadi adalah, seringkali sebagian pemimpin itu menolak untuk menjawab suatu pertanyaan dengan alasan keharusan sirriyah (rahasia tanzhim) dan tidak bisa dibuka secara umum (atau dengan bahasa lainnya, ini atau itu adalah urusan qiyadah, cukuplah dia saja yang tahu).

Sesungguhnya gerakan dakwah itu mustahil berada dalam situasi dan kondisi yang sehat bila qiyadah (pemimpin)-nya tidak tunduk pada “evaluasi objektif secara rutin”. Sebab itu, orang-orang yang menantang untuk mejadi pemimpin atau ingin terus menjadi pemimpin perlu dihadapkan kepada tantangan-tantangan yang riil dan harus selalu dituntut untuk meningkatkan kualitas kinerja mereka.

Hal yang sangat krusial lainnya ialah, bawa pertanggung jawaban dan evaluasi keuangan jamaah/gerakan dakwah itu memiliki dimensi akhlak dalam internal gerakan dan dimensi hukum dalam sebuah negara.

Sebab itu, gerakan dakwah harus mengeluarkan laporan dan penjelasan-penjelasan keuangan dan siap dievaluasi dan diaudit yang didasari oleh landasan yang benar dan sehat.

(Sungguh merupakan musibah besar dalam gerakan dakwah bila sistem dan kebijakan keuangan yang diterapkan adalah sistem sentralistik dengan berbagai alasan dan dalil syar’i yang dikemukakan.

Sesungguhnya yang terjadi adalah qiyadahnya tidak pernah siap memberikan laporan keuangan kepada anggota jamaahnya, karena takut diketahui penyimpangan mereka….. Inilah di antara efek negatif double standard /standar ganda yang mereka terapkan).

Kelemahan Ke 14 : Menyusun Skala Prioritas Kerja

Selasa, 11/01/2011 06:05 WIB

Kelemahan lain gerakan dakwah ialah dalam menyusun skala prioritas kerja. Jika kita bertanya pada diri kita : Apakah kita mengerjakan tugas dengan cara yang terbaik, ataukah kita memilih tugas paling urgent untuk dilaksanakan?

Pertanyaan pertama menggambarkan kapabalitas dalam bekerja. Sedangkan pertanyaan kedua adalah mencerminkan pemilihan prioritas kerja yang benar sejak dari awal. Antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Namun, keduanya sama pentingnya.

Boleh jadi seseorang melakukan pekerjaanya dengan sangat profesional, namun apa yang dikerjakannya itu secondary matter (hal yang kedua, tidak yang utama).

Sesungguhnya untuk menyusun skala prioritas kerja adalah hal yang harus didahulukan/dirancang sejak awal, karena tugas dan pekerjaan dakwah itu jauh lebih banyak dari ketersediaan SDM yang kapabel melakukannya. Maka menentukan skala prioritas kerja adalah hal yang amat urgent. Dengan demikian, mobilisasi potensi SDM dan pendanaan akan terarah kepada masalah-masalah yang tepat.

Sesungguhnya kebutuhan terhadap kemampuan menyusun skala prioritas kerja semakin amat terasa bersamaan dengan perjalanan waktu yang semakin cepat dan berbagai peristiwa yang semakin bermunculan. Sebab itu, tidak cukup bila insan dakwah hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang wajib dan penting. Akan tetapi, terlebih dahulu harus menunaikan yang lebih penting (first think first). (Dan masalah ini hanya akan terlaksana, jika memiliki kemampuan perencanaan yang baik dan matang)

sumber: eramuslim.com

Koruptor Juga Maling

Malangnya nasib maling itu..dipukuli hingga babak belur wajahnya
Hingga di kantor polisi pun masih saja ditekan batinnya
Diinterogasi dan dicela
Malangnya maling itu… dipermalukan karena ditelanjangi
Diperlakukan seperti ikan teri
Terlihat badannya yang kering dan tak berisi
Rasa takut masih terlihat di wajah keriputnya
Tidak seperti koruptor yang masih melenggang dengan tawanya
Pergi ke sana kemari sekalipun sedang dipenjara
Sadarkah mereka bahwa mereka maling juga?
Meski pakaian rapi berdasi dan nampak perlente
Meski badan bersih dan berisi
Tapi ternyata…
mereka maling juga
mengambil uang rakyat
menerima suap
bukan hanya recehan bahkan trilyunan
Hei, Kenapa dia tidak dipukuli?
Kenapa dia tidak dibuat babak belur?
Kenapa dia tidak ditelanjangi?
Kenapa dia masih dibiarkan bebas hingga kini?
Hei, hei, hei! Bagaimana ini kawan?
Masihkah kita berdiam melihat semua ini?

Purbalingga, 07:30

Seputar UN dan SNMPTN

Izinkan saya berbagi sedikit pengetahuan yang saya dapatkan tadi malam, 24 Januari 2011 pkl 22.00-23.15 dari sebuah acara Bincang Malam di salah stasiun televisi Republik Indonesia. Kali ini topiknya mengenai Ujian Nasional dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Menghadirkan ketua SNMPTN yaitu bapak Drs. Herry Suhardiyanto dari IPB, bapak Drc. Imam Chourmain dari Komisi X DPR RI, dan bapak Dr. Ir. Wayan Koster sebagai pengamat pendidikan. Isi yang disampaikan dalam acra tersebut saya rangkum menjadi kurang lebih sebagai berikut:

Tahun 2011, terjadi perubahan formula kelulusan. Bahwa kelulusan siswa yang mengikuti UN tidak hanya dari nilai UN saja, melainkan dari nilai sekolah (rapor) yang berbobot 40% dijumlah dengan nilai UN yang berbobot 60%. Siswa dinyatakan lulus bila hasil kedua nilai setelah dijumlahkan lalu dirata-rata mencapai angka minimal 5,5. Tidak seperti tahun lalu, kali ini siswa yang tidak lulus, tidak bisa mengikuti ujian susulan. Karena formula pengambilan nilai yang baru ini dinilai sudah cukup “longgar” untuk menentukan tingkat mutu pendidikan Indonesia.

Terkait penting tidaknya UN, tidak dibahas lebih dalam. Namun ditegaskan bahwa UN masih diperlukan sebagai standar penilaian mutu pendidikan secara nasional sesuai dengan UU Nomor 20/2003. Juga sebagai salah satu pengukuran output secara nasional. Pengukuran tersebut dimaksudkan untuk mensinergikan  kelulusan. Jika UN tidak ada, maka pendidikan Indonesia dirasa akan kurang bergairah karena tidak ada tujuan yang akan dicapai pada akhirnya. Upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu guru, peningkatan anggaran pendidikan dari APBN 20%, dan anggaran lain dalam rangkan peningkatan mutu pendidikan dianggap kurang “greget”.

Meskipun sudah ada UN, SNMPTN masih dianggap perlu. Karena kedua nilainya memiliki kepentingan berbeda terutama pencapaian mutu nilai di setiap daerah yang berbeda, maka rektorat pun tidak mau langsung menerima mahasiswa baru hanya berdasarkan nilai UN SMA. Nilai UN nantinya sebagai evaluasi pencapaian belajar siswa sekaligus sebagai gambaran mutu pendidikan.  Sedangkan Ujian SNMPTN digunakan sebagai prediksi masuk perguruan tinggi sesuai kebutuhan masing-masing PT. Selain itu, daya tampung perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang tersedia di Indonesia saat ini, kurang lebih hanya 18% dari lulusan SMA berusia 18-24 tahun, belum mampu menampung seluruh lulusan SMA. Sehingga kurang lebih 82% lulusan lainnya harus dialihkan ke dunia lain, misalnya dunia kerja. Rendahnya daya tampung yang mengakibatkan tingginya tingkat persaingan, membuat ujian SNMPTN masih diperlukan setelah UN.

Dalam penyelenggaraan SNMPTN tahun ini pun, ada sedikit perbedaan dari tahun sebelumnya.  Ada dua jalur SNMPTN yaitu jalur undangan dan jalur tes, sedangkan mengenai tes ketrampilan yang kabarnya juga dilakukan, tidak dibahas secara jelas dalam perbincangan tersebut.

Untuk jalur undangan, tidak semua sekolah bisa mengikuti. Karena undangan tersebut diberikan kepada sekolah-sekolah tertentu yang dianggap memiliki trackrecord baik. Hal ini dinilai salah satunya dari track record mahasiswa  yang menjadi alumni sekolah tersebut. Persyaratan lain misalnya: siswa duduk di kelas 12, berada 25% terbaik di kelas setiap semesternya, dan lain-lain.  Pada dasarnya memang jalur undangan hampir mirip seleksi PMDK, yaitu menggunakan nilai rapor siswa dari semester 1-6, yang harus sudah ter-record sebelum UN, untuk mengurangi peluang kecurangan yang terjadi di sekolah. Jalur ini dimaksudkan sebagai wujud apresiasi atas proses belajar siswa selama di SMA.  Nantinya, akan ada seleksi lagi tingkat nasional.

Satu lagi yang menjadi alasan ujian SNMPTN penting, karena ternyata kurang ada konsistensi hasil UN dengan hasil SNMPTN. Nilai 6,0 di sekolah tertentu bisa saja justru sama dengan nilai 8,0 di sekolah lain. Sehingga siswa yang nilai UN-nya 6,0 bisa saja memiliki kemampuan sama, bahkan lebih baik dari siswa yang nilai UN-nya 7,0 atau 8,0 tergantung dari sekolahnya. Karena ternyata di sekolah memiliki tingkat pelaksanaan yang paling rawan. Untuk menanggulangi hal tersebut, dibuat beberapa langkah. Seperti : penyilangan pengawas, soal yang dijaga kerahasiaannya (kini bukan lagi menggunakan system tender namun sudah ditangani pemerintah), hingga perbedaan soal tiap siswa.

Untuk Adik2ku… UN bukan sebuah momok menakutkan. Namun UN harus dihadapi dengan persiapan. Belajar dengan sungguh-sungguh dan menguasai materi bukan hanya sekadar hafalan soal. Serta terus berlatih soal-soal yang bukan biasa, misalnya soal-soal yang setaraf internasional. Bertanyalah pada guru terkait informasi materi UN lalu persiapkan dari awal. Tetap optimis konsisten, dan yakinlah kau BISA!!!^^ Semangat dan terus berdoa ya… Semoga diberi kemudahan  dan ditunjukkan jalan lurus oleh Allah Swt. 🙂 Doaku menyertai…^^ Selamat Berjuang, Nak!

Nb: kunjungi : http://www.snmptn.ac.id/

Sadari Hidup Ini…

Pagi tadi,seorang ibu yang membantu pekerjaan rumah tangga sebelah rumah datang ke rumah saya. Keperluannya ya katakana lah silaturhmi dengan seorang ib u yang membntu pekerjaan rumah ibu saya, saya biasa memanggilnya “mamak”. Keduanya asyik mengobrol sambil membungkus es manis yang esoknya dibawa oleh ibu saya ke sekolahnya. Yap, hasilnya lumayan untuk menambah uang belanja, kata ibu.

Saya yang kebetulan ada di satu ruangan bersama mereka sedang asyik juga “memojok” dengan laptop kesayangan saya. Setelah sekian lama, saya ditanya satu pertanyaan, “Mba fatin sudah umur berapa ya?” cukup kaget mendengar pertanyaan itu. Karena setelah dipikir beberapa saat, masih belum membayangkan bahwa umur 19 tahun sudah akan terlewati di tahun 2011 ini, masuk kepala dua. Mata saya terasa basah. “Astgfirullah…sudah lebih dari 19 tahun dan akan menjadi 20 tahun, apa saja amal yang sudah saya lakukan selama ini? Singkatnya hidup ini Ya Allah…”

Yang lebih menyedihkan bagi saya adalah ketika saya baru menyadari dan justru kaget dengan umur saya sekarang. Mengapa bias saya terkejut begitu? Apakah selama ini saya tidak sadar? Astgfirullah… Alhamdulillah Allah menyadarkan kini, belum terlambat untuk memperbaiki diri, In sya Allah. Mata saya kembali basah.

Kawan, begitu cepat hidup ini. Benar bahwa hidup ini hanya sesaat. Hanya sekali. Maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Sebagai peringatan dan ajakan juga bagi saya, mari kita memperbanyak amal shalih. Sadari kehidupan yang singkat ini. Jangan sampai kita berjalan di bumi tanpa kesadaran bahwa kita akan mati, bahwa kita akan menghadapi kehidupan yang abadi setelah dunia. Jangan sampai kita tenggelam dalam ke-fana-an dunia. Semoga Allah senantiasa menjaga kesadaran kita, mengikat hati kita, serta meluruskan jalan kita agar tetap berada bersamaNya, berada di jalan yang dirahmatiNya. ^^ amiin Ya Rabb…

Bukan Manusia Biasa

Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca info seseorang di sebuah situs jejaring sosial. ketika dia menuliskan siapa dirinya ia hanya menulis “just ordinary people”. Di lain kesempatan, saya berbincang-bincang dengan seseorang lainnya. ia pun mengatakan hal serupa ketika ditanya siapa dirinya. sayangnya, kata-kata sebagai rakyat jelata, orang biasa, tidak punya kelebihan apa-apa, dan kalimat sejenis lainnya cukup sering saya temui.

Sebenarnya kalimat tersebut pun saya katakan dahulu saat memperkenalkan diri di awal sekolah menengah. saya pikir itu sesuatu yang biasa dan menunjukkan kerendahhatian seseorang, bukan? namun, ada yang mengejutkan dan mengalihkan pikiran saya ketika pertama kali memperkenalkan diri di universitas. waktu itu, ada perkenalan sebuah forum yang diselenggarakan oleh kakak angkatan fakultas psikologi, yang diikuti oleh beberapa mahasiswa baru yang diundang datang dna beberapa kakak angkatan lain. satu per satu dari kami, baik kakak angkatan maupun mahasiswa baru, saling memperkenalkan diri. setelah itu, dijelaskanlah maksud dan tujuan dikumpulkannya kami di forum ini. salah satunya adalah pemberitahuan bahwa akan ada pemilihan calon ketua angkatan fakultas psikologi tahun 2010 beberapa hari lagi. Sedangkan kami adalah dianggap sebagai bibit yang disiapkan menjadi calon-calon ketua angkatan pada pemilihan esok. dalam rangka simulasi, kembali satu per satu dari kami diminta memperkenalkan diri, menyatakan kelebihan dan kekurangan, (gambaran) visi menjadi ketua angkatan, dan sebagainya.

tiba giliran saya menyatakan siapa diri saya. “ya saya orang biasa saja., yang tidak punya kelebihan…” begitulah kira-kira yang saya katakan. tidak lama setelah itu., seorang kakak angkatan, Dea Adhicita namanya, mengatakan pada saya, “Ya kita itu sebaiknya tidak mengatakan kalau kita tidak punya kelebihan, kamu diundang di sini berarti kamu dianggap lebih dari yang lain. jadi coba lebih terbuka dan nyatakan saja apa yang menjadi kelebihan kalian. jangan takut dianggap sombong kalau kita memang tidak bermaksud begitu.” kira-kira seperti itu ka Dea mencoba menjelaskan dan memotivasi saya.

kalimat2 ka Dea membuka pikiran saya. sejak saat itu saya mencoba memahami kemampuan dan kemauan saya. mencoba lebih jujur dan mau mengakui kelebihan dan kekurangan diri saya. hingga saat ini pun saya masih belajar lebih jujur… dan sementara ini saya merasa lebih nyaman, menikmati kekurangan saya serta mencoba mengoptimalkan kelebihan yang bisa saya optimalkan^^…

ya, jujur pada diri sendiri, mengakui, dan mengutarakan kelebihan serta kekurangan diri, tidak bisa dianggap sombong atau tinggi hati. justru itu menjadi wujud rasa syukur kita pada Allah Sang Pencipta, Pemberi Kemampuan, Penyempurna Manusia. jika ingin dianggap rendah hati, tidak harus menyebut sebagai orang biasa. justru tunjukkan pada orang lain kehebatan / kemampuan kita seraya tetap “menyapa” mereka.

Dengan memahami kekurangan serta kelebihan kita, justru dapat menjadi senjata perbaikan diri. kenali kekurangan kita, seburuk apapun itu, lalu perbiki. pahami kelebihan kita, sekecil apapun itu, lalu optimalkan. saya percaya tiap individu sudah Allah berikan keistimewaan masing-masing. kita bukan manusia biasa, kawan! 🙂 so, be the best as well as yourself! ^^

Loving *,*

Pernahkah, ketika kau “merasa ada sesuatu yang berbeda” antara kau kepada seseorang? ya, ada berbagai definisi bahkan sangat banyak definisi tergantung masing-masing pribadi mengenai “rasa yang berbeda” yang saya maksud tadi. Kau tahu? ce-i-en-te-a. 🙂 saya ragu ingin menuliskan ttg kata itu. sebagaimana saya ragu dengan perasaan yang saya rasakan tersebut saat ini. tapi, sekadar berbagi sedikit ilmu yang mungkin nantinya akan bisa jadi pelajaran dan pengingat bagi saya dan Anda. hehhe

Salim A. Fillah dalam Jalan Cinta para Pejuang menuliskan bahwa Erick Fromm mencoba bertutur dalam “Man for Himself”, percintaan adalah bentuk produktif dari hubungan dengan orang lain dan dengan diri sendiri. baginya, cinta sendiri mencakup tanggung jawab, perhatian, rasa hormat, dan pengetahuan, serta hasrat agar sahabat kita tumbuh dna berkembang. tiap cinta bekerja untuk saling mnjaga dan menguatkan kawan perjalanannya. cinta adalah ungkapan kemesraan antara dua insan dalam keadaan saling menjaga integritas sahabatnya.

sedangkan Maslow mengkritik Fromm. menurutnya, cara Fromm melukiskan hubungan percintaan yang ideal, menjadikannya sebagai tugas/beban. bukan permainan atau kenikmatan. baginya, Fromm telah mengabaikan suatu aspek hubungan cinta yang sehat. yaitu, kegembiraan, keceriaan, kesenangan, kesejahteraan, perasaan sejahtera dan nikmat.

bagi maslow, ada pleasure feeling yang kita rasakan ketika merasa cinta. menurut Fromm ada unsur tanggung jawab, perhatian, rasa hormat, dan pengethuan serta hasrat agar sahabat kita tumbuh dan berkembang, yang lebih ditonjolkan dalam sebuah kisah cinta. apapun kata mereka, aku sedang merasakannya. merasa terinspirasi, merasa ingin menjadi qiyadhahnya, merasa memilki sosok, bahagia melihat-merasakannya, ingin mnjadi penopangnya, dan sebagainya.^^ it’s so nice feeling…

actually, it’s so nice feeling..

tapi ya Allah, jika aku jatuh cinta. jika aku benar2 jatuh cinta, biarkan aku berlari. kali ini utk melarikan diri dari panah syetan yang menyesatkan. kencangkan lariku Ya Allah hingga terbang, hingga panah itu tak mampu menancapkannya padaku. lindungi hatiku agar tetap fokus dan mengarah padaMu. hanya menghrap ridhaMu. jika memang ia yang terbaik bagiku dan untukku, simpan ia dalam keberkahanMu. pertemukan kami agar tepat pada waktunya. hingga Engkau meridhai kami. namun, jika ia bukan untukku, biarkan rasa ini berkurang smpai menghilang. sampai tak ada lagi cinta selain krn saudara dan krn-Mu.

Allah, jauhkan ia jika hanya membuatku semakin jauh dariMu.

untuk teman2 yang mngkin sedang merasa jatuh cinta, ingatlah bhwa dia bukan tujuan kita hidup di dunia ini. mencintailah pada yang Maha memiliki sumber Cinta. alihkan cintanya hanya untuk Sang Rabbi. jangan sampai cinta kepadanya melebihi cinta kepada Rabbmu 🙂 . banyak kisah pada zaman Nabi dan sahabat nabi tentang cinta yang mengharukan. “mempersilakan atau mengambil kesempatan”. keberanian atau pengorbanan. namun, bila kita merasa mencintai, itu bukanlah sebuah pengorbanan yang menyakitkan, jadikan mencintai sebagai suatu kata kerja, “kerja cinta”, bukan hanya “perasaan cinta”.

Love is giving, mencintai adalah memberi. memberi sebnayak-banyaknya pada cinta kita. ketika kita telah mmeposisikan Allah sebagai cinta kita, maka kau akan memberi sebanyak-banyaknya pada Allah. hartamu, waktumu, energimu, nyawamu, hidupmu, bahkan matimu. just for Allah… 🙂 i think it’s more than anything in the world. karena kita akan merasa jauh..jauh..lebih tenang dan menikmati hidup ini. ada keikhlasan yang selalu muncul dalam berbagai kondisi atau berbagai hal yang terjadi. ada kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman setiap waktu. karena kau mencintai Rabbmu.

Dapatkan itu, kawan! get your love of Allah. cintai Allahmu, cintai ia melebihi apapun. berikan keceriaan, rasa hormat, kepatuhan, kegembiraan, perhatian, dan hasrat padaNya. dekati Ia, pahamilah Ia, dan cari tahu/pengetahuan tentang Ia. rasakan darahmu mengalir dan pikiranmu tertaut padaNya. rasakan nikmatnya mencintai dan dicintai Rabbmu. 🙂

21 Kelemahan Gerakan Dakwah Masa Kini (lanjutan-part.3)

Kelemahan ke 6 : Mencampuradukkan Antara Ghoyah dan Wasilah

Kamis, 02/12/2010 09:54 WIB

Tidak sedikit dari kalangan gerakan dakwah (bahkan para qiyadahnya) mencampuradukkan antara ghoyah/tujuan dengan wasilah/sarana. Sering sekali kita menyaksikan bahwa kemaslahatan jama’ah menjadi standar kerja dan kesuksesan.

Padahal kita tahu bahwa jamaah itu pada hakikatnya hanya sarana untuk berkhidmat/melayani tujuan perbaikan kondisi masyarakat.

Pencampuradukkan itu telah menyita jamaah untuk sibuk memikirkan dan bekerja untuk kepentingannya melebihi kepentingan masyarakat. Padahal jamaah itu pada awalnya didirikan bertujuan untk memperbaiki dan melayani masyarakat.

Sebuah survey telah membuktikan bahwa mobilisasi waktu, harta dan tenaga anggota jamaah tercurah untuk kepentingan internal sekitar 70 % dan hanya 30 % yang diberikan untuk kemaslahatan masyarakat banyak.

Sedangkan urutan yang benar adalah kebalikannya. (Dalam banyak kasus, potensi masyarakat atau luar jamaahlah yang disedot sebanyak mungkin untk kepentingan elite jama’ah.

Sesungguhnya jama’ah sekarang sudah menjadi partai yang muqaddas (disucikan). Orientasinya persis seperti partai umumnya yang didirikan sejak awal untuk kepentingan diri dan anggotanya.

(Munculnya pemikiran “aljamaah hiyal hizb, wal hizb huwal jamaah”, membuat jamaah semakin hancur). Inilah faktor yang menyebabkan jamaah itu tidak berbeda dengan club olah raga atau organisasi profesi di mana ruang lingkup pelayanannya terbatas pada anggotanya saja.

(Dalam banyak kasus, jamaah lebih buruk lagi di mana anggota/grassroots-nya saja tidak terurus sedangkan elitenya hidup berfoya-foya penuh kemewahan dengan sumber harta yang tidak jelas, dengan alasan menyesuaikan diri dengan kondisi pergaulan. Walaupun ada pelayanan masyarakat dilakukan itupun dengan tujuan mendapatkan pujian atau dukungan suara pemilu).

Sebagaimana yang kita ketahui pada umumnya gambaran sebuah partai itu ialah organisasi yang terdiri dari para anggotanya yang sibuk dengan kepentingan anggotanya saja, tanpa melirik peran utama yang seharusnya dimainkan dalam masyarakan secara keseluruhan.

Sebab itu, mayoritas masyarakat tidak mau peduli atau empati terhadap kezaliman yang menimpa jama’ah/tokohnya. Fenomena ini diiringi pula oleh kehilangan eksistensi kelompok Islam yang mampu menduduki posisi (dalam masyarakat) sebagaimana kelompok sekuler sebagai hasil dari tidak terjalinnya kerjasama antara gerakan dakwah atau jama’ah yang ada.

Sesungguhnya strukturisasi gerakan dakwah terkadang juga menjadi penghambat untuk merealisasikan tujuan-tujuan pokoknya.

Harus ditekankan —tanpa ragu-ragu— keharusan gerakan dakwah mencarikan solusi berbagai persoalan umat secara umum dan menciptakan solusi tersebut merupakan tantangan langsung yang dihadapi gerakan dakwah (masa kini).

Demikian pula, geralan dakwah berkewajiban untuk memobilisasi seluruh potensi dan kekuatannya untuk memberikan solusi berbagai persoalan (masyarakat) tersebut, agar umat Islam yakin bahwa gerakan dakwah itu adalah benteng yang aman yang memungkinkan mereka besandar/berlindung dan concern betul terhadap semua urusan mereka.

Kelemahan ke 7 : Fanatik Kesukuan dan Nasionalisme

Senin, 06/12/2010 07:47 WIB

Secara teori, gerakan dakwah meyakini wihdatul ummah (kesatuan umat) dan dakwah internasional. Akan tetapai dalam prakteknya kita belum menemukan implementasi yang memadai terhadap maknanya. Prilaku kita masih diwarnai kecenderungan dan karakter kesukuan dan nasionalisme (kewarganegaraan masing-masing).

Fenomena tersebut nampak dengan jelas saat berbagai pertemuan di mana setiap kita masih tergantung kepada teman se kabilah atau senegaranya. Sedikit sekali interaksi sosial kita dengan mereka yang di luar ikatan kedaerahan dan kenegaraan… Adapun dalam level qiyadah (kepemimpinan) memang sudah ada pertemuan-pertemuan rutin berskala internasional dengan para pemimpin lainnya. Namun, perlu diakui, masih sering tersandung oleh keinginan-keinginan yang didasari lingkup dan tantangan bersifat kewiliyahan dan lokal.

Kendati pertemuan-pertemuan tersebut dianggap merupakan masalah yang asasi untuk saling bertukar informasi, pengalaman, menyusun strategi bersama dan kordinasi kerja serta keyakinan kita bahwa musush-musuh kita bekerja melawan kita dengan kesatuang langkah, namun harus diakui bahwa kita belum berhasil menghadapi mereka melau kesantuan langkah pula.

Kita telah tertipu oleh pemeo yang berbunyi : “Penduduk Mekkah lebih tahu tentang jalan-jalannya”. Kondisi sekarang sudah berubah. Kita lupa bahwa orang asing (bukan penduduk asli) yang spesialis dan mengamati serta mempelajari kondisi negeri kita bisa saja ia lebih tahu tentang negeri kita dari apa yang kita ketahui. Sebagaimana juga halnya sangat memungkinkan sebagaian pakar tertentu yang bukan penduduk asli mampu memebrikan advis, pengalaman mereka yang akan bermanfaat untuk berbagai aktivitas lokal kita.

Sarana komunkasi internasional sekarang telah menjadikan bumi ini semakin hari semakin kecil dan semakin dekat. Pengertian “small village” benar-benar menjadi kenyataan. Itulah pemahaman internasionalisasi yang digalakkan Islam sejak kemunculannya.

Namun disayangkan, berbagai gerakan dakwah masih saja pandangan terhadap berbagai urusan/masalahnya terbelenggu oleh cara pandang lokal dan nasional setiap negeri sehingga setiap wilayah atau negeri masih terisolasi dari wilayah atau negeri Islam lainnya.

Kelemahan ke 8 : Tidak Memiliki Perencanaan

Jumat, 10/12/2010 10:11 WIB

Kebanyakan harokah/gerakan dakwah dari hari ke hari berjuang sebatas mempertahankan eksistensi diri. Sedikit sekali mendapatkan kesempatan untuk menyusun perencanaan tahunan, lima tahunan dan sepuluh tahunan.

Berbagai aktivitasnya hanya dimenej melalui tantangan terhadap berbagai krisis yang sedang terjadi. (Celakanya lagi) sering kali terjadi aktivitas rutinitas itu berubah menjadi spontanitas (yang kehilangan ruh/spirit, sehinga terlihat dengan nyata sebagai gerakan yang reaktif)…

Tidak memiliki perencanaan kerja yang dirancang sebelum beraktivitas telah menyebabkan ketidak jelasan dalam merumuskan target, distribusi/penempatan SDM yang buruk (bukan berdasarkan the right man on the right place, bahkan dalam banyak kasus didasari like and dislike) telah menyebabkan kekacauan dalam menentukan skala prioritas dan kehilangan menentukan arah yang jelas.

Kita masih belum mampu menjelaskan posisi beridri kita sekarang di mana dan berapa jarak antara kita dengan target-target yang akan dicapai. Kita juga belum mampu bersandar pada uslub/metode yang sistematis dalam mengevaluasi berbagai aktivitas kita.

Akibatnya, kita berjalan dalam keadaan kondisi yang tidak menyadari tingkat produktivitas kita atau beban-beban yang ditimbulkannya, tanpa peduli terhadap perencanaan yang sehat dan kuat dan keharusan berpindah dari quadrant “bekerja apa yang mungkin” kepada quadrant “bekerja sesuai yang harus dikerjakan”.

Kelemahan Ke 9 : Alternatif Islami

Senin, 13/12/2010 06:52 WIB

Pada dekade limapuluhan, berbagai gerakan dakwah sibuk membuktikan (kepada masyarakat) kecocokan Islam (dengan kehidupan). Setelah itu mengarah kepada meyakinkan (masyarakat) akan keunggulan Islam terhadap berbagai ideologi lainnya. Namun pergerakannya masih seputar penjelasan global dan belum sampai kepada kematangan aktivitas dan keluar dari tataran teori. Sebagai contoh sederhana, gerakan dakwah belum mampu melahirkan alternatif dalam bidang penyusunan silabus pendidikan tingkat universitas berdasarkan pandangan Islam, padahal kebutuhan kita sangat mendesak dalam semua bidang, khususnya dalam studi bidang sosial.

Untuk mewujudkan alternatif tersebut bukanlah pekerjaan sosial (charity) yang boleh dikerjakan pada waktu-waktu luang/sisa oleh sebagian pribadi yang hanya memiliki semangat. Akan tetapi menjadi kewajiban bagi sebagian ulama yang spesialis dengan full time. Gerakan dakwah sudah saatnya melahirkan beberapa institusi pendidikan/akademis yang berkualitas tinggi untuk melakukan berbagai ijtihad dalam berbagai lapangan.

Pekerjaan tersebut juga tidak mungkin didelegasikan kepada beberapa ulama yang menonjol saja. Harus menjadi konsentrasi/upaya jama’i (team). Pekerjaan spesialisasi, dengan biaya yang memadai dan meletihkan serta memerlukan waktu. Sebuah pekerjaan yang terus menerus di mana tidak cukup dengan bersandar kepada para simpatisan yang respek secara spontan.

Inilah syarat untuk memulai sebuah kebangkitan peradaban raksasa umat ini. Tanpa hal tersebut, maka keunggulan sistem Islam hanya sebatas kepuasan emosional… Kita membutuhkan percontohan Islami (dalam dunia nyata) yang hidup dan memberikan cahaya yang akan menarik Barat dan di Timur ke arah peradaban Islam.

Kegairahan para insinyur, doketr dan ilmuan di bidang ilmu pengetahuan alam (eksakta) lainnya untuk berharokah melebihi ulama ilmu sosial menafsirkan hal tersebut, karena pengetahuan yang bersifat global yang menarik cukup membuat mereka (ilmuan dalam bidang eksakta) puas dan diterima dengan logika dan ketinggian, keluasan dan akhlak Islam. Sementara para Imuan sosial yang spesialis itu memerlukan detail untuk sampai kepada kepuasan.

Sebab itu, pola penyampaian Islam secara global (apalagi tidak ada contoh prakteknya), tidak cukup untuk menarik mereka ke pangkuan Islam. Ini bukanlah kondisi normal atau sehat. Kita tidak akan mampu melakukan take off peradaban manusia ini kembali sehingga kita melihat mayoritas pemimpin gerakan dakwah itu dari kalangan para ilmuan sosial yang sangat spesialis…

Kelemahan Ke 10 : Krisis Intelektualitas dan Berfikir

Rabu, 15/12/2010 10:19 WIB

Semua pemikir dan para ahli sepakat adanya kaitan yang kuat antara metode/cara berfikir dengan pola prilaku dan metode/cara menyelesaikan masalah.

Berfikir/intelektulitas yang sehat dan benar adalah landasan utama dalam setiap kebangkitan peradaban. Ini adalah kosa kata pokok yang harus dihidupkan oleh gerakan dakwah.

Kalau kita mencermati realitas masa kini, kita akan menemukan bahwa gerakan dakwah belum mendapat taufik – secara umum – dalam merealisasikan keselarasan dan kesatuan pemikiran di antara anggotanya.

Melihat gerakan dakwah lebih banyak berpegang kepada hal-hal yang bersifat umum/general, maka muncul berbagai perbedaan pemikiran di internal gerakan dakwah dalam hal-hal yang memerlukan rincian.

Sebagaimana gerakan dakwah juga habis kebanyakan potensinya untuk beramal dan lebih concern kepada kerja ketimbang meningkatkan kualitas berfikir dan intelektualitas anggotanya (seperti yang kita rasakan hampir 30 tahun tergabung dalam gerakan dakwah.

Ironisnya, setiap ada usulan yang mengarah kepada peningkatan kualitas berifikir dan intelektualitas internal, selalu kandas dan tidak banyak mendapat dukungan. Akhirnya yang terjadi ialah tradisi taqlid tumbuh dengan subur sehingga gerakan dakwah setiap hari berhasil melahirkan dan mencetak muqallidun/ kaum taqlid).

Bersamaan dengan absennya sikap resmi jamaah gerakan dakwah terhadap persoalan-persoalan utama yang menyangkut masyarakat banyak, (seperti sistem pemerintahan yang zalim, sistem ekonomi ribawi kapitalis yang lalim, persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kebodohan.

Selain itu, adanya dominasi asing terhadap negeri-negeri Islam, kejahatan negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat terhadap negara-negara lain dan sebagainya), menyebabkan terbentuk/lahirnya pemikiran-pemikiran para pengikut gerakan dakwah yang saling bertentangan yang sekaligus berperan menambah problem pemikiran yang saling menjauh.

Akan lebih runyam lagi masalahnya jika sikap dan pendapat sebagian partai dan kelompok sekuler dan ideology yang memusuhi Islam menyelusup pula ke dalam benak sebagian anggota/qiyadah gerakan dakwah untuk memenuhi kekosongan pemikiran tersebut (seperti yang terjadi di Indonesia dan beberapa negara lainnya).

Sesungguhnya kita meyakini betul bahwa krisis pemikiran/intelektualitas itu pada dasarnya adalah menyangkut cara turun/menterjemahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah ke dalam realitas kehidupan.

Yang demikian itu akan dapat selesai dengan cara penelitian dan ijtihad yang orisinil dalam lapangan ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan/humaniora lainnya.

Untuk itu, Independensi gerakan dakwah merupakan hal mutlak diperlukan dan tidak boleh ada kekuatan manapun, termasuk pemerintahan setempat yang dapat mempengaruhi cara/metode berfikirnya.

Jika gerakan dakwah tersebut benar-benar ingin melakukan perubahan dari jahiliyah kepada Islam. Jika tidak, gerakan dakwah hanya tidak lebih dari sekedar ornament jahiliyah itu sendiri.

sumber: eramuslim.com

Dukung Pemfilteran Konten Pornografi BlackBerry!

Salah satu berita yang baru-baru ini ramai dibahas media cetak adalah tuntutan Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, kepada pihak Research In Motion (RIM) layanan BlackBerry terkait pemasangan filter pornografi. Senin kemarin (17/1), para pejabat RIM berdialog dengan sejumlah Dirjen Kemkominfo di Gedung Sapta Pesona, Jakarta untuk membahas tuntutan tersebut. Jika pihak RIM tidak menyaring konten pornografi, yang saat ini masih bebas diakses dalam layanan internet BlackBerry-nya maka layanan BlackBerry akan terancam diblokir. Menanggapi hal tersebut, pihak RIM berjanji akan mematuhi pemerintah yaitu menyediakan filter pornografi. RIM juga mengajak lima operator sebagai mitranya dalam penyediaan layanan internet BlackBerry di Indonesia. Yakni PT Telkomsel, PT Indosat, PT XL Axiata, PT Natrindo Telepon Seluler, PT Smart Telecom, dan PT Hutchinson CP Telecommunication. Pelibatan operator dinilai penting karena operator merupakan komponen vital dalam pelayanan internet BlackBerry di Indonesia.

Ultimatum Menkominfo kepada RIM searah dengan program pemblokiran konten pornografi, yang telah dimulai sejak 21 Juli 2010 oleh Kemkominfo bersama semua penyelenggara jasa internet di Indonesia. Penyaringan konten pornografi di internet didasari pada penerbitan Surat Edaran Plt Dirjen Postel (atas nama Menkominfo) Nomor 1598/SE/DJPT.1/KOMINFO/7/2010 tentang Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan yang Terkait Pornografi. Sedangkan dasar hukum pelarangan konten pornografi pada layanan internet adalah Undang-Undang Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi, UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta UU Nomor 44/2008 tentang Pornografi.

Bagaimanapun situs-situs pornografi harus terus diupayakan pemfilterannya. Bahkan mungkin ditutup keberadaannya mengingat banyak dampak buruk yang ditimbulkan. Seperti yang disebutkan Mary Anne Layden, Direktur Program Psikopatologi dan Trauma Seksual, Universitas Pennsylvania, AS antara lain:

1. Gambar porno adalah masalah utama pada kesehatan mental penduduk dunia saat ini.

2. Pornografi tak cuma memicu ketagihan yang serius tapi juga pergeseran pada emosi dan perilaku sosial.

3. Gambar porno tak cuma memberi kesenangan sesaat, tetapi secara inheren bertalian dengan pembentukan dorongan-dorongan negatif seperti rasa marah, kekerasan, cemburu, berbohong atau mementingkan diri sendiri.

4. Konsumsi gambar porno secara intensif dan lama berpotensi mengubah pemahaman secara fundamental tentang relasi-relasi hubungan seksual dengan lawan jenis. Seks bukanlah keintiman, prokreasi atau perkawinan. Seks adalah fantasi, pesona bagian2 tubuh, kekerasan dsb.

Sedangkan ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD, dalam seminarnya mengenai dampak pornografi terhadap kerusakan otak di Jakarta, mengatakan bahwa pornografi menimbulkan perubahan konstan pada neorotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol sehingga membuat orang yang sudah kecanduan tidak bisa lagi mengontrol perilakunya. Kecanduan mengakibatkan otak bagian tengah depan yang disebut Ventral Tegmental Area (VTA) secara fisik mengecil serta menimbulkan gangguan memori. Kerusakan otak akibat kecanduan pornografi adalah yang paling berat, lebih berat dari kecanduan kokain.

Dalam Antara News, Ketua Gerakan “Jangan Bugil Depan Kamera (JBDK) menyebutkan hasil survey yang dilakukan selama 2010, masyarakat Indonesia berada pada urutan ke empat di dunia yang suka membuka internet untuk situs pornografi. Ia mengatakan, kegemaran masyarakat Indonesia yang mengakses dengan kata kunci “sex” pada jaringan internet merata di seluruh daerah di Indonesia. Penggemarnya selain dari kalangan remaja usia 14-26, juga orang dewasa berusia 30-45 tahun. Ditemukan dalam http://www.indowebster.web.id/showthread.php, bahwa Indonesia (Jakarta) masuk dalam top 10 sebagai pencari kata “sex” terbanyak, baik dilihat dari negara, kota, maupun bahasa.

 

Hilton menambahkan, dua belas fatamorgana tentang pornografi yang terlanjur tercipta secara tidak sengaja oleh otak kita, antara lain :

1. Pornografi memberi makan pada “keinginan mata” dan “keinginan daging” yang tidak akan pernah terpuaskan. Pornografi akan membuat ‘penontonnya’ minta tambah dan tambah lagi. Dengan mudah, pornografi memperbudak orang akan nafsunya dan membuka pintu terhadap segala jenis kejahatan seperti kemarahan, penyiksaaan, kekerasan, kepahitan, kebohongan, iri hati, pemaksaan, dan keegoisan. Biasanya orang yang sudah terbiasa, tidak berdaya untuk lepas tanpa bantuan orang lain.

2. Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata. Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadar mereka. Gambar berbau seks akan melekat pada otak mereka, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi-pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat di masa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.

3. Pornografi menjadi ajang promosi terhadap praktik seksual yang menyimpang. Contohnya, situs porno internet biasanya terhubung dengan situs porno yang lebih progresif seperti homoseks, pornografi anak, seks dengan hewan, perkosaan, seks dengan kekerasan dan lainnya. Hal ini akan membuat orang-orang tertentu terganggu secara mental dan tertantang untuk mencoba. Sehingga makin banyak perilaku seks menyimpang terjadi di masyarakat.

4. Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri dibanding orang lain. Masturbasi/onani adalah contohnya. Ini adalah tindakan pemenuhan nafsu pribadi yang bisa membuat seseorang sulit menerima dan memberi cinta yang sebenarnya pada orang lain. Pornografi biasanya membuat orang kecanduan masturbasi/onani.

5. Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya.

6. Dengan sering melihat situs porno atau membeli film/majalah porno, orang-orang tersebut mendukung perkembangan industri pornografi yang biasanya dikelola oleh “kejahatan terorganisir” yang mencari dana dengan cara haram.

7. Terbiasa melihat pornografi akan merusak hubungan orang tersebut dengan lingkungannya, dalam hal ini keluarga atau orang-orang terdekatnya. Pada hubungan pacaran, hubungan yang berkembang menjadi tidak sehat. Orang yang terlibat pornografi akan menyalahkan kekasihnya pada tindakan-tindakan seksual yang mereka lakukan. Padahal masalah itu terdapat pada pribadinya sendiri. Pada pasangan yang telah menikah, ini akan memicu ketidakpuasan seksual dan praktik seksual yang menyimpang sehingga mengarah pada ketidakharmonisan keluarga, bahkan perceraian.

8. Dalam banyak kasus, pornografi membuat seseorang kehilangan daya kerjanya. Yang tadinya aktif dan kreatif bisa menjadi tidak fokus dalam pekerjaan.

9. Pornografi dapat merusak hubungan seksual dengan pasangan karena terbiasa membayangkan orang lain dalam hubungan seksual. Imajinasi adalah salah satu efek pornografi yang sangat kuat. Nilai dan kemurnian seksual sesungguhnya menjadi rusak.

10. Melihat pornografi akan membuat seseorang menjadi sering berbohong. Karena orang yang terikat pornografi akan menyimpan kebiasaannya ini sebagai rahasia, sehingga dengan berbohong ia dapat menyembunyikan rasa malunya dan menghindari kritik dari lingkungannya.

11. Pornografi akan membawa seseorang pada konsekuensi spiritual yang serius. Tekanan dan kebingungan akan memenuhi hidupnya. Pornografi membawa kekuatan jahat yang akan mengontrol dan mendominasi pemirsanya. Sekali saja seseorang melihat pornografi akan membawanya semakin dalam, sehingga nilai moral yang benar makin lama makin pudar.

12. Pornografi akan membuat seseorang mempercayai semua kebohongan yang ditawarkan oleh pornografi. Contoh kebohongan yang ditawarkan :

a. Kebebasan seksual = kebahagiaan

b. Penyimpangan seksual = normal

c. Kapan saja melampiaskan kebutuhan seksual = hal yang benar dan wajar

d. Setiap hari masturbasi = sehat

e. Pornografi = tidak menyakiti siapapun

f. Bintang porno = orang paling bahagia di dunia

Melihat dampak yang begitu mengerikan, pornografi dimanapun tidak semestinya dibiarkan. Pemfilteran situs berkonten pornografi pun menjadi salah satu upaya pencegahan yang penting dilakukan, tak terkecuali dalam layanan internet BlackBerry. Kabarnya saat ini di Indonesia sudah ada 3 juta pelanggan BlackBerry dan ditargetkan menjadi 10 juta pelanggan di masa mendatang. Bisa dibayangkan bagaimana jika konten pornografinya tidak difilter, tentu sangat membahayakan. Meski sulit dilakukan, apalagi jika diberlakukan untuk semua situs pornografi, namun yang terpenting adalah usaha untuk terus mengurangi situs, media, maupun bentuk ke-pornografi-an lainnya. Karena itu, saya menyatakan dukungan atas pemfilteran konten pornografi dalam layanan internet BlackBerry.

 


Sumber:

http://akudansekitar.blogspot.com/2009/09/dampak-negatif-menonton-film-porno-bagi.html/diunduh tanggal 18 Januari 2011

http://imadiklus.com/2010/06/pengaruh-situs-porno-terhadap-kesehatan-mental-remaja.html/ diunduh tanggal 18 Januari 2010

http://m.antaranews.com/24 Juni 2010/Indonesia Urutan Empat Dunia Buka Situs Pornografi.html/diunduh pada tanggal 18 januari 2011

http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=13485&page=37/diunduh tanggal 18 Januari 2011

http://www.kompas.com/11 Jan 2011/Penyaringan Konten: Operator yang Minta Filter Pornografi di BlackBerry.html/diunduh tanggal 17 Jnuari 2010

http://www.kompas.com/11 Jan 2011/Wajib Sensor Pornografi: Nasib BlackBerry Ditentukan 17 Januari 2011.html/diunduh tanggal 17 januari 2011

http://www.kompas.com/10 Januari 2011/Pemblokiran BlackBerry Ancam Bisnis Operator.html/diunduh tanggal 17 Januari 2011

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/07/193798/16/1/Tifatul-Tekan-RIM-untuk-Tutup-Konten-Pornografi.html/diunduh tanggal 18 Januari 2011