Pembelajaran Melalui Pendekatan Learning Goal Lebih Bermanfaat daripada Pembelajaran Melalui Pendekatan Performance Goal

Belakangan ini, minggu-minggu di awal bulan Desember hingga awal Januari, Universitas Indonesia tengah mengadakan ujian akhir semester bagi para mahasiswanya. Suatu malam, saya dan teman-teman fakultas lain sedang mendiskusikan indeks prestasi yang ditargetkan. IP dan ujian adalah hal yang saling terkait menurut kami. Di dalamnya ada faktor belajar sebagai penghubung keduanya. Faktor doa dan keberuntungan sebagai faktor pendukungnya. Saya bertanya kepada teman-teman lain, apa tujuan utama belajar dalam masa ujian? Sebagian besar mereka menjawab tujuan belajar yang utama dalam menghadapi ujian adalah mendapat IP yang baik. Namun, hanya sedikit yang berkata ingin betul-betul memahami materinya. Tertarik dengan hal itu, saya mencoba mencari jawaban lain dari teman-teman, baik di fakultas maupun di asrama.

Siang itu, saya dan teman saya, Reni, baru selesai mengikuti ujian bahasa Inggris. Tiba-tiba dia mengatakan tidak bisa mengerjakan ujian tersebut dan rela jika harus mengulang mata kuliah bahasa Inggris. Alasannya, demi benar-benar memahami mata kuliah bahasa Inggris. Untuk apa dia lulus jika sebenarnya dia tidak benar-benar memahami.

Di lain kesempatan, saya mendengarkan diskusi dua orang anak asrama di kamar mandi. Keduanya berasal dari fakultas yang sama. Salah seorang dari keduanya ingin menjadi teman satu kelas bagi yang lain di semester II. Bahkan, keduanya pun ingin sama-sama mendapat dosen yang “tidak pelit nilai”. Entah kriteria yang bagaimana yang dikatakan “tidak pelit nilai”. Salah satu dari mereka sudah meminta pada dosen pembimbingnya agar bisa mendapat dosen yang “enak” sehingga “tidak tersesat”. Makna “tidak tersesat” menurut mereka adalah tidak salah memilih dosen yang pelit nilai agar nantinya mudah mendapat nilai A di semua mata kuliah.

Di suatu malam yang berbeda, seorang teman saya bernama Vianty masuk kamar asrama saya dengan wajah kusut. Karena ternyata ia mendapat nilai B pada salah satu mata kuliah ujiannya. Padahal sejak awal pertemuan, sang dosen menjanjikan kemudahan bagi para mahasiswa untuk mendapat nilai A, jika mahasiswanya mengerjakan tugas dengan baik dan tidak membolos. Dan selama ini, Vianty tidak membolos kuliah dan merasa sudah mengerjakan tugas dengan baik karena dosennya tidak pernah menegur dan menyalahkan tugasnya. Namun, ia tidak mendapatkan nilai A yang diharapakan. Ia menyesal telah memilih dosen tersebut.

Berdasarkan kasus-kasus di atas, saya kurang setuju dengan tujuan belajar yang hanya berorientasi nilai. Saya akan menunjukkan bahwa kegiatan belajar dengan tujuan memperbaiki kemampuan dan pemahaman (jenis learning goal), akan lebih bermanfaat bagi mahasiswa daripada belajar hanya bertujuan mencapai penampilan baik yang didasarkan oleh  pandangan orang lain (jenis performance goal).

Menurut Winkel (trans. 1991) dalam bukunya Psikologi Pengajaran, belajar adalah aktivitas mental yang menghasilkan perubahan dalam pemahaman, pengetahuan, nilai, sikap, dan ketrampilan.  Perubahan tersebut bersifat konstan dan berbekas, berupa suatu hasil yang baru atau bersifat menyempurnakan terhadap hasil yang diperoleh sebelumnya. Berarti, akan ada perubahan setelah kegiatan belajar misalnya dalam hal pengetahuan dan pemahaman, meski hanya sedikit yang terjadi. Dalam proses perubahan tersebut, sering kali seseorang memerlukan sebuah penggerak dalam melakukannya. Keseluruhan daya penggerak  psikis dalam diri mahasiswa yang membuatnya bergairah dalam belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar, dan memberi arah dalam kegiatan belajar tersebut, demi mencapai suatu tujuan disebut motivasi belajar. Rothstein (1990) dalam bukunya, Educational Psychology menyebutkan dua jenis motivasi sebagai prasyarat belajar, yaitu ekstrinsik dan intrinsik.

Motivasi ekstrinsik membuat orang-orang termotivasi untuk mendapatkan reinforcers dan menghindari hukuman (Rothstein, 1990). Winkel (trans. 1991) menambahkan bahwa motivasi belajar ekstrinsik bukan motivasi yang berasal dari orang lain, namun berpangkal pada kebutuhan yang dihayati menurut orangnya sendiri. Apakah kebutuhan yang ingin dipenuhinya tersebut dapat dipenuhi dengan belajar atau dapat juga dengan cara lain. Yang tergolong bentuk motivasi ekstrinsik antara lain: belajar demi memenuhi kewajiban, demi pujian, demi mendapat hadiah yang dijanjikan, atau demi nilai yang diinginkan.

Sedangkan motivasi intrinsik didasarkan pada penghayatan kebutuhan dan dorongan yang benar-benar berkaitan dengan aktivitas belajar tersebut. Misalnya, seorang anak ingin tahu sejarah keruntuhan Romawi selengkap-lengkapnya, ingin memenuhi kepuasan dalam menyelesaikan soal matematika yang belum terpecahkan, atau seseorang yang ingin menjadi terdidik dan ahli di bidang tertentu. Semua itu berpangkal dari dalam diri mahasiswa yang kemudian melakukan kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yang membedakan motivasi instrinsik dengan ekstrinsik adalah kenyataan dan kesadaran bahwa satu-satunya cara untuk mencapai tujuan adalah belajar (Winkel, trans. 1991).

Menurut Rothstein (1990), salah satu cara yang dapat dilakukan dosen di ruang kelas untuk membantu memotivasi mahasiswanya belajar adalah mendorong mahasiswa untuk menentukan tujuan mereka, kemudian berusaha menuju pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Locke dan Latham (dalam Woolfolk, 1995) mengemukakan empat alasan mengapa goal setting (penetapan tujuan) bisa meningkatkan upaya kerja. Pertama, tujuan mengarahkan perhatian kita pada tugas yang kita miliki. Misalnya, hari ini kita memiliki tujuan menyelesaikan rangkuman sebuah buku. Maka perhatian kita akan tertuju pada penyelesaian rangkuman tersebut. Kedua, menggerakan usaha. Tujuan, memfokuskan kita pada satu titik dan berupaya keras mencapainya. Ketiga, meningkatkan kegigihan. Ketika kita memiliki tujuan yang jelas, maka kita tidak mudah terganggu dan menyerah sebelum kita mencapai tujuan kita. Keempat, tujuan mengarahkan pada pengembangan strategi baru ketika strategi yang lama telah gagal. Contohnya, dalam ujian kita memiliki tujuan mendapat nilai A dengan cara merangkum materi pembelajaran. Namun, ternyata kita hanya mendapat nilai B, maka kita akan mencari cara lain untuk tetap mendapat nilai A, misalnya merangkum disertai membuat mind map.

Woolfolk (1995) membagi goals (tujuan) menjadi dua jenis, yaitu learning goal dan performance goal. Seseorang yang menggunakan learning goal akan puas bila menghadapi tantangan. Ia cenderung memilih tujuan yang agak sulit dan menantang, sehingga ia bisa mengerjakannya sesuai kemampuan dan fokus pada penguasaan tugas tersebut. Sedangkan seseorang yang menggunakan performance goal bertujuan mendapat penerimaan yang baik menurut orang lain. Ia cenderung memilih tujuan yang sangat sulit atau sangat mudah karena  ia terfokus pada pandangan orang lain. Bila dihubungkan dengan motivasi, learning goal berasal dari motivasi internal sedangkan performance goal berasal dari motivasi eksternal.

Pada awal esai ini, ada kasus dari seorang mahasiswa yang memberatkan masalah nilai dari dosennya. Padahal penilaian hanya bagian dari evaluasi belajar sebagai penentu taraf mutu prestasi mahasiswa berdasarkan norma, patokan, atau kriteria tertentu. Apalagi seperti ujian atau tes sumatif hanyalah salah satu alat evaluasi untuk menentukan apakah hasil belajar yang dituju sudah tercapai atau belum (Winkel, trans. 1991). Penilaian memang tidak bisa dipisahkan dari proses pendidikan karena setiap orang butuh mengetahui sejauh mana tujuan yang ingin dicapainya terwujud dan sejauh mana kemajuan seseorang terhadap materi yang diujikan. Hasil dari penilaian itu dinyatakan dengan pendapat yang perumusannya dalam berbagai macam bentuk. Ada yang menggolongkannya dengan lambang A, B, C, D, E, ada yang menggunakan rentang 0 sampai 10, ada pula yang menggunakan rentang 0 sampai 100 (Suryabrata, 2002).

Diungkapkan Murshell (dalam Suryabrata, 2002), berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 1902, pengetahuan yang diperoleh mengenai hasil penilaian umumnya berpengaruh baik terhadap prestasi selanjutnya. Kesimpulan dari penelitian tersebut menyatakan kelompok yang diberitahu hasil-hasil yang mereka capai dan didorong untuk mencapai hasil yang lebih baik, memiliki hasil pekerjaan selanjutnya yang lebih baik daripada kelompok yang dibiarkan saja maupun didorong saja, tanpa ada penilaian pada kedua kelompok.

Penilaian berfungsi untuk memberikan rasa pasti, sejauh mana kemajuan dan usaha yang telah dilakukan seseorang. Selain itu, memberi dasar seseorang untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya atas tujuan yang ingin dicapai tersebut. Penilaian sebagai alat untuk menunjukan sampai di manakah orang itu berhasil atau dalam hal apa ia gagal. (Suryabrata, 2002). Karena penilaian digunakan sebagai alat, hendaknya tetap alat dan kedudukannya tidak berubah menjadi tujuan.

Oleh karena itu, saya menyatakan perlunya belajar menggunakan jenis learning goal dalam kegiatan belajar. Alasannya :

1.      Memberikan kesadaran dan motivasi dalam diri mahasiswa. Membuat individu lebih membuka diri dan rela berkorban dalam mencapai tujuannya.

2.      Memiliki motivasi belajar yang lebih lama. Karena motivasi tersebut berasal dari dalam diri, akan membuat mahasiswa lebih kuat bertahan ketika menemui hambatan atau gangguan.

3.      Menimbulkan minat dan rasa senang dalam menjalani kegiatan belajar. Karena tugas belajar yang dikerjakan cenderung menantang namun tidak berada di atas kemampuannya.

4.      Mengurangi lupa. Motivasi yang kuat dari dalam diri dan adanya kesadaran akan tujuan yang hendak dicapai, mendorong mahasiswa melibatkan diri untuk mengingat-ingat kelak. Seolah-olah ia berkata pada diri sendiri: jika saya tidak belajar dengan baik, maka saya akan lupa nantinya.

5.      Meningkatkan kreatifitas belajar. Keinginan untuk benar-benar menjadi paham, mendorongnya mencari materi dari berbagai sumber dan literatur bukan hanya dari dosen.

6.      Fokus dalam penguasaan materi. Kemauan dari dalam dirinya bukan semata ingin dilihat baik oleh orang lain melainkan untuk menguasai materi, membuatnya ulet dan tekun dalam belajar.

7.      Tidak menimbulkan beban. Karena mahasiswa melakukan kegiatan belajar atas kesadaran sendiri, membuatnya rileks, menikmati kegiatan belajarnya, dan tidak dipusingkan dengan nilai maupun penilaian orang lain.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran dengan pendekatan learning goal mempunyai manfaat yang lebih dibanding pembelajaran dengan pendekatan performance goal. Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri untuk merubah setting utama pembelajaran dari pendekatan performance goal menjadi pendekatan learning goal.

Daftar Pustaka

Rothstein, P.R. (1990). Educational Psychology. Singapore: McGraw-Hill

Suryabrata, S. (2002). Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Winkel, W.S. (1991). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo

Woolfolk, A. (1995). Educational Psychology: Sixth Edition. Boston, MA: Allyn and Bacon