“Kami Halal”

Kemarin saya dan salah seorang teman sedang berjalan-jalan di jembatan teknik-sastra UI. yah, siang itu saya menikmati batul pemandangan sekitarnya. sungai, bukit landai, rumput yang tinggi, bangunan megahnya, awan putih, langit biru muda, dan tentunya angin sepoinya.

namun di bawah jembatan sana, kulihat sepasang insan di bangku merah. agak terganggu, sangat merasa terganggu ketika wanita disebelah laki-laki, yang aku tak tahu siapa, memakai kerudung merah menutup dadanya. dari jauh sini masih terlihat gestur keduanya. si lelaki yang berkemeja biru itu melayangkan tangannya ke sebelah kiri lalu mendekap bahu sang perempuan. sambil wajahnya dihadapkan ke samping mencoba melihat si perempuan lebih dalam. sesaat timbul tanda tanya, apakah mereka muslim/muslimah yang sudah menikah?

beberapa kasus saya menemui perempuan-perempuan berkerudung lebar hingga menutupi dada mereka juga tidak sungkan berjalan dengan laki-laki, duduk berdua, jalan berdua, bergandengan, berboncengan, dan sebagainya. setiap kali aku melihat itu, setiap kali pula aku terkaget dan mempertanyakan hal yang sama, “sudahkah mereka menikah?”

kamu tahu kenapa? karena aku khawatir. karena aku sayang dengan saudara/i ku. aku tak ingin ada fitnah menyerang mereka. aku tidak mau Islam agamaku dipandang sama dengan agama lain yang tidak melarang ‘zina’. aku tak mau. Islam itu hanif. menjaga manusia hamba-hamba-Nya. Islam justru menjaga hamba dari kezinaan dengan segala larangan dan anjurannya.

aku hanya khawatir, mereka yang sudah halal dan bebas melakukan apapun, lalu terbawa hingga di tempat umum malah diikuti oleh pasangan lain yang sebenarnya belum halal. apalagi mereka yang sudah berkerudung lebar -menutup dada- yang melakukannya. paradigma masyarakat yang terbentuk, dibentuk, maupun dengan sendirinya terbentuk, mengatakan perempuan-perempuan berkerudung lebar itu (akhwat) adalah perempuan baik, apa yang dilakukannya benar dan terarah. karena mereka tertarbiyah. khawatirnya, orang-orang hanya taklid buta (ikut-ikutan saja) dengan perilaku mereka  tersebut.

andai saja, setiap pasangan bisa dibedakan mana yang sudah menikah, mana yang belum. pakai papan bertuliskan “kami halal” hehehe lucu juga…