Sadari Hidup Ini…

Pagi tadi,seorang ibu yang membantu pekerjaan rumah tangga sebelah rumah datang ke rumah saya. Keperluannya ya katakana lah silaturhmi dengan seorang ib u yang membntu pekerjaan rumah ibu saya, saya biasa memanggilnya “mamak”. Keduanya asyik mengobrol sambil membungkus es manis yang esoknya dibawa oleh ibu saya ke sekolahnya. Yap, hasilnya lumayan untuk menambah uang belanja, kata ibu.

Saya yang kebetulan ada di satu ruangan bersama mereka sedang asyik juga “memojok” dengan laptop kesayangan saya. Setelah sekian lama, saya ditanya satu pertanyaan, “Mba fatin sudah umur berapa ya?” cukup kaget mendengar pertanyaan itu. Karena setelah dipikir beberapa saat, masih belum membayangkan bahwa umur 19 tahun sudah akan terlewati di tahun 2011 ini, masuk kepala dua. Mata saya terasa basah. “Astgfirullah…sudah lebih dari 19 tahun dan akan menjadi 20 tahun, apa saja amal yang sudah saya lakukan selama ini? Singkatnya hidup ini Ya Allah…”

Yang lebih menyedihkan bagi saya adalah ketika saya baru menyadari dan justru kaget dengan umur saya sekarang. Mengapa bias saya terkejut begitu? Apakah selama ini saya tidak sadar? Astgfirullah… Alhamdulillah Allah menyadarkan kini, belum terlambat untuk memperbaiki diri, In sya Allah. Mata saya kembali basah.

Kawan, begitu cepat hidup ini. Benar bahwa hidup ini hanya sesaat. Hanya sekali. Maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Sebagai peringatan dan ajakan juga bagi saya, mari kita memperbanyak amal shalih. Sadari kehidupan yang singkat ini. Jangan sampai kita berjalan di bumi tanpa kesadaran bahwa kita akan mati, bahwa kita akan menghadapi kehidupan yang abadi setelah dunia. Jangan sampai kita tenggelam dalam ke-fana-an dunia. Semoga Allah senantiasa menjaga kesadaran kita, mengikat hati kita, serta meluruskan jalan kita agar tetap berada bersamaNya, berada di jalan yang dirahmatiNya. ^^ amiin Ya Rabb…

Iklan

Bukan Manusia Biasa

Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca info seseorang di sebuah situs jejaring sosial. ketika dia menuliskan siapa dirinya ia hanya menulis “just ordinary people”. Di lain kesempatan, saya berbincang-bincang dengan seseorang lainnya. ia pun mengatakan hal serupa ketika ditanya siapa dirinya. sayangnya, kata-kata sebagai rakyat jelata, orang biasa, tidak punya kelebihan apa-apa, dan kalimat sejenis lainnya cukup sering saya temui.

Sebenarnya kalimat tersebut pun saya katakan dahulu saat memperkenalkan diri di awal sekolah menengah. saya pikir itu sesuatu yang biasa dan menunjukkan kerendahhatian seseorang, bukan? namun, ada yang mengejutkan dan mengalihkan pikiran saya ketika pertama kali memperkenalkan diri di universitas. waktu itu, ada perkenalan sebuah forum yang diselenggarakan oleh kakak angkatan fakultas psikologi, yang diikuti oleh beberapa mahasiswa baru yang diundang datang dna beberapa kakak angkatan lain. satu per satu dari kami, baik kakak angkatan maupun mahasiswa baru, saling memperkenalkan diri. setelah itu, dijelaskanlah maksud dan tujuan dikumpulkannya kami di forum ini. salah satunya adalah pemberitahuan bahwa akan ada pemilihan calon ketua angkatan fakultas psikologi tahun 2010 beberapa hari lagi. Sedangkan kami adalah dianggap sebagai bibit yang disiapkan menjadi calon-calon ketua angkatan pada pemilihan esok. dalam rangka simulasi, kembali satu per satu dari kami diminta memperkenalkan diri, menyatakan kelebihan dan kekurangan, (gambaran) visi menjadi ketua angkatan, dan sebagainya.

tiba giliran saya menyatakan siapa diri saya. “ya saya orang biasa saja., yang tidak punya kelebihan…” begitulah kira-kira yang saya katakan. tidak lama setelah itu., seorang kakak angkatan, Dea Adhicita namanya, mengatakan pada saya, “Ya kita itu sebaiknya tidak mengatakan kalau kita tidak punya kelebihan, kamu diundang di sini berarti kamu dianggap lebih dari yang lain. jadi coba lebih terbuka dan nyatakan saja apa yang menjadi kelebihan kalian. jangan takut dianggap sombong kalau kita memang tidak bermaksud begitu.” kira-kira seperti itu ka Dea mencoba menjelaskan dan memotivasi saya.

kalimat2 ka Dea membuka pikiran saya. sejak saat itu saya mencoba memahami kemampuan dan kemauan saya. mencoba lebih jujur dan mau mengakui kelebihan dan kekurangan diri saya. hingga saat ini pun saya masih belajar lebih jujur… dan sementara ini saya merasa lebih nyaman, menikmati kekurangan saya serta mencoba mengoptimalkan kelebihan yang bisa saya optimalkan^^…

ya, jujur pada diri sendiri, mengakui, dan mengutarakan kelebihan serta kekurangan diri, tidak bisa dianggap sombong atau tinggi hati. justru itu menjadi wujud rasa syukur kita pada Allah Sang Pencipta, Pemberi Kemampuan, Penyempurna Manusia. jika ingin dianggap rendah hati, tidak harus menyebut sebagai orang biasa. justru tunjukkan pada orang lain kehebatan / kemampuan kita seraya tetap “menyapa” mereka.

Dengan memahami kekurangan serta kelebihan kita, justru dapat menjadi senjata perbaikan diri. kenali kekurangan kita, seburuk apapun itu, lalu perbiki. pahami kelebihan kita, sekecil apapun itu, lalu optimalkan. saya percaya tiap individu sudah Allah berikan keistimewaan masing-masing. kita bukan manusia biasa, kawan! 🙂 so, be the best as well as yourself! ^^

Loving *,*

Pernahkah, ketika kau “merasa ada sesuatu yang berbeda” antara kau kepada seseorang? ya, ada berbagai definisi bahkan sangat banyak definisi tergantung masing-masing pribadi mengenai “rasa yang berbeda” yang saya maksud tadi. Kau tahu? ce-i-en-te-a. 🙂 saya ragu ingin menuliskan ttg kata itu. sebagaimana saya ragu dengan perasaan yang saya rasakan tersebut saat ini. tapi, sekadar berbagi sedikit ilmu yang mungkin nantinya akan bisa jadi pelajaran dan pengingat bagi saya dan Anda. hehhe

Salim A. Fillah dalam Jalan Cinta para Pejuang menuliskan bahwa Erick Fromm mencoba bertutur dalam “Man for Himself”, percintaan adalah bentuk produktif dari hubungan dengan orang lain dan dengan diri sendiri. baginya, cinta sendiri mencakup tanggung jawab, perhatian, rasa hormat, dan pengetahuan, serta hasrat agar sahabat kita tumbuh dna berkembang. tiap cinta bekerja untuk saling mnjaga dan menguatkan kawan perjalanannya. cinta adalah ungkapan kemesraan antara dua insan dalam keadaan saling menjaga integritas sahabatnya.

sedangkan Maslow mengkritik Fromm. menurutnya, cara Fromm melukiskan hubungan percintaan yang ideal, menjadikannya sebagai tugas/beban. bukan permainan atau kenikmatan. baginya, Fromm telah mengabaikan suatu aspek hubungan cinta yang sehat. yaitu, kegembiraan, keceriaan, kesenangan, kesejahteraan, perasaan sejahtera dan nikmat.

bagi maslow, ada pleasure feeling yang kita rasakan ketika merasa cinta. menurut Fromm ada unsur tanggung jawab, perhatian, rasa hormat, dan pengethuan serta hasrat agar sahabat kita tumbuh dan berkembang, yang lebih ditonjolkan dalam sebuah kisah cinta. apapun kata mereka, aku sedang merasakannya. merasa terinspirasi, merasa ingin menjadi qiyadhahnya, merasa memilki sosok, bahagia melihat-merasakannya, ingin mnjadi penopangnya, dan sebagainya.^^ it’s so nice feeling…

actually, it’s so nice feeling..

tapi ya Allah, jika aku jatuh cinta. jika aku benar2 jatuh cinta, biarkan aku berlari. kali ini utk melarikan diri dari panah syetan yang menyesatkan. kencangkan lariku Ya Allah hingga terbang, hingga panah itu tak mampu menancapkannya padaku. lindungi hatiku agar tetap fokus dan mengarah padaMu. hanya menghrap ridhaMu. jika memang ia yang terbaik bagiku dan untukku, simpan ia dalam keberkahanMu. pertemukan kami agar tepat pada waktunya. hingga Engkau meridhai kami. namun, jika ia bukan untukku, biarkan rasa ini berkurang smpai menghilang. sampai tak ada lagi cinta selain krn saudara dan krn-Mu.

Allah, jauhkan ia jika hanya membuatku semakin jauh dariMu.

untuk teman2 yang mngkin sedang merasa jatuh cinta, ingatlah bhwa dia bukan tujuan kita hidup di dunia ini. mencintailah pada yang Maha memiliki sumber Cinta. alihkan cintanya hanya untuk Sang Rabbi. jangan sampai cinta kepadanya melebihi cinta kepada Rabbmu 🙂 . banyak kisah pada zaman Nabi dan sahabat nabi tentang cinta yang mengharukan. “mempersilakan atau mengambil kesempatan”. keberanian atau pengorbanan. namun, bila kita merasa mencintai, itu bukanlah sebuah pengorbanan yang menyakitkan, jadikan mencintai sebagai suatu kata kerja, “kerja cinta”, bukan hanya “perasaan cinta”.

Love is giving, mencintai adalah memberi. memberi sebnayak-banyaknya pada cinta kita. ketika kita telah mmeposisikan Allah sebagai cinta kita, maka kau akan memberi sebanyak-banyaknya pada Allah. hartamu, waktumu, energimu, nyawamu, hidupmu, bahkan matimu. just for Allah… 🙂 i think it’s more than anything in the world. karena kita akan merasa jauh..jauh..lebih tenang dan menikmati hidup ini. ada keikhlasan yang selalu muncul dalam berbagai kondisi atau berbagai hal yang terjadi. ada kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman setiap waktu. karena kau mencintai Rabbmu.

Dapatkan itu, kawan! get your love of Allah. cintai Allahmu, cintai ia melebihi apapun. berikan keceriaan, rasa hormat, kepatuhan, kegembiraan, perhatian, dan hasrat padaNya. dekati Ia, pahamilah Ia, dan cari tahu/pengetahuan tentang Ia. rasakan darahmu mengalir dan pikiranmu tertaut padaNya. rasakan nikmatnya mencintai dan dicintai Rabbmu. 🙂