Bukan Manusia Biasa

Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca info seseorang di sebuah situs jejaring sosial. ketika dia menuliskan siapa dirinya ia hanya menulis “just ordinary people”. Di lain kesempatan, saya berbincang-bincang dengan seseorang lainnya. ia pun mengatakan hal serupa ketika ditanya siapa dirinya. sayangnya, kata-kata sebagai rakyat jelata, orang biasa, tidak punya kelebihan apa-apa, dan kalimat sejenis lainnya cukup sering saya temui.

Sebenarnya kalimat tersebut pun saya katakan dahulu saat memperkenalkan diri di awal sekolah menengah. saya pikir itu sesuatu yang biasa dan menunjukkan kerendahhatian seseorang, bukan? namun, ada yang mengejutkan dan mengalihkan pikiran saya ketika pertama kali memperkenalkan diri di universitas. waktu itu, ada perkenalan sebuah forum yang diselenggarakan oleh kakak angkatan fakultas psikologi, yang diikuti oleh beberapa mahasiswa baru yang diundang datang dna beberapa kakak angkatan lain. satu per satu dari kami, baik kakak angkatan maupun mahasiswa baru, saling memperkenalkan diri. setelah itu, dijelaskanlah maksud dan tujuan dikumpulkannya kami di forum ini. salah satunya adalah pemberitahuan bahwa akan ada pemilihan calon ketua angkatan fakultas psikologi tahun 2010 beberapa hari lagi. Sedangkan kami adalah dianggap sebagai bibit yang disiapkan menjadi calon-calon ketua angkatan pada pemilihan esok. dalam rangka simulasi, kembali satu per satu dari kami diminta memperkenalkan diri, menyatakan kelebihan dan kekurangan, (gambaran) visi menjadi ketua angkatan, dan sebagainya.

tiba giliran saya menyatakan siapa diri saya. “ya saya orang biasa saja., yang tidak punya kelebihan…” begitulah kira-kira yang saya katakan. tidak lama setelah itu., seorang kakak angkatan, Dea Adhicita namanya, mengatakan pada saya, “Ya kita itu sebaiknya tidak mengatakan kalau kita tidak punya kelebihan, kamu diundang di sini berarti kamu dianggap lebih dari yang lain. jadi coba lebih terbuka dan nyatakan saja apa yang menjadi kelebihan kalian. jangan takut dianggap sombong kalau kita memang tidak bermaksud begitu.” kira-kira seperti itu ka Dea mencoba menjelaskan dan memotivasi saya.

kalimat2 ka Dea membuka pikiran saya. sejak saat itu saya mencoba memahami kemampuan dan kemauan saya. mencoba lebih jujur dan mau mengakui kelebihan dan kekurangan diri saya. hingga saat ini pun saya masih belajar lebih jujur… dan sementara ini saya merasa lebih nyaman, menikmati kekurangan saya serta mencoba mengoptimalkan kelebihan yang bisa saya optimalkan^^…

ya, jujur pada diri sendiri, mengakui, dan mengutarakan kelebihan serta kekurangan diri, tidak bisa dianggap sombong atau tinggi hati. justru itu menjadi wujud rasa syukur kita pada Allah Sang Pencipta, Pemberi Kemampuan, Penyempurna Manusia. jika ingin dianggap rendah hati, tidak harus menyebut sebagai orang biasa. justru tunjukkan pada orang lain kehebatan / kemampuan kita seraya tetap “menyapa” mereka.

Dengan memahami kekurangan serta kelebihan kita, justru dapat menjadi senjata perbaikan diri. kenali kekurangan kita, seburuk apapun itu, lalu perbiki. pahami kelebihan kita, sekecil apapun itu, lalu optimalkan. saya percaya tiap individu sudah Allah berikan keistimewaan masing-masing. kita bukan manusia biasa, kawan!🙂 so, be the best as well as yourself! ^^