Seputar UN dan SNMPTN

Izinkan saya berbagi sedikit pengetahuan yang saya dapatkan tadi malam, 24 Januari 2011 pkl 22.00-23.15 dari sebuah acara Bincang Malam di salah stasiun televisi Republik Indonesia. Kali ini topiknya mengenai Ujian Nasional dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Menghadirkan ketua SNMPTN yaitu bapak Drs. Herry Suhardiyanto dari IPB, bapak Drc. Imam Chourmain dari Komisi X DPR RI, dan bapak Dr. Ir. Wayan Koster sebagai pengamat pendidikan. Isi yang disampaikan dalam acra tersebut saya rangkum menjadi kurang lebih sebagai berikut:

Tahun 2011, terjadi perubahan formula kelulusan. Bahwa kelulusan siswa yang mengikuti UN tidak hanya dari nilai UN saja, melainkan dari nilai sekolah (rapor) yang berbobot 40% dijumlah dengan nilai UN yang berbobot 60%. Siswa dinyatakan lulus bila hasil kedua nilai setelah dijumlahkan lalu dirata-rata mencapai angka minimal 5,5. Tidak seperti tahun lalu, kali ini siswa yang tidak lulus, tidak bisa mengikuti ujian susulan. Karena formula pengambilan nilai yang baru ini dinilai sudah cukup “longgar” untuk menentukan tingkat mutu pendidikan Indonesia.

Terkait penting tidaknya UN, tidak dibahas lebih dalam. Namun ditegaskan bahwa UN masih diperlukan sebagai standar penilaian mutu pendidikan secara nasional sesuai dengan UU Nomor 20/2003. Juga sebagai salah satu pengukuran output secara nasional. Pengukuran tersebut dimaksudkan untuk mensinergikan  kelulusan. Jika UN tidak ada, maka pendidikan Indonesia dirasa akan kurang bergairah karena tidak ada tujuan yang akan dicapai pada akhirnya. Upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu guru, peningkatan anggaran pendidikan dari APBN 20%, dan anggaran lain dalam rangkan peningkatan mutu pendidikan dianggap kurang “greget”.

Meskipun sudah ada UN, SNMPTN masih dianggap perlu. Karena kedua nilainya memiliki kepentingan berbeda terutama pencapaian mutu nilai di setiap daerah yang berbeda, maka rektorat pun tidak mau langsung menerima mahasiswa baru hanya berdasarkan nilai UN SMA. Nilai UN nantinya sebagai evaluasi pencapaian belajar siswa sekaligus sebagai gambaran mutu pendidikan.  Sedangkan Ujian SNMPTN digunakan sebagai prediksi masuk perguruan tinggi sesuai kebutuhan masing-masing PT. Selain itu, daya tampung perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang tersedia di Indonesia saat ini, kurang lebih hanya 18% dari lulusan SMA berusia 18-24 tahun, belum mampu menampung seluruh lulusan SMA. Sehingga kurang lebih 82% lulusan lainnya harus dialihkan ke dunia lain, misalnya dunia kerja. Rendahnya daya tampung yang mengakibatkan tingginya tingkat persaingan, membuat ujian SNMPTN masih diperlukan setelah UN.

Dalam penyelenggaraan SNMPTN tahun ini pun, ada sedikit perbedaan dari tahun sebelumnya.  Ada dua jalur SNMPTN yaitu jalur undangan dan jalur tes, sedangkan mengenai tes ketrampilan yang kabarnya juga dilakukan, tidak dibahas secara jelas dalam perbincangan tersebut.

Untuk jalur undangan, tidak semua sekolah bisa mengikuti. Karena undangan tersebut diberikan kepada sekolah-sekolah tertentu yang dianggap memiliki trackrecord baik. Hal ini dinilai salah satunya dari track record mahasiswa  yang menjadi alumni sekolah tersebut. Persyaratan lain misalnya: siswa duduk di kelas 12, berada 25% terbaik di kelas setiap semesternya, dan lain-lain.  Pada dasarnya memang jalur undangan hampir mirip seleksi PMDK, yaitu menggunakan nilai rapor siswa dari semester 1-6, yang harus sudah ter-record sebelum UN, untuk mengurangi peluang kecurangan yang terjadi di sekolah. Jalur ini dimaksudkan sebagai wujud apresiasi atas proses belajar siswa selama di SMA.  Nantinya, akan ada seleksi lagi tingkat nasional.

Satu lagi yang menjadi alasan ujian SNMPTN penting, karena ternyata kurang ada konsistensi hasil UN dengan hasil SNMPTN. Nilai 6,0 di sekolah tertentu bisa saja justru sama dengan nilai 8,0 di sekolah lain. Sehingga siswa yang nilai UN-nya 6,0 bisa saja memiliki kemampuan sama, bahkan lebih baik dari siswa yang nilai UN-nya 7,0 atau 8,0 tergantung dari sekolahnya. Karena ternyata di sekolah memiliki tingkat pelaksanaan yang paling rawan. Untuk menanggulangi hal tersebut, dibuat beberapa langkah. Seperti : penyilangan pengawas, soal yang dijaga kerahasiaannya (kini bukan lagi menggunakan system tender namun sudah ditangani pemerintah), hingga perbedaan soal tiap siswa.

Untuk Adik2ku… UN bukan sebuah momok menakutkan. Namun UN harus dihadapi dengan persiapan. Belajar dengan sungguh-sungguh dan menguasai materi bukan hanya sekadar hafalan soal. Serta terus berlatih soal-soal yang bukan biasa, misalnya soal-soal yang setaraf internasional. Bertanyalah pada guru terkait informasi materi UN lalu persiapkan dari awal. Tetap optimis konsisten, dan yakinlah kau BISA!!!^^ Semangat dan terus berdoa ya… Semoga diberi kemudahan  dan ditunjukkan jalan lurus oleh Allah Swt. 🙂 Doaku menyertai…^^ Selamat Berjuang, Nak!

Nb: kunjungi : http://www.snmptn.ac.id/