21 Kelemahan Gerakan Dakwah Masa Kini (Part.4)

Kelemahan Ke 11 : Hilangnya Dialog

Senin, 20/12/2010 11:44 WIB

Saya melihat gerakan dakwah itu gagal membangun dialog dalam tiga level. Internal (terhadap anggota ditanamkan sam’an wa tho’atan/dengar dan taati, tidak ada peluang untuk dialog, apalagi debat terbuka), dengan sesama jamaah Islam lain dan dengan kelompok-kelompok yang bukan Islam apakah yang berlandaskan agama ataupun sekularisme. Akibat dari kegagalan tersebut lahir pemahaman-pemahaman borjuis (sektarian) di kalangan anggotanya.

Sedangkan efek negatifnya sangat jelas, yaitu teori-teori keislaman senantiasa jauh dari lapangan eksperimental dan realitas kehidupan nyata (seperti ukhuwah, wala’ [loyalitas], baro’ [disloyalitas] dan sebagainya). Akibat lain dari hilangnya dialog tersebut ialah kejumudunan berfikir dan ketidakmampuan memperkaya pemikiran yang diperlukan untuk mematangkan gerakan dakwah itu sendiri.

Salah paham di antara jamaah/gerakan dakwahpun tak terhindarkan yang mengakibatkan hilangnya tsiqah (kepercayaan) dan pada waktu yang sama muncul permusuhan, padahal mereka hidup dalam satu masyarakat.

Di samping itu, gerakan dakwah juga gagal membangun dialog dengan para penguasa setempat yang masih mengaku Islam, kendati terkadang sangat memusuhi dan tidak toleran terhadap Islam. Akhirnya, yang diperlihatkan gerakan dakwah selama ini hanya dua bentuk interaksi saja : perlawanan berdarah-darah seperti yang banyak terjadi di negeri-negeri Arab atau menjilat dan menjual gerakan dakwah itu kepada penguasa, seperti yang terjadi di Indonesia dan sebagainya.

Saatnya dirumuskan bentuk lain yang memungkinkan terjadinya dialog antara gerakan dakwah dengan penguasa/pemerintah yang masih belum menerima Islam sebagai The Way of Life. Potensi itu sangat besar jika saja gerakan dakwah maupun penguasa/pemerintah sama-sama ingin selamat dunia dan akhirat.

Poin lain yang harus dinyatakan dan diperlihatkan serta dibuktikan gerakan dakwah ialah bahwa mereka sama sekali tidak menginginkan kekuasaan apalagi haus kekuasaan. Yang mereka inginkan hanya keselamatan mereka, umat mereka dan negeri mereka di dunia mauapun di akhirat kelak.

Kelemahan Ke 12 : Mengabaikan Media Massa

Kamis, 23/12/2010 09:19 WIB

Sungguh gerakan dakwah telah mengabaikan media komunikasi dengan dunia yang ada di sekitarnya (sehingga terbagun sebuah komunitas yang ekslusif). Sejak awal, gerakan dakwah tidak menggalakkan anggotanya untuk menutupi kelemahan ini sehingga menyebabkan pengaruh gerakan tersebut dalam masyarakat jauh dari apa yang seharusnya.

Dengan demikian, gerakan dakwah membiarkan competitor/pesaingnya (gerakan-gerakan sekularisme, liberalisme dan sebagainya) menguasai media massa sehingga dengan mudah melukiskan gambaran yang rusak dan buruk tentang gerakan dakwah itu. Gerakan dakwah tidak diberi peluang dan kesempatan secara adil untuk membela diri dengan efektif.

Sesungguhnya gerakan dakwah harus mencetak kader-kadernya dengan jumlah yang cukup dalam dunia media massa sehingga mereka menjadi insan media profesional. Di negara-negara yang gerakan dakwah terlibat pemilihan umum sangat diingatkan untuk hal tersebut, apalagi gerakan politiknya belum sampai ke tingkat yang diharapkan. (Malah sebaliknya, jutaan dolar dihabiskan untuk biaya pemilu yang tidak memberikan pendidikan politik yang baik (islami), melainkan belajar politik Micaville).

Adapun dunia penerbitan internal kebanyakannya belum menarik dan bahkan tak jarang pula yang menyebabkan masyarakat lari. Tidak ada yang sabar menelaah produk-produknya kecuali anggota-angota yang punya semangat luar biasa. Adapun pembaca yang bukan kader gerakan dakwah, mereka menjauh dan tidak mau membaca terbitan-terbitannya. Terbatasnya penyebaran terbitan gerakan dakwah tersebut mengisayaratkan hakikat yang sesungguhnya.

(Sangat disayangkan, baik media cetak, maupun elektronik yang berbau Islam, lahir bukan dari tangan-tangan kreatif kader gerakan dakwah, termasuk juga lembaga Islam lainnya seperti ekonomi syari’ah, asuransi syari’ah dan sebagainya. Melainkan lahir dari kalangan Muslim yang tidak terlibat gerakan dakwah. Kader-kader gerakan dakwah baru sampai sebatas tataran teori kendati sudah terlibat gerakan dakwah puluhan tahun dan bahkan umur gerakan dakwah sudah hampir 80 tahun).

Gerakan dakwah juga melupakan pengarahan terhadap sebagian tamatan SLTA nya untuk menekuni berbagai lapangan yang banyak dibutuhkan seperti ilmu sosial, media, informasi dan komunikasi, public services, kepolisian dan hukum. Kehilangan strategi dan perencanaan terhadap berbagai lapangan ini telah melahirkan akibat yang fatal terhadap gerakan dakwah. Gerakan dakwahpun telah membayarnya dengan harga yang mahal.

Kelemahan Ke 13 : Memiliki Sikap Standar Ganda

Kamis, 30/12/2010 09:37 WIB

Standar umum yang berlaku dalam gerakan dakwah – sampai saat ini masih berlaku – ialah bahwa anggota dihisab/dinilai di hadapan qiyadah/pepimpin. Kondisi ini mengharuskan mereka TAAT MUTLAK dalam keadaan suka maupun terpaksa.

Namun, kebutuhan untuk menilai/mengevaluasi para pemimpin gerakan dakwah masih hal yang tabu untuk didiskusikan dan dibahas. Demikian pula halnya terhadap organisasi dan prakteknya, kendati sudah sangat dibutuhkan.

Pada umumnya para pemimpin itu saat memaparkan laporan kerja mereka dan kerja organisasi melakukannya secara umum dan dengan bahasa yng umum pula seperti, “segala sesatu berjalan dengan baik”, “dakwah mengalami kemajuan”, “sesungguhnya masa depan Islam cerah”, “kemenangan sudah dekat”, “mereka melihatnya jauh, namun kami melihatnya dekat”, “kalian (para anggota) harus memperkuat keimanan dan memberikan pengorbanan yang lebih banyak lagi”, dan banyak lagi ungkapan-ungkapan umum lainnya.

(Nah, pertanyaan berikutya adalah : Jika dalam berharokah ada pemimpin yang mau membuat dan memberikan laporan dan pertanggung jawaban terhadap kinerjanya dan kondisi organisasinya secara umum masih dianggap belum cukup dan masih dianggap pemimpin tersebut bermasalah.

Maka bagaimana dengan pemimpin yang sudah memimpin puluhan tahun dan bahkan menginginkannya sampai mati. Namun tidak pernah membuat laporan pertanggung jawaban kinerjanya dan organisasi? Inilah tragedy dan ironi gerakan dakwah masa kini yang paling mengerikan.)

Gerakan dakwah kehilangan dasar-dasar ilmiyah yang dijadikan sandaran untuk mengevalusasi dan menilai para anggotanya… Belum ada statistik atau fakta-fakta yang berdasarkan angka-angka.

Tidak ada pula analisa objektif baik kuantitatif maupun kualitatif, khususnya terkait penjelasan tentang keanggotaan, masalah keuangan, laporan/ survey untuk mengetahui opini umum (yang berkembang dalam internal organisasi), taqwim jama’i (evaluasi jamaah), maupun kualitas kerja organisasi.

Yang terjadi adalah, seringkali sebagian pemimpin itu menolak untuk menjawab suatu pertanyaan dengan alasan keharusan sirriyah (rahasia tanzhim) dan tidak bisa dibuka secara umum (atau dengan bahasa lainnya, ini atau itu adalah urusan qiyadah, cukuplah dia saja yang tahu).

Sesungguhnya gerakan dakwah itu mustahil berada dalam situasi dan kondisi yang sehat bila qiyadah (pemimpin)-nya tidak tunduk pada “evaluasi objektif secara rutin”. Sebab itu, orang-orang yang menantang untuk mejadi pemimpin atau ingin terus menjadi pemimpin perlu dihadapkan kepada tantangan-tantangan yang riil dan harus selalu dituntut untuk meningkatkan kualitas kinerja mereka.

Hal yang sangat krusial lainnya ialah, bawa pertanggung jawaban dan evaluasi keuangan jamaah/gerakan dakwah itu memiliki dimensi akhlak dalam internal gerakan dan dimensi hukum dalam sebuah negara.

Sebab itu, gerakan dakwah harus mengeluarkan laporan dan penjelasan-penjelasan keuangan dan siap dievaluasi dan diaudit yang didasari oleh landasan yang benar dan sehat.

(Sungguh merupakan musibah besar dalam gerakan dakwah bila sistem dan kebijakan keuangan yang diterapkan adalah sistem sentralistik dengan berbagai alasan dan dalil syar’i yang dikemukakan.

Sesungguhnya yang terjadi adalah qiyadahnya tidak pernah siap memberikan laporan keuangan kepada anggota jamaahnya, karena takut diketahui penyimpangan mereka….. Inilah di antara efek negatif double standard /standar ganda yang mereka terapkan).

Kelemahan Ke 14 : Menyusun Skala Prioritas Kerja

Selasa, 11/01/2011 06:05 WIB

Kelemahan lain gerakan dakwah ialah dalam menyusun skala prioritas kerja. Jika kita bertanya pada diri kita : Apakah kita mengerjakan tugas dengan cara yang terbaik, ataukah kita memilih tugas paling urgent untuk dilaksanakan?

Pertanyaan pertama menggambarkan kapabalitas dalam bekerja. Sedangkan pertanyaan kedua adalah mencerminkan pemilihan prioritas kerja yang benar sejak dari awal. Antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Namun, keduanya sama pentingnya.

Boleh jadi seseorang melakukan pekerjaanya dengan sangat profesional, namun apa yang dikerjakannya itu secondary matter (hal yang kedua, tidak yang utama).

Sesungguhnya untuk menyusun skala prioritas kerja adalah hal yang harus didahulukan/dirancang sejak awal, karena tugas dan pekerjaan dakwah itu jauh lebih banyak dari ketersediaan SDM yang kapabel melakukannya. Maka menentukan skala prioritas kerja adalah hal yang amat urgent. Dengan demikian, mobilisasi potensi SDM dan pendanaan akan terarah kepada masalah-masalah yang tepat.

Sesungguhnya kebutuhan terhadap kemampuan menyusun skala prioritas kerja semakin amat terasa bersamaan dengan perjalanan waktu yang semakin cepat dan berbagai peristiwa yang semakin bermunculan. Sebab itu, tidak cukup bila insan dakwah hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang wajib dan penting. Akan tetapi, terlebih dahulu harus menunaikan yang lebih penting (first think first). (Dan masalah ini hanya akan terlaksana, jika memiliki kemampuan perencanaan yang baik dan matang)

sumber: eramuslim.com