Revolusi Sekolah!^^

Purbalingga, 18:57

Yang saya tuliskan ini adalah bagian dari isi buku terbitan DAR! Mizan, 2006, karya Fahd Djibran berjudul Revolusi Sekolah. Izinkan saya berbagi, kawan^^…

Beberapa orang terkaya di dunia, salah satunya Bill Gates tidak lulus sekolah. Ia memang lebih memilih tidak sekolah dan nekat mengambil jalan kehidupan lain. Tapi, ternyata ia sukses. Kenapa? Karena ia menemukan kehidupannya. Ia pikir, sekolah tidak mendidiknya menjadi seorang boss besar tetapi hanya menjadi pekerja.

Hemm.. coba ingat, ketika guru TK-mu bertanya, mau jadi apa kelak? Kebanyakan mengarahkan kita menjadi dokter, insinyur, pilot, dan sederet profesi pekerja lain terkait kapitalisme. Jarang ada yang dengan senang hati mengarahkan / menyambut minat muridnya sebagai pelukis, padahal pelajaran kita lebih sering menggambar, atau seniman, dan sebagainya. Menurut buku tersebut, sekolah saja tidak cukup untuk menjadikan kita sukses. Lalu apa? Yang lebih menentukan adalah ide, keyakinan, visi masa depan yang kuat, keberanian mengambil risiko, kemauan, dan tekad yang kuat.

Islam juga bukan mengajarkan kita untuk bersekolah, melainkan menuntut ilmu. Seperti hadis Nabi uthlub al-‘ilm walau bishin. Tuntutlah ilmu sampai focus. Islam menuntut kita untuk mendapat ilmu / pendidikan bukan sekolahnya. Pendidikan tidak selalu bernama sekolah, bukan? Berarti ketika sekolah, yang lebih penting adalah pendidikannya. Dapat apa kita dari sekolah? Perubahan apa yang kita dapat setelah bersekolah? Dan sebagainya.

Sekolah harus lebih dimaknai lebih dari sekadar rutinitas belaka. Karena sekali lagi, yang lebih penting adalah ilmunya. Ketika kita sudah menyadari hal itu, maka tidak ada lagi menyontek, membolos, malas mengerjakan PR atau tugas, dan hal-hal tidak menyenangkan lain yang sering terjadi di sekolah.

Harus ada revolusi sekolah. Harus ada perubahan pola pikir agar orientasi / tujuanmu bukan hanya masalah nilai rapot. Kamu harus punya kesadaran untuk apa kamu sekolah. Harus punya tujuan besekolah dengan kesadaran total. Salah satu dari empat model kesadaran menurut Paulo Freire adalah kesadarn naïf. Yaitu ketika kamu ingin sukses tapi tidak tahu bagaimana carany/ tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal kamu semestinya kamu punya kesadan transformatif, sadar apa tujuan akhirmu bersekolah. Ingin seperti apa kamu nanti, apa saja yang bisa kamu lakukan, dan  sudah melakukan apa saja kamu selama ini untuk mencapai tujuanmu. Agar kamu tidak membebek saja mengikuti teman, kemauan orang tua, atau karena paksaan.

Tahukah kamu? Pada awalnya, sekolah hanya kegiatan sampingan untuk mengisi waktu luang. Makanya namanya scholae, yang berasal dari kara Yunani artinya waktu luang / waktu kosong. Aktivitasnya dilakukan oleh orang-orang yang ingin mencari ilmu dan kebijaksanaan kepada para filsuf. Atau sebaliknya, para filsuf yang berkeliling pada waktu luang mengajarkan ilmu dan kebijaksanaan kepada orang-orang. Tempatnya pun di alam bebas atau dimanapun yang mereka inginkan. Makanya waktu itu, sekolah sukses sebagai sarana transfer ilmu karena antara pengajar dan yang diajar sama-sama ikhlas ingin saling belajar.

Selain masyarakat Yunani, hal yang sama juga terjadi pada masa kerajaan Hindhu-Budha, masa Rasulullah, dan para wali di Indonesia. Namun sejak revolusi industry di Inggris, sekolah mulai diinstitusikan dan diformalkan. Penemuan teknologi dan mesin-mesin baru mendorong bangsa Eropa menjelajahi dunia mencari sumber bahan mentah untuk modal. Penjajahan, kolonialisme, dan imperialisme yang dilakukan ternyata juga untuk mendapat pekerja yang siap dibayar rendah. Makanya dibentuk sekolah yang formal, tersekat dinding-dinding, ada guru sebagai pengajar, dan ada bahan ajar. Bahan ajar disiapkan untuk dipelajari murid agar mereka “siap pakai” sesuai kebutuhan industri yang mereka kembangakan. Sekolah diarahkan guna menciptakan pegawai rendahan untuk kepentingan penjajah sehingga sekolah hanya menghasilkan orang-orang pesanan yang nantinya jadi pegawai, nggak punya identitas kemanusiaan.

Itulah yang terjadi sampai sekarang. Buat kamu, yang menjadikan sekolah untuk kehidupan, sekolah untuk memenuhi kehidupan dengan cara bekerja, memang. Kamu akan dan harus terus bekerja untuk kehiupanmu. Tapi yang salah di sekolah selama ini adalah kamu terlalu dibentuk menjadi sesuatu. Kamu ga punya kebebasan memilih pilihanmu sendiri, apalagi dengan adanya penjurusan. Bisa kamu hitung berapa persen antara kemauanmu yang sesungguhnya dengan campur tangan sekolah dalam menentukan kamu menjadi apa dan siapa.

Nah, kalau kamu pengen sukses dan memilih langkah seperti Bill Gates, kamu harus nekat dan percaya bisa sehebat dia. Tapi kalau ga, mending belajar aja yang bener di sekolah^^. Sekali lagi bukan hanya datang ke sekolah, cari gebetan, nongkrong sama temen-temen, atau cuma pingin foya-foya ketemu temen2. Perbaiki niat kamu untuk bisa dapet ilmu. Munculkan kesadaran transformative-mu.  Buku ini akan memberikan gambaran lebih jelas dan semangat yang lebih luar biasa kalau kamu baca sendiri. Hehehe… J dibahas pula bentuk-bentuk kekerasan yang ada di sekolah. Bahkan yang termasuk kekerasan non-fisik (psikologis) yang sangat halus sekalipun terkadang terjadi di sekolah tanpa kita sadari.

Penulis juga memberikan cerita pengalamannya dulu melakukan revolusi sekolah. Karena sistem dalam sekolah yang sulit untuk “diotak-atik” bagi anak-anak ukuran seperti kita, makanya ada beberapa jurus yang disarankan untuk bisa mencapai revolusi sekolah. Melakukan perubahan secara hebat kearah yang lebih hebat dengan segera di sekolah. Antara lain: tentunya dimulai dari jurus merevolusi diri sendiri, selain itu jurus membentuk opini, berani “speak out”, mencari pendukung, membuka ruang dialog, tebar senyum, membuat atribut anti kekerasan, melakukan perlawanan, pemberian penghargaan pura-pura, mengkritisi dengan drama, hingga jurus mencari advokasi.  Seru deh pokoknya! Selamat membaca. Semoga bermanfaat!^^…