Bukan Status Asal @,@

Purbalingga, 11:12 am

“Hei kawan.. berhentilah membicarakan kekasih, pacar, doi, atau semacamnya yang aku belum mau mengetahuinya. Hidup ini bukan hanya tentang asmara. Psikologi bukan hanya bertemakan cinta”. Begitulah kurang lebih status dalam facebook yang saya tulis belakangan ini. Lalu, kenapa saya ingin membicarakannya kini? Saya sedang tidak asal membuatnya waktu itu. Saya punya maksud dari setiap kalimat yang saya tuliskan. Nah, karena komentar yang saya terima dan orang-orang yang menyukai status tersebut cukup banyak (hehe jadi geer nih…:)) sehingga saya pikir, ini akan menarik untuk dibahas. Terlepas dari ada keterkaitannya atau tidak, izinkan saya berceloteh kawan…^^

Kaimat pertama, “hei kawan.. berhentilah membicarakan kekasih, pacar, doi, atau semacamnya yang aku belum mau mengetahuinya”, saya tulis karena keprihatinan saya pada kondisi sebagian besar teman2 yang saya kenal. Mereka begitu antusias dan tak pernah kehabisan ide membicarakan tentang itu. Tidak bosan-bosan juga mereka terlibat dalam sebuah hubungan yang tidak halal bernama “pacaran”. Sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali. Malah ada yang menyesal karena belum berpacaran atau baru sekali berpacaran. Miris.

Yang lebih lucu, ketika hubungan semacam itu menjadi berwarna macamnya. Ada yang ingin menjalin hubungan semacam itu, tanpa ‘jadian’, maka ada namanya hubungn tanpa status (HTS). Ada yang berdalih sebagai sahabat, makanya disebut TTM (teman tapi mesra). Nah, ada lagi yang cukup lucu bernama ta’aruf. Mengapa lucu? Terinspirasi dari Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta para Pejuang, bahwa ta’aruf yang dimaksud di situ dianggap sebagai pengganti / mirip pacaran. Astagfirullah… tahu tidak sebenarnya arti ta’aruf?

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungghnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Al-Hujaraat (49): 13]

Secara gampang, ta’aruf artinya berkenalan yah saling mengenal begitu. Ta’aruf bisa dipakai siapapun untuk saling mengenal dengan konteks umum. Bukan hanya dipakai untuk menyebut hubungan pendekatan dalam proses menuju pernikahan, atau malah dibablaskan menjadi semacam pacaran, kemudian dengan istilah ta’aruf yang seolah-olah Islami lalu menjadi dibolehkan hukumnya. Apapun namanya, jika dalam hubungan atau proses tersebut ternyata tidak syar’i, tetap saja haram. Bukan masalah nama atau istilahnya, melainkan konten bagaimana hubungan tersebut. Jika berisikan hal-hal yang tidak dibolehkan atau menjurus pada “mendekati zina”, tentu saja tidak boleh. Misalnya saling memandang, berpegangan tangan, telepon berduaan membahas hal-hal pribadi, berkhalwat (berduaan), saling berbicara dengan kata-kata mesra, mendayu-dayu yang bisa menimbulkan nafsu, berboncengan, mengobrol berduaan dalam intensitas yang lama, bersentuhan, dan sebagainya. Astagfirullahal’adzim….

Ketika akan menikah pun, bukan ta’aruf yang diajarkan melainkan nazhar. Dalam riwayat Imam Abu Dawud, Jabir ibn ‘Abdillah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian hendak meminang seorang perempuan, jika mampu hendaklah ia melihatnya terlebih dahulu untuk menemukan daya tarik yang membawanya menuju pernikahan.” Nabi juga pernah berkata pada Al Mughirah ibn Syu’ban ra yang ingin meminang wanita shalihah, “Lihatlah dulu kepadanya, supaya kehidupan kalian berdua kelak lebih langgeng.” Dari mereka kita belajar bahwa syari’at mengajarkan kita untuk nazhar. Melihat, untuk menemukan sesuatu ketertarikan yang membuat kita melangkah lebih jauh ke jalan yang diridhai Allah. Bukan mencari cela, aib, dan mendetailkan data-data. Menjaga pandangan dalam batas-batasnya dan berprasangka baik pada Allah. Tentunya, dengan nazhar yang cukup sedikit saja (Fillah, 2009).

Maka kalimat pertama saya, agaknya cukup jelas bahwa maksud saya, agar teman2 tidak menghabiskan banyak waktu untuk hal2 semacam demikian. Hal-hal yang saya kira masih dini dibicarakan untuk ukuran usia kita (20 tahun ke bawah-red) sehingga belum ingin saya pikirkan terlalu jauh pula. Berhentilah kawan. Jangan biarkan otak dan akalmu hanya dipenuhi pikiran tentang kekasih atau pacar. Pacaran, tidak ada ajarannya, memberikan lebih banyak mudharat daripada manfaatnya, dan tidak ada yang bisa menjamin kalian tetap “aman” dari dosa. Bersabarlah kawan, semua indah pada waktunya. Allah Maha Tahu dan selalu memberi yang terbaik yang kita butuhkan. 🙂

Kalimat kedua, “Hidup bukan hanya tentang asmara”. Saya bermaksud mengajak teman2 berdasarkan kalimat pertama agar memandang hidup bukan hanya asmara, cinta, dan angan-angan keindahan. Karena masih banyak tema-tema lain dalam kehidupan ini. Politik, social, budaya, hak hidup, kemiskinan, lingkungan, kebersihan, kesehatan, dan lain-lain. Lihatlah negeri ini, banyak yang perlu diluruskan, dibenahi, dan diperjuangkan. Kalau dulu ada quote, jadilah generasi penerus bangsa, mungkin kini perlu sedikit diubah, jadilah generasi pelurus bangsa. Karena menurut saya, terlalu sedikit hal-hal baik yang perlu diteruskan dari bangsa ini. Ketika banyak yang melenceng / kurang benar, maka akan lebih baik untuk diluruskan. 😉

Kalimat ketiga, “Psikologi bukan hanya bertema cinta”. Yah, sebenarnya ini hanya lelucon saya pribadi agar nantinya seorang psikolog, terutama saya tidak melulu menangani masalah percintaan manusia, remaja yang putus dari pacarnya, kiat2 menggaet doi, dsb, tetapi juga masalah seperti perdamaian dunia, motivasi, pengorbanan, pendekatan dakwah, berpolitik yang sehat, pengembangan potensi manusia, perbaikan moral, pendidikan anak secara sehat, perasaan merdeka sebagai bangsa Indonesia yang sesungguhnya, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang kaya raya, strategis, dan tua (yang semestinya dituakan, dihormati, diteladani), dan banyak lainnya.

Ya, sementara ini semua itu baru mimpi. Saya yang baru kuliah satu semester lalu, yang belum tahu apa saja halangan dan rintangan yang akan ditemui. Saya yang belum paham pernak-pernik psikologi dan kecerdikan manusia di dunia ini. Saya yang belum mengerti banyak hal, baru bermimpi. Saya beranikan bermimpi. Berharap, semoga akan menjadi visi hidup untuk mencapai ridha Allah. Lalu mimpi itu ter-tanggal-kan menjadi cita-cita dan dengan persiapan rencana-rencana. Keyakinan, ikhtiar dan doa. Semoga Allah memudahkan langkah para pejuang kebenaran di jalan-Nya….^^

Demikian penjelasan dari status saya, semoga bermanfaat. Mohon koreksi atas kekeliruan saya…