ANALISIS BERITA “TINGGALKAN AHMADIYAH AGAR HIDUP TENANG” MENURUT TEORI EUDEMONISME DAN UTILITARISME

Berita tentang delapan orang yang meninggalkan Ahmadiah di Bandung, Jawa Barat, diterbitkan oleh Media Indonesia edisi Selasa, 22 Maret 2011. Dalam berita tersebut dikabarkan bahwa setelah delapan orang tersebut meninggalkan Ahmadiyah, mereka bertobat masuk Islam. Pekerjaan, kesuksesan, dan masa depan adalah pengikat paling ampuh yang diberikan Ahmadiyah agar jemaat tidak keluar.

Berdasarkan teori eudemonisme, dikatakan bahwa manusia cenderung mencari hingga memiliki suatu tujuan dalam hidupnya. Teori tersebut membenarkan bahwa iming-iming pekerjaan, kesuksesan, dan masa depan yang diberikan kepada para jemaat dianalogikan sebagai tujuan yang bisa dicapai jemaat jika mereka masuk Ahmadiyah. Kemudian, dikatakan juga bahwa manusia dalam menetapkan tujuan akan lebih cenderung mencari tujuan kebahagiaan. Ketiga hal yang menjadi tujuan tersebut juga merupakan kebahagiaan yang pada umumnya dicari kebanyakan manusia. Jadi, bisa dikatakan bahwa pekerjaan, kesuksesan, dan masa depan yang dijanjikan adalah iming-iming belaka yang dianalogikan sebagai tujuan kebahagiaan seseorang.

Namun mengapa mereka keluar dari Ahmadiyah? Salah satu mantan jemaat bernama Winardi, mengatakan bahwa alasan ia keluar dari Ahmadiyah adalah adanya kegelisan yang timbul belakangan ini setelah puluhan tahun menjadi jemaat. Kegelisahan ini disebabkan oleh ajaran Ahmadiyah yang memang agak berbeda dengan ajaran Islam sehingga terkesan eksklusif dan pernyataan Ahmadiyah sebagai ajaran sesat dari pemerintah dan masyarakat. Ditambah pelarangan-pelarangan akan keberadaan Ahmadiyah, baik dari masyarakat maupun pemerintah setempat dengan keluarnya Pergub Jabar Nomor 12/ 2011 yang melarang Ahmadiyah, semakin menambah besar niatnya keluar sebagai jemaat Ahmadiyah.

Teori eudemonisme juga mengatakan bahwa manusia akan mencapai kebahagiaan dengan menjalankan rasionalnya secara baik. Manusia akan bahagia jika selalu menggunakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan moralnya dan mengandalkan kemampuan intelektualnya. Dalam berita Ahmadiyah tersebut, berarti Winardi bahagia karena ia mengandalkan kemampuan rasionya. Setelah adanya pelarangan-pelarangan terhadap Ahmadiyah, adanya pernyataan bahwa Ahmadiyah sesat, hingga adanya diskusi dengan pemuka agama setempat, ia mempertimbangkan dan memperhatikan hal-hal tersebut yang membuatnya semakin yakin untuk keluar dari Ahmadiyah.

Jika dipandang dari teori utilitarisme, perbuatan Winardi bisa dikatakan “baik” sesuai dengan utilitarisme perbuatan. Suatu perbuatan dikatakan “baik” menurut utilitarisme perbuatan jika banyak orang atau sebagian besar orang mengatakan bahwa perbuatan itu baik, sesuai dengan yang diungkapkan Bentham the greates happiness of the greatest number. Winardi dikatakan berbuat “baik” karena ia meninggalkan Ahmadiyah sebagaimana yang diyakini sebagian besar orang untuk tidak menjadi pengikut Ahmadiyah. Dengan kata lain, ia dianggap tidak berbuat “baik” karena sebelumnya menjadi jemaat Ahmadiyah, yang dianggap ajaran sesat oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintah.

Bila dibuat hedonistic calculus, hasil perhitungan kadar moral kesenangan dan ketidaksenangan perilaku meninggalkan Ahmadiyah bisa digambarkan sebagai berikut:

Meninggalkan Ahmadiyah bagi Winardi
Kesenangan (kredit)
Lamanya : lebih lama
Akibatnya :
# diakui tetangga
# lebih dihargai tetangga
# mendapat ketenangan batin
# tidak melakukan kesesatan

Ketidaksenangan (debet)
Lamanya : lama
Akibatnya :
# nama buruk
# dikucilkan tetangga
# tidak dihargai tetangga
# dianggap sesat
# gelisah hati

Jika dikalkulasi secara kuantitas, memang jumlah debet lebih banyak. Namun konten secara keseluruhan lebih berbobot kredit kesenangannya atau saldo positifnya. Sehingga perbuatan meninggalkan Ahmadiyah adalah perilaku baik dan harus dinilai baik secara moralnya.

Mendukung teori utilitarisme perbuatan di atas, teori utilitarisme aturan juga mengatakan bahwa Winardi dikatakan sudah melakukan perbuatan baik. Karena ia lebih memilih bertobat masuk Islam daripada selamanya menjadi sesat dan untuk meraih ketenangan. Utilitarisme aturan mengatakan bahwa suatu perbuatan dikatakan baik secara moral jika berfungsi sesuai dengan aturan moral yang paling berguna bagi masyarakat. Dalam kasus tersebut, aturan yang diaanggap paling berguna bagi masyarakat sekitar Bandung adalah menjadi muslim / pemeluk Islam. Sehingga, keputusannya menjadi pemeluk Islam, bisa dikatakan sebagai perbuatan baik.