Dekapan Al-Insyirah dalam Kesungguhan

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah : 5-8)

Membaca cerpen Lukisan Kaligrafi karya K.H. Mustafa Bisri, mengingatkan saya akan sebuah makna dan nasihat yang terkandung di dalam Surah Al-Insyirah tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

ASRAMA : Tempat Mahasiswa atau Hanya Fasilitas?

Depok, Asrama Mahasiswa UI. 19 April 2011. 06:00 am.

Asrama, salah satu fasilitas di Universitas Indonesia yang diperuntukkan bagi mahasiswanya. Di sini kehidupan awala mahasiswa baru dari daerah dimulai. Mereka yang merantau belajar ke kota besar dengan membawa mimpi dan harapan besar akan masa depannya.

Fasilitas asrama sebagai salah satu pilihan tempat tinggal mahasiswa baru daerah yang disediakan dari UI, begitu menggiurkan. Sewa kamar 160 ribu per bulan dan sudah ada perlengkapan lengkap di kamarnya.seperti tempat tidur, lemari pakaian, meja dan kursi belajar serta lampu kamar. Itu sangat membatu menghemat biaya kost yang mahal, sekitar 300-500ribu rupiah. Mungkin ada satu lagi alternative mengontrak rumah beramai-ramai sehingga bisa dibayarkan sekitar 250 ribu per bulan dan biasanya belum mendapat fasilitas perlengkapan asrama. kalau mau, ada yang sudah ada perlengkapan kamarnya dengan harga yang lebih mahal lagi sekitar 400ribu per bulan.

Itu asrama, jika ditanya harga sewa kamar reguler untuk mahasiswa menetap. Berbeda dengan mahasiswa yang hanya semalam dua malam menginap alias tidak menetap, harga sewanya sebesar 20ribu rupiah. Sedangkan ada lagi untuk kamar ber-AC perbulannya sekitar 900ribu rupiah.

Di asrama, ada mini market yang harga-harga makanannya lebih mahal dari pasar, ada fotocopy yang harga barang-barangnya pun biasanya dinaikan dari harga umumnya. Ada dua warnet yang harga per jamnya cukup normal, dan tentunya ada kantin yang bervariasi. Dari yang harga makanannya murah hingga mahal, dari yang penjualnya ramah hingga yang suka cemberut, ada yang cukup bersih hingga agak bersih (soalnya kata memang belum terlalu bersih). Namun, kata kebanyakn mahasiswa selain asrama yang suka makan di sini, makanan di asrama secara umum memang lebih miring dari tempat lain. Ada satu lagi, BURSA Asrama. ini adalah salah satu tempat menjual barang kebutuhan sehari-hari mahasiswa seperti beras, sabun, shampoo, pulsa, hingga menerima jasa laundry. Sayang, sekarang kondisi bursa asrama sedang “tidak sehat” sehingga proses jual belinya tidak berjalan lancar. Padahal, menurut saya ini adalah satu dari tiga tempat (minimarket, fotocopy, dan bursa) yang harganya bisa dijangkau mahasiswa dengan wajar.

Saya pikir, asrama adalah satu tempat ideal yang bisa dijadikan lahan bagus untuk kehidupan mahasiswa jika saja pengelolaan asrama lebih baik. Meskipun asrama adalah fasilitas, pada kenyataannya ada kegiatan mahasiswa di sini. Asrama sebagai tempat mahasiswa berkumpul, berdiskusi, beraktivitas, dan berinteraksi. Makan di kantin, belajar kelompok di gazebo, beribadah atau mengadakan seminar di gazebo, mengobrol dan saling mengunjungi kamar teman-temannya, belajar bersama di tempat belajar lorong masing-masing gedung, hingga beribadah di musola lorong atau musala gedung B. Di sini, juga ada 3 lembaga yang dapat sebagai wadah kegiatan mahasiswa dan sebagai latihan mahasiswa berorganisasi. Yaitu : FORKAT, SAHABAT, dan PMKA.

Ternyata bukan hanya pusgiwa (pusat kegiatan mahasiswa) yang bisa diandalkan untuk kegiatan mahasiswa. Dan salah besar ketika ada orang mengatakan “Asrama hanya tempat tidur saja!” itu SALAH! (maaf, bapak direktur fasilitas dan umum yang terhormat). Mahasiswa adalah penggerak yang sejak awal sudah dipanggil pahlawan muda. Mahasiswa sudah dilabeli dengan perannya sebagai agent of change, iron stock, dan social control. Mustahil jika tidak beraktivitas dimanapun ia berada dan tanpa melakukan apapun yang berarti.

Belajar adalah mengenai apapun dalam kehidupan, bukan hanya mata kuliah di kamapus. Pembelajaran tentang kehidupanlah yang nantinya akan lebih dirasa teraplikasikan dalam kehidupan nayata. Mahasiswa bukan anak SMA lagi yang hanya mengejar nilai tanpa pemaknaan. Bukan hanya anak SMA yang orientasinya menjadi mahasiswa, melainkan mahasiswa yang nantinya akan menghadapi dan “mengurus” masyarakat. Bahkan terlibat langsung dalam bermasyarakat.
Kemudian, tentang asrama yang hanya boleh ditinggali selama satu tahun saja sejak tahun 2009. Mengapa dibuat aturan tersebut? Saya balik bertanya pada bapak direktur kemahasiswaan yang terhormat, Mengapa hanya 1 tahun saja, Pak? Apa manfaatnya? Apa keuntungannya? Bukankah dengan kebijakan asrama 1 tahun kini, masih ada sekitar 460 kamar yang kosong? Apa pertimbangannya? Justru kamar-kamar itu akan jadi rusak jika tidak ditempati dan tidak dirawat. Apalagi tahun 2010 lalu ketika saya baru mau masuk asrama, pertama kali datang dan membayar asrama, langsung diminta “uang jaminan” 500ribu rupiah. Uang tersebut hanya bisa diambil ketika telah menghuni asrama selama 11 bulan (hingga bulan Mei). Jika belum 11 bulan, maka hanguslah uang itu.

Se-tega itukah Anda pada mahasiswa daerah? Yang harus menunggu pengumuman selama 10 hari. 10 hari yang dinanti dengan harap-harap cemas, demi mendapat tempat tinggal di UI yang terjangkau harganya. Kemudian langsung ditagih dengan 500ribu sebagai “pengikat” agar tetap membayar 11 bulan sewa jika “uang pengikat” itu ingin kembali. Padahal di bulan Mei, adalah waktu memikirkan UAS dan persaingan mencari tempat tinggal baru akibat dari masa tinggal di asrama yang hanya 1 tahun. Mengapa kami harus pindah di bulan itu?

Hingga kini, kewenangan asrama berada di bawah kemahasiswaan atau falitas umum masih perlu dipertanyakan kebenaranya. Saya pikir, akan lebih kondusif bila dipegang oleh kemahasiswaan sehingga asrama bisa benar-benar dipandang sebagai wadah mahasiswa bukan hanya sebagai fasilitas statis atau sebagai tempat tidur belaka.
Jika pihak kemahasiswaan merasa berat karena menambah asrama sebagai bagian dari kemahasiswaan, maka perlu dibentuk sub-sub bidang yang concern pada pengelolaan asrama. haruskah asrama hanya sebagai tempt tidur belaka? Mengapa kebijakan asrama harus satu tahun saja? Tolong dipertimbangkan, Pak. Karena asrama bibit pertama. Karena asrama begitu berharga. Karena asrama luar biasa!

curhatku pada-Mu

Depok, Asrama UI. Sabtu, 16 April 2011. 23:52.

Allah, begitu sulit aku meraba jalan hidup ini. Apa maksud-Mu dan segala apa yang menyangkut tentangnya, sulit untukku telusuri. Aku bagaikan terombang-ambing dalam lingkaran tak berujung. Mengais tanah berlumpur yang keruh dan alot.

Bergundah gulana hanya membuang waktu suci. Menangis, kini sudah tak berarti. Hingga memvonis bersalah pada diri sendiri pun mungkin hanya caci. Asrama, ya. Salah satu kebimbanganku. Asrama oh asrama.

Advokasi asrama yang entah dari mana harus kembali kulanjutkan bahkan sampai dimana titik akhir dan tujuan ini kan berakhir, masih tanda Tanya (besar) untukku. Keinginan untuk melakukan advokasi terhambat oleh birokrasi berbelit yang tidak pro mahasiswa. Kebijakan asrama 1 tahun kini yang kekeh mereka pertahankan walau menuai protes, aku pun tak paham betul apa untungnya bagi mahasiswa. Apalagi ancaman ketiadaan kegiatan di asrama, mau jadi apa asrama ini? Mau bagaimana dan diapakan asrama ini? Masa iya, setahun hanya tidur, makan, belajar? Kapan bersosialisasi? Kapan berkonsolidasi? Kapan memikirkan negeri?

Hidup sebagai mahasiswa, saya pikir tidak sesederhana itu. Ketika seorang mahasiswa lebih memilih belajar daripada organisasi, dia juga perlu menularkan pikirannya pada kawan-kawannya. Ketika ia lebih memilih mengaji daripada peduli pada asrama, saya pikir ia perlu mengajarkan pengetahuannya pada kawannya. Ketika ia lebih memilih membuat karya tulis ilmiah daripada berorganisasi di asrama, saya pikir ia butuh ide lain dari kawan-kawannya untuk melengkapi tulisannya. Ingat bukan, bahwa manusia adalah makhluk sosial? Dan selamanya akan seperti ini. Sehingga sikap cuek, apatis, acuh tak acuh, dsb semestinya tidak ada. Karena memang pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial.

Seolah-olah asrama adalah tempat teristimewa dan mewah, hingga untuk memperpanjang beberapa bulannya pun harus mengurus KK, KTM, slip gaji orang tua, DNS, dan segala dokumen yang kumiliki untuk mendapatkan sebuah kamar ukuran 2 x 3. Padahal setelah itu masih perlu melewati seleksi di rektorat. Dengan kata lain, semua dokumen itu pun belum menjamin keberadaan di asrama bisa diperpanjang beberapa bulan apalagi satu tahun.

1250 kamar yang katanya disediakan Ui, hingga saat ini hanya ada sekitar 800 kamar yang terisi. Sisa kamar yang kosong, ternyata membuat membuat pemasukan keuangan asrama berkurang, sehingga perbaikan, perawatan, dan pembaharuan asrama tidak kunjung terealisasikan, tidak bergerak dengan lebih cepat, sigap, dan efisien ketika menghadapi masalah fisiknya.

Kamar mandi kotor, air sering mati, air keruh, dinding yang sudah tua, sofa2 yang bolong dan sobek, kursi yang tua dan rusak, kran yang tidak bisa mengeluarkan air, dan sebagainya. Masih layakkah huni?

Asrama kini tidak punya kepala asrama yang bisa segera tanggap dan bisa mengambil tindakan cepat ketika asrama bermasalah. Apa aku harus mengadu bahwa ada 2 kran kamar mandi bocor , lalu prosesnya meminta hingga ke rektorat bagian fasilitas dan umum? Dan sekali lagi, aku tak tahu harus kepada siapa aku mengadu. Tidak ada kepala asrama. yah, sayang sekali tidak ada. Salah satu pengelola TU yang notabenenya diamanahi menjadi pemegang pertama kewenangan di asrama, malah hanya datang pada tanggal 1-10 / di awal bulan saja. Itu pun tidak dikenal seluruh mahasiswa (ya iya lah.. orang di dalam ruangan terusss) Hmmm… miris.

Batas pembayaran tanggal asrama yang hanya 10 hari, apa bisa benar-benar melayani ratusan penghuni asrama? apa para pengurus senang dan merasa menang ketika kami mengantri pembayaran asrama hingga berpanas-panas ria? Lalu apa? Denda. Denda setelah melebihi tanggal 10 bulan itu (Eitss tapi bisa diundur, jika dan hanya jika tanggal 10 itu libur…)

Pelik. Terlalu rumit kutuliskan hingga tak ada kata yang bisa menggambarkan rasa di hati. Dukungan dan bantahan terus berputar di otakku. Antara kebijakan, system, keadilan, pembelaan, dan keterbatasan. Satu hal pesan yang kuingat, “Lakukanlah, jalankanlah, apa yang kau aggap benar. Asalakan kebenaran itu bisa kau pertanggungjawabkan pada Tuhan, orang tua, dan dirimu sendiri, tetap berjuang dan teruslah berjalan maju!” Yah, itu yang perlu kulakukan.

Bantu aku Ya Allah.,.menemukan benang merah masalah ini dan menyampaikan suara teman-teman yang butuh tempat tinggal di asrama sampai terdengar ke telinga rektorat fasilitas dan umum. Kemana lagi aku harus mengadu bahwa teman2ku di asrama, masih ada yang butuh tempat tinggal karena mahalnya biaya hidup disini? Tunjukkanlah aku di jalan-Mu ya Allah… kuatkan aku beserta teman2 yang ingin memperjuangkannya…

Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu dan tetap akan terus membantu. Semoga langkah kita bersama, dimudahkan oleh-Nya.

Nilai Akhlak dalam Dien Islam

Oleh : Fatin Rohmah Nur Wahidah, 1006663972

Akhlak. Kata itu tentunya sudah sering kita dengar. Akhlak juga dikenal sebagai budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at yang melekat pada jiwa manusia. Karena itulah, suatu perbuatan disebut sebagai akhlak jika memenuhi kedua syarat berikut ini. Pertama, berulang-ulang. Perbuatan ini dilakukan tidak hanya sekali atau dua kali saja. Tidak secara kebetulan atau tiba-tiba, tidak juga karena keterpaksaan. Misalnya, seorang yang tiba-tiba memberi uang pada pengemis padahal biasanya tidak memberi, maka tidak bisa dikatakan ia memiliki akhlak dermawan. Kedua, timbul dengan sendirinya. Hal ini karena sudah menjadi kebiasaan, sehingga ia timbul dengan sendirinya tanpa ditimbang-timbang dan dipikirkan berulang-ulang. Baca lebih lanjut

Hai, Muslimah…!^^

Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 2 April 2011, saya mengikuti sebuah kajian kemuslimahan di FT UI yang membahas tentang jejaring sosial terutama facebook. Sebelum pembicara memberikan materinya, seorang MC memberi pertanyaan pengantar pada para peserta mengenai beberapa hal terkait jejaring sosial. Beberapa hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut, Baca lebih lanjut