Hai, Muslimah…!^^

Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 2 April 2011, saya mengikuti sebuah kajian kemuslimahan di FT UI yang membahas tentang jejaring sosial terutama facebook. Sebelum pembicara memberikan materinya, seorang MC memberi pertanyaan pengantar pada para peserta mengenai beberapa hal terkait jejaring sosial. Beberapa hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut,

Kebanyakan para akhwat menyetujui penggunaan facebook sebagai sarana dakwah mereka agar lebih gencar. Meski memang masih ada yang tidak setuju dan memilih tidak membuat account facebook dengan alasan membuang waktu dan tidak bermanfaat.
Yang menjadi pertanyaan saya kepada para akhwat yang setuju menggunakan facebook sebagai sarana dakwah yang lebih gencar adalah, berapa banyak akhwat kita yang gencar dan optimal dalam menggunakan facebook sebagai sarana dakwah mereka? Berapa persen komposisi menggunakan facebook antara sebagai sarana dakwah dan bersenang-senang saja? Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang perlu dijawab oleh masing-masing dari kita saja. Katakanlah, sebagai bahan evaluasi diri agar nantinya tujuan dan niat baik kita bisa tercapai, agar kita fokus pada apa yang kita niatkan, dan agar kita tidak terlena dengan arus facebook dan jejaring sosial lain yang mengasyikan.

Misalnya, seorang akhwat yang meng-tag gambar “selamat menunaikan ibadah UTS, niatkan karena Allah semata” kepada teman-temanya (ikhwan-akhwat). Niatnya memang baik untuk mengingatkan bahwa UTS juga bentuk ibadah kepada Allah. Kemudian dikomentari oleh ikhwan , “Yap. Jazakillah ukhti.” Namun tidak hanya itu, ternyata lanjut ke komentar-komentar lain yang sifatnya bisa tidak usah dikatakan sebenarnya. “Bagaimana UTS anti? Mulai kapan?” Bukan hanya ikhwan satu ini, akhwat-akhwat lain dan ikhwan lain saling berbalas komentar hingga out of topic dan GJ alias gak jelas.

Kekhawatiran itu muncul kini, karena melihat para akhwat yang insya allah (bisa dianggap) faham, namun ternyata masih mirip dengan orang lain pada umumnya. Terlepas dia pun setuju untuk dakwah atau tidak, namun bukankah hal semacam itulah yang menjadi awal kita hidup di dunia? Dakwah adalah merayu, mengajak, menyeru pada kebaikan. Pembawaan diri, ucapan, perbuatan, pemaknaan dan sebagainya tentang apa yang kita keluarkan pada orang lain mestinya bisa memberikan aura kebaikan dan kebermanfaatan.

Kekhawatiran ini muncul karena begitu besarnya rasa kasih sayang kepada para muslim(ah), kawan. Kepada kalian yang telah banyak memberiku arti dan penjagaan diri. Izzah dan iffah yang kita miliki, mesti dijaga dengan baik, ukhti,, termasuk ketika berbagai fitur jejaring sosial yang menggoda kita, seperti pemasangan foto. Hati-hati dlam memnfaatkannya, jangan sampai kecantikan kita yang sudah menjadi fitrah perempuan di pandang dari berbagai sudut manapun, menjadikan kita berdosa karena telah menyebabkan orang lain zina, baik mata, hati, pikiran, dan sebagainya. Hati-hati dengan kecantikanmu ukhti…

Bijaklah, karena kau begitu berharga!^^

Note ini bukan bermaksud lain, kecuali saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al’asr : 3) dan semoga hal ini benar-benar bisa membawa kebenaran dan kebaikan. Wallahu’alam bissawab.