curhatku pada-Mu

Depok, Asrama UI. Sabtu, 16 April 2011. 23:52.

Allah, begitu sulit aku meraba jalan hidup ini. Apa maksud-Mu dan segala apa yang menyangkut tentangnya, sulit untukku telusuri. Aku bagaikan terombang-ambing dalam lingkaran tak berujung. Mengais tanah berlumpur yang keruh dan alot.

Bergundah gulana hanya membuang waktu suci. Menangis, kini sudah tak berarti. Hingga memvonis bersalah pada diri sendiri pun mungkin hanya caci. Asrama, ya. Salah satu kebimbanganku. Asrama oh asrama.

Advokasi asrama yang entah dari mana harus kembali kulanjutkan bahkan sampai dimana titik akhir dan tujuan ini kan berakhir, masih tanda Tanya (besar) untukku. Keinginan untuk melakukan advokasi terhambat oleh birokrasi berbelit yang tidak pro mahasiswa. Kebijakan asrama 1 tahun kini yang kekeh mereka pertahankan walau menuai protes, aku pun tak paham betul apa untungnya bagi mahasiswa. Apalagi ancaman ketiadaan kegiatan di asrama, mau jadi apa asrama ini? Mau bagaimana dan diapakan asrama ini? Masa iya, setahun hanya tidur, makan, belajar? Kapan bersosialisasi? Kapan berkonsolidasi? Kapan memikirkan negeri?

Hidup sebagai mahasiswa, saya pikir tidak sesederhana itu. Ketika seorang mahasiswa lebih memilih belajar daripada organisasi, dia juga perlu menularkan pikirannya pada kawan-kawannya. Ketika ia lebih memilih mengaji daripada peduli pada asrama, saya pikir ia perlu mengajarkan pengetahuannya pada kawannya. Ketika ia lebih memilih membuat karya tulis ilmiah daripada berorganisasi di asrama, saya pikir ia butuh ide lain dari kawan-kawannya untuk melengkapi tulisannya. Ingat bukan, bahwa manusia adalah makhluk sosial? Dan selamanya akan seperti ini. Sehingga sikap cuek, apatis, acuh tak acuh, dsb semestinya tidak ada. Karena memang pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial.

Seolah-olah asrama adalah tempat teristimewa dan mewah, hingga untuk memperpanjang beberapa bulannya pun harus mengurus KK, KTM, slip gaji orang tua, DNS, dan segala dokumen yang kumiliki untuk mendapatkan sebuah kamar ukuran 2 x 3. Padahal setelah itu masih perlu melewati seleksi di rektorat. Dengan kata lain, semua dokumen itu pun belum menjamin keberadaan di asrama bisa diperpanjang beberapa bulan apalagi satu tahun.

1250 kamar yang katanya disediakan Ui, hingga saat ini hanya ada sekitar 800 kamar yang terisi. Sisa kamar yang kosong, ternyata membuat membuat pemasukan keuangan asrama berkurang, sehingga perbaikan, perawatan, dan pembaharuan asrama tidak kunjung terealisasikan, tidak bergerak dengan lebih cepat, sigap, dan efisien ketika menghadapi masalah fisiknya.

Kamar mandi kotor, air sering mati, air keruh, dinding yang sudah tua, sofa2 yang bolong dan sobek, kursi yang tua dan rusak, kran yang tidak bisa mengeluarkan air, dan sebagainya. Masih layakkah huni?

Asrama kini tidak punya kepala asrama yang bisa segera tanggap dan bisa mengambil tindakan cepat ketika asrama bermasalah. Apa aku harus mengadu bahwa ada 2 kran kamar mandi bocor , lalu prosesnya meminta hingga ke rektorat bagian fasilitas dan umum? Dan sekali lagi, aku tak tahu harus kepada siapa aku mengadu. Tidak ada kepala asrama. yah, sayang sekali tidak ada. Salah satu pengelola TU yang notabenenya diamanahi menjadi pemegang pertama kewenangan di asrama, malah hanya datang pada tanggal 1-10 / di awal bulan saja. Itu pun tidak dikenal seluruh mahasiswa (ya iya lah.. orang di dalam ruangan terusss) Hmmm… miris.

Batas pembayaran tanggal asrama yang hanya 10 hari, apa bisa benar-benar melayani ratusan penghuni asrama? apa para pengurus senang dan merasa menang ketika kami mengantri pembayaran asrama hingga berpanas-panas ria? Lalu apa? Denda. Denda setelah melebihi tanggal 10 bulan itu (Eitss tapi bisa diundur, jika dan hanya jika tanggal 10 itu libur…)

Pelik. Terlalu rumit kutuliskan hingga tak ada kata yang bisa menggambarkan rasa di hati. Dukungan dan bantahan terus berputar di otakku. Antara kebijakan, system, keadilan, pembelaan, dan keterbatasan. Satu hal pesan yang kuingat, “Lakukanlah, jalankanlah, apa yang kau aggap benar. Asalakan kebenaran itu bisa kau pertanggungjawabkan pada Tuhan, orang tua, dan dirimu sendiri, tetap berjuang dan teruslah berjalan maju!” Yah, itu yang perlu kulakukan.

Bantu aku Ya Allah.,.menemukan benang merah masalah ini dan menyampaikan suara teman-teman yang butuh tempat tinggal di asrama sampai terdengar ke telinga rektorat fasilitas dan umum. Kemana lagi aku harus mengadu bahwa teman2ku di asrama, masih ada yang butuh tempat tinggal karena mahalnya biaya hidup disini? Tunjukkanlah aku di jalan-Mu ya Allah… kuatkan aku beserta teman2 yang ingin memperjuangkannya…

Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu dan tetap akan terus membantu. Semoga langkah kita bersama, dimudahkan oleh-Nya.

Iklan