Apakah Ibuku Belajar Filsafat Sartre?

Yah, salah satu pertanyaan yang muncul ketika dosenku mengajarkan aku filsafat manusia tentang kebebasan yang diutarakan Sartre. Sartre, menurut buku dan dosenku, mengatakan bahwa apapun yang kau lakukan haruslah bebas!

Kau adalah manusia bebas yang merdeka. Kauselalu punya free will yang tak bisa dikekang oleh manusia manapun dan oleh apapun, bahkan Tuhan sekalipun. Saya pikir, Sartre kemarin tidak membicarakn tentang Tuhan dan kebebasan tanpa Tuhan. Bukan ingin mengabaikan Tuhan, melainkan karena pak Fuad Hasan (sang penulis) pun tidak membahasnya karena ia hanya ingin fokus pada kebebasan manusianya. Ia membicarakan manusia terlepas dari konten Tuhan. Kalau ibarat layar background LCD yang digunakan untuk menayangkan fokus dari LCD-nya. Maka pak Fuad hanya membicarakan apa yang ditayangkan. Sedangkan pembahasan Tuhan tidak dibicarakan karena berada di luar layar fokus tersebut.

Kembali ke Sartre. Ia mengartakan bahwa ketika kau memilih, kau punya kebebasan untuk memilih manapun yang kau mau. Bahkan sejak ada opsi pilihan itu sendiri, kau sudah punya kebebasan untuk memilih tiap opsinya. Kemudian ketika pilihan itu sampai pada keputusan, kau punya kebabasan dalam memutuskan apapun dan bagaimanapun itu. Atau mungkin kau tak mau memilih opsi-opsi itu, lalu kau justru lebih memilih untuk tidak memilih? Itupun pilihanmu, bahwa kau tidak memilih. Dan semua itu bebas kau lakukan. Asalkan, satu hal lagi yang perlu kau ketahui adalah tanggung jawab. Pertanggungjawaban atas piliahnmu itu. Yah, bertanggungjawab atas pilihan yang kau buat itu. Jangan lupakan itu!

Saat kuliah itu di kelas, tiba-tiba aku terpikirkan oleh ibuku, ketika beberapa waktu lalu beliau mengatakan “Ya sudah terserah kamu aja, yang penting kamu bisa tanggung jawab dengan pilihanmu”. Kalimat itu amat sering aku dengar dari ibuku saat aku bertanya tentang sesuatu yang aku bimbangkan. Sungguh, kata-katanya mirip dengan filsafat Sartre. Apakah ibuku pernah belajar tentang itu?

Entahlah, latar belakang sebagai seorang guru, mungkin membuatnya mengerti tanpa harus belajar teori. Bahwa hal tersebut adalah wajar dan memang harus demikian manusia bertindak.Mungkin juga Sartre sebenarnya hanya mengambil dan mengangkat sebuah teori dari pengalaman sehari-hari manusia. Ia hanya berpendapat lalu menjadi kata-kata yang dikenal sebagai filsafatnya. Tapi yang membuatnya berbeda dari kata-kata biasa adlah, pemikiran. Karena ia berfilsafat, memikirkan gejala yang terjadi di sekitar manusia. Ia menghayati pengalaman manusia, bukan sekadar menganggapnya biasa lalu sirna.

Oh, ibuku sayang….