Catatan Malam Itu

Depok, asrama UI. 00.10 22 Mei 2011

Baru saja pulang dari kumpul dengan anak-anak forkat setelah sebulan vacuum ga ngumpul. Ada pelajaran baru dari forkat malam ini. Ternyata anak-anak forkat menyadari kurangnya waktu kumpul bersama. Kabar positifnya adalah, bagus! Karena mereka merasa butuh kumpul dan berbagi dengan forkat. Saya cukup senang mendengar hal itu. Negatifnya adalah, hubungan kami menjadi tidak seindah dulu. Yah, karena perubahan-perubahan yang mungkin terjadi, acara-acara yang kurang bisa dimengerti oleh anggota forkat lainnya, dan komunikasi yang kurang sebulan terakhir ini, bisa memicu konflik dan menjadi akar tuduhan permasalahan. Yang diambil dari pelajaran ini adalah, bahwa sebuah organisasi butuh yang namanya keintensifan pertemuan. Katakanlah pertemuan rutin demi menjaga hubungan silaturahim dan menjaga frekuensi bersama. Yeah, I see and I get it now!

Kemudian, ada lagi. Komunikasi. Betapa komunikasi adalah sebuah jembatan emas yang begitu berharga dalam membangun sebuah organisasi, komunitas, perkumpulan, dan semacamnya. Sedikit saja tidak ada pemberitahuan atau kabar atau informasi baru bagi seluruh anggota, itu juga menjadi salah satu pemicu konflik yang bisa meregangkan hubungan dan menimbulkan emosi anggota. Kita harus saling tahu dan peduli pada saudara kita. Komunikasikan apa yang terjadi sekarang. Bilang kalau sedang sakit, bingung, galau, dsb. Katakana apa yang kurang dari organisasi kita, tanyakan pada yang lain kenapa ga ada kabar, sms mereka, hubungi mereka, sapa mereka, dan tunjukan kepedulian kita. So, keep communication to others!

Introspeksi diri dan keteladanan, penting! Lagi-lagi Rasulullah dan Allah yang tercinta membuktikan bahwa muhasabah diri adalah penting. Memberikan teladan pada orang lain dengan perilaku kita pun menjadi penting. Tidak akan bisa seseorang dihargai oleh orang lain, ketika ia hanya berkata ini itu tanpa ia membuktikan bahwa ia juga melakukannya. Tidak akan dianggap baik seseorang ketika ia tidak mengintrospeksi dirinya sendiri; sudah sejauh mana kita melakukan hal-hal yang kita tuntut, apa kekurangan kita, mengapa kita kecewa, bagaimana kita menghadapi kekecewaan itu, dsb. Tanyakan pada diri kita sebelum kita menuntut. “Sudah melakukan apa saya selama ini untuk forkat?” Sebelum berkata, “Apa saja yang sudah kamu lakukan untuk forkat?”

Yang saya suka dari forkat sekarang, anaknya bisa professional (yah itu yang professional). Maksudnya, kita bisa marah-marah di dalam forum tapi setelah itu? Yah, balik lagi kaya temen biasa. Nah, itu bagi dia yang bisa membedakan emosi pribadi dan emosi pada kelompok. Tuntaskan di dalam forum, selesaikan. Jangan dibawa keluar dan dibicarakan lagi di belakang. Lalu, kenapa ada yang masih segan dan kadang tidak enak, bahkan memutuskan tidak ikut rapat lagi karena mempermasalahkan “cara kami mengkritik” dengan marah-marah tersebut?

Ada beberapa alasan dan kemungkinan, sobat! Pertama, bisa jadi ia tidak terbiasa dengan “tekanan”. Kedua, bisa jadi ia belum bisa menanggapinya dengan positif. Ketiga, bisa jadi juga ia bermasalah dengan kemampuan membina hubungan dengan orang lain (intrapersonal) atau ada masalah dalam dirinya, seperti dendam. Sehingga saat bertemu dengan anak forkat yang lain, rasanya sebel, uring-uringan, bête, dst. Nah, mungkin juga ada alasan lain yang belum saya tahu. Pada intinya yang ingin disampaikan, kita mesti lebih dewasa menghadapi situasi. Situasi di kampus, dunia kerja, dan masyarakat tidak selamanya sesuai dengan harapan dan kebiasaaan kita. Kita yang mestinya pandai mengelola emosi dan peran kita. Beradaptasi mengapa menjadi penting? Karena demikianlah “alam liar” berkata.

Survival of the fittest, siapa yang kuat dialah yang menang. Kalau diterjemahkan bukan seperti hukum rimba begitu saja, melainkan bahwa ia yang kuat adalah ia yang punya kemampuan lebih untuk bertahan dan menguatkan dirinya menghadapi dan menyesuaikan dengan lingkungan. Siapa yang bisa lebih lama bertahan di lingkungannya, ialah yang menang. Kita bisa beradaptasi, menguatkan diri kita menghadapi dunia. Kita harus bisa mewarnai, tanpa harus terwarnai. Butuh kemampuan, sobat! Berproses dan bersabarlah dengan proses mewarnai itu!

Emm.. yah ada lagi! Mengenai kontribusi. Saya tertarik pada seorang dosen yang mengatakan, ketika orang ramai membicarakan cinta adalah pengorbanan, ia mengatakan bahwa cinta adalah memberi. Mengapa? Karena ketika kata “pengorbanan” yang dipasangkan dengan cinta, maka kekurangan, berkurang, ada yang hilang, merugi, dan hal-hal lain yang lebih cendrung negatif-lah yang justru muncul memaknainya. Namun ketika “memberi” yang dipasangkan dengan cinta, maka cinta itu akan serasa lebih indah, lebih sejuk, lebih berisi, lebih bermanfaat, dan lebih punya kesan amal. Cinta akan menjadi suatu amal dengan pemberian bukan menjadi keterpaksaan karena kita berkorban.

Sepadan dengan hal itu, pemberian. Pemberian apa yang telah kita keluarkan? Kontribusi apa yang telah kita berikan sejauh ini pada forkat? Tidakkah kita ingat bahwa Allah akan mengganti apa yang kita berikan dengan sama bahkan berlebih. Allah punya keberkahan dan hal-hal lain yang tidak kita duga bahwa itu dapat membahagiakan kita. Dengan cara yang tidak terduga, Allah memberi pada kita hadiah, mengganti apa yang telah kita berikan pada orang lain dengan sama bahkan lebih banyak. Bukankah apa yang kita miliki sebenarnya adalah apa yang telah kita beri, bukan apa yang sekarang kita miliki dan masih ada pada kita. Buka saja QS Al-Baqoroh : 245. So, memberilah, berkontribusilah lebih banyak! Karena Allah akan membalasnya sesuai dengan niat masing-masing dan kontribusi masing-masing.

Nah, kalau dari kepanitiaan. Saya jadi lebih sadar bahwa membuat acara itu tidak segampang dan sesingkat acaranya. Ini butuh proses dan kesungguhan! Acara bisa jadi hanya beberapa hari, namun persiapan? Perlu beberapa bulan dan dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya. Publikasi, itu super penting! Acara itu kan salah satu tujuannya menarik masa biar pada datang. Trus kalau pemberitahuannya kurang bahwa ada acara tersebut, orang-orang juga jadi ga nyadar ada acara kita. Lalu? Yang datang ya cuma dikit, itu-itu aja. Kalau yang datang acaranya masih sedikit, padahal kita ngerasa udah optimal. Tanyakan apa ke-optimalan itu sudah objektif atau hanya perasaan? Trus, konten dari acara perlu dipertimbangkan! Jangan bikin acara asal-asalan yang tidak banyak dibutuhkan orang atau tidak menarik bagi kebanyakan orang. Sadar atau tidak, kita harus tahu bahwa orang akan cenderung mengikuti apa yang dirasa penting bagi dirinya. Orang akan ikut sesuai apa yng disukainya atau apa yang dibutuhkannnya. So, pinter pilih konten acara dan publikasikan secara total!

Itu baru persiapan acara. Apalagi cita-cita, mimpi-mimpi, harapan-harapan, dan sebagainya. Prepare!!! Prepare your self! Siapkan dirimu sebaik mungkin, sebaik yang mungkin, sebaik yang kau bisa, sebaik yang kau mampu! Ini juga menjadi koreksi bagi saya, bahwa terkadang saya hanya fokus pada mimpi dan cita-cita namun tidak mengevaluasi persiapan apa saja yang sudah saya lakukan. Mungkin bagi teman-teman yang lain juga mengalaminy. Betul, tidak? Tetapkan goal, susun sub-goal, buat rencana tindakan konkret, bikin timeline, komitmen dan disiplin pada timeline, lakukan! Jika ada hambatan, apapun itu, jangan terlalu dipikirkan, cobalah! Dobrak pintu ketakutanmu! Munculkan tekad dan keberanian, sembari mengantisipasi dan mencari jalan keluar dari hambatan yang kita miliki. Jadi siapkan segalanya dan beranikan dirimu!

Hemm… forkat! Inilah (semacam) organisasi yang pertama kali aku ikuti di kampus. Forkat menumbuhaknku, mengembangkanku, melatihku, mendidiku, membuatku kesal, marah, senang, lebih ekspresif merasa bersemangat, tertantang, mengajarkan memberi, berkorban, dan berpendapat. Semakin memperjelas potensi dari sifat-sifat yang Allah berikan padaku, manakah yang menjadi watak dan kepribadianku? Semoga watakku itu masih diberkahi Allah dan membuatku lebih bermanfaat bagi sesama. Tidak ada sifat yang salah, kecuali kita keliru dalam bersifat dan bertindak dengan sifat itu. Be your self and know your self, now!

Semoga sedikit tulisan ini bisa berarti banyak atas izin Allah. Nikmati apa yang sedang kita alami sebagai pembelajaran hidup. Ambil yang baik, perbaiki yang kurang. Dan jadilah aktor perubahan! Wasalam. FORKAT 2010! Luph u all… :-*