Derai dalam Syahadat Sore Itu

Asrama, Depok. 26 Mei 2011. 05.00
Kemarin, adalah sesi tausiyah dari MR yang sangat menyentuh. Kami membahas mengenai kandungan syahadat. Tausiyah yang cukup membuat saya berderai-derai air mata karena terharunya dan jadi semakin bersemangat menjalankan isinya. Hiks… MR saya dahsyat dah! Bisa bikin anak-anaknya sesenggukan. Silakan disimak dan semoga bermanfaat.^^v

Syahadat sebagaimana yang telah kita tahu, “Ashaduallailahaillah wa ashaduanna muhammadarrasulullah” memiliki 3 kandungan yang amat penting. Pertama, ikrar. Ikrar kepada Allah, sebuah pernyataan kita kepada Allah bahwa kita bersaksi bahwa Allah lah satu-satunya illah, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya. Konsekuensinya apa? Tentulah kita yang telah menyatakan tiada Tuhan selain Allah, berarti menanggung konsekuensi bahwa tiada illah yang patut disembah kecuali Allah. Tidak mengakui yang lain sebagai Tuhan kita kecuali hanya Allah semata.

Kedua, sumpah. Sumpah sebagai kesetiaan menerima segala risiko yang akan muncul dari ikrar. Apapun risiko yang harus ditanggung, termasuk kehilangan kesenangan dan waktu pribadi kita. Kehilangan kesenangn duniawi yang memabukkan, melenakan, dan yang membuat kita merasa senang. Menjadi tidak bebas makan sepuasnya, mengumbar aurat, kehilangan waktu rekreasi, dsb. Dalam suart Al-Maidah : 54, Allah berfirman “ Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan ornag yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Jelaslah bahwa kita yang membutuhkan dakwah, demi ridha-Nya, demi ketenangan hati, demi meraih jannah-Nya kelak. Jika kita murtad dan keluar dari jalan ini, Allah tidak rugi, sama sekali tidak karena Allah akan menggantikan kita dengan generasi yang baru, generasi yang lebih baik, dan yang dicintai-Nya serta mencintai-Nya.

Ketiga, perjanjian. Syahadat adalah perjanjian yang sangat kuat dengan Allah. Perjanjian setia antara hamba dan Rabb-nya. Keterikatan untuk mau membela agama Allah dengan harta, jiwa, tenaga, dan apapun yang ia miliki. “ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan meolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Al-Muhammad : 7)

Orang yang memahami syahadat adalah ia yang merdeka, ia yang tidak terpengaruh oleh isme-isme lain yang mengikatnya, tidak pernah takut mati, tidak takut miskin, tidka takut kaya, tidak takut apapun karena Allah sebagai pegangan, Allah sebagai satu-satunya tujuan dan tempatnya bergantung.

Ia yakin dengan sepenuh hati pada Allah dan mau membela agama Allah. Keyakinannya utuh karena lisan, hati, dan amalnya bersatu. Lisannya meyakini dengan ucapan, hati mengimani, dan perbuatannya membuktikan. Semua itu terintegrasi, tidak parsial. Ia memperbaiki dirinya, mengajak orang lain pada kebaikan, tidak hanya menyolehkan dirinya sendiri akan tetapi menyolehkan orang. Mengapa? Alasannya adalah karena surge terlalu luas untuk bisa kita nikmati sendiri. Mengapa rasulullah mau berdarah-darah, dicaci, dilukai, diusahakan pembunuhannya bahkan, namun beliau masih teguh, tak lelah, tak berputus asa mengajak orang lain dan terus berdakwah pada mereka untuk kembali pada Islam, demi tegaknya kalimatullah di bumi ini.

Yah, demikian. Dakwah ini mungkin memang tidak menjanjikan apa-apa. Dakwah ini diperuntukkan bagi orang-orang yang benar-banar mencari ridhaNya dan bagi orang-orang yang menginginkan mendapat kebahagiaan sejati di akhirat kelak. Apa yang kita minta dari dakwah ini? sedangkan rasulullah saja masih tetap ummi, padahal ia pembawa risalah, manusia pilihan, teladan umat. Jam terbang dakwahnya pasti lebih dari manusia-manusia lain, akhlaknya adalah Al-Quran, ibadahnya tidak terbayangkan luar biasa. Sedangkan kita? Masihkan memikirkan untuk mengambil keuntungan dari dakwah?

Terlalu pragmatis jika kita hanya memikirkan diri kita sendiri. Ingin IP 4 tanpa berbuat apa-apa untuk umat, memikirkan keuntungan-keuntungan apa yang bisa diperoleh dari dakwah, les bahasa inggris dan meninggalkan dakwah, cuti dari dakwah bahkan. Apa rasulullah pernah cuti?
Saat ini kita berjuang, ikhwah! Untuk nanti, demi kedamaian di akhirat, demi bertemu dengan Allah, rasul, dan para sahabatnya serta orang-orang saleh yang menunggu kita di jannah-Nya. Saat kita mengucapkan dan memperbarui syahadat, sadarlah bahwa ada ikrar, janji, dan sumpah kita pada Allah. Ikhlaskan diri ini, hadirkan Allah pada setiap kegiatan kita. Allahhu ma’na! Semangat dakwah!