18 Juni 2011, 22.00

20 Juni 2011. Asrama PPSDMS putra lt.3, 06.30 WIB

Dua hari yang lalu, persis saat jam 21.30, seorang temanku menelepon. Katanya aku harus segera ke halte depan asrama karena ada temannya yang sakit dna butuh uang. Hemm.. telpon di malam itu tidak terlalu jelas karena aku pikir ada masalah dengan signal kartuku. Tanpa pikir panjang, aku langsung saja ke halte berlari dengan sekuat tenaga. Sandalku berisik karena langkahku yang dipercepat dan semikin cepat.

Sampai di halte, aku temukan temanku tak berdaya dengan wajah polos, mata tertutup, dan terlihat lemas. Tiga teman yang lain mengemukakan alasan dan cerita-cerita mengapa temanku itu sakit hingga demikian. Hmm.. ceritanya mengharukan. Sekarang mereka bingung akan membawa ke rumah sakit mana karena sakitnya itu. Ketika diputuskan dan akan dibawa ke rumah sakit, tiba-tiba ia pingsan. Saya dan teman-teman lain kelimpungan dibuatnya. Salah seorang diantaranya memanggil teman lainnya yang sedang rapat di shalter sepeda.

Ketika saya menunduk kebingungan menangani Lia (yang pura-pura sakit) dan berusaha mengangkatnya, adegan sandiwara tadi berakhir dengan siraman air dari gayung serta ember besar kamar mandi. Benar-benar tak menyangka! Dingiiiiinnnn… baju basah kuyup, dari atas sampai bawah, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wangi sabun cair juga menempel karena mereka memberikan sabun cairnya di baju dan kerudungku.

“Selamat ulang tahun, kami ucapkan…. “ ramai nyanyian anak TK itu bergema di halte sepeda. Pak satpam pun tidak kaget ataupun mengusir kami karena ternyata mereka juga sudah tahu dengan ini semua. Sebuah piring putih berisi sekuntum bunga dan sepotong roti kantin, dihiasi lilin dapur (yang katanya pinjem kantin) benar-benar bermakna lebih dari segala macam hadiah yang pernah kudapatkan.

Selesai mengerjaiku, kami beranjak ke kantin. Sebelum sampai di sana, seorang temanku pingsan. Aku masih tak percaya ini bagian dari kebohongan. Maka aku pun masih khawatir dan berusaha mengangkatnya bersama teman-teman lainnya ke tempat yang lebih nyaman. Masih di tengah jalan menuju kantin, siraman air dari gayung dan ember kamar mandi masih juga dimainkan. Kali ini sasarannya veto. Karena ia berulang tahun tanggal 12 Juni kemarin. Mengherankan untukku! Sandiwara yang apik, kawan!

Dasar anak-anak forkat yang nakal! Kalian membuat malam kemarin lebih bernada meski sengau, lebih berisik dengan tawa, lebih berkarisma dengan bersaudara, lebih dahsyat dengan sandiwara. Entah bagaimana aku bisa ungkapkan perasaan ini. terima kasih, kawan! You make me so miss u… 