19 Juni 2011

Lanjutan dari cerita sandiwara tanggal 18 kemarin adalah, begini….

Malam harinya setelah Lia menjadi korban sakit, ia menginap di musola lorong kamarku di asrama. Dini harinya, kurang lebih pukul 4.00 seorang temanku bingung mencari minyak kayu putih untuk Lia yang katanya sakit perut. Yah,. Aku percaya juga setelah melihat keadaannya yang demikian. Aku dan beberapa teman lain yang ada di lorong berusaha membantunya, namun tidak berkurang juga erangan sakitnya.

Adzan subuh berkumandang, Lia sudah dipindahkan ke kamar tidurku. Selesai aku solat, ia menangis kesakitan. Hmm.. sepertinya ini tidak bisa dibiarkan. Aku sms pakdhe sebagai mantra di daerahnya. Beliau lalu meneleponku dan bertanya ini dan itu, obatnya ini dan itu. Yah., paling tidak satu langkah penanganan pertama telah dilakukan dengan memberikannya anti sida untuk lambungnya. Sembari menunggu pak satpam yang menuju kamar kami dan mobil patrol yang menuju asrama menjemput kami.

Pak satpam datang dan langsung menggelar tandu yang kami pinjam. Karena kamar kami di lantai 3 sedangkan Lia masih kesakitan dan tidak kuat berjalan, aku pikir. Dengan bersusah payah kami akhirnya tiba di gazebo dan segera memasukannya ke mobil patroli (bukan bak terbuka pastinya). Mobil patroli meluncur cepat dengan sigap. Kami segera sampai di rumah sakit terdekat di margonda ke bagian UGD.

Kami menunggu dokter di ruang UGD. Setelah diperiksa, Lia didiagnosa radang lambung. Yah, mirip setahun lalu, kata Lia. Hmmm akhirnya ia dirawat di rumah sakit tersebut hingga hari ini.
Hanya ingin menyampaikan saja, hati-hati dengan sandiwara. Khawatir itu justru menjadi doa bagi kita. 

Asrama PPSDMS putra lt.3, 7:18 WIB

Iklan