Amal Jama’iy dalam Merekonstruksi Kepemimpinan Umat

Sabtu, 23 April 2011, Fasilkom UI
ini adalah hasil resume kajian yang diadakan oleh SALAM UI dalam IYDP. cekidot!🙂
 Mengapa kita beramal jama’iy?
1. Berilmu itu penting! Maka, berilmu dulu sebelum beramal. Contoh : solat berjamaah.
2. Pengingatan. Pada dasarnya semua manusia bisa lupa bahkan rasullullah sekalipun. Maka ingatkan!

 Refleksi Amal jamai adalah solat jamaah. Gambaran solat berjamaah :
1. Orang yang berilmu / ilmu agamanya lebih baik
2. Lebih tua
3. Sempurna anggota fisiknya

 Problematika amal jama’iy
Di dalam jamaah, aturannya sangat dinamis, yang paling penting adalah jamaah itu berwala’ pada Allah. (Al Baqoroh). Jamaah itu memberi wala’nya pada Allah, rasul, dan ornag-orang beriman. Cara mengingatkan fakultas adalah dengan lemah lembut dan dengan penyampaian yang baik (seperti: subhanallah)  al – haqqoh.

 Yang harus dilakukan dalam jamaah :
1. Taat. Basis fundamental dalam jamaah. Tidak ada amal jamai tanpa ketaatan. Bedanya taat dan siqah? Siqah itu keyakinan dan ketenangan terhadap qiyadah. Apapun yang dilakukan qiyadah tenang, yakin. Seperti keyakinan Abu bakar pada rasul atas keberangkatannya isra mi’raj. Kalau taat, apapun yang terjadi dan yang dirasa akan tetap berangkat, meski ia tidak suka sekalipun.
Taat kepada Allah. Tentunya itu yang membarengi ketaatan kepada rasul. Jika wala’ kita benar, maka akan ketaatan pun akan menjadi benar. Tidak melihat siapa yang memerintah secara personal. Sehingga akan menghasilkan kesiapan berkorban.

2. Kesiapan berkorban. Kenikmatan terbesar (diumpamakan buang air besar) sehingga menimbulkan kesungguhan dalam beramal, cirri-cirinya :
a. gerakannya cepat
b. pekerjaannya tuntas
c. tertutup
d. kalau ada orang yang membicarakan kerjaanya, ia akan malu

3. Istimrar / berkesinambungan. Amal-amal ini penting bagi kita untuk memperbaiki jamaah. Dimulai dari diri-diri kita.

 Sekarang tentang pengikutnya. Kita percaya bahwa pemimpin itu punya kelebihan dalam beberapa hal dan visioner. Ibnu Qayyib dalam bukunya menuliskan, jika ada pemimpin umat yang kesalihannya biasa aja, tapi softskillnya banyak lebih didahulukan daripada ia yang salihnya sangat tapi kurang softskillnya. Karena kesalihannya adalah urusan dia dengan Allah sedangkan softskill itu untuk umat. Lalu cara memeperbaiki pilihan yang pertama adalah perbaiki liqoat kita. Kalau liqoatnya bermasalah, seperti minum obat antibiotic  kritikus dakwah. Jadi yang pertama, utamakan yang punya softskill. Yang kedua, sabar. Perlu mencontohkan / memberi teladan dulu pada yang lain. Pemimpin harus bisa memberi contoh pada yang yang dipimpinnya. Lahirnya pemimpin yang cerdas, qanaah, lahir dari jundi yang baik juga. Pimpinan ketika menuntut juga harus melihat, begitupun jundi juga harus melihatnya. Ada tata karma dan adab-adab komunikasi jundi dan qiyadhah. Siapapun pemimpinnya yang penting dia mengajak pada Allah SWT.