Catatan Hasil Rihlah ke Daerah Sekitar Banjir Sungai Ciliwung

11.51, Musola H2 F.Psi
Dalam kondisi saat ini, sudah tidak asing bagi kita (mungkin) adanya kabar mengenai banjir di sekitar daerah Jakarta. Kemarin, saya dan teman2 menyempatkan diri untuk melihat langsung apa dan bagaimana keadaan di sana. Yah, hanya jalan-jalan begitu lah… hasilnya?

Biasanya, banjir bagi orang umum adalah musibah apalagi jika airnya meluap hingga ke langit-langit rumah. Sayangnya, tidak demikian bagi mereka yang tinggal di skitar sungai ciliwung. Hamper tiap lima tahun sekali ada banjir yang terjadi, belum ditambah dengan banjir-banjir kecil lainnya. Namun warga disana masih saja tinggal dan bertahan. Malah seolah tidak menjadikannya sebagai masalah berarti. Bagimana tidak? Ketika kami mewawancarai seorang ibu yang tinggal di daerah kapuk rt.01 dekat stasiun manggarai di sana, beliau mengatakan bahwa tidak ada permasalahan di sana. Padahal ketika kami sampai di daerah tersebut, kami melihat beberapa hal yang tidak biasa kami temui sehingga kami menganggapnya masalah. Misalnya, rumah yang sangat dekat dengan sungai, bau yang entah bagaimana harus dideskripsikan tidak enak, rumah yang rusak-rusak dan berdekatan, rumah kecil yang tidak sesuai dengan penghuninya, sanitasi yang buruk, anak-anak putus sekolah, dan tentunya ekonomi.

Penduduk yang tinggal di sana beragama, ada yang dari jawa tengah, asli betawi, dan jawa barat. Kebanyakan dari mereka mata pencahariannya adalah berdagang. Ada juga yang memulung. Hemm.. agak miris memang. Bagiamana permasalahan itu bisa muncul? Saya tidak tahu pasti bagaimana runtutannya. Yang jelas, masalah-masalah itu ada dan cukup komplek. Mereka butuh bantuan sebenarnya namun mereka sendiri tidak tahu bagaiamana. Meski bagi mereka, hidup mereka kini tidak bermasalah bahkan dijalani dengan kepasrahan. Mereka masih bisa tertawa, ngobrol bersama, saling berbagi, santun, dan sebagainya.

Lagi-lagi, saya tidak tahu, apa efek dari kompleksnya masalah mereka. Yang nyata adalah, hidup mereka susah, anak-anak mereka putus sekolah, kadang sakit-sakitan (diare, pilek, batuk, yang sudah dianggap wajar pula), lingkungan rumah mereka kotor, jamban pun langsung ke sungai dengan tutup seng seadanya. Walaupun air bersih telah masuk di pemukiman mereka dengan cara membeli atau memompa air tanah (bagi yang keluar airnya) sehingga air sungai ciliwung tidak mereka gunakan lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Terkait beberaopa masalah yang ada, saya mengajak teman-teman mahasiswa untuk dapat membantu meringankan beban mereka.

1. Masalah pendidikan  putus sekolah. Yang memungkinkan yaitu dengan mencarikan sekolah-sekolah yang dapat bekerja sama menampung mereka. Bahkan lebih jauh, dapat pula bergabung mencari sponsor/donatur untuk menyekolahkan mereka. Lalu sebagai da’i? dapat dengan memberikan sekolah atau pengajian tiap minggunya (gratis) yang diutamakan pelajaran agama dan moralnya. Tujuannya memberikan suplai ruhiyah agar hidup mereka senantiasa mendapat keberkahan meski dalam keadaan sesempit apapun.

2. Masalah ekonomi  membantu mereka memasarkan dan membeli dagangan mereka, misalnya dagangan makanan atau lain-lain. Dapat juga dengan memberdayakan remaja/ ibu-ibu dna bapak-bapak yang belum bekerja dengan mencarikannya pekerjaan yang sesuai kemampuan mereka atau mencarikan link untuk memberikan kesempatan pada mereka berwirausaha.

3. Masalah agama  memberi dukungan moril pada mereka, salah satunya dengan membentuk kelompok pengajian tiap minggunya. Bisa dalam bentuk ta’lim, mentoring, dan semacamnya. Yah, kita bisa saja mencarikan guru ngaji atau pembicara pengajian mereka. Jangan lupa menjaga silaturhim dengan warga-warganya.

4. Masalah lingkungan  memberikan apa yang mereka butuhkan. Misalnya anak teknik yang sudah belajr sanitasi lingkungan, bisa membuat alat yang membantu menciptakan sanitasi yang baik. atau membuatkan mereka pompa air, tempat sampah dan mensosialisasikan cara pengolahan sampah yang baik dan bermanfaat,

5. Masalah kesehatan  pengobatan gratis. Kita bisa saja mengusahakan bantuan dari anak-anak salemba untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan rutin bukan hanya pada saat banjir. Lalu memberi pencerdasan mengenai penyakit dna cara pencegahannya. Mungkin tidka terlalu berguna pencerdasan itu karena kebanyakn mereka toh juga tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun, bisa saja mereka tidak mempermaslahkan karena memang keadaan yang memaksa mereka demikian atau karena memang ketidaktahuan. Yang penting adalah usaha kita mengarah sana. Melakukan pencerdasan berarti mencoba memberikan informasi sebagai langkah pencegahan. Harapannya para warga dapat meminimalisir munculnya penyakit yang menyerang mereka dan keluarga, terutama anak-anak.

Memang kita sebagai mahasiswa bukan dewa, bukan pemerintah yang semstinya dapat turun langsung menyelesaikan permasalah bangsa ini dengan kebijakannya. Kita mungkin juga bukan penolong yang punya kemampuan luar biasa hebat, baik dari segi kemampuan/ keahlian dan financial. Namun, percayalah sekecil bantuan apapun itu asalkan konsisten, akan menjadi letupan-letupan kebaikan yang semoga dapat menular hingga semoga dapat memunculkan letupan besar dalam bergerak membantu dan memebri kontribusi pada rakyat. Kepedualian pemuda akan bangsa dan warganya, saya yakin akan mampu mengubah bangsa ini menjadi lebih baik. terus berkontribusi pada bangsa! Semangat kontributif!