Rintangan Dakwah (part.2)

Barang siapa yang memandang enteng godaan dunia dan tidka bersungguh-sungguh (jihad) melawan hawa nafsunya itu, maka lambat laun nafsunya akan mengalahkan dan mnguasainya. Lalu ia tertawan dalam godaan tersebut. Hingga ia berhadapan dengan murka Allah dan siksa-Nya.

1. Jabatan dan alat mencari rizki. Ketika kita sudah mendapat pekerjaan / jabatan mulailah timbul kewajiban lain yang mengikatnya sehingga ia membatasi dakwanya. Sesungguhnya jawaban itu hanya sebagai alat dalam mewujudkan cita-cita dunia ini untuk mencapai ridha Allah. Oleh karena itu, alat tertentu tidak boleh diubah menjadi rintangan yang menghalangi pencapain tujuan.

2. Istri dan anak. Jika nanti sudah melalui perkawinan, aka nada kesibukan baru yaitu anak dan istri. Berbagai masalah dalam keluarga bisa jadi menghalangi bahkan menghentikan dakwah kita. Sudah sepntasnya orang yang beriman benar memilih pasangan / istri solihah yang tidak menghalanginya berdakwah dan membantu pembentukan generasi yang dapat membangun daulah islamiyah.

3. Mabuk dunia dan harta. Semestinya harta hanyalah sebagai alat, bukan cita-cita yang menjadi tujuan utama. Harta dapat digunakan justru sebagai alat berdakwah dan mendapat ridha Allah. Bahaya cinta dunia dan mabuk harta hingga menimbunnya dapat melalaikan kewajibannya apalagi sunahnya. Kemudian ia lupa pada dakwah karena diperbudak oleh harta.

4. Suara penghalang yang melemahkan. Suara-suara/ bisikan yang melemahkan para juru dakwah ada dalma berbagai bentuk. Misalnya ajakan, bisikan, saran, ancaman yang melemahkan semangat dakwah. Ada kalanya ancaman itu datang dari musuh Allah. Namun orang mukmin yang benar imannya justru semakin bertambah imannya dan semakin bertawakal pada-Nya.

5. Kekerasan hati karena lama tidak aktif. Hal ini biasanya tidak disadari, akibatnya kemauan untuk berdakwah semakin surut, tidak berdaya untuk terus aktif dan berusaha dalam persoalan dakwah, hingga akhirnya padam dan lenyap dari dirinya. Hatinya semakiin berkarat,ketika tilawah hatinya tidak terkesan, solatnya tak khusyu’, bahkan lupa tanpa merasa menyesal. Akhirnya ia mendapati dirinya jauh dari sifat-sifat / keadaan sebagai mukmin. Untuk menghindari itu, maka perlu usaha dan amal dalam dakwah, tolong menolong dalam kebaikan, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, senantiasa memperbaiki hubungannya dengan kitabullah dan bermuhasabah.

6. Meskipun demikian haruslah waspada. Para juru dakwah haruslah senantiasa waspada dari rintangan. Jika tidak, bisa saja ia justru tidak menganggapnya sebagai rintangan lalu melalaikannya dan menganggapnya telah berada dalam kekuatan serta keimanan yang sanggup melawan segala rintangan. Umat islam tidak boleh menganggap rintangan yang ada tidak akan berulang lagi. Hanya ornag-orang yang mengenali Allah yang selalu memohon perlindungan pada-Nya dari kejahatan dan tipu muslihat syaitan. Lalu Allah memuliakan mereka dengan menetapkan pendirian mereka dalam kebenaran.

Mari kita berdoa agar Allah menetapkan kita di jalan ini, menjauhkan dari kesalahanm melindungi dari kejahatan, dan mengakhiri hidup kita dengan kebaikan. Semoga Allah senantiasa melindungi dan mengistiqomahkan kita dalam jalan dakwah dan kebenaran ini. amin.

Fiqh Dakwah -Syaikh Mustafa Mansyur- 2005