Celoteh untuk Ambalan Ganesha

Purbalingga, 3 Juli 2011. 07.58

Hari ini hari terakhir diadakan leadership camp (LC) atau yang dulu dinamakan dian pingga. Nama LC ada pertama kali ketika angkatan saya menjabat (2008/2009) dan PO-nya adalah Radit Bara (kalau tidak salah). Kegiatan ini juga sebagai “pemangkas” kegiatan LDK yang dulunya ada LDK dan LDK lanjutan. Saat kegiatan LDK digabung dengan dian pingga lalu diganti menjadi leadership camp, ada alasan yang membuat itu. Yah, masalah waktu dan biaya terutama. Selain itu proker yang sudah segambreng, coba dipangkas, dipersingkat, atau apalah itu namanya. Tujuannya? Agar tidak mubazir tenaga, waktu, biaya, dan harapannya bisa lebih efektif serta efisien kerja DA tahun itu.

Emm sebenarnya bukan LC yang mau saya bahas. Melainkan FORKAS. Ya, FORKAS yang sekarang merupakan kependekan dari forum Komunikasi Alumni Ambalan Ganesha. Anggotanya? Yah, kalau dulu adalah seluruh alumni Ambalan Ganesha. Namun sekarang, harus ada daftar-daftar semacamnya. Ada kartu tanda anggotanya juga. Mungkin agar pendataan lebih rapi dan meminimalisir oknum-oknum yang nakal.

Sayangnya, tidak serta merta kesepakatan ini disambut baik oleh seluruh alumni. Ya contohnya saja angkatan saya. Ribet. Katanya begitu. Apalagi untuk anak-anak yang suka praktis seperti saya. Hehehe… ada rasa canggung juga, mungkin. Mengingat yang namanya kakak dan adik angkatan di angkatan saya tidak terlalu akrab dengan angkatan atas. Tapi, semoga ini cepat berakhir. Rasa tidak enak, canggung, sebal, meribetkan diri, dan sederet rasa “tidak mengenakan” ini, semoga cepat berakhir. Semangat yaa untuk angkatan 46!^^ kau selalu terbaik di hati.

Lalu, mengenai kunjungan. Saya kurang paham, forkas itu sebenarnya tidak boleh berkunjung atau tidak dianjurkan atau bagaimana? Kalau saya analogikan dengan adat membesuk orang sakit di rumah sakit. Misalkan rumah sakit adalah sekolah. Orang sakit adalah adik-adik yang masih aktif di ambalan, kemudian orang-orang yang ingin membesuk adalah forkas. Sekali lagi, ini hanya analogi. Biasanya rumah sakit itu kan memang punya jam besuk. Betul? Tidak seenaknya saja orang-orang (pembesuk) bisa masuk semaunya sendiri. Kan itu instansi, bukan rumah pribadi. Yah wajar juga. Berarti mirip dengan sekolahan yang tidak mengizinkan alumni seenaknya saja masuk. Kecuali di waktu-waktu wajar untuk mengunjungi. Kalau hanya sekadar menilik dan tidak terlibat di dalamnya, mah gapapa… toh yang menjabat/ yang bikin acara bukan alumni lagi. Udah ganti kepengurusan, boy! Terserah yang ngurus, terserah yang punya visi-misi, terserah mereka mau dibawa kemana ambalan itu. Toh pertanggungjawaban ada di mereka.

Zaman juga udah ganti, apalagi pemikiran. Kalau sama dan harus sama dengan tahun-tahunnya alumni, apa bisa jamin pramuka nantinya akan berkembang dan lebih baik? Cukuplah alumni mengingatkan dan menceritakan pengalamannya, agar kesalahan dan hal-hal negative yang pernah terjadi tidak terulang kembali. Tapi bukan memaksa lhoo… hanya sebagai pertimbangan. Tapi yang lagi mengurus ambalan juga tidak dianjurkan sombong,
justru kalian harus bijak mendengar, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan terbaiknya.

Yah, rasa cinta dan rasa memiliki yang saya dan alumni lain miliki memang besar. Mungkin karena itu, dan karena tidak ingin ambalannya semakin buruk-lah yang membuat kami sulit atau merasa aneh bila ada perubahan-perubahan. Meski kami pun sebenarnya percaya, adik-adik pengurus kini akan membuat ambalan kita makin jaya.
Nah, yang saya bingung adalah sikap pihak sekolah yang sedari awal mewanti-wanti seolah-olah kalau ada forkas, acara bakal rebut, kacau, ga rapi, dan sebagainya.

Apakah benar seperti itu? Kalau hanya menasihati secara wajar di awal acara yang sifatnya hanya peringatan ringan mah tidak papa. Wajar itu… mungkin di ekskul lain juga dibilangin gitu, demi alasan keamanan dan kenyamanan. Akan tetapi, kalau memang pihak sekolah begitu “berhati-hati” dengan forkas. Saya jadi bertanya, (tanpa bermaksud men-judge apa-apa) sebenarnya apa yang pernah terjadi? Hingga mengesankan ada trauma dengan alumni pramuka ambalan ganesha. Apa mungkin ada pengalaman sebelumnya terhadap para petinggi sekolah? Atau mungkin ada berita miring yang tidak sedap? Atau ada yang pernah bersengketa dengan pihak petinggi sekolah? Atau apa? Apa harus diselidiki?

Saya hanya merasa sebal saja, ketika di kepengurusan saya hingga kepengurusan kini, masalah izin penginapan, masalah forkas, masalah dana lomba pramuka, dan masalah pramuka lain, sekolah terkesan tidak percaya pada pramuka.

Baiklah. Kini, terlepas forkas atau alumni kecewa atau tidak, sudah saatnya melanjutkan pembenah diri. Pramuka kini harus bisa menunjukan kapabilitas / kualitasnya. Bangun kepercayaan pihak sekolah pada ambalan. Bagaimanapun caranya (para pengurus, pelajari yah..^^). Pengurus ambalan harus terus meng-upgrade kemampuan dan berpikir kreatif agar pramuka Ambalan Ganesha bisa mencapai tujuan tanpa merugikan anggotanya. Ingat dek, ambalan ada di tangan kalian. Baik/ buruknya adalah tanggung jawab kalian. Jangan sampai kemegahan dan kebesaran pramuka runtuh di angkatan kalian (semangat berkarya, adik-adikku!!^^).

Dan para alumni, mungkin bisa lebih berlapang dada. Justru ini bisa menjadi kesempatan untuk menghimpun kekuatan dan semakin mengakrabkan para alumni dalam kekeluargaan pramuka. Lalu tunjukkan bahwa alumni pramuka adalah mereka yang hebat dan luar biasa.

Zaman ini menuntut bukti nyata, menuntut kualitas para pionernya, bukan janji, bukan omong kosong belaka. Mereka tidak peduli seaktif apa kita di pramuka, seberat apa beban kita menopang tegaknya pramuka, dan sebesar apa manfaat yang kita dapat dari pramuka. Mereka hanya melihat kualitas kita. Mereka hanya melihat jadi apa kita. Maka tunjukkan dan lakukan yang terbaik, bagi diri dan orang-orang di sekitar kita. Semoga masalah yang ada sampai saat ini, menjadi batu loncatan dan semakin mendewasakan kita, menuju pramuka Ambalan Ganesha yang lebih baik.

Salam Pramuka!
GANESHA… JOSS!!