Keberjama’ahan

Purbalingga, 4 Juli 2011. 08.07

Yap, baru beberapa menit lalu film raja matahari doraemon selesai. Meski sudah berkali-kali menonton, belum bosan rasanya menonton lagi. Kali ini berbeda karena saya merasa ada nilai baru yang bisa saya dapatkan. Yakni tentang persahabatan. Mungkin jika dalam lingkup lebih luas, adalah mengenai keberjama’ahan.

Hemm… ada satu bagian menarik, ketika pangeran Tio menantang dua pekerja kerajaan untuk bertanding melawannya dalam permainan semacam sepak bola. Yang menang adalah ia yang berhasil mendapat 3 poin awal. Ia berhak memberikan hukuman apapun pada yang kalah sekalipun menghilangankan nyawanya. Pangeran Tio yang awalnya bermain sendiri, sudah tertinggal 2 poin. Hanya tinggal 1 poin lagi, ia kalah. Kemudian nobita datang dengan pakaian ala wanita zaman itu dan menyatakan diri akan membantu pangeran Tio bertanding dalam regunya.

Pangeran Tio yang selalu merasa kuat, menolak bantuan Nobita. Lalu apa yang dikatakan Nobita? “Paduka pangeran, saya tahu mungkin saya tidak membawa pengaruh banyak. Namun saya yakin satu ditambah satu akan lebih baik daripada sendiri.” Kurang lebih begitulah Nobita mencoba memberi pengertian pada Pangeran Tio.
Dalam kehidupan nyata, sudah banyak disingggung mengenai hidup sosial, hidup bersama, hidup bekerja sama, saling bantu, gotong royong, dan pada intinya adalah keberjama’ahan. Seberapapun kuat kita, tidak akan bisa hidup sendiri. Analogi yang sering diibaratkan adalah sapu lidi. Jika hanya ada satu batang, maka ia akan sulit menyapu kotoran yang ada apalagi sampai bersih. Berbeda jika kita bisa menyatukan beberapa batang lalu menghimpunnya menjadi satu ikatan. Karena kita butuh kerja sama dengan orang lain.

Dalam sebuah kerja sama dalam jamaah, memanglah tidak selalu sama jalan pikir dan/atau model kerja kita. Karena kita pun sudah berbeda dalam banyak hal. Latar belakang keluarga, pendidikan, pola asuh orang tua, lingkungan bawaan, pengalaman pribadi, keadaan fisik, dan sebagainya. Itu semua tidak boleh menjadi alasan kekecewaan kita. Justru kita mesti lebih lapang dada, menyadari warna-warni kita, merendahkan hati pada setiap manusia, dan bersedia mempercayai rekan kerja kita bahwa akan ada kontribusi mereka sekecil apapun itu.

Saya tidak kecewa, hanya terkadang dongkol. Sebal dengan kerja yang belum rampung, ketidaklengkapan kehadiran, konsolidasi yang kurang greget, individu yang masih terpikir keegoisannya, ketidakkonsistenan, koordinasi yang buruk, emosi yang berlebih, dan sebagainya. Yah, masih banyak yang harus saya perbaiki. Diri saya, sifat saya, perilaku saya, sikap saya, komunikasi saya, dan berbagai hal dari saya. Mungkin dari masing-masing kita pun dapat saling berkaca diri. Mari berbenah bersama!

Mohon maaf atas segala khilaf saya. Terima kasih atas kerja sama dan kesabaran teman-teman dalam menghadapi saya selama ini.

Tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang sempurna. Kala manusia hidup dan mati karena manfaatnya bagi sesama, pastikan kita telah banyak memberikan. Kala manusia hidup dan mati dengan nama, jagalah ia agar tetap semerbak wanginya.
Jazakumullah khairan katsir…