Wajar Vs Biasa

Purbalingga, 12 Juli 2011.

Dulu (mungkin) sampai sekarang, saya banyak menjumpai beberapa kawan yang selalu mengatakan “jangan mau menjadi orang biasa-biasa saja”. Senada dengan hal itu, saya pernah terobsesi menjadi orang luar biasa. Seiring waktu, ternyata saya masih bingung dan saya masih memikirkan makna kata-kata tersebut. Jika saya coba memaknai lebih dalam, batasan kata “orang biasa” saja sebenarnya belum ada. Apa maksud orang biasa? Yang bagaimana? Seperti apa? Cakupannya sampai di mana? Dan terus mempertanyakan makna kata “orang biasa”. Bukankah Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan Allah adalah sebaik-baik pencipta? Berarti manusia sebagaimanapun itu, tentunya adalah ia punya kemampuan terbaik, potensi terbaik, dan bentuk terbaik. Berarti sejak awal penciptaannya, manusia sesungguhnya sudah diberikan segala yang terbaik untuknya.

Kemudian saya bandingkan kata biasa dengan kata wajar. Apakah keduanya sama? Wajar vs biasa? Menurut saya, wajar itu sesuai. Sesuai kelakuannya, sesuai cara bicaranya, sesuai sikapnya, sesuai perannya, dengan siapa? Dengan orang yang dihadapinya, dengan masa yang dilaluinya, dengan tempat yang ditempatinya, sesuai dengan pedomannya. Menjadi orang wajar, berarti dapat menyesuaikan dirinya dengan orang yang dihadapinya. Berbicara dengan orang pendidikan SD berbeda dengan lulusan sarjana, makan di rumah sendiri berbeda dengan di rumah orang lain, berbicara sebagai ketua RT berbeda dengan warga RT, sikap sebagai perempuan berbeda dengan laki-laki, sebagai mukmin taat berbeda pula dengan para munafik, dan peran pendidik bahkan berbeda dengan pengajar.

Secara lebih luas, saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang pada dasarnya telah diciptakan dengan sebaik-baiknya. Tinggal bagaimana kita memoles diri kita agar menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain. Tidak ada frase “orang biasa” bagi saya, tetapi ada orang wajar. Maka, tak perlu berkecil hati ketika menjadi orang yang tidak dominan, tidak terkenal, tidak kaya, tidak miskin, tidak menjadi pemimpin, tidak bisa ke luar negeri, tidak punya mobil mewah, tidak punya perkebunan, dan sebagainya. Asalkan kita teguh menjalankan perintah Allah sesuai yang diperintahkan-Nya dengan sungguh-sungguh memenuhi peran kita sebagai hamba Allah, sebagai anak solih/solihah, sebagai ibu/ayah yang sesuai pedoman Allah, sebagai istri/suami yang taat pada Allah, sebagai anggota masyarakat yang baik, dan sebagai umat Nabi Muhammad saw. Insya Allah dengan begitu, frase “orang biasa” tidak bisa muncul karena kita telah berlaku wajar/sesuai dengan ajaran Rasulullah yang bersumber dari Allah Maha Pencipta. Jika kita sudah melaksanakannya sesuai perintah Allah, maka kemuliaan, kesejahteraan, kebahagiaan dunia dan akhirat serta lindungan Allah pada kita, insya Allah senantiasa berpihak pada kita. Wallahua’lam bis shawab.