Catatan Aksi Sehari-an (part.1)

Depok, 22 Juli 2011.
Kemarin, adalah hari yang padat. Sejak pukul 07.00 saya sudah keluar kamar berangkat menuju pusgiwa. Hari ada aksi menuntut pengesahan BPJS segera. Tujuan kami adalah gedung DPR dan istana Negara. Di pusgiwa, saya dan beberapa teman dari Akprop BEM UI konsolidasi dan membicarakan beberapa teknis acara.

Jam 07.45 handphone sang Kadept berdering, kabarnya massa aksi telah berkumpul di bundaran psikologi. Itu membuat kami bergegas menuju ke sana. Terburu-buru kami membawa spanduk, piloks, toa, spidol, dan raffia. Setelah itu, kami berboncengan motor bergerak meluncur ke TKP. Saya dan ka tika, sedangkan ka dicky, ikhsan, dan bayu bertiga.

Sampai di sana, ternyata belum banyak massa aksi yang datang. Sembari menunggu, persiapan aksi pun dimatangkan. Keberangkatan yang memang dibagi menjadi 3 kloter, sempat membingungkan teman-teman. Jarkoman jam 08.00, jam 10.00, serta jam 12.00 beredar, menjadi pertanyaan teman-teman mahasiswa UI. Mengapa bisa terjadi? Alasannya adalah rapat paripurna yang membahas tentang BPJS pun kabarnya silih berganti. Awalnya ada yang mengatakan pukul 14.00, kemudian diajukan menjadi pukul 10.00. ditambah kabar dari kapolda bahwa hari kamis itu akan ada massa sebanyak 5000 dari buruh yang MENOLAK BPJS. Tentu bila kita bertemu mereka dalam satu tempat dengan tuntutan yang berbeda, dimungkinkan akan terjadi ricuh, ketidaknyamanan, atau hal-hal lain di luar dugaan. Ada satu lagi, alasannya karena memang ada kegiatan di UI yang banyak menyerap massa aksi sehingga mereka menyusul setelah acara selesai pukul 12.00

Hmm… kami putuskan tetap aksi hari itu. Oleh karena itu massa dibagi 3 kloter. Agak random memang, namun hal ini dimaksudkan agar massa aksi yag berangkat jam 08.00 bisa mengantisipasi dan mengetahui keadaan gedung DPR terlebih dahulu. Bahkan kami pun mengirim seseorang untuk mencari info awal keadaan gedung DPR sebelum kami sampai di sana. Begitupun massa aksi jam 10.00, keberangkatan mereka untuk mempermudah masuk ke gedung DPR selanjutnya, setelah dipicu oleh massa jam 08.00.

Pukul 08.30 massa aksi pertama sebanyak 40 orang kurang lebih, berangkat dari bundaran psikologi tanpa mobil sound, tanpa iring-iringan motor seperti biasanya serta tanpa menunjukkan atribut massa aksi UI. Hal ini dimaksudkan menjaga keamanaan dan kondisi jalan. Macet, tentu. Sampai di gedung DPR pukul 10.50 kurang lebihnya. Ada puluhan polisi, motor polisi, dan mobil polisi yang bersiap di depan gedung DPR. Kami berhenti di gedung DPR bagian belakang. Sampai di belakang, atribut aksi apapun belum kami turunkan karena target kami adalah masuk ke dalam gedung dengan cara “baik-baik”. akhirnya kami masuk. Gedung yang megah.

Rapat paripurna masih berlanjut di gedung nusantara II tepatnya. Kami ingin memasukkan massa aksi ke dalam. Sayangnya hanya boleh 25 orang dengan satu surat izin. Kami membuat dua surat sehingga dapat memasukkan 50 orang ke balkon gedung. Maksud kami adalah mengawal rapat UU BPJS. Sayang, rapat UU BPJS telah selesai sesaat sebelum kami sampai di gedung DPR. Hmm ada peristiwa lucu bagi saya. Tentang spanduk. Yah, spanduk yang jadi “mulut” bagi kami untuk menyuarakan apa yang ingin disampaikan. Spanduk yang begitu dijaga keamanannya dan diprioritaskan masuk dengan sungguh-sungguh. Saya menjadi actor yang diminta membawanya. Bingung. Membawa spanduk plastic masuk ke dalam. Padahal tidak boleh membawa apapun termasuk jaket, tas apalagi. Akhirnya terpikir memasukkannya ke dalam baju.

Sayang seribu sayang, plastik itu terlalu tebal dan kentara ketika pemeriksaan perabaan. Awalnya kami tak mengira akan diraba. Dan… jantungku berdetak lebih kencang karena “terperangkap” dalam pemeriksaan. Mungkin wajahku kala itu seperti orang bodoh yang kebingungan mencari induknya. Namun tak ada yang memperhatikan gelagat dan kode mataku. Hingga akhirnya penjaga keamanan wanita itu berhassil menemukan spanduk itu di bagian samping tubuhku. Bukan malu melainkan sebal. Strategi kami kurang jitu. Mungkin semestinya menggunakan kain yang mudah disamarkan dengan tubuh, lain kali. Hmm.. semoga Tuhan memberkati. ***