Promosi Universitas?

Purbalingga, 24 Agustus 2011. 19:19

Tulisan ini tiba-tiba ingin saya buat setelah terpikirkan sebuah acara promosi universitas kepada calon mahasiswa baru. Cerita ini berawal dari pertanyaan, “Sebenarnya apa tujuan terdalam saya ketika ingin mengadakan acara promosi ke sekolah-sekolah di daerah saya?”

Musim ujian nasional tiba,para pelajar SMA kelas 12 tengah mempersiapkan diri menuju hari-hari yang memanaskan seluruh jiwa raganya. Jantung tak henti berdegup dan segala persiapan perlengkapan persenjataan seolah “dimatangkan” dengan sempurna. Kesibukan ini bukan hanya milik para pelajar SMA melainkan para mahasiswa alumni sekolah yang bersangkutan. Para mahasiswa yang kini tengah berada di kampus kebanggaannya masing-masing. Mereka juga sibuk mempersiapkan kepanitiaan yang akan mengurus promosi kampusnya kepada sekolah-sekolah yang dianggap bisa dijadikan objek promosi mereka.

Sekilas, acara itu mengasyikan. Saya selaku orang yang pernah dijadikan objek promosi, kemarin pun pernah menjadi subjek promosi. Hemm rasanya memang agak berbeda ketika saya menjalani kedua peran tersebut. Yap. Tapi bukan peran sebagai objek promosi yang akan dibahas kali ini melainkan peran sebagai subjek promosi (orang yang melakukan promosi kampusnya).

Mungkin saya akan berkaca dari kampus yang sekarang saya berada di sana. Saya tergabung dalam sebuah paguyuban asal daerah saya yang juga memiliki agenda promosi universitas. Paket kegiatannya meliputi : road show ke sekolah-sekolah di sekitar karisidenan/kabupaten saya, tryout, training motivasi, dan beberapa agenda lain. Saya pikir ini akan menjadi sebuah kebaikan yang luar biasa karena kami menyediakan apa yang kami pikir sedang dibutuhkan para pelajar SMA tersebut. Setelah saya masuk di dalamnya, yaa ternyata tidak sedemikian baik proses yang dilakukan, itu menurut saya.

Misalnya dalam tryout, ternyata yang menyusun bukan dari lembaga resmi yang bisa memberikan peluang bagi para calon mahasiswa baru masuk ke kampus kami. Yang membuat soal juga kami-kami sendiri selaku panitia. Soalnya didapatkan dari pengumpulan soal-soal tahun sebelumnya. Nah, mengetahui hal itu idealisme saya terkoyak. Ooh.. ternyata begini. Kalau demikian, sebenarnya untuk apa panitia susah payah membuat acara begituan. Toh mereka juga bisa latian soal sendiri bahkan di internet juga bisa download. Atau mungkin pinjam ke kakak kelas yang pernah mengikuti ujian masuk universitas sebelumnya.

Andai para pelajar SMA itu menyadari demikian. Sayangnya, bagi pelajar tryout seolah begitu digemari. Dilihat dari peminatnya yang mencapai ratusan dan seolah tak pernah sepi peserta tryout menjadi “ajang bisnis” mahasiswa penyelenggara. Padahal soal kami bukan dari pakar atau ahli. Terkadang itu juga soal SMA saja. Jawaban dari kami? Belum tentu benar juga. Pembahasan kami? Tidak selengkap yang bisa sampai memahamkan para calon mahasiswa karena kami tidak membahasnya mendalam dan detail. Kami juga tidak bertanya pada ahli soal tersebut sehingga saya pikir soal yang saya buat pun standar alias biasa saja. Para calon mahasiswa baru sebenarnya bisa berlatih sendiri tanpa harus ikut tryout dan tanpa harus menghabiskan uang dan waktu untuk pergi ikut tryout. Seperti yang saya katakan, kami tidak memberi pemahasan yang komprehensif. Jika pelajar itu kreatif justru mungkin ia akan lebih jago dari pemberi soal. Dia bisa bertanya pada guru yang lebih ahli atau otodidak menyelesaikannya atau mungkin bertanya pada teman yang lebih pandai. Lalu uang pendaftaran tryout itu kemana? Ke panitia. Ke paguyuban yang mengadakan. Jadi, apa paguyuban tersebut “mencari uang” dengan kegiatan tersebut ataukah bermaksud membantu mahasiswa baru untuk lebih mudah masuk ke perguruan tinggi dengan soal yang belum tentu keluar di soal ujian masuk dan belum tentu menjadi lebih paham setelah mengerjakannya?

Kemudian, mengenai acara roadshow ke sekolah-sekolah. Apa yang ingin dicapai? Agar mahasiswa baru yang masuk ke perguruan tinggi tersebut banyak? Untuk memberi informasi mengenai para mahasiswa baru? Atau justru niat pribadi untuk bisa tebar pesona dan berbangga diri akan universitasnya?

Internet sudah masuk desa, alat komunikasi sudah marak beredar, dan kebutuhan setiap siswa akan informasi yang diperlukan bisa berbeda. Para senior yang katanya sudah lama di kampus tersebut hanya lebih banyak pengalaman karena lebih dahulu masuk ke kampus. Itupun jika seniornya paham tentang universitasnya sendiri. Belum tentu semua senior paham, lho! Ada yang cuek dengan universitasnya juga. Kerjanya hanya kuliah-pulang dan berteman dengan teman jurusannya. Malas mencari tahu informasi ke rektorat, tidak tahu apa yang jadi “masalah” di kampusnya, tidak perduli dengan apa yang terjadi di jurusan atau fakultas lain, dan sebagainya. Jadi seolah apa yang disampaikan senior tersebut hanya informasi parsial yang tidak terintegrasi dan lengkap mengenai universitasnya. Ironis jika hal tersebut terjadi. Bukankah mereka bermaksud memberikan informasi tentang universitas mereka? Mengapa hanya setengah-setengah?

Mereka (para senior) mungkin bisa lebih paham sisi baik buruknya kampus mereka. Namun ketika promosi, apa yang mereka jelaskan? Kebanyakan tidak menceritakan hal-hal yang buruk bukan? Seolah semua yang ada di kampusnya baik dan paling baik diantara kampus lainnya. Beruntung ketika ada para senior yang mencoba memberikan fakta secara objektif agar apa yang disampaikan bisa menjadi bahan pertimbangan para calon mahasiswa baru.

Mari pertanyakan kembali dalam diri kita masing-masing. Apa sebenarnya yang ingin kita dapatkan dari kegiatan-kegiatan ini? Mana yang selama ini menjadi niat kita? Ego pribadi atau kesungguhan membantu para calon mahasiswa baru menemukan kampus yang sesuai dengan mereka. Saya harap, akan ada keberkahan dan kebaikan atas apa yang kita lakukan. Jangan sampai ini menjadi sia-sia karena niat yang keliru selain untuk beribadah karena Allah semata.

Pertanyaan lagi, mengapa universitas yang dipromosikan tidak memberikan bantuan biaya? Bukankah secara tidak langsung, promosi universitas yang dilakukan sudah menguntungkan universitas-universitas tersebut? Universitas tersebut berarti terbantu dalam hal pulikasi bukan? Seperti di kampus saya, paguyuban-paguyuban yang mengadakan kegiatan promosi semacam ini malah tidak resmi alias ilegal. Padahal dari hasil promosi senior mereka, secara tidak langsung berdampak pada jumlah pendaftar di universitas tersebut. Saya kira kegiatan promosi ini sedikit banyak mempengaruhi.

Lalu? Mungkin ini seperti simbiosis mutualisme. Ekstrimnya adalah ketika ego senior yang ingin tebar pesona ditutupi dengan wacana membantu calon mahasiswa baru dalam memenuhi kebutuhan informasi. Lalu ketika universitas diuntungkan dengan promosi itu? Tidak peduli bagi mereka, asal calon mahasiswa baru yang berminat di universitas yang mereka promosikan banyak jumlahnya. Lantas? Ada apa jika pelajar dari daerah yang mereka promosikan menjadi berjumlah banyak di universitas mereka? Hemm…

Iklan