Terima Kasih, Adik-adikku^^

Depok, 29 september 2011

Terik matahari cukup membuatku berkedip ringan menahan silaunya. Pagi ini memang lebih hangat dari hari kemarin. Aku berangkat agak siang hari ini, pukul 7.40 dari asrama. Sampai di depan alfa mart psikologi, agak aneh melihat dua orang maba berdiri di depan pintu masuk gedung H. Ia, seorang maba yang tak kutahu namanya menyodorkan sebuah permen lolipop yang diikat dengan pita orange kecil (warna kesukaanku). “Kak, ini tanda kasih dari kami, maba 2011,” katanya. Oke, terima kasih ya, Dek.” Seketika wajahku lebih sumringah, mungkin juga memerah tapi tak kentara oleh kelegaman kulitku ;p. Hmm… kreatif. Ada secarik kertas juga yang membalutnya. Hidup kami menjadi lebih menyenangkan karena ada aku dan engkau. Terima kasih, kakak seniorku… Maba 2011. Tak disangka, pemberian kecil dengan kata-kata indah mampu membuat hati ini berbunga.

Setelah kuliah jam pertama, aku kembali bertemu dengan maba 2011. Memang bukan anak yang tadi pagi memberiku lolipop, namun ia juga maba 2011 yang memberiku lolipop. Aku bertanya pada kedua maba tersebut, acara apa, seperti apa, kapan, dan bagaimana. Kata mereka, ini merupakan rangkaian kegiatan class project mereka. Puncak acaranya adalah hari minggu di taman Akademos, Fakultas Psikologi pukul 09.00-12.00. Mereka akan mengundang anak-anak jalanan untuk bermain, mendongeng, menggambar, dan bernyanyi bersama. Siapapun boleh berpartisipasi dalam acara ini, baik menyumbang buku bacaan, buku pelajaran, maupun majalah anak atau langsung saja datang ke TKP.

Hmm menarik, bukan? Yah. Semoga akan ada acara sosial semacam ini bertebaran di sudut manapun. J Terima kasih, Adik Maba 2011.. kalian menginspirasiku ^^.. Sukses ya acaranya!

lovely,
Fatin RN Wahidah
psikologi 2010

Iklan

Asrama, Rumah Berharga

Depok, 25 September 2011. 09:12

Sepagi ini matahari sudah ramah menyapa kamar asramaku. Sejuk. Tiba-tiba teringat bagaimana keberadaan asrama tahun depan. Nantinya, akankah ada asrama yang ramai lagi, adakah asrama yang bersifat kekeluargaan lagi, adakah tatanan nilai sosial asrama yang dapat terwariskan lagi? Satu hal lagi, agak ekstrim, apa ada Forkat ‘lagi’?

Kemarin, saya bertemu dengan kepala TU asrama yang baik hati. Beliau banyak bercerita tentang asrama sejak pertama kali saya bertemu. Kami juga banyak berdisukusi ini dan itu. Senang mengenal beliau^^.. sering kali, jika ada masalah asrama, saya akan segera bertemu beliau. Entah sendiri, bersama ketua putra, bersama teman-teman Forkat lain, maupun bersama kakak-kakak angkatan. Apalagi sejak ada masalah asrama terkait beberapa hal : masa tinggal asrama yang hanya 1 tahun, uang jaminan di awal pembayaran masuk asrama yang besar (Rp. 500.000) dan baru dikembalikan jika sudah di asrama 11 bulan (kalau tidak 11 bulan, uang jaminan hangus). Ada lagi, terkait kegiatan asrama yang sudah dilarang, birokrasi yang beribet, apalagi sekarang di tahun 2011 yang sistem pembayarannya langsung ke bank. Setelah ke bank, bukti pembayarannya baru diberikan lagi ke loket asrama untuk mendapat bukti pembayaran sewa asrama.

Di tahun 2011, rupanya ada pula kenaikan harga sewa per bulan yakni Rp 160.000 menjadi Rp 200.000 dengan tetap ada uang jaminan yang menurun (tadinya Rp 500.000 menjadi Rp 400.000). Namun, perlu diketahui juga bahwa masa tinggal di asrama untuk maba 2011 hanya sampai bulan Januari. Setelah bulan Januari boleh diperpanjang, namun uang jaminan Rp 400.000 tidak dikembalikan.

Nah, mengenai pemegang wewenang di asrama, belum juga terpecahkan. Kepala asrama memang sudah ada namun hingga kemarin (23 September 2011) setelah saya bertanya pada kepala TU asrama, beliau hanya diberikan surat tugas atau surat perintah semacamnya tanpa penjelasan wewenang lebih lanjut.

Sekarang bagaimana? Apa kegiatan di asrama masih dibolehkan? Menurut surat desposisi yang dikeluarkan beberapa waktu lalu, pihak rektorat sudah memberikan peringatan terkait kegiatan yang ada di asrama. Tidak boleh ada kegiatan di gazebo, lapangan parkir, hingga lorong asrama. Surat ini keluar setelah saya dan panitia pekan penyambutan penghuni asrama (p3a) mengajukan proposal kegiatan sekaligus ingin meminta izin pelaksanaan acara p3a tersebut.

Lalu, sekarang bagaimana? Sekarang sudah ada kepala asrama, namun belum “dilengkapi” wewenangnya apa saja. Akhirnya, di awal oktober nanti akan tetap ada kegiatan untuk mengakrabkan mahasiswa baru, menyambut keluarga baru, membina hubungan anggota keluarga baru, dan tentunya menyambut para pejuang baru! Asrama, mungkin memang bukan rumah pertama tapi asrama menjadi rumah berharga yang mempertemukan saya dan teman-teman menjadi keluarga kecil nan bahagia.

Tidak Menyerah

ketika sebuah semangat keluarbiasaan tertanam dalam benak para muda-mudi kami..
begitu dahsyatnya rasa dan gelora di dalam dada
entah berapa insan yang merasakannya
entah seberapa dalam pula rasa dan gelora yg tertanam itu

tiba-tiba bersedih dan miris
melihat semangat yang bergelora itu dihadapkan pada kenyataan
kenyataan yang menghentakkan hati dan pikiran
yang pahit dan menekan
mengorbankan jiwa dan raga
tenaga serta waktu yang ada

sungguh kebimbangan yang ada
antara ada dan tiada
antara pencapaian mimpi dan kenyataan yang harus dihadapi
antara harapan puluhan orang dengan kondisi terkini
apa yang harus dilakukan?
siapa yang harus lebih berjuang?
ketika semua telah dicoba dan diperjuangkan
ketika semua yang tersisa telah berjuang hingga tetes air mata ibu dikorbankan

mungkin saatnya kita bersabar, kawan!
cucuran keringat yang telah ada semoga berbuah butiran pahala
pengorbanan waktu yang telah dilakukan semoga terganti dengan waktu yang lebih berkah
pengorbanan tenaga yang sudah-sudah semoga menjadi pemberat amal kebaikan kita
dan pengorbanan seluruh elemen dalam raga ini semoga meringankan langkah kita menuju jannah-Nya

demikian diri yng lemah ini, kawan!
maaf bila aku tak banyak bisa membantu
semoga Allah membimbing kita hingga akhirnya
sebuah keputusan akhir yang terbaik
meski itu terasa pahit

P3A 2010!
karena kami LUAR BIASA
HA!

pekik harapan utk P3A 2011 :
UI kampusku, asrama keluargaku
semoga masih bisa bergema meski dalam hati terdalam kita 🙂

BUBER…!

Purbalingga, 28 Agustus 2011. 21.00

Bulan ramadhan ternyata bukan sekadar bulan berkah. Bulan ini juga menjadi bulan BUBER alias buka bersama… mengapa?

Bayangkan, saya dan beberapa teman seangkatan yang berhasil saya obeservasi, tidak kurang dari 3 agenda buka bersama. Bisa dalam waktu yang berbeda tiap harinya atau bahkan sering berbeturan dalam satu hari. Benar kata orang-orang yang berkata, kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang ada. Begitu juga agenda kita lebih banyak dari waktu 7 hari/24 jam.
Biasanya, moment BUBER ini sering diadakan di seminggu terakhir menjelang lebaran. Mengapa?
1. Bagi anak yang merantau. Hal ini terjadi karena yang buka bersama rata-rata anak yang merantau ke luar kota karena mereka kuliah, sekolah, atau mencari nafkah. Yah biasanya ini trendnya orang-orang yang sudah melebihi usia SMA untuk reuni. Entah itu reuni teman-teman taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, atau karena persamaan organisasi yang mereka ikuti.
2. Bagi anak sekolah menengah. Ada lagi BUBER di kalangan pelajar, biasanya untuk mempererta hubungan silaturahim mereka. Ada juga karena ingin ngabuburit bersama teman yang sekelas, seangkatan, atau sepermainan. Hmm… yah kalau ini trendnya tidak seramai seperti nomor 1. *hasil pengamatan di rumah makan di daerah saya.
3. Bagi ibu/ bapak. Hemm kalau ini jarang saya temui. Mungkin karena sudah sibuk dengan keluarga dan urusan lain masing-masing. Mungkin juga hal ini karena banyak yang lebih penting dan perlu diperhatikan. Mungkin kalau ada buka bersama satu kantor, kalau mau. Toh, mereka pikir di kantor juga sudah setiap hari bertemu. Trend mereka berbeda, bukan BUBER melainkan silaturahim setelah ramadhan alias di bulan Syawal.
4. Bagi keluarga. Nah, kalau ini mungkin sudah paling sering dilakukan di rumah masing-masing. Tapi kalau buka bersama di luar rumah bagi sekelurga malah jarang saya temui. Kecuali kalau mereka justru lebih sering dan lebih suka buka di luar rumah. Atau jika justru anak mereka lebih sering buka bersama teman-teman mereka.
Yah demikian sedikit gambaran bulan ramadhan, bulan puasa, sekaligus bulan BUBER…semoga buka bersama yang sering kita lakukan bertahun-tahun ini bukan hanya sebagai formalitas belaka. Ataupun menjadi latah / kebiasaan yang seolah wajib dilakukan tanpa memaknainya dengan kebaikan. Bahkan sering kali terkesan hura-hura yang melenakan dan membuat kita melalaikan tarawih atau kebaikan lain di malam hari bulan suci ini.

Inspirasi dari Adonan

Purbalingga, 28 agustus 2011.

Inspirasi bisa didapatkan darimana pun termasuk adonan kue. Inilah yang terjadi padaku siang tadi ketika aku membantu ibu mengolah adonan kue memakai tangan. Membuatnya tercampur merata dan pas untuk dibuat kue.
Awalnya belum tercampur hanya terdiri dari bahan-bahan awal. Kemudian sedikit demi sedikit ditambahkan dengan bahan lain sambil diaduk terus hingga merata. Ketika belum pas menjadi adonan yang baik, tanganku bisa merasakan tidak enaknya tekstur adonannya. Dipegang tidak enak, rasanya belum pas, lengket di tangan, dan sebagainya.
Apa yang membuatku terinspirasi? Ketika adonan lengket di tangan, aku terpikirkan tentang bagaimana sulitnya sebuah proses mencapai keberhasilan. Sering tidak enak, merasa kesal, capai, dan penuh tantangan yang menghadang dari berbagai sudut. Akan tetapi itulah sebuah proses. Sukses adalah hak setiap orang yang mau mengusahakannya. Sukses itu ada dalam diri tiap manusia. Sukses juga didefinisikan berbeda bagi setiap orang tergantung prosesnya.
Yah, dari adonan saya terinspirasi untuk lebih memaknai dan ikhlas menjalani proses yang sedang saya lakukan. Tidak usah mengeluh ketika kesulitan dalam berproses. Anggaplah sebagai sebuah proses pendidikan atau tempaan. Seperti besi yang ditempa menjadi barang-barang atau alat rumah tangga. Seperti anak yang dididik melawan nafsu buruk mereka untuk menjadi manusia berguna nantinya. Seperti para tentara/ polisi yang dididik denga kedisiplinan tinggi agar menjadi pejuang negara yang tangguh. Bahkan seperti tempaan di bulan ramadhan, agar jika kita setelah melaluinya dapat menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Pendidikan, tempaan, atau sebuah proses memang sering kali tidak ‘meng-enak-an’ meskipun tidak selamanya harus dibuat demikian. Mari, hadapi proses yang kita lalui dengan sadar dan bijak ^^.

Sebuah Pencarian Panjang

kutulis sebuah kisah fiksi yang tujuannya memberikan sebuah motivasi pada tokoh yang membuat tokoh utama terinspirasi dan justru berkembang hingga kini.

kado coklat di tangannya masih terus dipegang hingga ia mungkin agak lumer tersenagt matahari. siang itu Emi kembali dengan riang dari sekolahnya setelah sebuah coklat pemberian kakak kelasnya ia terima. senang dan mungkin malu ia rasakan bercampur kini.

singkat cerita, kakak kelas yang memberinya coklat telah menjadi salah satu idolanya sekarang. apapun yang dilakukan kakak kelasnya mungkin akan diikutinya. hingga suatu kali ia mendengar bahwa kakak kelasnya lulus dan masuk ke sekolah menengah di salah satu sekolah favorit di daerahnya.

tanpa berpikir panjang, ia bertekad masuk ke sekolah yang sama pula. beruntung, kerja kerasnya berbuah dan ia berhasil masuk ke sekolah favorit tersebut.
setelah di sekolah menengah, ia tak tahu “kemana perginya” kakak kelas itu. ia mencari di ektrakurikuler ini dan itu, sayangnya ia belum juga temukan kakak kelas idolanya.

ia pun berniat masuk OSIS sekolah tersebut agar bisa mencari tahu keberadaannya. yang ia pikirkan adalah ia harus menjadi salah satu tokoh atau paling tidak menjadi siswa yang aktif dan punya banyak teman agar ia bisa memperluas pencariannya. ia pikir, dengan masuk OSIS sebagai organisasi sekolah yang besar akan bisa membantunya.

sayang, ia kembali kecewa. tak banyak yang tahu nama kakak kelas yang disebutnya di OSIS dan beberapa ektrakurikuler besar di sekolah tersebut. ia tak menemukannya menjadi aktivis sekolah pula. setelah ditanya kepada beberapa teman seangkatan kakak kelasnya, baru mereka tahu bahwa ia ikut ektrakurikuler ini dan itu. ia tidak ikut OSIS atau ektrakurikuler (ekskul) yang besar lainnya.

hemm… sedih mulai menggelayut di hatinya. murung pun turut berempati di wajahnya. apakah sekarang mau mundur di organisasi yang sudah ia ikuti? lagi-lagi sayang tidak bisa. karena ini sudah setengah masa kepengurusan, sudah setengah jalan di periode kedua pula. dan yang lebih disayangkan adalah, ia sudah terlanjur jatuh hati dengan organisasi. kini ia menjadi organisatoris, aktivis sekolah, dan siswa berprestasi. tak mungkin ia melepas semua predikat dan peran itu.

waktu terus berlalu, kesibukannya mulai melunturkan dan sedikit demi sedikit mengurai ingatan tentang kakak kelasnya. namun jangan ditanya perasaannya. karena ia masih merasa seperti dulu. memiliki kakak kelas yang diidolakan, memiliki kakak kelas yang justru kini membuatnya menjadi seperti sekarang.

sebuah pencarian panjang. yah, masa SD, SMP, SMA, hingga kuliah. diawali keinginan untuk “mengejar idola”. bocah SD itu nekat dan bertekad ke SMP. pencarian dan rasa penasarannya untuk “mengejar idola”nya pun masih ada ketika dari SMP menuju SMA yang sama dengan kakak kelasnya. setelah itu kuliah, ia memutuskan untuk berbeda. berharap, ia bisa melupakan visi pencarian itu. sayang, ketidakadaannya kabar dan komunikasi membuat ia masih berharap dapat bersilaturahim. bukan menjadi seseorang yang berarti baginya, paling tidak cukuplah ia bersedia menjadi kakak kelasnya yang dulu menginspirasinya.

sekian. terima kasih.