Sebuah Pencarian Panjang

kutulis sebuah kisah fiksi yang tujuannya memberikan sebuah motivasi pada tokoh yang membuat tokoh utama terinspirasi dan justru berkembang hingga kini.

kado coklat di tangannya masih terus dipegang hingga ia mungkin agak lumer tersenagt matahari. siang itu Emi kembali dengan riang dari sekolahnya setelah sebuah coklat pemberian kakak kelasnya ia terima. senang dan mungkin malu ia rasakan bercampur kini.

singkat cerita, kakak kelas yang memberinya coklat telah menjadi salah satu idolanya sekarang. apapun yang dilakukan kakak kelasnya mungkin akan diikutinya. hingga suatu kali ia mendengar bahwa kakak kelasnya lulus dan masuk ke sekolah menengah di salah satu sekolah favorit di daerahnya.

tanpa berpikir panjang, ia bertekad masuk ke sekolah yang sama pula. beruntung, kerja kerasnya berbuah dan ia berhasil masuk ke sekolah favorit tersebut.
setelah di sekolah menengah, ia tak tahu “kemana perginya” kakak kelas itu. ia mencari di ektrakurikuler ini dan itu, sayangnya ia belum juga temukan kakak kelas idolanya.

ia pun berniat masuk OSIS sekolah tersebut agar bisa mencari tahu keberadaannya. yang ia pikirkan adalah ia harus menjadi salah satu tokoh atau paling tidak menjadi siswa yang aktif dan punya banyak teman agar ia bisa memperluas pencariannya. ia pikir, dengan masuk OSIS sebagai organisasi sekolah yang besar akan bisa membantunya.

sayang, ia kembali kecewa. tak banyak yang tahu nama kakak kelas yang disebutnya di OSIS dan beberapa ektrakurikuler besar di sekolah tersebut. ia tak menemukannya menjadi aktivis sekolah pula. setelah ditanya kepada beberapa teman seangkatan kakak kelasnya, baru mereka tahu bahwa ia ikut ektrakurikuler ini dan itu. ia tidak ikut OSIS atau ektrakurikuler (ekskul) yang besar lainnya.

hemm… sedih mulai menggelayut di hatinya. murung pun turut berempati di wajahnya. apakah sekarang mau mundur di organisasi yang sudah ia ikuti? lagi-lagi sayang tidak bisa. karena ini sudah setengah masa kepengurusan, sudah setengah jalan di periode kedua pula. dan yang lebih disayangkan adalah, ia sudah terlanjur jatuh hati dengan organisasi. kini ia menjadi organisatoris, aktivis sekolah, dan siswa berprestasi. tak mungkin ia melepas semua predikat dan peran itu.

waktu terus berlalu, kesibukannya mulai melunturkan dan sedikit demi sedikit mengurai ingatan tentang kakak kelasnya. namun jangan ditanya perasaannya. karena ia masih merasa seperti dulu. memiliki kakak kelas yang diidolakan, memiliki kakak kelas yang justru kini membuatnya menjadi seperti sekarang.

sebuah pencarian panjang. yah, masa SD, SMP, SMA, hingga kuliah. diawali keinginan untuk “mengejar idola”. bocah SD itu nekat dan bertekad ke SMP. pencarian dan rasa penasarannya untuk “mengejar idola”nya pun masih ada ketika dari SMP menuju SMA yang sama dengan kakak kelasnya. setelah itu kuliah, ia memutuskan untuk berbeda. berharap, ia bisa melupakan visi pencarian itu. sayang, ketidakadaannya kabar dan komunikasi membuat ia masih berharap dapat bersilaturahim. bukan menjadi seseorang yang berarti baginya, paling tidak cukuplah ia bersedia menjadi kakak kelasnya yang dulu menginspirasinya.

sekian. terima kasih.