Elo-Gue, End!

Depok, 1 oktober 2011. 22:58

Tadi pagi, saya tiba-tiba terpikir sebuah kalimat, “elo-gue, end!” hmm…kenapa ya? Pertanyaannya sekarang adalah apa makna yang harus saya ambil?

Kalimat itu sekarang sudah menjadi tren yang laris di pasaran sehingga punya banyak versi. Arab : ente-ane, wassalam atau antum-ana, khatam. Jawa : panjenengan-kula, rampungan, dan sebagainya. Seolah semua orang mengikutinya.
Padahal, apa maknanya? Apa bagusnya? Saya belum menemukan sesuatu yang membuatnya harus menjadi laris, namun seolah mengalir begitu saja karena banyak yang mengucapkannya. Mungkin berlaku juga teori konformitas di sini –teori yang menyatakan bahwa sebagaian besar orang cenderung sepakat dengan pendapat orang banyak (mayoritas) meski mereka mengetahui bahwa pandangan tersebut salah.

Ini baru satu kaimat yang belum tentu punya makna, bukan? Katakanlah untuk kejenakaan saja, pun bisa demikian kuat pengaruhnya sampai jadi tren kini. Lalu, kenapa kita tidak lakukan hal yang sama untuk menyampaikan kebaikan walau hanya satu ayat. Satu ayat yang terus diulang, ditanamkan, disebarkan, hingga banyak orang yang ikut menyebarkan dan membuatnya populer di kalangan masyarakat lapis manapun. Bagaimana menurut pembaca?^^

Iklan