Izinkan Aku Melanjutkan Perjuangan Ini…

Depok, 1 oktober 2011. 22:57

Ini adalah hari sabtu yang istimewa menurut saya. Kata anak matematika, 1+10 = 11 (1 Oktober alias bulan 10 tahun 2011 yang disingkat menjadi 11). Hari ini saya berhasil menyelesaikan 1 mata kuliah bahan kuis yang biasanya jarang terselesaikan :p. Hari ini pula sebagai hari pertama saya bisa sharing pada maba di asrama. It’s wonderful feeling, guys! Kenapa?

Yah, setelah lama saya memendam dan menanti pertemuan dengan maba asrama, untuk pertama kalinya tanggal 1 oktober 2011 pukul 19.30-an tadi ada pertemuan untuk membahas teknis pertandingan Liga Futsal Asrama Cup. Yang kumpul memang baru maba putra karena sebelumnya mereka sudah ditunjuk koordinator lorong oleh kakak angkatan 2010 yang semalam sebelumnya mendata satu per satu anak asrama 2011 di setiap lorong mereka. Sayang, yang putri tidak demikian karena banyak yang ada acara di luar asrama, belum terkoordinasi jelas, dan (mungkin) tidak seantusias maba putra.

Well, kembali lagi. Setelah penjelasan teknis selesai dari divisi olahraga forkat (kebetulan panitia P3A yang paham dan sudah pengalaman membuat acara Liga Futsal ini juga kan mereka), ada waktu bagi saya untuk menjelaskan tentang forkat (ternyata nama forkat belum familiar dan belum diketahui maba 2011). Nah, penjelasan tentang forkat ini berbeda dari penjelasan teknis futsal sehingga hanya ada 2 maba putra yang mau mendengarkan saya bercerita .

Awalnya sedih, namun setelah mendengar tanggapan mereka yang mengatakan, “Makasih banget ni ka! Kakak udah repot-repot ngundang kita. Ya senenglah…” (kurang lebih demikian), saya merasa punya harapan. Seratus, seribu, bahkan jutaan! Kenapa tidak? Saya bilang, mereka berdualah mahasiswa baru 2011 (dari teknik dan vokasi akuntansi) yang pertama kali tahu lebih banyak tentang kondisi asrama sekarang. Bagaimana ada kegiatan penyambutan ini, sulitnya izin, nekad yang bisa juga jadi salah, dan beberapa hal lain (yang masih perlu mereka tahu).

Saya pikir, cara ini bisa dilakukan dan sementara ini masih efektif. Kemudian saya mencobanya kembali pada maba mipa dan psikologi yang saya temui di kantin. Lagi-lagi ada harapan. Subhanallah… senang rasanya. Ini yang membuat saya semangat kembali. Semangat dari mahasiswa baru seolah tertular menghantarkan nyawa listriknya (kenapa jadi lebay ya? Hehe..)

Pukul 22.00 saya kembali ke kamar. Sambil menyusuri koridor menuju F1 lantai 3, saya masih merasakan obor semangat yang baru. Sampai di depan pintu kamar, pikiran ini seolah berucap, “Izinkan aku melanjutkan perjuangan ini, Ya Rabb…”