Pengaruh Keluarga dalam Perkembangan Anak (2)

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak
Sejak anak dilahirkan, mereka telah membutuhkan orang tua sebagai makhluk yang menolong mereka. Orang tua merupakan pihak yang begitu penting bagi anak-anak sebagai tempat bergantung hidup dan harapan mereka sebelum mengenal siapapun. Oleh karenanya, tidak berlebihan bila keluarga disebut sebagai tempat pendidikan utama sedangkan orang tua disebut sebagai pendidik pertama dan utama.

Awalnya, pendidikan yang utama memang ada di keluarga kemudian anak berhak mendapat pendidikan lain di tempat lain yaitu sekolah. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah sekolah bukan tempat yang sepenuhnya dipasrahkan untuk mendidik anak-anak karena tanggung jawab pendidikan tetap berada di pundak orang tua. Pendidikan sekolah tidak mengambil alih tanggung jawab orang tua, akan tetapi membantu meringankan tanggung jawab orang tua tersebut. Oleh karena itu, tidak salah jika orang tua harus mampu meng-upgrade diri agar dapat mengimbangi, menyelaraskan, menyokong, dan memperkokoh pendidikan keluarga (Pohan, 1986).

Orang tua berperan sebagai pengajar yang memberikan pengetahuan dan kecakapan sehingga penting juga bagi orang tua untuk memiliki pengetahuan yang memadai. Namun, pada kenyataannya tidak setiap orang tua dapat melakukannya karena ada di antara mereka yang berpendidikan rendah. Inilah bagian penting dari sekolah, tetapi orang tua tidak boleh berlepas dari tanggung jawabnya.

Orang tua yang betul-betul menyadari perannya sebagai pendidik utama, tidak akan mempermasalahkan pendidikannya yang rendah karena itu hanya salah satu bagian dari pendidikan yang perlu diajarkan pada anak. Sikap yang baik, empati, saling menghormati, tata krama, menolong, cerdik, dan hal-hal lain yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah tetap menjadi tanggung jawab orang tua.

Penting bagi orang tua (ayah dan ibu) untuk saling bekerja sama dalam menumbuh kembangkan serta mendidik anaknya. Kurangnya koordinasi antara ayah dan ibu, tidak saling memahami, kurang kooperatif dan hangat, serta disconnection di antara orang tua, dapat menimbulkan risiko bermasalah pada anak (Santrock, 2011).

Dengan demikian, kunci keberhasilan orang tua dalam mendidik anak menurut Pohan (1986) adalah keserasian dan kasih sayang. Dalam suasana kasih sayang dan keserasian, orang tua dapat dengan ikhlas bekerja sama, serta rela berkorban mengabdi untuk mendidik anak mereka. Dengan demikian, pembentukan keluarga dapat lebih jelas kemana arah, tujuan, dan cita-cita keluarga nantinya termasuk jumlah anak dan bagaimana pendidikannya kelak.

Perubahan Keluarga dalam Mengubah Masyarakat
1. Orang Tua yang Bertengkar.
Masih banyak orang tua yang menganggap bahwa pertengkaran suami istri hanyalah bumbu perkawinan yang dapat menyedapkannya. Namun, jika setiap hari selalu bertengkar bisa jadi bukan bumbu melainkan bencana yang datang. Pertengkaran dapat membawa akibat buruk bagi suami istri yang bertengkar dan tentunya pada anak-anak mereka. Pohan (1986) menyatakan bahwa anak-anak yang senantiasa diliputi pertengkaran antara kedua orang tuanya akan mempunyai kepribadian yang rapuh dan goyah. Anak mudah terombang-ambing, tidak punya pendidikan yang mantap, ragu-ragu dalma bertindak, dan sukar menyesuaikan diri dalam pergaulan. Kebimbangan dan keraguan ini muncul akibat tekanan yang terus-menerus.

Anak dapat belajar dengan cara meniru. Ketika orang tuanya bertengakar mungkin akan keluar kata-kata kotor, culas, tak pantas dikatakan, dan sikap yang kasar maka jangan salahkan anak bila ia pun menjadi demikian. Bertengkar dengan adik, kakak, teman sebaya, dan siapa saja. Bagaimana pun pertengkaran dapat menjadi cermin gangguan komunikasi orang tua. Maka, alangkah baiknya jika komunikasi tersebut dapat diselesaikan dengan baik karena jika ornag tua bertengkar, anaklah yang terlantar.

2. Orang Tua yang Bercerai
Perceraian mungkin dapat dibenarkan secara agama dan hukum, namun bercerai adalah perbuatan yang dibenci dan berakibat buruk bagi kedua pihak maupun bagi anak-anak mereka. Ayah dan ibu sebagai dwitunggal dalam rumah tangga memegang peran dan tanggung jawab penting dalam kehidupan keluarga.

Kehilangan salah satu ayah atau ibu berarti ada kepincangan. Anak-anak seperti anak ayam yang kehilangan induknya, tak tahu arah dan tujuan mereka, tak mendapat bimbingan, dan perhatian. Padahal masa anak-anak adalah masa pembelajaran yang membutuhkan peran ayah-ibu untuk saling melengkapi.
Jika salah satu primus inter pares (ayah/ibu) tidak ada, dengan siapa mereka bermain? Dari mana mereka mendapat teladan figur ayah/ ibu? Misalnya, jika ayah tidak ada, berapa banyak waktu yang ia miliki untuk mendidik anaknya apalagi jika ia harus bekerja mencari nafkah. Lalu misalnya jika ibu yang tidak ada, berapa lama waktu yang ia miliki untuk menemani anaknya, memberikan kasih sayang selayaknya seorang ibu pada anak apalagi jika ia harus melakukan pekerjaan rumah tangga. Yang jelas, pendidikan anak akan terbengkalai. Tidak ada yang dapat saling berbagi tugas untuk menemani anak bermain, belajar, mencari nafkah, memberi perhatian, dan kasih sayang karena mereka melakukannya sendiri. Sanggupkah ia menggantikan tanggung jawab dan tugas primus inter pares yang hilang?

Perceraian yang terjadi pada orang tua menurut Connel (dalam Pohan, 1986) dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku terutama tingkah laku anti sosial dan depresi. Dampaknya juga tergantung pada usia anak, kekuatan dan kelemahan anak, the type of custody, status ekonomi sosial, dan bagaimana fungsi pasca perceraiannya (Ziol-Guest dalam Santrock, 2011). Perpisahan orang tua dengan anak dapat menghambat proses usaha pemenuhan kebutuhan dasar anak berupa kebutuhan untuk dilibatkan (inclusion), untuk menguasai (control), dan untuk dicintai (affection) sebagaimana dikemukakan Schutz (dalam Pohan, 1986). Kebutuhan ini sudah ada sejak anak-anak dan mempengaruhi kepribadiannya pada masa selanjutnya. Oleh karena itu, kedua orang tua perlu menjaga keutuhan keluarga dan keharmonisan hubungan agar terhindar dari perpisahan atau perceraian.

3. Working Parents
Bekerja dapat mengakibatkan dampak positif maupun negatif. Namun, yang lebih penting untuk perkembangan anak adalah masalah sifat pekerjaan orang tuanya daripada masalah satu/ dua orang tuanya bekerja di luar rumah. Ann Crouter (dalam Snatrock, 2011) menggambarkan bagaimana orang tua yang memiliki kondisi bekerja yang buruk seperti jam kerja yang panjang, lembur, stres kerja, dan kurangnya otonomi di tempat kerja dapat menjadi lebih mudah marah di rumah dan terlibat dalam pengasuhan yang kurang efektif daripada mereka yang memiliki kondisi kerja lebih baik.

4. Ibu Tiri
Apa yang terjadi jika anak ditinggalkan ibu kandung? Mungkin bayang-bayang kekejaman ibu tiri akan menghantui dan anak akan berprasangka buruk pada ayahnya. Lalu dari sisi pendidikan anak, apakah ibu tiri akan menghambat atau membantu kemajuan anak? Pohan (1986) dalam bukunya Masalah Anak dan Anak Bermasalah menyatakan bahwa ini soal penyesuaian saja. Apakah ibu tiri mampu menyesuaikan diri dengan keluarga dan rumah tangga yang dimasukinya atau tidak. Asal ibu tiri mampu melakukan penyesuaian dan menempatkan diri dalam keluarga tersebut, menyadari kedudukan dan perannya sebagai primus inter pares (pemegang peranan utama dalam keluarga), dan bisa mengimbangi kewibawaan orang tua yang serasi dengan ayah atau suaminya untuk membentuk dwitunggal baru, maka ibu tiri berkesempatan memberikan makna kehidupan bagi si anak.

Ketidakberhasilannya dalam membimbing anak tiri berarti ketidakberhasilannya dalam menyesuaikan diri. Oleh karena itu, ibu tirilah yang perlu diperbaiki karena ia yang menjadi titik tumpu.

Hubungan Sekolah dan Keluarga
Orang tua memiliki peran penting dalam mendukung dan menstimulus prestasi akademik anak. Namun bukan hanya itu, orang tua juga berperan dalam menentukan aktivitas anak di luar sekolah. Apakah mereka akan mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan musik, olahraga, dan sebagainya. Pendidikan anak bukan hanya milik sekolah maupun orang tua saja. Kedua pihak dapat saling bekerja sama untuk mencapai keberhasilan anak dalam pendidikan. Orang tua mendidik anak di rumah setelah bersekolah, sekolah juga memberi pengajaran atau pendidikan yang mungkin di rumah belum diajarkan. Kedua pihak perlu saling mengetahui kondisi si anak untuk membantunya mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal (Santrock, 2011).

Anak dan orang tua bagaimanapun akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Anak sebagai generasi kedua orang tua hendaknya dididik dengan penuh cinta, kasih, dan kebijaksanaan. Orang tua harus dapat menjadi teladan anak-anaknya sedangkan anak-anak hendaknya menjadi kebanggaan orang tua mereka.

Referensi
Barus, Gendon. (2003). Memaknai Pola Pengasuhan Orang Tua pada Remaja. Jurnal Intelektual, vol.1, 151-164.
Perri, M. & Kirschenbaum, Daniel. (1982). Improving Academic Competence In Adults: A Review Of Recent Research. Journal Counseling Psychology,vol.29, 76-94.
Pohan, Imron. (1986). Masalah Anak dan Anak Bermasalah. Jakarta : Intermedia.
Santrock, J.W. (2001). Educational Psychology (5th ed.). New York: McGraw-Hill International Education.

Iklan

Pengaruh Keluarga dalam Perkembangan Anak

Oleh : Fatin Rohmah Nur Wahidah-1006663972

Teori Bronfenbrenner menyatakan bahwa social context yang menjadi tempat anak hidup berpengaruh penting terhadap perkembangannya. Ada 3 social contexts yang sering bersama anak-anak yaitu keluarga, teman, dan sekolah. Tulisan ini bertujuan membahas lebih jauh mengenai faktor keluarga yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak terutama keberhasilannya dalam berprestasi.

Pola Asuh Orang Tua
Dalam memenuhi fungsi dan peran keluarga, orang tua adalah aktor utama yang berperan penting dalam perkembangan anak yang diejawantahkan dalam bentuk pola pengasuhan orang tua. Menurut Steinberg (dalam Barus, 2003), pengasuhan orang tua memiliki dua komponen, yaitu gaya pengasuhan (parenting style) dan praktek pengasuhan (parenting practices). Ia mendefinisikan gaya pengasuhan sebagai sekumpulan sikap yang dikomunikasikan kepada anak dimana perilaku orang tua diekspresikan sehingga menciptakan suasana emosional. Santrock dalam bukunya Educational Psychology (2011) menyinggung 4 macam parenting styles, yaitu authoritative, authoritarian, neglectful, dan indulgent.

1. Authoritative Parenting
Orang tua yang authoritative berperilku hangat namun tegas. Mereka mendorong anaknya menjadi mandiri dan memiliki kebebasan namun tetap meberi batas dan kontrol pada anaknya. Mereka memiliki standar namun juga memberi harapan yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Mereka menunjukkan kasih sayang, sabar mendengarkan anaknya, mendukung keterlibatan anak dalam membuat keputusan keluarga, dan menanamkan kebiasaan saling menghargai hak-hak orang tua dan anak. Hal ini mampu memberi kesempatan kedua pihak (orang tua dan anak) untuk dapat saling memahami satu sama lain dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima kedua pihak.

Kualitas pengasuhan ini diyakini dapat lebih memicu keberanian, motivasi, dan kemandirian. Pola asuh ini juga dapat mendorong tumbuhnya kemampuan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan tanggung jawab sosial. Mereka juga tumbuh dengan baik, bahagia, penuh semangat, dan memiliki kemampuan pengendalian diri sehingga mereka memiliki kematangan sosial dan moral, lincah bersosial, adaptif, kreatif, tekun belajar di sekolah, serta mencapai prestasi belajar yang tinggi. Pada intinya, orang tua yang menggunakan pola authoritative dapat meningkatkan perasaan positif anak, memiliki kapabilitas untuk bertanggung jawab, dan mandiri.

2. Authoritarian Parenting
Orang tua authoritarian menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi dari anak-anak. Mereka lebih banyak menggunakan hukuman, batasan, kediktatoran, dan kaku. Mereka memiliki standard yang dibuat sendiri baik dalam aturan, keputusan, dan tuntutan yang harus ditaati anaknya. Bila dibandingkan dengan pola asuh lainnya, orang tua authoritarian cenderung kurang hangat, tidak ramah, kurang menerima, dan kurang mendukung kemauan anak, bahkan lebih suka melarang anaknya mendapat otonomi ataupun terlibat dalam pembuatan keputusan.

Pengasuhan dengan pola ini berpotensi memunculkan pemberontakan pada saat remaja, ketergantungan anak apada orang tua, merasa cemas dalam pembandingan sosial, gagal dalam aktivitas kreatif, dan tidak efektif dalam interaksi sosial. Ia juga cenderung kehilangan kemampuan bereksplorasi, mengucilkan diri, frustasi, tidak berani menghadapi tantangan, kurang berkeinginan mengetahi secara intelektual, kurang percaya diri, serta tidak bahagia.

3. Neglect Parenting
Pola pengasuhan ini disebut juga indifferent parenting. Dalam pola pengasuhan ini, orang tua hanya menunjukkan sedikit komitmen dalam mengasuh anak, mereka hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian untuk anaknya. Akibatnya, mereka menanggulangi tuntutan anak dengan memberikan apapun yang barang yang diinginkan selama dapat diperoleh. Padahal hal tersebut tidak baik untuk jangka panjang anaknya, misalnya terkait peran dalam pekerjaan rumah dan perilaku sosial yang dapat diterima secara umum. Orang tua pola ini cenderung tidak tahu banyak tentang aktivitas anaknya. Mereka jarang berbicang-bincang dan hampir tidak mempedulikan pendapat anaknya dalam membuat keputusan.

Orang tua neglect atau indifferent bisa saja menganiaya anaknya, menerlantarkan anaknya, dan megabaikan kebutuhan maupun kesulitan anaknya. Minimnya kehangatan dan pengawasan orang tua membuatnya terpisah secara emosional dengan anaknya sehingga membuat anak minimal dalam segala aspek, baik kognisi, bermain, kemampuan emosional dan sosial termasuk kedekatan/kelekatan pada orang lain. Jika terus menerus terjadi, akan membuat anak berkemampuan rendah dalam menolerir frustasi, pengendalian emosi, perilaku, dan prestasi sekolahnya pun amat buruk. Ia sering kurang matang, kurang bertanggung jawab, lebih mudah dihasut dan dibujuk teman sebayanya, serta kurang mampu menimbang posisinya.

4. Indulgent Parenting
Orang tua indulgent atu permissive berperilaku highly involved pada anaknya. Mereka cenderung menerima, lunak, dan lebih pasif dalam kedisiplinan. Mereka mengumbar cinta kasih tetapi menempatkan sangat sedikit tuntutan terhadap perilaku anak dan memberi kebebasan tinggi pada anak untuk bertindak sesuai keinginannya. Terkadang orang tuanya mengizinkan ia mengambil keputusn meski belum mampu melakukannya. Orang tua semacam ini cenderung memanjakan anak, ia membiarkan anaknya mengganggu orang lain, melindungi anak secara berlebihan, membiarkan kesalahan diperbuat anaknya, menjauhkan anak dari paksaan, keharusan, hukuman, dan enggan meluruskan penyimpangan perilaku anak.

Baumrind (dalam Barus, 2003) menemukan bahwa anak yang menerima pola pengasuhan ini sangat tidak matang dalam berbagai aspek psikososial. Mereka impulsive, tidak patuh, menentang jika diminta sesuatu yang bertentangan dengan keinginan sesaatnya, kurang tenggang rasa, dan kurang toleran dalam bersosialisasi. Pemanjaan terhadap anak dapat menyuburkan keinginan ketergantungan dan melemahkan dorongan untuk berprestasi. Thornburg (dalam Barus, 2003) mengemukakan dua alasan mengapa anak yang diasuh dengan pola seperti ini tidak dapat ditingkatkan perilaku tanggung jawabnya. Yaitu, (1) parents who are permissive give little guidance or direction to their adolescents and (2) adolescents do not tend to model the behavior of a parent in the permissive home.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pola asuh orang tua begitu berpengaruh terhadap kondisi perkembangan anak termasuk dalam prestasinya. Bila anak berada dalam pengasuhan yang kondusif, maka anak akan terbantu dalam proses kematangan perkembangan kognitif, afeksi, dan konasinya. Anak yang dibesarkan dari keluarga authoritative lebih mapan secara psikososial dan lebih berprestasi dibandingkan anak-anak yang dibesarkan dari keluarga authoritarian, neglect, dan indulgent.

(to be continued..)

Ki Hajar Dewantara ; Sebuah Inspirasi

Oleh : Fatin Rohmah Nur Wahidah

Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Semboyan ini mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Sejak duduk di sekolah dasar, sudah sering guru kita mengenalkan dan mengulangnya terlebih saat hari pendidikan Indonesia tiba. Makna yang luhur dari semboyan tersebutlah yang mengawali saya berkeinginan menjadi pendidik.

ki hajar dewantaraIalah Ki Hajar Dewantara, seorang pendidik, penulis, wartawan, patriot bangsa yang nasionalis, dan begitu peduli pada pendidikan bangsa Indonesia. Dalam perjalanannya, Ki Hajar Dewantara pernah mendirikan Perguruan Taman Siswa, yaitu suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Ia juga aktif dalam organisasi politik meyuarakan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Bersama Cipto Mangun Kusumo dan EFE Douwes Dekker dalam ”Tiga Serangkai”, ia mendirikan Indishe Partij. Yaitu sebuah organisasi politik pertama di Indonesia yang bertujuan menuntut Indonesia merdeka. Sedangkan pada zaman Jepang, ia bersama Soekarno, Hatta, dan Mas Mansur (Empat Serangkai) memimpin organisasi Putera. Perjalanan hidupnya tidak selamanya indah. Akibat dari pergerakannya itu, ia menerima hujatan, perlawanan, hingga pengasingan yang dilakukan oleh penjajah Belanda. Namun ia tak putus asa, ia justru lebih mendalami pendidikan di Indonesia setelah diasingkan ke Belanda.

Ajaran keteladanan yang dibawa Ki Hajar Dewantoro Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani, pada intinya adalah seorang guru harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi siswanya. Makna Ing Ngarso Sun Tulodo artinya menjadi seorang guru yang berada di depan, harus mampu bersikap dan berperilaku yang baik dalam segala langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak didiknya. Ing Madyo Mbangun Karso bermakna bahwa seorang guru ditengah kesibukannya juga harus mampu membangkitkan atau menggugah semangat para siswanya. Ia mampu memberikan inovasi-inovasi di lingkungan pembelajaran dengan menciptakan suasana belajar yang lebih kodusif. Tut Wuri Handayani artinya seorang guru harus mampu memberikan dorongan moral dan semangat dari belakang. Dorongan moral ini dibutuhkan para siswa karena hal ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat siswa.

Menjadi guru yang dapat diteladani sesungguhnya tidak berhubungan dengan sosok guru yang senantiasa menjaga wibawa, ingin terlihat ‘sempurna’, kaku, dan ‘penuh aturan’ di hadapan peserta didiknya. Keteladanan di sini adalah mengenai sikap dan perilaku seorang guru. Perilaku guru akan menjadi sarana penyampaian pesan paling efektif bagi peserta didik. Perilaku inilah yang akan menjadi ‘teladan’ bagi kehidupan sosial peserta didik. Bagaimana perilaku guru ketika di depan kelas, ketika berinteraksi dengan siswa, ketika hidup dalam kesehariannya kepada keluarga, tetangga, saudara, dan teman-temannya, ketika ia menyelesaikan masalah, dan ketika dihadapkan dengan berbagai kondisi lainnya.

Seorang guru haruslah ‘profesional’ dalam pengajaran dan hubungan sosial agar ketadanan seorang guru berbuah hal yang baik pada jiwa, sikap, dan perilaku peserta didiknya. Keprofesionalannya dibuktikan melalui pengabdian dan kehormatannya dengan bersungguh-sungguh mengajarkan kebaikan dan kebermanfaatan kepada para anak didiknya. Ia akan mengajar dengan sikap asih, asah dan asuh serta senantiasa memotivasi peserta didiknya menjadi lebih baik.

Begitu cerdas pemikiran Ki Hajar Dewantara yang bersumber dari kemuliaan hati dan cita-citanya. Menurutnya, pendidikan di Indonesia haruslah bersumber dari budaya nasional, menjadi bangsa yang merdeka, dan independen baik secara politik, ekonomi, maupun spiritual. Pendidikan juga harus merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian diri manusia. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya sehingga hak setiap individu patut dihormati. Pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan orang satu dengan orang yang lain. Pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan sehingga pendidikan dapat memperkuat rasa percaya diri dan mengembangkan harga diri. Setiap individu akan dapat berkembang sesuai dengan kemampuan dan kemauan masing-masing. Ia akan mekar dengan caranya sendiri dan akan wangi dengan harumnya sendiri. Setiap orang hidup sederhana karena bahagia dengan dirinya yang bermakna. Sedangkan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.

Ki Hajar Dewantara dengan idealisme dan pemikiran yang dibawanya, memotivasi saya untuk menjadi guru yang mampu mendidik bukan hanya mengajar. Kegigihannya dalam memperjuangkan kemajuan pendidikan Indonesia membangkitkan keinginan saya untuk berperan aktif memperbaiki pendidikan Indonesia yang saat ini sudah terkontaminasi kepentingan lain. Ki Hajar Dewantara membuat saya ingin belajar lebih banyak tentang pendidikan dan menginspirasi saya menjadi pendidik yang mampu memberikan keteladanan.
(701 kata)

Referensi
biografi-ki-hajar-dewantara.html/diunduh pada tanggal 14 September 2011.
biografi-ki-hadjar-dewantara3.html/diunduh pada tanggal 14 September 2011.
Ki-Hajar-Dewantara-1889-1959-Sosok-yang-Keras-tapi-Tidak-Kasar-Nurdayat Foundation.htm/diunduh tanggal 14 September 2011.
154-refleksi-motivasi-pendidikan-ki-hajar-dewantara-guru-teladan-yang-profesional-sebagai-motivator-yang-mengajar-dengan-kekuatan-cahaya-hati.html/diunduh pada tanggal 17 September 2011.