Pengaruh Keluarga dalam Perkembangan Anak (2)

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak
Sejak anak dilahirkan, mereka telah membutuhkan orang tua sebagai makhluk yang menolong mereka. Orang tua merupakan pihak yang begitu penting bagi anak-anak sebagai tempat bergantung hidup dan harapan mereka sebelum mengenal siapapun. Oleh karenanya, tidak berlebihan bila keluarga disebut sebagai tempat pendidikan utama sedangkan orang tua disebut sebagai pendidik pertama dan utama.

Awalnya, pendidikan yang utama memang ada di keluarga kemudian anak berhak mendapat pendidikan lain di tempat lain yaitu sekolah. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah sekolah bukan tempat yang sepenuhnya dipasrahkan untuk mendidik anak-anak karena tanggung jawab pendidikan tetap berada di pundak orang tua. Pendidikan sekolah tidak mengambil alih tanggung jawab orang tua, akan tetapi membantu meringankan tanggung jawab orang tua tersebut. Oleh karena itu, tidak salah jika orang tua harus mampu meng-upgrade diri agar dapat mengimbangi, menyelaraskan, menyokong, dan memperkokoh pendidikan keluarga (Pohan, 1986).

Orang tua berperan sebagai pengajar yang memberikan pengetahuan dan kecakapan sehingga penting juga bagi orang tua untuk memiliki pengetahuan yang memadai. Namun, pada kenyataannya tidak setiap orang tua dapat melakukannya karena ada di antara mereka yang berpendidikan rendah. Inilah bagian penting dari sekolah, tetapi orang tua tidak boleh berlepas dari tanggung jawabnya.

Orang tua yang betul-betul menyadari perannya sebagai pendidik utama, tidak akan mempermasalahkan pendidikannya yang rendah karena itu hanya salah satu bagian dari pendidikan yang perlu diajarkan pada anak. Sikap yang baik, empati, saling menghormati, tata krama, menolong, cerdik, dan hal-hal lain yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah tetap menjadi tanggung jawab orang tua.

Penting bagi orang tua (ayah dan ibu) untuk saling bekerja sama dalam menumbuh kembangkan serta mendidik anaknya. Kurangnya koordinasi antara ayah dan ibu, tidak saling memahami, kurang kooperatif dan hangat, serta disconnection di antara orang tua, dapat menimbulkan risiko bermasalah pada anak (Santrock, 2011).

Dengan demikian, kunci keberhasilan orang tua dalam mendidik anak menurut Pohan (1986) adalah keserasian dan kasih sayang. Dalam suasana kasih sayang dan keserasian, orang tua dapat dengan ikhlas bekerja sama, serta rela berkorban mengabdi untuk mendidik anak mereka. Dengan demikian, pembentukan keluarga dapat lebih jelas kemana arah, tujuan, dan cita-cita keluarga nantinya termasuk jumlah anak dan bagaimana pendidikannya kelak.

Perubahan Keluarga dalam Mengubah Masyarakat
1. Orang Tua yang Bertengkar.
Masih banyak orang tua yang menganggap bahwa pertengkaran suami istri hanyalah bumbu perkawinan yang dapat menyedapkannya. Namun, jika setiap hari selalu bertengkar bisa jadi bukan bumbu melainkan bencana yang datang. Pertengkaran dapat membawa akibat buruk bagi suami istri yang bertengkar dan tentunya pada anak-anak mereka. Pohan (1986) menyatakan bahwa anak-anak yang senantiasa diliputi pertengkaran antara kedua orang tuanya akan mempunyai kepribadian yang rapuh dan goyah. Anak mudah terombang-ambing, tidak punya pendidikan yang mantap, ragu-ragu dalma bertindak, dan sukar menyesuaikan diri dalam pergaulan. Kebimbangan dan keraguan ini muncul akibat tekanan yang terus-menerus.

Anak dapat belajar dengan cara meniru. Ketika orang tuanya bertengakar mungkin akan keluar kata-kata kotor, culas, tak pantas dikatakan, dan sikap yang kasar maka jangan salahkan anak bila ia pun menjadi demikian. Bertengkar dengan adik, kakak, teman sebaya, dan siapa saja. Bagaimana pun pertengkaran dapat menjadi cermin gangguan komunikasi orang tua. Maka, alangkah baiknya jika komunikasi tersebut dapat diselesaikan dengan baik karena jika ornag tua bertengkar, anaklah yang terlantar.

2. Orang Tua yang Bercerai
Perceraian mungkin dapat dibenarkan secara agama dan hukum, namun bercerai adalah perbuatan yang dibenci dan berakibat buruk bagi kedua pihak maupun bagi anak-anak mereka. Ayah dan ibu sebagai dwitunggal dalam rumah tangga memegang peran dan tanggung jawab penting dalam kehidupan keluarga.

Kehilangan salah satu ayah atau ibu berarti ada kepincangan. Anak-anak seperti anak ayam yang kehilangan induknya, tak tahu arah dan tujuan mereka, tak mendapat bimbingan, dan perhatian. Padahal masa anak-anak adalah masa pembelajaran yang membutuhkan peran ayah-ibu untuk saling melengkapi.
Jika salah satu primus inter pares (ayah/ibu) tidak ada, dengan siapa mereka bermain? Dari mana mereka mendapat teladan figur ayah/ ibu? Misalnya, jika ayah tidak ada, berapa banyak waktu yang ia miliki untuk mendidik anaknya apalagi jika ia harus bekerja mencari nafkah. Lalu misalnya jika ibu yang tidak ada, berapa lama waktu yang ia miliki untuk menemani anaknya, memberikan kasih sayang selayaknya seorang ibu pada anak apalagi jika ia harus melakukan pekerjaan rumah tangga. Yang jelas, pendidikan anak akan terbengkalai. Tidak ada yang dapat saling berbagi tugas untuk menemani anak bermain, belajar, mencari nafkah, memberi perhatian, dan kasih sayang karena mereka melakukannya sendiri. Sanggupkah ia menggantikan tanggung jawab dan tugas primus inter pares yang hilang?

Perceraian yang terjadi pada orang tua menurut Connel (dalam Pohan, 1986) dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku terutama tingkah laku anti sosial dan depresi. Dampaknya juga tergantung pada usia anak, kekuatan dan kelemahan anak, the type of custody, status ekonomi sosial, dan bagaimana fungsi pasca perceraiannya (Ziol-Guest dalam Santrock, 2011). Perpisahan orang tua dengan anak dapat menghambat proses usaha pemenuhan kebutuhan dasar anak berupa kebutuhan untuk dilibatkan (inclusion), untuk menguasai (control), dan untuk dicintai (affection) sebagaimana dikemukakan Schutz (dalam Pohan, 1986). Kebutuhan ini sudah ada sejak anak-anak dan mempengaruhi kepribadiannya pada masa selanjutnya. Oleh karena itu, kedua orang tua perlu menjaga keutuhan keluarga dan keharmonisan hubungan agar terhindar dari perpisahan atau perceraian.

3. Working Parents
Bekerja dapat mengakibatkan dampak positif maupun negatif. Namun, yang lebih penting untuk perkembangan anak adalah masalah sifat pekerjaan orang tuanya daripada masalah satu/ dua orang tuanya bekerja di luar rumah. Ann Crouter (dalam Snatrock, 2011) menggambarkan bagaimana orang tua yang memiliki kondisi bekerja yang buruk seperti jam kerja yang panjang, lembur, stres kerja, dan kurangnya otonomi di tempat kerja dapat menjadi lebih mudah marah di rumah dan terlibat dalam pengasuhan yang kurang efektif daripada mereka yang memiliki kondisi kerja lebih baik.

4. Ibu Tiri
Apa yang terjadi jika anak ditinggalkan ibu kandung? Mungkin bayang-bayang kekejaman ibu tiri akan menghantui dan anak akan berprasangka buruk pada ayahnya. Lalu dari sisi pendidikan anak, apakah ibu tiri akan menghambat atau membantu kemajuan anak? Pohan (1986) dalam bukunya Masalah Anak dan Anak Bermasalah menyatakan bahwa ini soal penyesuaian saja. Apakah ibu tiri mampu menyesuaikan diri dengan keluarga dan rumah tangga yang dimasukinya atau tidak. Asal ibu tiri mampu melakukan penyesuaian dan menempatkan diri dalam keluarga tersebut, menyadari kedudukan dan perannya sebagai primus inter pares (pemegang peranan utama dalam keluarga), dan bisa mengimbangi kewibawaan orang tua yang serasi dengan ayah atau suaminya untuk membentuk dwitunggal baru, maka ibu tiri berkesempatan memberikan makna kehidupan bagi si anak.

Ketidakberhasilannya dalam membimbing anak tiri berarti ketidakberhasilannya dalam menyesuaikan diri. Oleh karena itu, ibu tirilah yang perlu diperbaiki karena ia yang menjadi titik tumpu.

Hubungan Sekolah dan Keluarga
Orang tua memiliki peran penting dalam mendukung dan menstimulus prestasi akademik anak. Namun bukan hanya itu, orang tua juga berperan dalam menentukan aktivitas anak di luar sekolah. Apakah mereka akan mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan musik, olahraga, dan sebagainya. Pendidikan anak bukan hanya milik sekolah maupun orang tua saja. Kedua pihak dapat saling bekerja sama untuk mencapai keberhasilan anak dalam pendidikan. Orang tua mendidik anak di rumah setelah bersekolah, sekolah juga memberi pengajaran atau pendidikan yang mungkin di rumah belum diajarkan. Kedua pihak perlu saling mengetahui kondisi si anak untuk membantunya mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal (Santrock, 2011).

Anak dan orang tua bagaimanapun akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Anak sebagai generasi kedua orang tua hendaknya dididik dengan penuh cinta, kasih, dan kebijaksanaan. Orang tua harus dapat menjadi teladan anak-anaknya sedangkan anak-anak hendaknya menjadi kebanggaan orang tua mereka.

Referensi
Barus, Gendon. (2003). Memaknai Pola Pengasuhan Orang Tua pada Remaja. Jurnal Intelektual, vol.1, 151-164.
Perri, M. & Kirschenbaum, Daniel. (1982). Improving Academic Competence In Adults: A Review Of Recent Research. Journal Counseling Psychology,vol.29, 76-94.
Pohan, Imron. (1986). Masalah Anak dan Anak Bermasalah. Jakarta : Intermedia.
Santrock, J.W. (2001). Educational Psychology (5th ed.). New York: McGraw-Hill International Education.