Beban Sejarah Gerakan Mahasiswa

Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah membebaskan rakya dari penderitaan sehari-hari. Beban kita adalah membuat rakyat yang menganggur mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi yang tidak menguntungkan rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan dengan sesame generasi muda memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk menyuarakan diri. Semua ini adalah beban yang tidak ringan untuk tidak mengatakan berat sekali. Namun, pada akhirnya, berat atau ringan tetap merupakan beban kita. Sekali mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk sejarah. –Hariman Siregar-

Satu paragraph yang yang saya pikir dapat menjadi satu motivasi sekaligus pemahaman bagaimana beban sejarah ini ada di pundak para pemuda. Pemuda bukan lagi sebagai para remaja yang sekadar memikirkan diirnya sendiri. Pemuda itu tonggak negara, generasi penerus bangsa, sekaligus pengubah keterpurukan. Melihat kenyataan di masyarakat beberapa bulan terakhir ini, cukup membuat saya gigit jari. Pemuda sudah sibuk dengan berbagai masalahnya. Mulai dari mahasiswa anarki, polisi muda terjerat narkoba, hingga para pegawai muda yang korupsi. Mungkin jika negeri ini bisa bicara, ia akan meminta para pemuda ini pergi menjauhinya atau mungkin negeri ini hanya bisa menangis meratapi.

Gerakan mahasiswa sebagai sebuah gerakan yang lahir dari mahasiswa merupakan bagian dari sejarah pergolakan politik di Indonesia yang sudha berlangsung lama sejak zaman colonial Belanda. Dalam sejarah gerakna mahasiswa tercatat beberapa momentum yang dianggap momental berkaitan dengan proses perjuangan generasi bangsa menghadpai tantangn zamannya. Rudianto dalam bukunya Gerakan Mahasiswa : dalam perspektif perubahan politik nasional (2010) banyak menjabarkannya. Antara lain:
1. Tahun 1908 –Budi Oetomo, dibidani oleh mahasiswa yang kebanyakan studi di dalam negeri.
2. Tahun 1928 –Sumpah Pemuda yang dibidani oleh pra mahasiswa yang kebanyak studi di Belanda.
3. Tahun 1945 –Gerakan mahasiswa 45, berporos dari gerakan mahasiswa di asrama-asrama mahaisswa di Jakarta.
4. Tahun 1966 –Angkatan 66 Orde Baru, berporos dari kampus UI kemudian menyebar ke kampus-kampus se-Indonesia. Latar belakangnya ideologis dalam upaya pemberangusan komunis di Indonesia.
5. Tahun 1974 –gerakan anti modal asing Jepang yang disebut Malari 74. Berporos pada kampus-kampus di Jakarta dan Bandung yang melibatkan pertentangan elite militer antara pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Aspri/Waka Bakin Mayjend Alli Moertopo.
6. Tahun 1978 –gerakan perlawanan terhadap Soeharto yang disebut Gema 77/78. Berawal adari Bandung lalu menyebar ke kampus-kampus se-Indonesia. Bercirikan tidak melibatkan masyrakat luas untuk membedakan gerakan mahasiswa murni dan bukan gerakan politk praktis.
7. Tahun 1980 –gerakan mahasiswa pasca NKK/BKK berporoses dari isu di luar kampus bertema kerakyatan. Berporos di kampus-kampus hamper menyebar ke seluruh JAwa dan elibatkan masysrakat luas.
8. Tahun 1998 –gerakan mahasiswa 98 yang menumbangkan rezim Soeharto Orde Baru. Berporos di hampir seluruh kampus di seluruh tanah air, berawal di Jogjakarta dan berakhir di Jakarta.

Peran pemuda dan mahasiswa khususnya dalam perubahan politik di Indonesia bukan hal baru. Setidaknya sejak jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, pemuda sudah berperan dalam revolusi kemerdekaan Indonesia menentang penjajahan Belanda sampai kemerdekaan Indoensia tercapai. apakah hal ini berarti revolusi 1945 adalah revolusi pemuda? Dan apakah kemerdekaan Indoensia adalah kemerdekaan hasil keringat pemuda?

Mahasiswa sebagai tokoh sentral dalam percaturan negeri merupakan perpaduan yang pas dalam hal emosi dan pemikirannya. Mahasiswa mestinya memiliki keberanian untuk mendobrak kekomplekan permaslah terutama politk yang sangat menindas dan mengimpit rakyat. Keberanian inilah yang diperlukan dalam melakukan perubahan.
Hariman Siregar mengatakan bahwa selain keberanian, mahasiswa juga pelru kreatif agar gerakannya tidak monoton dan gampang dihancurkan, kreatifitas ini meliputi pemilihan isu dan bentuk respon/ aksi yang memungkinkannya mndapat simpati dan dukungan public secara luas. Spontanitas pun dibutuhkan. Gerakan mahasiswa ini bergerak berdasarkan solidaritas dan isu yang dirasakan bersama. Spontanitas ini tetap membutuhkan pemimpin dan dilakukan secara terorganisir. Selain ketiga hal tersebut, konsistensi juga menjadi penting. Sekali gerakan mahasiswa bergulir, tidak boleh terhenti karena kekuatan dan kepentingan politik manapun (Hasibuan, dkk, 2011)
Meski gerakan mahasiswa selalu menyerempet politik, namun gerakan ini tidak ersifat politik. Gerakan mahasiswa itu berdiir sendiri meski menimbulkan implikasi politik, mengubah konstelasi poliitk, bahkan mengubah kekuasaan. Namun, misi dari gerakan mahasiswa adalah lebih bersifat sosial (social movement) dengan isu lintas sektoral tidak terbatas pada politik dan kekuasaan.

Benar bahwa tugas mahasiswa ini adalah belajr dan belajar, namun coba kita renungi untuk apa kita belajar dan menuntut ilmu tinggi-tinggi? Menueut Hariman, jawabannya adalah bukan hanya untuk memenuhi ambisi oribadi atau menjadi menjadi produksi kapitalisme semata (masuk ke dalam jaringan teknostructur). Melainkan juga untuk menolong orang lain sehingga jawaban lain dari pertanyaan ini adalah obligasi moral (amar ma’ruf nahi munkar).

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Zariyat: 56)

Bila menjadi perubah adalah ibadah, bila membela rakyat adalah ibadah, dan bila kelelahan ini adlah ibadah. Biarkan aku menderita dengan ini semua, asalkan ini memang menjadi ibadahku pada-Mu. Biarkan aku melalui ini dengan sepenuh hatiku sebagai salah satu wujud ibadahku kepada-Mu. Perkenankan aku, Rabb beramar ma’ruf mani mungkar…


Depok, 17 maret 2012

sumber gambar:
smartgeneration.wordpress.com
id.wikipedia.org
muslimrap.net
suma.ui.ac.id