Muslimah : Sosok Mulia

Oh muslimah, berbahagialah..
Kau telah dilahirkannya dengan mulia
Subhanallah ….
Tuhan telah berkati wanita yang cukup ilmu rendah hati
Oh muslimah busanamu menutup rapi
Auratmu kau lindungi dengan indahnya
Oh muslimah kau rajin mengaji
Islam kau jadikan ikutan sejati

-Raihan dan nazrey johani

Ini adalah sebait nasyid yang dibawakan oleh raihan dan nazrey Johani. Nasyid ini cukup menginsiprasi saya untuk menulis betapa mulianya muslimah diciptakan. Bagi saya, sepenggal nasyid ini memiliki makna yang dalam.

Pertama, seorang muslimah ialah wanita solehah yang tidak diragukan kemuliaan akidah dan akhlaknya. Ia beribadah kepada perintah Allah dengan ketaatan yang sebenar-benarnya. Solat lima waktu, berpuasa, menundukkan pandangan, mentaati suami, bertutur kata yang baik, dan sebagainya. Muslimah juga sejatinya memiliki imu yang bermanfaat dan tetap berendah hati dengan ilmu tersebut.

Tentu kita tidak asing dengan nama Kartini, yang dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita di negeri kita ini. Kartini yang cerdas dan open mind terhadap perubahan, mampu menginisiasi gagasan besar demi perubahan wanita. Wanita di zamannya tidak seberuntung sekarang. Mereka hanya bertugas melayani suami dan mengurus anak-anak mereka. Tidak ada sekolah dan tidak ada diskusi di antara mereka. Mereka hanya bertugas melayani suami. Itu saja. Melihat kenyataan itu, Kartini tidak tinggal diam. Ia mendobrak adat di zamannya dan memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita. Tujuannya bukan ingin men-sejajar-kan kedudukan perempuan dengan laki-laki, apalagi untuk menyaingi para kaum lelaki. Kartini hanya ingin para perempuan itu berpendidikan, meningkatkan ilmu, dan kualitas dirinya. Ia menyadari bahwa perempuan sebagai pendidikan pertama bagi anak-anaknya harus memiliki ilmu yang cukup untuk mendidik keturunannya. Bagaimana bangsa ini akan maju jika generasi mudanya terbelakang, bodoh, dan tidak mendapat pendidikan intelektual serta moral dari ibunya?
Selain itu, sebagai istri, wanita juga harus cerdas mendampingi suami dan mengurus rumah tangganya.

Kedua, muslimah rapi berbusana dan menutup auratnya. Dalam QS. AL Ahzab ayat 59 dan An-Nuur ayat 31 telah dijelaskan dengan gamblang kewajiban bagi para wanita untuk menutup auratnya. Allah tidak pernah meyia-nyiakan hamba-Nya dan akan selalu ada hikmah dibalik perintah-Nya. Kenapa kita harus berjilbab? Ada banyak manfaat yang diperoleh, tentu. Salah satu manfaat dari sisi kesehatan menurut Dr Warih Andan Puspitosari, pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bahwa jilbab bisa mencegah munculnya penyakit dan kelainan pada kulit yang disebabkan oleh sinar matahari. Namun, satu-satunya alasan yang pasti adalah karena menutup aurat adalah perintah Allah. Maka, sebagai hamba yang taat, kewajiban kita adalah melaksanakan apa yang Allah perintahkan.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (QS. Al-Ahzab: 59)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur : 31)

Ketiga, muslimah menjadikan aturan Islam sebagai tuntunannya. Hanya Islam sebagai dien (sistem hidup) yang dianutnya dan Allah sebagai Tuhannya.
Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”(QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Surat ini mengukuhkan keesaan Allah. Tiada sekutu bagi-Nya, Dia-lah yang kita tuju dalam memenuhi semua kebutuhan. Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, Tiada yang menyerupai dan mampu menandingi-Nya. Konsekuensi dari semua itu adalah ikhlas beribadah kepada Allah dan ikhlas menghadap kepada-Nya saja.

Ketiga hal yang saya uraikan tersebut adalah sekelumit tentang muslimah yang mulia. Begitu agungnya seorang perempuan di mata Islam. Diperlakukan dan diposisikan secara spesial, tidak seperti zaman-zaman sebelum Islam datang. Bersyukurlah, kau muslimah…

Oh muslimah…kau yang suci,
Kecantikanmu yang sempurna,
Memandangmu menenangkan hati,
Kehormatanmu, jagalah…

Referensi :
http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/86/7 maret 2012
http://www.dakwatuna.com/2010/11/9768/tafsir-surat-al-ikhlash/7 maret 2012
http://www.uhibbukumfillah.co.cc/2009/12/manfaat-jilbab-subhanallah-ternyata.html/7 maret 2012.
http://www.youtube.com/watch?v=AAnXVDNCLEs&feature=related/7 maret 2012

Iklan