Mengabdi di Perbatasan Negeri : Pulau Wetar

Suatu hari, ketika saya dan teman saya sedang berjalan menuju perpustakaan, kami membicarakan mengenai tawaran kuliah kerja nyata (K2N) UI. Sejurus kemudian, ia bertanya pada saya, apakah saya akan ikut K2N UI juga? Serta merta saya menjawab, “Ya!” Bukan hanya itu, ia pun mempertanyakan alasan saya mengikuti K2N. Kemudian dengan bangga saya menggarisbawahi bahwa pengabdian-lah alasannya. Sebuah keinginan untuk dapat memindahkan sebagian jiwa ini di bagian-bagian lain bumi Indonesia.

Saya tertarik dengan sebuah pernyataan dari dosen saya yang mengatakan bahwa, “Jangan bilang kamu mahasiswa kalau ga pernah melakukan pengabdian dan penelitian, selain kuliah!” Menurut saya, kalimat singkat itu cukup mengena bagi saya yang merasa berperan menjadi agen perubahan, iron stock, dan moral force sebagai mahasiswa. Selain itu, hal lain yang membuat saya benar-benar mantap “mengunjungi” perbatasan negeri ini adalah keprihatinan. Kebanggaan atas kekayaan alam bangsa Indonesia yang begitu “mewah” namun, justru tidak sebanding dengan perhatian yang diberikan pemerintah.

Berawal dari keprihatinan, saya hendak memilih sebuah pulau di perbatasan yang juga cukup memprihatinkan. Pulau Wetar, namanya. Pulau ini berada di Laut Banda yang berada di sebelah utara negara Timor Leste. Tembaga dan emas juga tidak perlu diragukan kualitasnya. Sayangnya, kualitas tembaga dan emas yang baik itu, tidak cukup mampu membuat warga di pulau tersebut memiliki kesejahteraan yang berkualitas baik pula.

Masalah pendidikan, juga tak kalah memprihatinkan. Menurut info yang saya dapatkan, anak-anak sekolah terpaksa kembali pulang karena tidak ada guru yang mengajar mereka sehingga anak-anak hanya bermain dan tidak bersekolah. Jangankan menggapai cita-cita menjadi TNI, memiliki ijazah SD pun mereka tidak punya. Belum lagi, masalah infrastruktur, penerangan, air bersih, serta transportasi yang minim, menambah deretan masalah di pulau perbatasan ini.

Sinergisitas dari berbagai disiplin ilmu dituntut segera diupayakan untuk membangun Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan memberdayakan sumber daya yang ada di negeri ini secara optimal dan terus mengusahakan peningkatan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologinya. Tujuannya, tentu saja untuk mengoptimalkan sumber daya alam yang bisa diolah demi meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan bangsa Indonesia. Pembangunan dari berbagai sudut wilayah negara termasuk perbatasan pun menuntut segera direalisasikan.

Saya adalah mahasiswa psikologi yang sedikit banyak membahas dunia pendidikan dan perkembangan anak. Saya bermaksud menawarkan ide untuk memberi pengajaran tambahan bagi anak-anak dan remaja di Pulau Wetar tersebut, baik sebagai guru atau pendamping belajarnya. Menurut teori Vygotsky, seorang tokoh psikologi perkembangan, seorang anak butuh pendampingan dari orang yang lebih dewasa untuk membantu tugas-tugas yang sulit baginya. Hal ini diperlukan untuk dapat memancaing perkembangan kognisi anak agar terus berkembang dan terlatih dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan dan proses berpikirnya. Oleh karena itu , saya bermaksud membantu anak-anak di Pulau Wetar belajar membaca, menulis, berhitung, studi kasus, dan sebagainya. Ditambah dengan pengajaran materi seni dan sastra yang dapat memicu kreatifitas serta kepekaan anak-anak.

Tempat belajar yang saya bayangkan, mungkin tidak beratapkan genting kokoh, dinding halu, ruang ber-AC, maupun alas keramik yang mengkilap. Sekolah yang baru ada beberapa buah jumlahnya, jarak yang sulit dijangkau, dan fasilitas lain dalam pulau yang tidak sebaik di ibukota tentu menjadi tantangan belajar bagi para siswa dan para guru. Oleh karena itu, saya bermaksud melakukan pendampingan belajar di ruang terbuka bersama alam atau di tempat-tempat yang paling tidak memberi rasa nyaman untuk belajar. Tidak lupa akan ada juga games menarik yang menyenangkan bagi anak-anak.

Selain anak-anak, golongan remaja pun bisa ikut dalam proses belajar mengajar tambahan ini. Namun, akan sedikit dibedakan dalam hal materi dan cara pemberian materinya. Menurut Piaget, remaja memasuki tingkat perkembangan kognitif tertinggi (formal operation) saat mereka mengenbangkan kapasitas berpikir secara abstrak. Nah meskipun demikian, setiap perkembangan remaja tidak selalu pasti seperti yang dikatakan Piaget karena lagi-lagi, masalah lingkungan sekitar pun mempengaruhi perkembangan kognisi, fisik, dan psikososial seorang remaja. Penting bagi seorang guru untuk mengetahui kemampuan setiap siswa dalam berpikir dan mencerna materi yang diberikan agar tidak overload dan sia-sia belaka. Yang terpenting adalah siswa tersebut dapat melakukan “belajar” dalam arti sebenarnya. Maksudnya, seorang siswa, dapat melalui proses mental dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dan kemampuan/ hasil proses tersebut tetap melekat secara permanen.

Di samping itu, dengan minat saya pada psikologi sosial dan pengalaman berorganisasi di kampus, saya ingin menyumbang ide pembentukan sebuah kelompok atau komunitas yang concern pada upaya pembangunan berkelanjutan di Pulau Wetar. Kelompok ini terdiri dari beberapa warga yang memiliki kepedulian pada pembanguna Pulau Wetar. Siapapun warganya, boleh-boleh saja. Dari warga biasa, para ulama, para cendekiawan, hingga para petinggi pemerintahan daerah. Setelah terbentuk komunitas/ kelompok pecinta Pulau Wetar, misalnya, saya bisa membantu menyumbang ide-ide sederhana kelanjutannya. Bisa saja, mereka kemudian membuat jaringan komunikasi antara komunitas tersebut dengan pemerintah setempat, pemerintah pusat, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Harapnnya, setelah ada komunitas/ kelompok ini dapat menjadi pemicu komunitas semacamnya yang cinta dan peduli pada pembangunan Pulau Wetar hingga tercipta ledakan perubahan dari letupan-letupan komunitas kecil tersebut. Tidak ada yang mudah, namun tidak ada yang tidak mungkin bisa dicapai dengan keyakinan, usaha keras, kerja cerda, dan restu Tuhan.

Pulau Wetar ini adalah satu dari dua pulau terselatan Indonesia selain Pulau Kisar, yang masuk dalam daftar 12 pulau yang berbatasan dengan negara luar. Dua belas pulau terluar itu milik NKRI yang membutuhkan perhatian serius pemerintah dan kepedulian masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa agar kasus Sipadan-Ligitan maupun blok Ambalat tidak terulang kembali. Dengan mengikuti program K2N ini, semoga saya mampu menjadi salah satu mahasiswa yang berkontribusi dalam perbaikan negeri ini dari perbatasan.

Satu lagi pulau perbatasan yang membutuhkan perhatian, Pulau Wetar.

Iklan

Sebuah Cerpen: Kartini, dari Gelap Menuju Cahaya

Kamar itu tidak terlalu gelap. Hanya remang-remang dengan sebuah lampu teplok. Kartini tengah duduk di kamar kecil itu sambil sesekali suaranya terdengar sedu.

Kar, apa kau menangis?
Tidak, bu…

Kau jangan berpura-pura, nak. Ibu tahu kebiasaanmu

Aku sedih, bu… aku ingin keluar dari sini

Sabar ya, nduk.. romomu memang seperti itu dan adat ini sudah sejak nenek moyangmu, apalagi dia bupati di sini. Mau tidak mau harus menjaga adat, nduk..

Iya, bu.. tapi apa iya saya tidak boleh sekolah juga?
Yang diajak bicara pergi. Ia berlalu dengan nafas terbuang lirih. Hatinya nelangsa melihat suami dan anaknya bertengkar barusan.

***
Tahukah kau stela, aku merasa terkungkung di sini. aku ingin pergi ke Eropa segera. Dalam hatiku tidak pernah lepas dari keyakinan bahwa aku akan kesana. Namun, melihat kenyataan yang ada padaku sekarang, sering kali menciutkan nyaliku untuk bermimpi ke Eropa.
Sederetan kata-kata rapih ia tulis untuk sahabat penanya nan jauh di sana. Kartini dan stela sering berkirim surat dan berdiskusi dalam kertas-kertas itu. Bagi kartini, stela adalah kawan diskusi yang sungguh menarik. Banyak hal baru yang ia dapatkan termasuk kehidupan barat yang berbeda dari adat Jawanya.

Aku ingin berkunjung juga ke rumahmu, Stela. Semoga tidak ada abdi yang harus berjalan menunduk dan berbicara dengan penuh hati-hati padaku.

Sore itu, Kartini yang cerdas tengah berpamitan pada romo dan ibunya untuk berkunjung ke rumah paman. Sudah lama kiranya, ia tidak menengok paman dan bibinya di kabupaten seberang. Seusai maghrib, ada pengajian di langgar dekat rumah pamannya. Kartini menyempatkan diri untuk tetap duduk mendengarkan pengajian dari sang Kiai. Pembahasan mengenai makna Al-Quran kali ini cukup menarik perhatiannya. Selesai mengaji, ia menghampiri sang Kiai bersama pamannya, Pak Kiai, bagaimana hukumnya jika kita tahu sesuatu bahwa ada kebenaran namun tidak mau mengajarkannya pada orang lain?

Sontak sang Kiai terkejut. Memangnya ada apa raden ajeng?
Dulu aku sempat mengikuti pengajian membaca Al-Quran, namun ketika aku bertanya pada guruku tentang maknanya, ia tidak membolehkanku tahu. Lalu apa gunanya aku membaca namun tak mengerti maknanya?

Sejak saat itu, sang Kiai tekun menuliskan dan mengajarkan arti al-quran dalam bahasa Jawa kepada kartini. Kartini juga rajin mengikuti pengajian sang Kiai tersebut.

Tidak ada yang lain selain Allah yang kusembah Stela. Ia-lah Tuhanku. Semoga Allah mencurahkan rahmat untuk kerjaku. Aku hanya ingin para wanita boleh bersekolah seperti laki-laki. Karena bagaimanapun juga, perempuanlah yang akan mengajari anak-anaknya. Bila yang mengajari tidak bisa berbuat apa-apa, lalu bagaimana yang diajari?

Pelajaran Al-Quran-nya belumlah selesai hingga sang kiai meninggal dunia. Ia baru sampai pada juz 13. Namun, perasaannya sungguh terang. Ia seperti telah berpindah dari kejahiliyahan dengan hidayah yang Allah berikan.

Perasaanku tak bisa kugambarkan Stela,.. aku merasa begitu bernyawa dengan ini semua. Tiap petikan makna dari ayat dalam Quran itu mengajakku bergerak dari gelap menuju cahaya.

Depok, 13 Maret 2012

The New Generation: Asrama

Perasaan ini kembali tersentuh. Kali ini lebih dahsyat dari yang biasa. Ia bagai air yang dimasukkan lemari es, sangat dingin…bukan?

Kalau teman-teman pernah dengar kata “trenyuh” dalam bahasa Jawa, ya seperti itulah perasaan ini. Memandang kalian bernyanyi bersama di acara grand launcing malam ini, kembali membuka skema lama. Tentang FORKAT, SAHABAT, dan PMKA. Cerita kami dalam P3A, cerita kami dalam rapat, cerita kami dalam canda tawa dan debat, cerita kami dalam acara-acara meramaikan suasana asrama, dan kini kami pun tengah merindu masa-masa itu (kembali).

Malam ini, kalian terlihat begitu rapi dengan pakaian keramahan. Terlihat begitu anggun dengan senyuman, terlihat begitu manis dengan semangat berkobar, dan aku pun melihat harapan baru dalam rona wajah kalian.

Jika bisa kukatakan, dengan lantang akan ku sebarkan berita kebaikan :
Lihatlah, inilah pemuda-pemudi tangguh yang telah bersiap. Merekalah generasi baru keluarga asrama dan merekalah orang-orang yang akan paling peduli dengan asrama. Mereka bersiap menghidupkan rumah tua yang telah rapuh itu, menghidupkan bangunan tua yang sepi itu, dan bersiap memberikan keteladanan hidup bersaudara di rumah bersusun it. Asrama…

“Titip asrama ya…” pesanku pada kalian.

Sejukkan asrama dengan senyum, hidupkan ia dengan keramahan, kokohkan ia dengan persatuan, dan hangatkan ia dengan kebersamaan.
Asrama 2011! Satu Keluarga!

sumber gambar:
hongkonghustle.com
ayomasukui.com

Bukan untuk Dilamunkan

aku tersadar dari lamunanku. tiba-tiba terjaga dalam sekejap saja.
dasar bebal! kataku dalam hati.
apa kau tak mau menyadari, membuat sebuah sekolah, yayasan, atau apalah semacamnya itu tidak mudah.
lihat dia, dia berhasil membuatnya dengan apa? U-A-N-G, kerja keras, dan ilmu. mengerti? bukan dengan lamunan saja.
kataku masih memojokkan diri sendiri.

sebuah tujuan mulia, masih saja akan ada hambatannya. lihat mereka yang telah berhasil, pun masih saja terus berusaha memperbaiki dan memperbaiki. mereka tetap berusaha, tidak stagnan dan bersantai ria setelah keberhasilannya. bagi mereka, berhasil mencapai satu, belum tentu berhasil mencapai dua, tiga, empat, dan seterusnya. maka merekapun berusaha terus dan seterusnya. karena hidup ini adalah bergerak, terus bergerak, dan bergerak. bukan diam, bukan berhenti, dan bukan terpenjara dalam ke-stagnan-an.

kau boleh saja bermimpi, tapi bukan hanya untuk didiamkan. kau pikir, jika hanya mengingat dan memlamunkan mimpimu saja, ia akan terwujud dengan sendirinya? sekalipun tidak. bahkan, mereka-mereka yang tengah mengejar mimpinya pun, masih saja berlari dan memeras keringat karena belum sampai pada garis terakhir mimpi mereka.

biarkan aku bebal dengan mimpiku. biarkan aku pegang cita-citaku. dan biarkan mengistiqomahkan keinginanku hingga ia bergerak mendekat, semakin nyata.

yah, memegang mimpi, keinginan, dan cita-cita memang sulit. mengistiqomahkannya akan menjadi bagian yang lebih sulit. lantas? apa harus menyerah dan membiarkan kesulitan itu menyulitkanmu? sekalipun t-i-d-a-k.

“maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah: 8)

sumber gambar:
etamgrecek.blogspot.com