Bukan untuk Dilamunkan

aku tersadar dari lamunanku. tiba-tiba terjaga dalam sekejap saja.
dasar bebal! kataku dalam hati.
apa kau tak mau menyadari, membuat sebuah sekolah, yayasan, atau apalah semacamnya itu tidak mudah.
lihat dia, dia berhasil membuatnya dengan apa? U-A-N-G, kerja keras, dan ilmu. mengerti? bukan dengan lamunan saja.
kataku masih memojokkan diri sendiri.

sebuah tujuan mulia, masih saja akan ada hambatannya. lihat mereka yang telah berhasil, pun masih saja terus berusaha memperbaiki dan memperbaiki. mereka tetap berusaha, tidak stagnan dan bersantai ria setelah keberhasilannya. bagi mereka, berhasil mencapai satu, belum tentu berhasil mencapai dua, tiga, empat, dan seterusnya. maka merekapun berusaha terus dan seterusnya. karena hidup ini adalah bergerak, terus bergerak, dan bergerak. bukan diam, bukan berhenti, dan bukan terpenjara dalam ke-stagnan-an.

kau boleh saja bermimpi, tapi bukan hanya untuk didiamkan. kau pikir, jika hanya mengingat dan memlamunkan mimpimu saja, ia akan terwujud dengan sendirinya? sekalipun tidak. bahkan, mereka-mereka yang tengah mengejar mimpinya pun, masih saja berlari dan memeras keringat karena belum sampai pada garis terakhir mimpi mereka.

biarkan aku bebal dengan mimpiku. biarkan aku pegang cita-citaku. dan biarkan mengistiqomahkan keinginanku hingga ia bergerak mendekat, semakin nyata.

yah, memegang mimpi, keinginan, dan cita-cita memang sulit. mengistiqomahkannya akan menjadi bagian yang lebih sulit. lantas? apa harus menyerah dan membiarkan kesulitan itu menyulitkanmu? sekalipun t-i-d-a-k.

“maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah: 8)

sumber gambar:
etamgrecek.blogspot.com