Sebuah Cerpen: Kartini, dari Gelap Menuju Cahaya

Kamar itu tidak terlalu gelap. Hanya remang-remang dengan sebuah lampu teplok. Kartini tengah duduk di kamar kecil itu sambil sesekali suaranya terdengar sedu.

Kar, apa kau menangis?
Tidak, bu…

Kau jangan berpura-pura, nak. Ibu tahu kebiasaanmu

Aku sedih, bu… aku ingin keluar dari sini

Sabar ya, nduk.. romomu memang seperti itu dan adat ini sudah sejak nenek moyangmu, apalagi dia bupati di sini. Mau tidak mau harus menjaga adat, nduk..

Iya, bu.. tapi apa iya saya tidak boleh sekolah juga?
Yang diajak bicara pergi. Ia berlalu dengan nafas terbuang lirih. Hatinya nelangsa melihat suami dan anaknya bertengkar barusan.

***
Tahukah kau stela, aku merasa terkungkung di sini. aku ingin pergi ke Eropa segera. Dalam hatiku tidak pernah lepas dari keyakinan bahwa aku akan kesana. Namun, melihat kenyataan yang ada padaku sekarang, sering kali menciutkan nyaliku untuk bermimpi ke Eropa.
Sederetan kata-kata rapih ia tulis untuk sahabat penanya nan jauh di sana. Kartini dan stela sering berkirim surat dan berdiskusi dalam kertas-kertas itu. Bagi kartini, stela adalah kawan diskusi yang sungguh menarik. Banyak hal baru yang ia dapatkan termasuk kehidupan barat yang berbeda dari adat Jawanya.

Aku ingin berkunjung juga ke rumahmu, Stela. Semoga tidak ada abdi yang harus berjalan menunduk dan berbicara dengan penuh hati-hati padaku.

Sore itu, Kartini yang cerdas tengah berpamitan pada romo dan ibunya untuk berkunjung ke rumah paman. Sudah lama kiranya, ia tidak menengok paman dan bibinya di kabupaten seberang. Seusai maghrib, ada pengajian di langgar dekat rumah pamannya. Kartini menyempatkan diri untuk tetap duduk mendengarkan pengajian dari sang Kiai. Pembahasan mengenai makna Al-Quran kali ini cukup menarik perhatiannya. Selesai mengaji, ia menghampiri sang Kiai bersama pamannya, Pak Kiai, bagaimana hukumnya jika kita tahu sesuatu bahwa ada kebenaran namun tidak mau mengajarkannya pada orang lain?

Sontak sang Kiai terkejut. Memangnya ada apa raden ajeng?
Dulu aku sempat mengikuti pengajian membaca Al-Quran, namun ketika aku bertanya pada guruku tentang maknanya, ia tidak membolehkanku tahu. Lalu apa gunanya aku membaca namun tak mengerti maknanya?

Sejak saat itu, sang Kiai tekun menuliskan dan mengajarkan arti al-quran dalam bahasa Jawa kepada kartini. Kartini juga rajin mengikuti pengajian sang Kiai tersebut.

Tidak ada yang lain selain Allah yang kusembah Stela. Ia-lah Tuhanku. Semoga Allah mencurahkan rahmat untuk kerjaku. Aku hanya ingin para wanita boleh bersekolah seperti laki-laki. Karena bagaimanapun juga, perempuanlah yang akan mengajari anak-anaknya. Bila yang mengajari tidak bisa berbuat apa-apa, lalu bagaimana yang diajari?

Pelajaran Al-Quran-nya belumlah selesai hingga sang kiai meninggal dunia. Ia baru sampai pada juz 13. Namun, perasaannya sungguh terang. Ia seperti telah berpindah dari kejahiliyahan dengan hidayah yang Allah berikan.

Perasaanku tak bisa kugambarkan Stela,.. aku merasa begitu bernyawa dengan ini semua. Tiap petikan makna dari ayat dalam Quran itu mengajakku bergerak dari gelap menuju cahaya.

Depok, 13 Maret 2012

Iklan