Ah, Kau Sudah Besar Nak!

aku melihatnya (lagi). untuk kesekian kali, mungkin. tanpa sadar. matanya penuh makna. meski ia tak bicara.
ah, kau sudah besar, Nak! dewasa tepatnya. perawakanmu tinggi, meski jangkung. rambutmu gondrong dan terlihat lebih kumal. mungkin kau terlalu berlama-lama disengat sinar matahari.

yah, kau sudah tidak lagi seperti anakku di beberapa tahun lalu. kau tak lagi merah merona. kau tak lagi pepat pipinya. pun kau tak lagi gendut badannya.

ah..kau sudah tak kecil lagi, Nak! bukankah kau sudah punya cara pandang sendiri? kau pun telah memilih jalan itu. kau punya cara bersikap yang berbeda sekarang. apa kau berubah? kuharap tidak… namun, jikalau kau pun berubah karena Tuhanmu dan itu lebih bahagia untukmu, terserahlah kau. aku hanya ibu yang tak mengerti banyak tentang hidup ini. apalagi hidupmu yang kini. hidupmu kini yang penuh dnegan ilustrasi. hidupmu kini yang penuh dengan tanya dan sastra.

berpolitik dalam sastra. bersinkronisasi bersama rasa. berempati dengan psikologi. merangkai simbiosis dalam sosiologi. bersinergi dengan hukum. ah..kau telah terlampau jauh dariku, Nak! kau terlalu luar biasa. apa kau berubah dengan ilmu-ilmu itu, Nak? kuharap tidak…

kau kini telah menjadi orang terpandang di negeri ini. berdiskusi. berargumentasi. beretorika. bernarasi. dan berpakaian dasi pun menjadi menu wajibmu. apa kau masih seperti dulu, Nak? yang lugu, bersahaja, berefleksi penuh makna, berdialog dengan kaum dhuafa, bersendau gurau dengan kaum papa. dan memijat kakiku setiap malamnya. apa kau berubah, Nak? kuharap tidak…

kau anakku, Nak! tetaplah menjadi anakku, seperti dulu. anakku yang kubanggakan dengan kesetiaan dan kecintaan pada Sang Pencipta. anakku yang penuh penghargaan dan penghormatan pada yang lebih tua. anakku yang bersopan santun dan tersenyum ceria pada saudara-saudaranya.

tetaplah menjadi anakku, Nak! yang penuh cinta dna kerja sama…

sumber gambar:
nuepoel.wordpress.com
sabdho.wordpress.com