Dunia

ahhh… dunia,
keu membuatku tak mengerti apa ini
bagaimana aku bisa mengendalikannya
hingga degup jantung ini bisa surut seketika

ahh… dunia,
kau memang bukan nirwana
namun mengapa beri sentuhan padaku
yang terlampau indah ini

bukankah aku milik-Nya?
mengapa masih ku bimbang dalam malam dan diam

banyak yang indah
banyak yang menarik hati
namun, apa jalanku?
biarkan kutempuh dalam gelap dan terang
biarkan kuselami dalam tangis dan haru

aku hanya ingin Kau tunjukkan kujalan
jalan yang benar
jalan apa yang harus kuterjang

ahhh… dunia,
kau terlalu manis untuk dikenang.

temaramlah sinarmu
padamlah terangmu
biarkan aku gelap
biarkan aku terdiam
dalam renungan…
sejenak.

gambar bisa diliat di sini

Iklan

Berhasil menjadi Pemimpin, Berhasil Melatih Diri

Oleh : Fatin Rohmah NW, 1006663972

 

Menengok sejarah negara Indonesia hingga kondisi saat ini, ada semacam paradoks yang terjadi. Dulu, negeri ini sempat menjadi negeri makmur terhormat hingga dijuluki macan Asia. Seiring berkembangnya zaman, Indonesia seolah tenggelam dan kehilangan seluruh atribut itu. Kini, bangsa kita terpuruk dengan merajalelanya kemiskinan, kriminalitas, hingga korupsi. Pada masa Soekarno dan Soeharto Indonesia dapat dikatakan “berjaya”, sedangkan masa SBY kini dikatakan terpuruk. Baik Soekarno, Soeharto, dan SBY adalah contoh pemimpin yang memiliki karakteristik masing-masing, dengan zaman masing-masing dan pencapaian keberhasilan kepemimpinan masing-masing. Lalu, apa yang membuat seorang pemimpin berhasil dalam kepemimpinannya? Apa karena karakteristik bawaannya atau karena latihan pembentukan dirinya?

Saya setuju bahwa pemimpin dapat berhasil dalam kepemimpinannya karena latihan dalam membentuk dirinya menjadi seorang pemimpin yang berhasil. Dengan kata lain, pemimpin yang berhasil sebenarnya dapat dibentuk, diusahakan, dilatih, dan dikembangkan, bukan hanya karena karakteristik bawaannya.

Timpe (1987) mendefinisikan kepemimpinan sebagai sebuah seni mempengaruhi dan mengarahkan orang lain dengan cara kepatuhan, kepercayaan, hormat, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. Sejalan dengan itu, Anoraga (1992) menyatakan kepemimpinan sebagai kemampuan seseorang mempengaruhi pihak lain, melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung untuk menggerakan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran, dan senang hati bersedia mengikuti kehendak pemimpin. Mendukung hal tersebut, Aamodt (2010) mengungkapkan kepemimpinan yang baik adalah hasil interaksi di antara tipe perilaku tertentu dan particular aspects dalam situasi tertentu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain dalam mencapai suatu tujuan melalui interaksi tertentu.

Sebuah organisasi atau kelompok akan membutuhkan pemimpin untuk menjalankan fungsi kepemimpinan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Perspektif kepribadian berasumsi bahwa keberhasilan kelompok mencapai tujuannya bergantung pada sifat-sifat bawaan (traits) pemimpin. Great person theory menyatakan bahwa untuk menjadi pemimpin yang berhasil, seseorang harus mencontoh kepribadian dan perilaku para pemimpin hebat (Seters & Field dalam Sarwono & Meinarno, 2009).

Berbeda dengan pernyataan Seters dan Field, Anoraga (1992) menyatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuannya dalam mempengaruhi pihak lain untuk mencapai tujuannya. Pemimpin harus bisa menguasai seni atau teknik melakukan tindakan-tindakan seperti memberi perintah, memberikan teguran, memperkuat identitas kelompoknya, dan sebagainya. Timpe (1987) pun mengatakan bahwa pemimpin dapat ditumbuhkan dengan mengerti potensi dan keterbatasan mereka. Efektifitas pemimpin ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain kompetensi, pendekatan pribadi, dan manajemen dalam menangani orang.

Pandangan lain yang sejalan muncul dari perspektif perilaku situasional. Sarwono dan Meinarno (2009) menjelaskan, keberhasilan seseorang dalam memimpin kelompoknya mencapai sebuah tujuan bukan hanya bergantung pada karakteristiknya, tetapi lebih kepada interaksi pemimpin dengan kondisi sosial, kultur, dan konteks kelompok. Perspektif ini lebih berfokus pada perilaku yang diperlihatkan pemimpin, bukan pada sifat bawaannya. Semua orang dapat menjadi pemimpin jika mau mempelajari kelompoknya dan mengembangkan perilakunya sesuai situasi kelompok.

Perspektif proses kelompok pun menyatakan bahwa karakteristik bawaan pemimpin tidak menjamin keberhasilan seorang pemimpin. Dalam hal ini, faktor kelompok juga harus dipertimbangkan, yaitu hubungan pemimpin dan pengikut, identitas sosial dan prototipe kelompok, serta jenis karakteristik kepemimpinan  transaksional dan transformasional (Sarwono & Meinarno, 2009). Kemampuan komunikasi yang baik dan saluran komunikasi yang tetap terbuka pada kelompok, diperlukan setiap saat agar kelompok merasa terpuaskan. Pemimpin yang efektif mampu mempengaruhi karyawan karena ia memiliki pengetahuan tentang perilaku karyawan dan hal-hal yang mendasarinya (Kanungo, dkk dalam Winoto & Graito, 2008). Konsep kepemimpinan transaksional dan transformasional yang berbeda secara konseptual, dapat muncul pada seseorang dengan jumlah dan intensitas berbeda, namun saling melengkapi (Bass dalam Winoto & Graito, 2008). Pola perilaku dalam kepemimpinan transaksional menekankan antara pertukaran imbalan dengan unjuk kerja (Winoto & Graito, 2008). Sedangkan kepemimpinan transformasional menekankan pada proses membangun kesadaran bawahan akan pentingnya nilai kerja, meningkatkan kebutuhan melampaui minat pribadi, dan mendorong perusahaan ke arah kepentingan bersama (Wutun, dalam Winoto & Graito, 2008). Walaupun kepemimpinan transformasional dapat memperbesar efektivitas kepemimpinan transaksional, peran kepemimpinan transformasional bukan untuk menggantikan kepemimpinan transaksional (Wutun, dalam Winoto & Graito, 2008).

Sebuah penelitian mengindikasikan bahwa 17% (Ilies, dkk dalam Aamodt, 2010) hingga 30% (Arvey, dkk dalam Aamodt, 2010) kemunculan menjadi pemimpin memiliki dasar genetika.  Artinya “gen kepemimpinan” tidak terlalu kuat mempengaruhi kemunculan pemimpin. Dalam Aamodt (2010) dijelaskan beberapa hasil penelitian berikut yang mendukung hal tersebut. Yaitu, (1) Seseorang yang memiliki keterbukaan, kehati-hatian, dan extraversion yang tinggi serta memiliki neuroticism yang lebih rendah, akan lebih mungkin muncul menjadi pemimpin daripada yang lain. (2) Seseorang yang mengadaptasi perilaku dan situasi sosial mereka dengan lebih baik, akan lebih mungkin muncul menjadi pemimpin daripada yang tidak. (3) Seseorang yang lebih intelligent, lebih mungkin muncul menjadi pemimpin daripada yang intelligentnya rendah. (4) Pola kemampuan individu lebih dapat diandalkan daripada sifat-sifat individu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya ciri-ciri spesifik, jarang terkait dengan munculnya sifat pemimpin karena perilaku kepemimpinan memiliki beberapa stabilitas (Law dalam Aamodt, 2010). Mungkin kita memiliki teman yang selalu menjadi pemimpin dalam setiap kesempatan. Misalnya, ia berhasil mempengaruhi orang lain dalam kelompok untuk melihat film tertentu yang ia suka, ia membuat keputusan kelompok untuk menentukan pukul berapa akan makan siang bersama, dan ia menentukan pembagian kerja dalam tugas kelompoknya. Sebaliknya, kita juga mungkin memiliki teman yang belum pernah mendapat peran kepemimpinan dalam hidupnya dan hanya menjadi pengikut saja. Dengan demikian, tampak bahwa beberapa orang secara konsisten muncul sebagai pemimpin dalam berbagai situasi sementara yang lain tidak pernah muncul sebagai pemimpin. Aamodt (2010) menyatakan bahwa motivasi seseorang dapat lebih mempengaruhinya menjadi pemimpin daripada sekadar melihat karakteristik bawaan yang dimiliki pemimpin.

Dalam analisis jabatan yang dilakukan Maryland Departement of Transportation, Cooper, dkk (dalam Aamodt 2010) menemukan beberapa kemampuan yang esensial bagi seorang pemimpin, antara lain sebagai berikut : organizing, analysis and decision making, planning, communication, delegation, carefulness, integrity, development others, listening, interpersonal skill, job knowledge, and high quality work. Anaroga (1992) menambahkan, pemimpin hendaknya dapat berinisiatif dan aktif sebagai penggerak, mengetahui seluk beluk dan kedudukan kelompok, dapat menjadi panutan, mampu membawa aspirasi anggota dan menghubungkannya menuju putusan bersama, mampu mengontrol kemajuan kelompok, bijaksana, dan mampu menjaga keharmonisan kelompok. Senada dengan hal tersebut, Tannenbaum dan Schmidt (dalam Purnama, 2005) menemukan hasil penelitian lain yang menunjukkan karakteristik pemimpin yang efektif meliputi: 1) mengembangkan, melatih, dan mengayomi bawahan, 2) berkomunikasi secara efektif dengan bawahan, 3) memberi informasi kepada bawahan mengenai apa yang diharapkan perusahaan dari mereka, 4) menetapkan standar hasil kerja yang tinggi, 5) mengenali bawahan beserta kemampuannya, 6) memberi peranan kepada para bawahan dalam proses pengambilan keputusan, 7) selalu memberi informasi kepada bawahan mengenai kondisi perusahaan, 8) waspada terhadap kondisi moral perusahaan dan selalu berusaha untuk meningkatkannya, 9) bersedia melakukan perubahan dalam melakukan sesuatu, dan 10) menghargai prestasi bawahan.

 

Dalam Aamodt (2010), sebuah teori behavioral diajukan oleh Yulk, dkk setelah melakukan observasi terhadap ribuan pemimpin di berbagai situasi. Teori ini menyebutkan bahwa para pemimpin yang berhasil, melakukan hal-hal berikut : menginisiasi ide, berinteraksi secara informal dengan bawahan, mendukung bawahan, bertanggung jawab, mengembangkan suasana kelompok, mengorganir pekerjaan, berkomunikasi secara formal dengan bawahan, menggunakan reward and punishment, menetapkan tujuan, membuat keputusan, melatih dan mengembangkan kemampuan pekerja, menyelesaikan masalah, dan membangkitkan antusias kelompok. Adanya penelitian ini membuktikan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari. Perilaku dan kemampuan seorang pemimpin dalam membentuk kepemimpinan yang efektif pun dapat diidentifikasi sehingga setiap orang dapat belajar atau dilatih menjadi pemimpin yang baik. Didukung oleh meta-analisis dari Youngjohn dan Woehr (dalam Aamodt, 2010) yang menyatakan bahwa kemampuan manajemen, pengambilan keputusan, dan komunikasi oral berkorelasi tinggi pada efektifitas kepemimpinan. Perilaku pemimpin yang mahir dalam kemampuan tersebut lebih dapat mempengaruhi anggota kelompoknya dan membawa keberhasilan kelompok.

Program-program pelatihan kepemimpinan untuk menjadi pemimpin yang berhasil, ditemukan di beberapa jenjang pendidikan dan lembaga-lembaga yang memiliki visi creating leader. Hal ini semakin mendukung bahwa menjadi pemimpin itu dapat dilatih dan diusahakan. Purnama (2005) menegaskan bahwa menjadi pemimpin yang efektif tidak bisa terjadi seketika, namun membutuhkan proses panjang. Menyadari hal itu, banyak organisasi membuat perencanaan suksesi dan pendidikan-latihan khusus untuk memperoleh figur pemimpin yang memenuhi kapabilitas.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pemimpin itu tidak terlahir dan tidak membutuhkan karakteristik bawaan tertentu. Yang lebih penting adalah berusaha melatih diri dan memotivasi diri menjadi pemimpin yang  berperilaku sesuai dengan situasi dan kelompoknya. Orang dapat belajar dan mengembangkan kepemimpinan yang efektif, mirip seperti belajar keterampilan lainnya. Namun, memang usaha tersebut memutuhkan usaha yang mendalam dan berkelanjutan.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Aamodt. (2010). Industrial/organizational psychology (6th ed.). Canada : Nelson Education, Ltd

Anoraga, P. (1992). Psikologi kepemimpinan. Jakarta : Rineka Cipta

Purnama, N. (2005). Kepemimpinan organisasi masa depan : Konsep dan strategi keefektifan. Jurnal Siasat Bisnis,115-129. Retrieved from http://journal.uii.ac.id/index.php/JSB/article/viewFile/973/882/diunduh pada tanggal 15 Desember 2011

Sarwono, S & Meinarno, E. (2009). Psikologi sosial. Jakarta: Salemba Humanika

Timpe, D. (1987). Kepemimpinan : Seri ilmu dan seni manajemen bisnis. New York : KEND Publishing, Inc.

Winato, P & Graito, I. (2008). Analisis interaksi motivasi kerja karyawan perusahaan keluarga X dan kepemimpinan generasi penerus yang dipersepsikan karyawan. Jurnal Psikologi Sosial,14,65-80

Hmm.. gini ya rasanya punya rumah? :D

Hmm.. ya ini adalah sebuah ungkapan “gado-gado” yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. mungkin karena aku yang belum banyak bermain dengan ungakapn kata..:p

satu hal, yang baru dalam duniaku adalah tinggal bersama teman-teman di sebuah rumah kontrakan. ya, baru semester 4 tahun ini aku pindah ke rumah kontrakan ini. kau tau dimana tempatnya? di daerah kukusan kelurahan, beji, depok. kau tau siapa saja yang menghuni? ya aku tentunya, nia dari sastra arab, sulis dari fasilkom, rasyidah dari fe, dan meli dari fe juga. kami semua seangkatan. kau tau apa naman rumah kontrakan kami? “Shahabiyah”. bagus bukan? semoga ini menjadi doa agar penghuninya pun menjadi para sahabat Nabi 🙂 meski tidak dunia, semoga sempat bersanding di akhirat kelak…

kau tau apa saja aktivitas kami? layaknya ibu rumah tangga, layaknya mahasiswa yang berkuliah, layaknya sahabat yang saling mengingatkan, layaknya lawan diskusi, layaknya partner kerja, layaknya rival kompetisi, layaknya pelancong yang ingin berkeliling dunia, layaknya turis yang gemar makan-makanan baru, dan layaknya pemuda yang ingin menjadi agen Islam di UI, keluarga, hingga dunia. 😀

hmm..gini to rasanya punya rumah?
kadang kamar berantakan, ruang tamu berserakan buku, dapur kotor sisa masakan, dan sebagainya. tapi entah, aku rasa tidak jadi masalah semua itu…

kau tahu kenapa? karena aku merasa sepadan dengan mereka. kmai tidak saling menggurui, tidak saling mengalahkan, tidak saling mencaci, tidak saling bermusuhan, tidak saling iri, apalagi dendam. semua dibicarakan dengan cara baik-baik dan disampaikan dengan cara yang terbaik. kuncinya satu, untuk kebaikan bersama. alsannya satu, karena kami saling menyayangi… 🙂

kutulis sebuah sajak untuk kawan-kawanku, di rumah Shahabiyah…

rumah kami ini bukan basa-basi
rumah kami ini bukan hanya tempat berlindung dan beristirahat
rumah kami ini bukan cuma tempat penampungan,
karena
rumah kami adalah tempat berbenah diri
tempat berbenah hati
tempat saling berbagi
tempat bekerja sama dalam kompetisi

ya, rumah kita kawan…
dalam rumah ini,
semoga semakin diberkahi
semoga semakin menjadi produktif
🙂

lovely,
fatin nw

hmm… jadi pengen punya rumah sendiri bersama keluarga sendiri. :p #upss!

Sejenak, Doa


bolehkah aku sejenak merenung?
memanjakan diri atau lebih tepatnya mendekatkan diri pada kesenangan, yaitu bermunajat kepada-Mu…
Rabbi, bila hati ini selalu kelu memohon kepada-Mu, apa artinya?
bila dada ini selalu sesak tanpa menyebut nama-Mu, apa maknanya?
bila aku selalu sedih tanpa perhatian dan tergelincir tak memperhatikan-Mu, apa artinya?

dosa ini, Rabbi… hingga tak kuasa aku katakan,. bahkan sekadar aku hitung pun aku tak kuasa, sungguh…
menerpa hawa dingin malam saja aku tak sanggup
membasahi air dengan wudlu setiap saat pun aku tak sabar
apa lagi yang patut kuharapkan dengan amal ini?
namun, Rabbi.. siapa lagi yang akan mengasihaniku selain Engkau?
siapa lagi yang dapat kusandarkan dan kuharapkan kasihnya selain Engkau?

izinkan aku menyapamu dan mengingatmu dengan setitik kemampuanku ini, Rabbi..
semaikanlah cinta ini pada-Mu
suburkanlah cinta ini,..Rabbi

Bukan Perpisahan Sebenarnya

senja di lubuk hati mulai mengikis,
ia bergeser perlahan menutup jingga.
aku teringat kau, sahabatku.
yang mungkin kini sudah tak lagi bersamaku.

kau tahu? aku merasa cemburu
kau dan aku kini harus rela dipisahkan
kita harus bergerak dengan cara kita masing-masing
karena tidak ada lagi label atas sebuah golongan di antara kita.
tenanglah,
aku tahu bahwa diriku ini masih mencintaimu
pun terlebih aku, yang paham bahwa kau juga pasti mencintaiku
namun apatah daya bila kini jalan yang kita tempuh mulai menemui onak duri
mulai berguncang dan harus dileraikan.

ah, sahabatku, massihkah kau ingat?
jalan dakwah ini mengajarkan kita ketegaran,
mengajarkan kita tentang pentingnya menguatkan barisan,
dan pastinya mengajarkan kita akan makna kesungguhan.
jalan yang kita tempuh ini tidak mudah,
tidak sembarang pula orang yang mau mengembannya.
berbahagialah jika kau dan semoga aku, masih berada dalam jalan berliku ini.

tidak ada tempat bagi mereka yang lalai,
tidak ada kesempatan bagi mereka yang tak mau bergerak
karena sejatinya, sejak awal pun kita telah diperingatkan bahwa bukan Allah yang membutuhkan kita
namun kita yang membutuhkan Allah dalam menjalankan peran kita di bumi ini..

bergerak atau tergantikan!
tetaplah berjuang saudaraku, dalam kepahaman ilmu, keikhlasan, dan ketaatan pada Allah.
mari, bercita-cita menikmati keindahan syurga
bersama…
perpisahan ini bukan akhir perjuangan,
sampai bertemu di jannah-Nya..

sumber gambar:
sayunya.blogspot.com