Berhasil menjadi Pemimpin, Berhasil Melatih Diri

Oleh : Fatin Rohmah NW, 1006663972

 

Menengok sejarah negara Indonesia hingga kondisi saat ini, ada semacam paradoks yang terjadi. Dulu, negeri ini sempat menjadi negeri makmur terhormat hingga dijuluki macan Asia. Seiring berkembangnya zaman, Indonesia seolah tenggelam dan kehilangan seluruh atribut itu. Kini, bangsa kita terpuruk dengan merajalelanya kemiskinan, kriminalitas, hingga korupsi. Pada masa Soekarno dan Soeharto Indonesia dapat dikatakan “berjaya”, sedangkan masa SBY kini dikatakan terpuruk. Baik Soekarno, Soeharto, dan SBY adalah contoh pemimpin yang memiliki karakteristik masing-masing, dengan zaman masing-masing dan pencapaian keberhasilan kepemimpinan masing-masing. Lalu, apa yang membuat seorang pemimpin berhasil dalam kepemimpinannya? Apa karena karakteristik bawaannya atau karena latihan pembentukan dirinya?

Saya setuju bahwa pemimpin dapat berhasil dalam kepemimpinannya karena latihan dalam membentuk dirinya menjadi seorang pemimpin yang berhasil. Dengan kata lain, pemimpin yang berhasil sebenarnya dapat dibentuk, diusahakan, dilatih, dan dikembangkan, bukan hanya karena karakteristik bawaannya.

Timpe (1987) mendefinisikan kepemimpinan sebagai sebuah seni mempengaruhi dan mengarahkan orang lain dengan cara kepatuhan, kepercayaan, hormat, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. Sejalan dengan itu, Anoraga (1992) menyatakan kepemimpinan sebagai kemampuan seseorang mempengaruhi pihak lain, melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung untuk menggerakan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran, dan senang hati bersedia mengikuti kehendak pemimpin. Mendukung hal tersebut, Aamodt (2010) mengungkapkan kepemimpinan yang baik adalah hasil interaksi di antara tipe perilaku tertentu dan particular aspects dalam situasi tertentu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain dalam mencapai suatu tujuan melalui interaksi tertentu.

Sebuah organisasi atau kelompok akan membutuhkan pemimpin untuk menjalankan fungsi kepemimpinan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Perspektif kepribadian berasumsi bahwa keberhasilan kelompok mencapai tujuannya bergantung pada sifat-sifat bawaan (traits) pemimpin. Great person theory menyatakan bahwa untuk menjadi pemimpin yang berhasil, seseorang harus mencontoh kepribadian dan perilaku para pemimpin hebat (Seters & Field dalam Sarwono & Meinarno, 2009).

Berbeda dengan pernyataan Seters dan Field, Anoraga (1992) menyatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuannya dalam mempengaruhi pihak lain untuk mencapai tujuannya. Pemimpin harus bisa menguasai seni atau teknik melakukan tindakan-tindakan seperti memberi perintah, memberikan teguran, memperkuat identitas kelompoknya, dan sebagainya. Timpe (1987) pun mengatakan bahwa pemimpin dapat ditumbuhkan dengan mengerti potensi dan keterbatasan mereka. Efektifitas pemimpin ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain kompetensi, pendekatan pribadi, dan manajemen dalam menangani orang.

Pandangan lain yang sejalan muncul dari perspektif perilaku situasional. Sarwono dan Meinarno (2009) menjelaskan, keberhasilan seseorang dalam memimpin kelompoknya mencapai sebuah tujuan bukan hanya bergantung pada karakteristiknya, tetapi lebih kepada interaksi pemimpin dengan kondisi sosial, kultur, dan konteks kelompok. Perspektif ini lebih berfokus pada perilaku yang diperlihatkan pemimpin, bukan pada sifat bawaannya. Semua orang dapat menjadi pemimpin jika mau mempelajari kelompoknya dan mengembangkan perilakunya sesuai situasi kelompok.

Perspektif proses kelompok pun menyatakan bahwa karakteristik bawaan pemimpin tidak menjamin keberhasilan seorang pemimpin. Dalam hal ini, faktor kelompok juga harus dipertimbangkan, yaitu hubungan pemimpin dan pengikut, identitas sosial dan prototipe kelompok, serta jenis karakteristik kepemimpinan  transaksional dan transformasional (Sarwono & Meinarno, 2009). Kemampuan komunikasi yang baik dan saluran komunikasi yang tetap terbuka pada kelompok, diperlukan setiap saat agar kelompok merasa terpuaskan. Pemimpin yang efektif mampu mempengaruhi karyawan karena ia memiliki pengetahuan tentang perilaku karyawan dan hal-hal yang mendasarinya (Kanungo, dkk dalam Winoto & Graito, 2008). Konsep kepemimpinan transaksional dan transformasional yang berbeda secara konseptual, dapat muncul pada seseorang dengan jumlah dan intensitas berbeda, namun saling melengkapi (Bass dalam Winoto & Graito, 2008). Pola perilaku dalam kepemimpinan transaksional menekankan antara pertukaran imbalan dengan unjuk kerja (Winoto & Graito, 2008). Sedangkan kepemimpinan transformasional menekankan pada proses membangun kesadaran bawahan akan pentingnya nilai kerja, meningkatkan kebutuhan melampaui minat pribadi, dan mendorong perusahaan ke arah kepentingan bersama (Wutun, dalam Winoto & Graito, 2008). Walaupun kepemimpinan transformasional dapat memperbesar efektivitas kepemimpinan transaksional, peran kepemimpinan transformasional bukan untuk menggantikan kepemimpinan transaksional (Wutun, dalam Winoto & Graito, 2008).

Sebuah penelitian mengindikasikan bahwa 17% (Ilies, dkk dalam Aamodt, 2010) hingga 30% (Arvey, dkk dalam Aamodt, 2010) kemunculan menjadi pemimpin memiliki dasar genetika.  Artinya “gen kepemimpinan” tidak terlalu kuat mempengaruhi kemunculan pemimpin. Dalam Aamodt (2010) dijelaskan beberapa hasil penelitian berikut yang mendukung hal tersebut. Yaitu, (1) Seseorang yang memiliki keterbukaan, kehati-hatian, dan extraversion yang tinggi serta memiliki neuroticism yang lebih rendah, akan lebih mungkin muncul menjadi pemimpin daripada yang lain. (2) Seseorang yang mengadaptasi perilaku dan situasi sosial mereka dengan lebih baik, akan lebih mungkin muncul menjadi pemimpin daripada yang tidak. (3) Seseorang yang lebih intelligent, lebih mungkin muncul menjadi pemimpin daripada yang intelligentnya rendah. (4) Pola kemampuan individu lebih dapat diandalkan daripada sifat-sifat individu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya ciri-ciri spesifik, jarang terkait dengan munculnya sifat pemimpin karena perilaku kepemimpinan memiliki beberapa stabilitas (Law dalam Aamodt, 2010). Mungkin kita memiliki teman yang selalu menjadi pemimpin dalam setiap kesempatan. Misalnya, ia berhasil mempengaruhi orang lain dalam kelompok untuk melihat film tertentu yang ia suka, ia membuat keputusan kelompok untuk menentukan pukul berapa akan makan siang bersama, dan ia menentukan pembagian kerja dalam tugas kelompoknya. Sebaliknya, kita juga mungkin memiliki teman yang belum pernah mendapat peran kepemimpinan dalam hidupnya dan hanya menjadi pengikut saja. Dengan demikian, tampak bahwa beberapa orang secara konsisten muncul sebagai pemimpin dalam berbagai situasi sementara yang lain tidak pernah muncul sebagai pemimpin. Aamodt (2010) menyatakan bahwa motivasi seseorang dapat lebih mempengaruhinya menjadi pemimpin daripada sekadar melihat karakteristik bawaan yang dimiliki pemimpin.

Dalam analisis jabatan yang dilakukan Maryland Departement of Transportation, Cooper, dkk (dalam Aamodt 2010) menemukan beberapa kemampuan yang esensial bagi seorang pemimpin, antara lain sebagai berikut : organizing, analysis and decision making, planning, communication, delegation, carefulness, integrity, development others, listening, interpersonal skill, job knowledge, and high quality work. Anaroga (1992) menambahkan, pemimpin hendaknya dapat berinisiatif dan aktif sebagai penggerak, mengetahui seluk beluk dan kedudukan kelompok, dapat menjadi panutan, mampu membawa aspirasi anggota dan menghubungkannya menuju putusan bersama, mampu mengontrol kemajuan kelompok, bijaksana, dan mampu menjaga keharmonisan kelompok. Senada dengan hal tersebut, Tannenbaum dan Schmidt (dalam Purnama, 2005) menemukan hasil penelitian lain yang menunjukkan karakteristik pemimpin yang efektif meliputi: 1) mengembangkan, melatih, dan mengayomi bawahan, 2) berkomunikasi secara efektif dengan bawahan, 3) memberi informasi kepada bawahan mengenai apa yang diharapkan perusahaan dari mereka, 4) menetapkan standar hasil kerja yang tinggi, 5) mengenali bawahan beserta kemampuannya, 6) memberi peranan kepada para bawahan dalam proses pengambilan keputusan, 7) selalu memberi informasi kepada bawahan mengenai kondisi perusahaan, 8) waspada terhadap kondisi moral perusahaan dan selalu berusaha untuk meningkatkannya, 9) bersedia melakukan perubahan dalam melakukan sesuatu, dan 10) menghargai prestasi bawahan.

 

Dalam Aamodt (2010), sebuah teori behavioral diajukan oleh Yulk, dkk setelah melakukan observasi terhadap ribuan pemimpin di berbagai situasi. Teori ini menyebutkan bahwa para pemimpin yang berhasil, melakukan hal-hal berikut : menginisiasi ide, berinteraksi secara informal dengan bawahan, mendukung bawahan, bertanggung jawab, mengembangkan suasana kelompok, mengorganir pekerjaan, berkomunikasi secara formal dengan bawahan, menggunakan reward and punishment, menetapkan tujuan, membuat keputusan, melatih dan mengembangkan kemampuan pekerja, menyelesaikan masalah, dan membangkitkan antusias kelompok. Adanya penelitian ini membuktikan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari. Perilaku dan kemampuan seorang pemimpin dalam membentuk kepemimpinan yang efektif pun dapat diidentifikasi sehingga setiap orang dapat belajar atau dilatih menjadi pemimpin yang baik. Didukung oleh meta-analisis dari Youngjohn dan Woehr (dalam Aamodt, 2010) yang menyatakan bahwa kemampuan manajemen, pengambilan keputusan, dan komunikasi oral berkorelasi tinggi pada efektifitas kepemimpinan. Perilaku pemimpin yang mahir dalam kemampuan tersebut lebih dapat mempengaruhi anggota kelompoknya dan membawa keberhasilan kelompok.

Program-program pelatihan kepemimpinan untuk menjadi pemimpin yang berhasil, ditemukan di beberapa jenjang pendidikan dan lembaga-lembaga yang memiliki visi creating leader. Hal ini semakin mendukung bahwa menjadi pemimpin itu dapat dilatih dan diusahakan. Purnama (2005) menegaskan bahwa menjadi pemimpin yang efektif tidak bisa terjadi seketika, namun membutuhkan proses panjang. Menyadari hal itu, banyak organisasi membuat perencanaan suksesi dan pendidikan-latihan khusus untuk memperoleh figur pemimpin yang memenuhi kapabilitas.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pemimpin itu tidak terlahir dan tidak membutuhkan karakteristik bawaan tertentu. Yang lebih penting adalah berusaha melatih diri dan memotivasi diri menjadi pemimpin yang  berperilaku sesuai dengan situasi dan kelompoknya. Orang dapat belajar dan mengembangkan kepemimpinan yang efektif, mirip seperti belajar keterampilan lainnya. Namun, memang usaha tersebut memutuhkan usaha yang mendalam dan berkelanjutan.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Aamodt. (2010). Industrial/organizational psychology (6th ed.). Canada : Nelson Education, Ltd

Anoraga, P. (1992). Psikologi kepemimpinan. Jakarta : Rineka Cipta

Purnama, N. (2005). Kepemimpinan organisasi masa depan : Konsep dan strategi keefektifan. Jurnal Siasat Bisnis,115-129. Retrieved from http://journal.uii.ac.id/index.php/JSB/article/viewFile/973/882/diunduh pada tanggal 15 Desember 2011

Sarwono, S & Meinarno, E. (2009). Psikologi sosial. Jakarta: Salemba Humanika

Timpe, D. (1987). Kepemimpinan : Seri ilmu dan seni manajemen bisnis. New York : KEND Publishing, Inc.

Winato, P & Graito, I. (2008). Analisis interaksi motivasi kerja karyawan perusahaan keluarga X dan kepemimpinan generasi penerus yang dipersepsikan karyawan. Jurnal Psikologi Sosial,14,65-80